Keutamaan Shalat Subuh dan Ashar

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 20 September 2026 - 16:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Shalat Subuh dan Asyar.(poto: istimewa).

Ilustrasi Shalat Subuh dan Asyar.(poto: istimewa).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Umat Islam memegang teguh ajaran agama yang memberikan bimbingan lengkap dalam setiap aspek kehidupan. Salah satu bentuk ibadah harian yang memiliki kedudukan amat penting adalah pelaksanaan shalat fardhu. Namun, sebagian orang sering kali merasakan beratnya menjaga shalat secara konsisten. Umat muslim perlu memahami keutamaan shalat subuh ashar agar senantiasa termotivasi untuk mendirikannya tepat waktu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan banyak kabar gembira mengenai pahala melimpah bagi setiap hamba yang mampu memelihara kedua shalat tersebut secara rutin.

Pelaksanaan shalat pada kedua waktu ini memang menghadirkan tantangan tersendiri bagi setiap individu. Waktu Shubuh hadir saat manusia sedang berada dalam kenikmatan tidur dan istirahat malam. Sementara itu, waktu Ashar tiba di tengah kesibukan aktivitas harian atau saat tubuh mulai merasa lelah setelah bekerja. Kendati demikian, syariat Islam menetapkan ganjaran yang sangat besar bagi siapa saja yang sanggup menaklukkan rasa malas tersebut.

Seseorang yang konsisten memelihara shalat Shubuh dan Ashar akan mendapatkan jaminan keselamatan di akhirat kelak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan bahwa amalan ini menjadi kunci pembuka pintu surga sekaligus benteng dari siksa api neraka. Selain itu, Allah Ta’ala memberikan perlindungan khusus sepanjang hari bagi mereka yang mengawali harinya dengan mendirikan shalat Shubuh.

Menjaga Shubuh dan Ashar Menjadi Sebab Masuk Surga

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kabar gembira tentang balasan surga bagi orang yang menjaga shalat pada dua waktu yang dingin. Para ulama menjelaskan bahwa dua waktu dingin tersebut adalah shalat Shubuh dan shalat Ashar. Penjelasan ini berlandaskan pada hadits shahih dari sahabat Abu Musa radhiyallahu ‘anhu.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أبي موسىٰ رضي الله عنه أنّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «مَن صلَّىٰ البَرْدَيْنِ دَخَلَ الجَنَّةَ». متفق عليه. البردان: الصبح والعصر.

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mengerjakan dua shalat pada waktu dingin, ia akan masuk surga.” (Muttafaq ‘alaih). Al-Bardain (dua waktu dingin) adalah shalat Shubuh dan shalat Ashar.

Hadits di atas menunjukkan betapa agungnya kedudukan kedua shalat fardhu tersebut dalam syariat Islam. Istilah Al-Bardain merujuk pada waktu Shubuh dan Ashar karena keduanya berada pada saat udara terasa sejuk, yaitu pada ujung malam menjelang pagi dan pada penghujung siang. Kedisiplinan seorang mukmin dalam menunaikan shalat pada kedua waktu ini membuktikan kesungguhan imannya di hadapan Allah Ta’ala.

Kemampuan untuk konsisten mendirikan shalat Shubuh dan Ashar menandakan bahwa seorang hamba mengutamakan perintah Allah di atas kepentingan pribadinya. Ia rela meninggalkan tempat tidur yang nyaman pada pagi hari dan bersedia menghentikan urusan dunianya pada sore hari. Oleh karena itu, Allah Ta’ala memberikan ganjaran tertinggi berupa tempat tinggal abadi di dalam surga.

Menjaga Shubuh dan Ashar Menjadi Sebab Selamat dari Neraka

Selain menjanjikan surga, syariat Islam juga menegaskan bahwa orang yang memelihara shalat sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam bakal terbebas dari azab neraka. Pernyataan tegas ini datang langsung dari lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sahabat Abu Zuhair ‘Umarah bin Ru’aibah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan secara langsung sabda Nabi tersebut.

Berikut adalah lafazz hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

وعن أبي زهيْرٍ عُمارَةَ بنِ رُؤَيْبةَ رضي الله عنه قالَ: سمِعْتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم يقولُ: «لَنْ يَلجَ النَّارَ أَحَدٌ صلَّىٰ قَبْلَ طُلوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا» يَعْني الفَجْرَ وَالعَصْرَ. رواه مسلم.

Dari Abu Zuhair ‘Umarah bin Ru’aibah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk neraka seseorang yang mengerjakan shalat sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam.” (HR. Muslim). Yang dimaksud adalah shalat Shubuh dan shalat Ashar.

Faedah Menjaga Shalat Sebelum Terbit dan Terbenam Matahari

Poin pertama dari faedah hadits ini menegaskan bahwa menjaga shalat Shubuh dan Ashar merupakan sebab utama seseorang meraih kemenangan sejati. Kemenangan tersebut berupa keberhasilan memperoleh surga dan terlepas dari siksaan neraka. Allah Ta’ala menegaskan hakikat kemenangan ini dalam firman-Nya:

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ

“Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan.” (QS. Ali ‘Imran: 185).

Poin kedua menekankan keutamaan khusus shalat Shubuh karena malaikat menyaksikan langsung bacaan Al-Qur’an di dalamnya. Keistimewaan waktu Shubuh ini terukir indah dalam firman Allah Ta’ala:

إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

“Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al-Isra’: 78).

Poin ketiga menguraikan keutamaan khusus shalat Ashar yang mendapatkan sebutan istimewa dalam Al-Qur’an. Shalat Ashar merupakan ash-shalah al-wustha atau shalat pertengahan yang wajib kita jaga dengan penuh perhatian. Allah Ta’ala berfirman:

Baca Juga :  Lalat dalam Minuman: Penjelasan Hadits dan Hikmah Syariat Islam

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ

“Peliharalah semua shalat (fardu) dan shalat Wustha.” (QS. Al-Baqarah: 238).

Orang yang Shalat Shubuh Berada dalam Jaminan Allah

Setiap muslim yang melangkah untuk menunaikan shalat Shubuh secara benar akan memperoleh jaminan keamanan yang sangat besar. Jaminan ini bukan datang dari manusia atau penguasa dunia, melainkan langsung dari Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa. Sahabat Jundub bin Sufyan radhiyallahu ‘anhu menyampaikan sabda Nabi mengenai perlindungan istimewa ini.

Berikut adalah teks hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

وعن جُنْدُبِ بن سُفْيَانَ رضي الله عنه قالَ: قالَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: «مَنْ صَلَّىٰ الصُّبْحَ فَهُوَ في ذِمَّةِ الله، فَانْظُرْ يَا ابنَ آدَمَ لا يَطلُبــنَّكَ اللهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ». رواه مسلم.

Dari Jundub bin Sufyan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mengerjakan shalat Shubuh, ia berada dalam jaminan Allah. Maka perhatikanlah, wahai anak Adam, jangan sampai Allah menuntutmu karena sesuatu yang berkaitan dengan jaminan-Nya.” (HR. Muslim).

Kosakata dan Faedah Hadits Jaminan Allah

Memahami kosakata hadits ini sangat penting agar setiap muslim dapat mengambil hikmah secara sempurna. Kata ذِمَّةُ اللهِ (dzimmatullah) memiliki arti perlindungan, keamanan, serta jaminan yang datang langsung dari Allah Ta’ala. Sementara itu, kalimat لَا يَطْلُبَنَّكَ اللهُ (la yathlubannakallah) berisi peringatan keras agar manusia tidak berkhianat atau berbuat buruk. Termasuk dalam pelanggaran ini adalah tindakan meninggalkan shalat Shubuh berjamaah sehingga Allah menuntut kewajiban yang telah Dia bebankan.

Faedah pertama dari hadits ini menunjukkan bahwa shalat Shubuh berfungsi sebagai kunci pembuka bagi seluruh ibadah shalat pada siang hari. Tidak hanya itu, shalat Shubuh juga menjadi pondasi utama yang membuka pintu kelancaran bagi seluruh aktivitas harian seorang hamba. Mengawali pagi dengan sujud kepada Allah akan mengalirkan keberkahan pada setiap langkah yang kita ayunkan sepanjang hari.

Faedah kedua menegaskan kembali keutamaan luar biasa yang melekat pada shalat Shubuh. Siapa saja yang menunaikannya dengan ikhlas dan benar akan masuk ke dalam benteng penjagaan serta perhatian khusus dari Allah Ta’ala. Kondisi ini membuat seorang hamba merasa tenang dan aman dalam menjalankan seluruh rutinitas kehidupannya.

Malaikat Berkumpul pada Waktu Shubuh dan Ashar

Waktu Shubuh dan Ashar menjadi momen yang sangat istimewa karena pada saat itulah terjadi pergantian tugas para malaikat. Malaikat yang bertugas pada malam hari dan malaikat yang bertugas pada siang hari berkumpul bersama dalam dua waktu shalat tersebut. Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan keagungan peristiwa ini dalam sebuah hadits muttafaqun ‘alaih.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ بِاللَّيْلِ، وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَارِ، وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ وَصَلَاةِ الْعَصْرِ، ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ، فَيَسْأَلُهُمُ اللهُ، وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ: كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي؟ فَيَقُولُونَ: تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ، وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Para malaikat malam dan malaikat siang datang kepada kalian secara bergantian. Mereka berkumpul pada waktu shalat Shubuh dan shalat Ashar. Kemudian para malaikat yang bermalam bersama kalian naik ke langit. Allah bertanya kepada mereka—padahal Allah lebih mengetahui keadaan para hamba-Nya—, ‘Bagaimana keadaan hamba-hamba-Ku ketika kalian tinggalkan?’ Mereka menjawab, ‘Kami meninggalkan mereka dalam keadaan sedang shalat, dan ketika kami mendatangi mereka, mereka pun sedang shalat.’” (Muttafaqun ‘alaih, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).

Makna Bergantian Tugas Malaikat dan Faedahnya

Memahami kosakata dalam hadits ini memberikan gambaran yang makin jelas mengenai tugas para malaikat. Kata يَتَعَاقَبُونَ memiliki makna هَؤُلَاءِ يَنْزِلُونَ وَهَؤُلَاءِ يَصْعَدُونَ, yaitu para malaikat datang secara bergantian. Sekelompok malaikat turun ke bumi untuk memulai tugasnya, sedangkan kelompok malaikat lainnya naik ke langit setelah menyelesaikan tugas mereka.

Faedah pertama dari riwayat ini membuktikan betapa Allah Ta’ala sangat memuliakan hamba-hamba-Nya yang beriman. Allah mengutus para malaikat secara silih berganti untuk menemui dan menyertai orang beriman pada awal dan akhir siang. Kehadiran makhluk mulia ini menjadi bukti nyata atas kedudukan tinggi yang manusia taat miliki.

Faedah kedua kembali menggarisbawahi keutamaan agung dari shalat Shubuh dan shalat Ashar. Keistimewaan kedua waktu shalat ini terletak pada momen berkumpulnya utusan langit yang membawa laporan kebaikan. Sungguh sebuah kebanggaan besar ketika nama seorang hamba melambung di hadapan Allah saat ia mendirikan shalat.

Melihat Allah di Surga dan Keutamaan Menjaga Shalat Subuh dan Ashar

Nikmat terbesar yang bakal penghuni surga terima adalah kesempatan untuk melihat wujud Allah Ta’ala secara langsung. Syariat Islam mengajarkan bahwa menjaga shalat Subuh dan Ashar menjadi salah satu kunci utama untuk meraih kenikmatan tiada tara tersebut. Sahabat Jarir bin ‘Abdillah Al-Bajali radhiyallahu ‘anhu menceritakan kisah penting saat Rasulullah menjelaskan hal ini.

Baca Juga :  Alasan Gunung Uhud Disebut Gunung Surga dalam Hadis

Berikut adalah naskah hadits yang disepakati oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim:

ــ وَعَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْبَجَلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، فَقَالَ: «إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ، لَا تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوا عَلَى صَلَاةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ، وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ: «فَنَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ أَرْبَعَ عَشْرَةَ».

Dari Jarir bin ‘Abdillah Al-Bajali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami pernah berada bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau kemudian memandang bulan pada malam purnama, lalu bersabda, ‘Sungguh, kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak akan mengalami kesulitan untuk melihat-Nya. Karena itu, jika kalian mampu untuk tidak dikalahkan dalam menjaga shalat sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam, maka lakukanlah.’” (Muttafaq ‘alaih). Dalam riwayat lain disebutkan, “Beliau memandang bulan pada malam tanggal empat belas.”

Makna Melihat Allah Tanpa Kesulitan

Kosakata penting yang perlu dipahami dalam hadits ini adalah frasa لَا تُضَامُونَ. Makna dari frasa tersebut adalah لَا يَلْحَقُكُمْ ضَيْمٌ، وَهُوَ الْمَشَقَّةُ وَالتَّعَبُ, yang berarti kalian tidak akan mengalami kesulitan. Maksud dari kata dhaim itu sendiri adalah bentuk kesulitan, kesusahan, maupun rasa letih.

Faedah pertama dari hadits ini secara tegas menetapkan doktrin akidah bahwa mukminin akan melihat Allah secara langsung di surga. Kenikmatan memandang Wajah Allah ini melampaui seluruh fasilitas dan keindahan surga yang pernah ada. Para penghuni surga akan merasakan kebahagiaan puncak yang tidak bisa kita bandingkan dengan nikmat apa pun di dunia.

Faedah kedua memperlihatkan hubungan erat antara ketajaman ibadah di dunia dengan balasan di akhirat. Menjaga pelaksanaan shalat Subuh dan Ashar menjadi sebab kuat seseorang memperoleh taufik untuk memandang Allah Ta’ala. Konsistensi menundukkan hawa nafsu pada kedua waktu tersebut dibalas dengan kenikmatan pandangan yang paling mulia.

Faedah ketiga mengajarkan kewajiban setiap mukmin untuk membenarkan seluruh berita shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang muslim sejati tidak boleh menolak petunjuk syariat hanya karena keterbatasan akalnya. Sikap tunduk, patuh, dan menerima tanpa ragu merupakan ciri utama orang yang beriman kepada perkara gaib.

Ancaman Keras bagi Orang yang Meninggalkan Shalat Ashar

Islam tidak hanya menyampaikan dorongan dan kabar gembira, tetapi juga memberikan peringatan tegas bagi siapa saja yang meremehkan shalat. Pelanggaran terhadap shalat Ashar secara khusus mendapatkan ancaman yang sangat berat dalam syariat. Sahabat Buraidah radhiyallahu ‘anhu menyampaikan peringatan keras dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam terkait hal ini.

Imam Bukhari merawikan hadits tersebut dengan lafazz sebagai berikut:

ــ عَنْ بُرَيْدَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ». رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.

Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, sungguh amalnya telah gugur.” (HR. Bukhari).

Bahaya Gugurnya Amal Akibat Meninggalkan Ashar

Memahami makna kata حَبِطَ dalam kosakata hadits ini sangat penting bagi setiap muslim. Kata حَبِطَ memiliki arti بَطَلَ أَجْرُهُ, yaitu batal atau hapusnya pahala amalan yang telah kita kerjakan. Peringatan ini menunjukkan betapa destruktifnya dampak dari kelalaian sengaja dalam menunaikan shalat Ashar.

Faedah pertama dari hadits ancaman ini membuktikan betapa agung dan vitalnya kedudukan shalat Ashar. Shalat Ashar memegang peranan kunci yang menjadi tolok ukur utama diterima atau ditolaknya seluruh rangkaian amal kebaikan seseorang. Kelalaian pada waktu Ashar dapat merusak bangunan pahala yang telah kita kumpulkan dengan bersusah payah.

Faedah kedua memberikan ketegasan bahwa orang yang sengaja meninggalkan shalat Ashar akan kehilangan pahala amalnya. Gugurnya pahala ini menjadi kerugian besar yang tiada tandingannya bagi seorang hamba di akhirat kelak. Oleh sebab itu, setiap muslim wajib meningkatkan kewaspadaan dan menjaga shalat Ashar agar tidak terlewatkan.

Menjaga shalat Shubuh dan Ashar merupakan tolok ukur keimanan dan keikhlasan seorang hamba dalam menjalankan perintah Allah Ta’ala. Berbagai keutamaan besar seperti jaminan surga, perlindungan Allah, hingga kesempatan melihat Wajah-Nya di akhirat harus menjadi pendorong utama bagi umat Islam untuk senantiasa mendirikan kedua shalat ini secara konsisten dan tepat waktu.(ust)

Berita Terkait

Hukum Syair Menurut Al-Qur’an dan Hadits Lengkap
Tanda Husnul Khotimah dan Keutamaan Pujian Orang Beriman
Rahasia Dialog Allah dan Hamba dalam Surat Al-Fatihah
Hadits tentang Maulid Nabi, Adakah Perintah Merayakannya?
Siapa yang Setia Menemani Manusia di Dalam Kubur?
Gambaran Azab Neraka yang Mengerikan Menurut Alquran dan Hadis
Alasan Gunung Uhud Disebut Gunung Surga dalam Hadis
Keutamaan Sujud: Kunci Meraih Surga dan Kedekatan dengan Nabi
Berita ini 0 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 20 September 2026 - 16:19 WIB

Keutamaan Shalat Subuh dan Ashar

Sabtu, 12 September 2026 - 20:07 WIB

Hukum Syair Menurut Al-Qur’an dan Hadits Lengkap

Sabtu, 12 September 2026 - 19:59 WIB

Tanda Husnul Khotimah dan Keutamaan Pujian Orang Beriman

Senin, 31 Agustus 2026 - 08:03 WIB

Rahasia Dialog Allah dan Hamba dalam Surat Al-Fatihah

Selasa, 18 Agustus 2026 - 19:08 WIB

Hadits tentang Maulid Nabi, Adakah Perintah Merayakannya?

Berita Terbaru

Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama resmi menggelar peluncuran e-SMART KOMITE Kemenag di Jakarta pada Selasa (22/9/2026).(poto: kemenag.go.id).

Teknologi

Kemenag Luncurkan e-SMART KOMITE untuk Madrasah

Rabu, 23 Sep 2026 - 08:29 WIB

Kementerian Agama Republik Indonesia resmi meluncurkan logo Hari Santri 2026 beserta rangkaian agenda nasional di Jakarta.(poto: kemenag.go.id).

Berita Islam

Kemenag Resmi Meluncurkan Logo Hari Santri 2026

Rabu, 23 Sep 2026 - 07:42 WIB

Sunnah mengangkat tangan saat Shalat di 4 tempat.(ilustrasi poto: AI)

Fiqih

4 Posisi Mengangkat Tangan Dalam Shalat Sesuai Sunnah

Senin, 21 Sep 2026 - 17:14 WIB

Saat mau sujud, tangan dulu atau lutut dulu.simak penjelasannya.(poto: ilustrasi: istimewa).

Fiqih

Lutut atau Tangan Dulu Saat Sujud? Ini Penjelasan Fiqih

Senin, 21 Sep 2026 - 17:05 WIB