Jakarta, dorlanhikmah.com – Kunjungan ulama Jerman ke Salimah menegaskan penguatan kerja sama dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan dalam forum silaturahmi internasional. Kegiatan kunjungan ulama Jerman ini berlangsung di Kantor Pimpinan Pusat Persaudaraan Muslimah (Salimah), Jakarta, pada Selasa (18/6/2026), dengan suasana hangat dan penuh dialog konstruktif.
Delegasi ulama dan duat internasional dari Jerman, yakni Dr. Toha Sulaiman dan Ahmed Farrag, datang untuk memperluas pemahaman tentang peran organisasi perempuan di Indonesia. Mereka juga ingin melihat langsung bagaimana Salimah mengembangkan program sosial berbasis keluarga.
Pertemuan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang diskusi tentang strategi dakwah modern yang relevan dengan tantangan global. Kedua pihak menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara dalam membangun masyarakat yang berdaya dan berakhlak.
Salimah Paparkan Peran dan Program Strategis
Ketua Umum Persaudaraan Muslimah (Salimah), Reny Anggrayni, menerima langsung rombongan tamu internasional tersebut. Ia hadir bersama jajaran pengurus pusat, termasuk Sinta Santi dan Unggul Hidayati, serta para ketua departemen.
Dalam pemaparannya, Reny menjelaskan bahwa Salimah lahir dari kepedulian terhadap peningkatan kualitas hidup perempuan, anak, dan keluarga. Ia menegaskan bahwa organisasi ini bergerak melalui tiga pilar utama, yaitu dakwah, pendidikan dan pelatihan, serta ekonomi umat.
Reny menyampaikan bahwa Salimah terus memperluas jangkauan layanan hingga ke 37 provinsi di Indonesia, serta memiliki perwakilan luar negeri di Taiwan. Ia menilai capaian tersebut sebagai bukti konsistensi kerja organisasi dalam memperkuat peran perempuan di ruang publik.
Dr. Toha Sulaiman dan Ahmed Farrag memberikan apresiasi atas perkembangan Salimah. Mereka menilai organisasi ini berhasil membangun model pemberdayaan perempuan yang sejalan dengan kebutuhan masyarakat modern.
Keduanya menyoroti bahwa program Salimah tidak hanya berfokus pada aspek spiritual, tetapi juga menyentuh aspek pendidikan dan ekonomi. Menurut mereka, pendekatan ini menciptakan keseimbangan antara nilai keagamaan dan kebutuhan sosial.
Mereka juga menilai bahwa model pemberdayaan berbasis keluarga yang diterapkan Salimah dapat menjadi contoh bagi lembaga serupa di negara lain.
Dialog Kerja Sama Kajian Keislaman
Dalam diskusi yang berlangsung, delegasi Jerman menawarkan kerja sama dalam pengembangan kajian keislaman. Mereka mengusulkan program kajian fikih dan sirah nabawiyyah untuk anak-anak dan remaja.
Reny Anggrayni menyambut baik gagasan tersebut. Ia menilai program itu sangat relevan dengan fokus Salimah dalam bidang pendidikan dan dakwah keluarga.
Pertukaran gagasan ini membuka peluang kerja sama yang lebih luas, terutama dalam penguatan kurikulum dakwah berbasis nilai-nilai Islam yang moderat dan aplikatif.
Dalam konteks pendidikan Islam, pertemuan ini juga menyoroti pentingnya penguatan nilai-nilai dasar agama sejak usia dini. Delegasi menekankan bahwa pendidikan karakter harus berjalan seiring dengan pembelajaran ilmu agama.
Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah)
Hadis ini menjadi dasar penting bagi kedua pihak untuk memperkuat kolaborasi di bidang pendidikan keislaman.
Selain itu, dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menekankan bahwa ilmu tanpa amal tidak memiliki nilai yang sempurna, sedangkan amal tanpa ilmu dapat menyesatkan. Prinsip ini memperkuat urgensi integrasi pendidikan dan praktik sosial dalam program dakwah.
Dampak Sosial dan Pemberdayaan Perempuan
Diskusi juga menyoroti dampak sosial dari program pemberdayaan perempuan. Salimah dinilai berhasil menciptakan ruang partisipasi aktif bagi perempuan dalam pembangunan keluarga dan masyarakat.
Program ekonomi yang dijalankan organisasi ini membantu banyak keluarga meningkatkan kesejahteraan. Sementara itu, program pendidikan memperkuat literasi keislaman dan keterampilan sosial perempuan.
Delegasi Jerman menilai pendekatan ini sebagai model yang adaptif dan bisa diterapkan di berbagai negara dengan penyesuaian konteks budaya.
Jaringan Internasional dan Diplomasi Dakwah
Pertemuan ini juga membuka pembahasan tentang pentingnya jaringan internasional dalam dakwah Islam. Kedua pihak sepakat bahwa kolaborasi global dapat memperkaya pengalaman dan memperluas dampak program sosial keagamaan.
Salimah menegaskan komitmennya untuk terus membangun hubungan dengan berbagai lembaga internasional. Organisasi ini memandang kerja sama lintas negara sebagai bagian dari strategi memperkuat dakwah yang inklusif dan berkelanjutan.
Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Kedua pihak berdiskusi secara terbuka mengenai tantangan dan peluang dalam pengembangan dakwah modern.
Dialog yang terbangun mencerminkan semangat saling belajar dan saling menghormati. Setiap pihak memberikan pandangan berdasarkan pengalaman masing-masing di bidang sosial dan keagamaan.(ust)









Komentar