Jakarta, dorlanhikmah.com – Kehidupan dunia merupakan tempat mengumpulkan bekal terbaik sebelum manusia melangkah menuju alam keabadian. Oleh karena itu, setiap muslim tentu merindukan akhir kehidupan yang indah atau husnul khotimah. Umat Islam dapat mengenali tanda husnul khotimah masyarakat melalui pujian tulus serta persaksian kebaikan dari orang-orang saleh di sekitarnya.
Selain itu, Allah Ta’ala memberikan berbagai kemuliaan bagi hamba-Nya yang senantiasa menjaga keimanan dan ketakwaan hingga akhir hayat. Maka dari itu, pujian tulus dari tetangga dan kerabat menjadi salah satu bentuk kabar gembira yang Allah segerakan di dunia. Fenomena ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama manusia selama kita masih bernapas.
Dengan demikian, keberkahan hidup seorang muslim sering kali memancarkan kebaikan yang terus membekas dalam ingatan masyarakat luas. Sebab, ketika seseorang berpulang, kenangan manis dan kesaksian positif dari orang sekitar menjadi pendorong datangnya rahmat Allah. Oleh sebab itu, umat Islam perlu memahami hakikat persaksian ini agar senantiasa bersemangat dalam menebar kemaslahatan.
Pujian Masyarakat sebagai Kabar Gembira yang Disegerakan
Umat Islam perlu menyadari bahwa pujian baik dari orang lain bukanlah sesuatu yang harus dicari dengan sikap riya. Sebaliknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa pujian tulus yang mengalir spontan merupakan bentuk kabar gembira dari Allah. Bahkan, Allah menyegerakan kebahagiaan tersebut bagi seorang mukmin sebelum dia menerima balasan utuh di akhirat kelak.
Pada suatu hari, para sahabat Nabi pernah menanyakan fenomena seorang hamba yang beramal baik lalu mendapatkan pujian hangat dari warga sekitar. Merespons hal tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jawaban yang sangat menenangkan hati melalui sebuah hadis shahih. Beliau menegaskan bahwa pujian tersebut merupakan hak istimewa yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang beriman.
Dalam hadis dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya,
“Bagaimana jika ada orang yang melakukan amal baik, kemudian dia dipuji oleh masyarakat?”
Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
تِلْكَ عَاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِنِ
“Itu adalah kabar gembira bagi mukmin yang disegerakan.” (HR. Ahmad 21380 & Muslim 6891)
Lebih lanjut, hadis di atas menegaskan bahwa penerimaan positif di tengah masyarakat menjadi cerminan dari keridaan Allah Ta’ala. Pasalnya, seorang muslim yang mengikhlaskan niatnya hanya untuk Allah akan memancarkan daya tarik kebaikan secara alami. Dampaknya, masyarakat akan melihat dan merasakan manfaat dari keberadaan hamba yang taat tersebut secara langsung.
Oleh karena itu, kabar gembira ini memberikan motivasi besar bagi setiap mukmin untuk terus konsisten menabuh gema kebaikan. Alhasil, kita tidak perlu merasa khawatir atau ragu saat orang lain memuji kebaikan yang kita lakukan secara tulus. Selama hati kita tetap terjaga dari sifat sombong, pujian itu menjadi tanda rahmat yang patut kita syukuri.
Doa Nabi Ibrahim untuk Menjadi Buah Tutur yang Baik
Di samping itu, keinginan untuk meninggalkan nama baik dan kenangan indah setelah meninggal dunia memiliki landasan syariat yang sangat kuat. Contohnya, Nabi Ibrahim alaihissalam pernah memanjatkan doa khusus kepada Allah Ta’ala agar menjadi buah tutur yang baik bagi generasi penerus. Selanjutnya, Allah mengabadikan permohonan mulia Nabi Ibrahim tersebut di dalam ayat Al-Qur’an agar menjadi ikhtiar bagi seluruh umat Islam.
Dalam doa tersebut, Nabi Ibrahim memohon taufik kepada Allah agar seluruh langkah hidupnya senantiasa menjadi sumber inspirasi kebaikan. Selain itu, beliau berharap masyarakat yang datang setelahnya senantiasa mengingat dan memuji jejak keteladanannya hingga hari kiamat. Akhirnya, Allah Ta’ala mengabulkan permohonan tersebut dan mengangkat kedudukan Nabi Ibrahim beserta keluarganya di tingkat yang sangat tinggi.
Secara khusus, Allah menyebutkan bagian dari doa Ibrahim tersebut dalam Al-Qur’an,
وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ
“Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.” (QS. As-Syu’ara:84)
Makna: “buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian”
Ibrahim memohon kepada Allah agar dia diberi taufik untuk menjadi sumber kebaikan, sehingga semua orang memuji beliau, hingga hari kiamat.
Pengabulan Doa Nabi Ibrahim dalam Al-Qur’an
Hasilnya, doa Ibrahim dikabulkan oleh Allah dengan mengabadikan pujian bagi beliau di seluruh penjuru dunia. Bahkan, umat Islam hingga saat ini terus memanjatkan selawat dan pujian untuk Nabi Ibrahim dalam setiap salat mereka.
Di surat Ash-Shaffat, Allah berfirman,
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الآَخِرِينَ * سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ * كَذَلِكَ نَجْزِي المُحْسِنِينَ
“Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, ‘(Yaitu) kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.’ Demikianlah Kami beri balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Ash-Shaffat:108–110)
Selanjutnya di surat Maryam, Allah juga berfirman,
وَوَهَبْنَا لَهُمْ مِنْ رَحْمَتِنَا وَجَعَلْنَا لَهُمْ لِسَانَ صِدْقٍ عَلِيًّا
“Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi.” (QS. Maryam:50)
Dengan demikian, Allah jadikan pujian untuk Ibrahim dan keluarganya, bukan hanya pujian di langit, namun juga pujian di bumi. Sebab, pujian manusia adalah kesaksian mereka atas perbuatan dan perilaku kita di dunia. Oleh sebab itu, umat manusia senantiasa mengenang Nabi Ibrahim sebagai teladan utama dalam ketauhidan dan pengorbanan yang tulus.
Masyarakat sebagai Saksi Allah di Muka Bumi
Sementara itu, masyarakat sekitar memiliki peran yang sangat menentukan dalam memberikan kesaksian atas kehidupan seorang jenazah. Dalam sebuah riwayat, para sahabat Rasulullah pernah menyaksikan secara langsung bagaimana ucapan masyarakat bisa menentukan nasib seseorang di akhirat. Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenarkan bahwa kesaksian orang beriman di bumi memiliki bobot yang sangat berat di hadapan Allah.
Sungguh, kisah penafsiran ucapan Nabi mengenai kesaksian warga ini memberikan pelajaran yang sangat mendalam bagi kita semua. Sebab, ketika sebuah jenazah melintas, ucapan spontan dari masyarakat menjadi cermin dari rekam jejak orang tersebut semasa hidupnya. Dalam hal ini, Allah menjadikan lisan orang-orang beriman sebagai perantara untuk menetapkan ketetapan-Nya.
Mengenai hal ini, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan kejadian berharga tersebut secara terperinci,
“Suatu ketika para sahabat melihat sebuah jenazah yang diangkat menuju pemakamannya. Mereka pun memuji jenazah ini. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وجبَتْ، وجبتْ، وجبت
‘Wajib … wajib … wajib.’
Tidak berselang lama, lewat jenazah lain. Kemudian para sahabat langsung mencelanya. Seketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وجبَتْ، وجبتْ، وجبت
‘Wajib … wajib … wajib.’
Umar pun keheranan, dan bertanya, ‘Apanya yang wajib?’
Jawab sang Nabi,
هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا، فَوَجَبَتْ لَهُ الجَنَّةُ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا، فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ
“Jenazah pertama kalian puji dengan kebaikan, maka dia berhak mendapat surga. Jenazah kedua kalian cela, maka dia berhak mandapat neraka. Kalian adalah saksi Allah di muka bumi.” (HR. Bukhari 1367; Muslim 949)
Oleh karena itu, hadis shahih tersebut menunjukkan betapa pentingnya kita menjaga tutur kata, sikap, dan kepedulian sosial di lingkungan kita. Alhasil, persaksian tetangga dan kerabat dekat menjadi bukti konkret yang Allah perhitungkan pada hari kiamat kelak. Maka dari itu, seorang muslim harus senantiasa menebarkan manfaat agar masyarakat mengenalnya dalam kebaikan.
Selain itu, sikap saling menghormati dan menyayangi sesama manusia akan melahirkan hubungan harmonis yang memicu kesaksian positif. Sebaliknya, ketika kita dipanggil kembali oleh Sang Pencipta, kesaksian indah dari orang-orang saleh akan mengiringi langkah kita menuju surga. Hal ini menjadi cerminan nyata bahwa keimanan seseorang harus berbuah akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuh Keadaan Meninggal yang Menjadi Tanda Husnul Khotimah
Selanjutnya, para ulama Islam telah menyusun kajian mendalam mengenai indikator kematian yang baik berdasarkan petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah. Misalnya, dalam kitab Ahkamul Jana’iz, terdapat beberapa keadaan spesifik yang menandakan seorang hamba mendapatkan karunia husnul khotimah. Tentu saja, tanda-tanda ini menjadi hiburan sekaligus penjelas bagi pihak keluarga yang ditinggalkan.
Di samping itu, setiap tanda husnul khotimah membawa keutamaan tersendiri yang sangat besar di sisi Allah Ta’ala. Karenanya, seorang muslim patut memohon kepada Allah agar mendapatkan salah satu dari berbagai kebaikan menjelang akhir hayatnya. Berikut penjelasan rinci mengenai tujuh keadaan yang menjadi penanda husnul khotimah menurut naskah sumber.
1. Mengucapkan Syahadat Menjelang Wafat
Pertama, mengucapkan kalimat tauhid pada detik-detik terakhir kehidupan merupakan impian tertinggi bagi setiap mukmin di dunia. Sebab, karunia ini menunjukkan bahwa Allah memberikan taufik dan keteguhan iman kepada hamba-Nya saat menghadapi sakaratul maut. Lagipula, lidah yang mampu membasahi dirinya dengan zikir tauhid menandakan kesucian jiwa yang akan menghadap Ilahi.
Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jaminan surga bagi siapa saja yang mengakhiri kalamnya dengan kalimat mulia tersebut. Padahal, setan berusaha keras menggoyahkan iman manusia pada momen sakaratul maut, sehingga keberhasilan mengucapkannya menjadi kemenangan besar. Maka dari itu, umat Islam senantiasa dianjurkan untuk menuntun (mentalqin) saudaranya yang sedang dalam kondisi kritis.
Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Siapa yang akhir ucapannya adalah kalimat ‘La ilaaha illallah’ dia akan masuk surga.” (HR. Abu Daud 3118)
2. Meninggal dengan Keringat di Dahi
Kedua, tanda fisik yang kerap terlihat pada jenazah seorang mukmin yang husnul khotimah adalah munculnya titisan keringat di dahinya. Mengenai fenomena ini, para ulama menjelaskan bahwa keluarnya keringat menandakan perjuangan keras sang mukmin dalam mengarungi kesusahan sakaratul maut. Selain itu, keringat tersebut juga menjadi penanda rasa malu sang hamba saat akan bertemu dengan Sang Pencipta.
Sebagai contoh, sahabat Buraidah bin Hashib radhiyallahu ‘anhu memberikan pengalaman berharga saat menjenguk saudaranya yang sedang sakaratul maut di Khurasan. Lantas, beliau bertakbir saat menyaksikan adanya keringat di dahi saudaranya yang baru saja mengembuskan napas terakhir. Sembari bertakbir, Buraidah langsung mengingat sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai keutamaan fenomena fisik tersebut.
Suatu ketika, Buraidah bin Hashib radhiyallahu ‘anhu datang ke Khurasan, menjenguk saudaranya yang sedang sakit. Ternyata saudaranya dalam kondisi sakaratul maut. Ketika wafat, ada keringat di dahinya.
Buraidah langsung bertakbir,
“Allahu Akbar! Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَوْتُ الْمُؤْمِنِ بِعَرَقِ الْجَبِيْنِ
“Meninggalnya seorang mukmin dengan keringat di dahi.” (HR. Ahmad 22964, Nasai 1839 dan yang lainnya)
3. Meninggal pada Malam atau Siang Hari Jumat
Ketiga, hari Jumat memiliki kedudukan yang sangat istimewa dan menjadi rajanya hari (sayyidul ayyam) dalam ajaran agama Islam. Oleh karena itu, wafat pada malam atau siang hari Jumat menjadi salah satu keutamaan besar yang Allah hadiahkan kepada hamba-Nya. Hasilnya, Allah memberikan perlindungan khusus dari ujian kubur bagi muslim yang mengembuskan napas terakhir pada waktu mulia ini.
Memang, perlindungan dari pertanyaan kubur menjadi karunia yang sangat luar biasa karena alam kubur merupakan persinggahan pertama menuju akhirat. Akibatnya, seseorang yang terbebas dari fitnah kubur akan merasakan kelapangan dan kedamaian hingga hari kebangkitan tiba. Hal ini menjadi bukti kasih sayang Allah yang melimpah bagi hamba-Nya yang beriman.
Dalam hadis dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوْتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ
“Apabila ada seorang muslim yang meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at, maka Allah akan menjaganya dari pertanyaan kubur.” (HR. Ahmad 6582, Turmudzi 1095, dan yang lainnya)
4. Syahid di Medan Perang (Jihad fi Sabilillah)
Keempat, gugur di medan perang demi membela agama Allah merupakan puncak tertinggi dari semangat pengorbanan seorang mukmin. Sebab, para syuhada yang gugur di jalan Allah mendapatkan kedudukan istimewa dan tidak dianggap mati sebagaimana manusia pada umumnya. Malahan, ruh-ruh mereka hidup bahagia di sisi Allah Ta’ala dengan mendapat rezeki yang sangat melimpah.
Mengenai hal tersebut, Allah Ta’ala berfirman tentang kedudukan mulia para syuhada perang,
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati bahkan mereka hidup di sisi Rabb mereka dengan mendapatkan rizki.” (QS. Ali Imran: 169)
Keutamaan dan Hak Syafaat Bagi Orang yang Mati Syahid
Selain ayat Al-Qur’an, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memaparkan enam perkara mulia yang khusus Allah berikan kepada orang yang mati syahid di medan perang. Sebagai contoh, karunia tersebut mencakup pengampunan dosa sejak tetesan darah pertama hingga hak memberikan syafaat bagi puluhan kerabatnya. Secara menyeluruh, penjelasan ini menggambarkan betapa agungnya balasan bagi mereka yang menyerahkan jiwanya di jalan Allah.
Dari Miqdam bin Ma’dikarib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لِلشَّهِيْدِ عِنْدَ اللهِ سِتُّ خِصَالٍ: يُغْفَرُ لَهُ فِي أَوَّلِ دَفْعَةٍ مِنْ دَمِهِ، وَيُرَى مَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَيَأْمَنُ الْفَزَعَ الْأَكْبَرَ، وَيُحَلَّى حِلْيَةَ الْإِيْمَانِ، وَيُزَوَّجُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ، وَيُشَفَّعُ فِي سَبْعِيْنَ إِنْسَانًا مِنْ أَقَارِبِهِ
“Bagi orang syahid di sisi Allah ia beroleh enam perkara, yaitu diampuni dosanya pada awal mengalirnya darahnya, diperlihatkan tempat duduknya di surga, dilindungi dari adzab kubur, aman dari kengerian yang besar (hari kiamat), dipakaikan perhiasan iman, dinikahkan dengan hurun ‘in (bidadari surga), dan diperkenankan memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari kalangan kerabatnya.” (HR. Turmudzi 1764, Ibnu Majah 2905, dan yang lainnya)
Lebih dari itu, keagungan mati syahid di medan perang juga membebaskan pelakunya dari ujian pertanyaan di dalam kubur. Sebab, rasa takut dan penderitaan saat berhadapan dengan dentingan senjata musuh sudah cukup menjadi ujian kesabaran bagi mereka. Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan hal ini saat seorang sahabat mengajukan pertanyaan.
Dalam hadis lain, ada seorang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Ya Rasulullah, kenapa kaum mukminin mendapatkan ditanya dalam kubur mereka kecuali orang yang mati syahid?”
Jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
كَفَى بِبَارَقَةِ السُّيُوْفِ عَلَى رَأْسِهِ فِتْنَةً
“Cukuplah kilatan pedang di atas kepalanya sebagai ujian kesabaran baginya.” (HR. Nasai 2065 dan dishahihkan al-Albani)
5. Meninggal Setelah Bersabar dengan Ujian Musibah
Kelima, rahmat Allah Ta’ala sangat luas sehingga predikat syahid tidak hanya terbatas bagi mereka yang gugur di medan pertempuran semata. Sebaliknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperluas cakupan gelar syahid bagi umatnya yang meninggal akibat musibah atau penyakit tertentu. Sebab, kesabaran hamba dalam menanggung penderitaan fisik menjadi pembersih dosa yang sangat efektif di mata Allah.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada para sahabat, “Siapakah syahid menurut kalian?”
‘Orang yang mati di jalan Allah, itulah syahid.’ Jawab para sahabat serempak.
“Berarti orang yang mati syahid di kalangan umatku hanya sedikit.” Lanjut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
‘Lalu siapa saja mereka, wahai Rasulullah?’ tanya sahabat.
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan daftar orang yang bergelar syahid,
مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ مَاتَ فِي سَبِيلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ مَاتَ فِي الطَّاعُونِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ مَاتَ فِي الْبَطْنِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَالْغَرِيقُ شَهِيدٌ
“Siapa yang terbunuh di jalan Allah, dia syahid. Siapa yang mati (tanpa dibunuh) di jalan Allah dia syahid, siapa yang mati karena wabah penyakit Tha’un, dia syahid. Siapa yang mati karena sakit perut, dia syahid. Siapa yang mati karena tenggelam, dia syahid.” (HR. Muslim 1915).
Keadaan Syahid Lainnya dan Status Fiqihnya
Selain kondisi di atas, seseorang yang meninggal dunia karena memperjuangkan serta mempertahankan hak hartanya juga mendapatkan kedudukan syahid. Dalam hadis lain dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ
“Siapa yang terbunuh karena membela hartanya maka dia syahid.” (HR. Bukhari 2480).
Selanjutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga merinci tujuh keadaan syahid lainnya di luar gugur dalam pertempuran fi sabilillah. Misalnya, kematian akibat terbakar, tertimpa reruntuhan, hingga wanita yang meninggal saat melahirkan masuk dalam daftar mulia ini. Dengan demikian, perjuangan berat melawan rasa sakit yang sangat hebat mengubah penderitaan mereka menjadi pahala yang berlimpah.
Dari Jabir bin Atik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الشَّهَادَةُ سَبْعٌ سِوَى الْقَتْلِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ: الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ، وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ ذَاتِ الْجَنْبِ شَهِيدٌ، وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ الْحَرِيقِ شَهِيدٌ، وَالَّذِي يَمُوتُ تَحْتَ الْهَدْمِ شَهِيدٌ، وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيدٌ
“Selain yang terbunuh di jalan Allah, mati syahid ada tujuh: mati karena tha’un syahid, mati karena tenggelam syahid, mati karena sakit tulang rusuk syahid, mati karena sakit perut syahid, mati karena terbakar syahid, mati karena tertimpa benda keras syahid, wanita yang mati karena melahirkan syahid.” (HR. Abu Daud 3111 dan dishahihkan Al-Albani).
Sementara itu, Al-Hafidz Al-Aini memberikan penjelasan fiqih yang sangat jernih mengenai status orang-orang yang mati syahid akibat musibah ini. Beliau menekankan bahwa gelar syahid tersebut berlaku secara hukum dan pahala di akhirat, bukan syahid hakiki secara tata cara jenazah. Alhasil, jenazah mereka tetap harus dimandikan, dikafani, dan disalatkan sebagaimana tata cara pengurusan jenazah muslim pada umumnya.
Ketika menjelaskan hadis daftar orang yang mati syahid selain di medan jihad, Al-Hafidz Al-Aini mengatakan,
فهم شُهَدَاء حكما لَا حَقِيقَة، وَهَذَا فضل من الله تَعَالَى لهَذِهِ الْأمة بِأَن جعل مَا جرى عَلَيْهِم تمحيصاً لذنوبهم وَزِيَادَة فِي أجرهم بَلغهُمْ بهَا دَرَجَات الشُّهَدَاء الْحَقِيقِيَّة ومراتبهم، فَلهَذَا يغسلون وَيعْمل بهم مَا يعْمل بِسَائِر أموات الْمُسلمين
“Mereka mendapat gelar syahid secara status, bukan hakiki. Dan ini karunia Allah untuk umat ini, dimana Dia menjadikan musibah yang mereka alami (ketika mati) sebagai pembersih atas dosa-dosa mereka, dan ditambah dengan pahala yang besar, sehingga mengantarkan mereka mencapai derajat dan tingkatan para syuhada hakiki. Karena itu, meka tetap dimandikan, dan ditangani sebagaimana umumnya jenazah kaum muslimin.” (Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, 14/128).
6. Meninggal dalam Keadaan Berjaga (Ribath) Fi Sabilillah
Keenam, tugas menjaga benteng atau wilayah perbatasan negeri muslim dan kafir merupakan amalan mulia yang bernilai pahala sangat raksasa. Sebab, seseorang yang meninggal dunia saat menjalankan tugas ribath akan mendapatkan keutamaan yang tidak pernah terputus. Bahkan, Allah terus mengalirkan pahala dari amalan kebaikan yang biasa ia kerjakan sewaktu masih hidup di dunia.
Selain itu, kematian dalam kondisi ribath juga memberikan keamanan mutlak bagi seorang mukmin dari fitnah dan pertanyaan di alam kubur. Maka dari itu, Allah menjamin rezeki dan ketenangan bagi jiwa-jiwa prajurit yang setia menjaga keamanan umat Islam. Keutamaan ini menunjukkan betapa berharganya pengorbanan waktu dan nyawa demi perlindungan masyarakat luas.
Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu menyebutkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ، وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ، وَأًُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَأَمِنَ الْفَتّاَنَ
“Berjaga-jaga (di jalan Allah) sehari dan semalam lebih baik daripada puasa sebulan dan shalat sebulan. Bila ia meninggal, amalnya yang biasa ia lakukan ketika masih hidup terus dianggap berlangsung dan diberikan rizkinya serta aman dari fitnah (pertanyaan kubur).” (HR. Muslim 5047)
7. Meninggal dalam Keadaan Beramal Saleh
Ketujuh, keadaan penutup yang menjadi penanda husnul khotimah adalah ketika seorang hamba dijemput ajal saat sedang sibuk beribadah. Tentu saja, menutup lembaran hidup dalam kondisi berzikir, berpuasa, atau bersedekah merupakan nikmat terindah yang Allah berikan kepada hamba pilihan. Sebab, Allah menyukai hamba-Nya yang mengakhiri perjalanan dunia dalam keadaan taat dan ikhlas mengharapkan rida-Nya.
Sebagai contoh, seseorang yang membasahi lidahnya dengan kalimat tauhid atau sedang menahan lapar demi puasa akan langsung melangkah menuju surga. Begitu pula dengan hamba yang mengakhiri hidupnya seusai menyerahkan harta sedekah dengan penuh keikhlasan. Oleh karena itu, konsistensi dalam beramal saleh menjadi kunci utama untuk meraih akhir hidup yang indah dan membahagiakan ini.
Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَالَ: لاَ إِلهَ إِلاَّ الله ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ. وَمَنْ صَامَ يَوْمًا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ. وَمَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Siapa yang mengucapkan La ilaaha illallah karena mengharapkan wajah Allah yang dia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka dia masuk surga. Siapa yang berpuasa sehari karena mengharapkan wajah Allah yang dia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka dia masuk surga. Siapa yang bersedekah dengan satu sedekah karena mengharapkan wajah Allah yang dia mengiri hidupnya dengan amal tersebut maka dia masuk surga.” (HR. Ahmad 23324 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)
Kesimpulannya, kehidupan dunia ini pada hakikatnya merupakan ladang tempat kita menanam amalan terbaik yang akan kita tuai di alam akhirat kelak. Dengan demikian, berbagai tanda husnul khotimah dan pujian tulus dari masyarakat beriman menjadi cermin kebaikan hamba di hadapan Allah Ta’ala. Pada akhirnya, semoga Allah berkenan mengurniakan keteguhan iman dan mengakhiri perjalanan hidup kita semua dalam keadaan husnul khotimah.(ust)










Komentar