Jakarta, dorlanhikmah.com – Belajar agama dalam sibuk menjadi tantangan besar bagi banyak Muslim di era modern, ketika kesibukan dunia sering mengambil alih waktu dan perhatian manusia.
Artikel ini membahas bagaimana Iblis menghalangi manusia dari belajar agama, serta bagaimana kesibukan hidup sering menjadi pintu masuk kelalaian terhadap ilmu syar’i yang sangat penting bagi kehidupan seorang Muslim.
Dalam berbagai kajian keislaman, para ulama menjelaskan bahwa gangguan terbesar yang dihadapi manusia bukan hanya godaan maksiat secara langsung, tetapi juga pengalihan fokus dari ilmu agama. Ketika seseorang menjauh dari ilmu, maka ia perlahan kehilangan arah dalam menjalani hidup.
Ustaz Satria Hadi Lubis menegaskan bahwa Iblis sejak awal telah berjanji untuk menyesatkan manusia dengan berbagai cara, termasuk menjauhkan mereka dari ilmu agama yang menjadi cahaya kehidupan.
Kesibukan dunia sering membuat manusia merasa tidak memiliki waktu untuk belajar agama. Banyak orang mengisi hari-harinya dengan pekerjaan, keluarga, bisnis, pendidikan, dan aktivitas sosial hingga lupa bahwa ilmu agama tetap menjadi kebutuhan utama.
Iblis tidak selalu mengajak manusia kepada dosa besar secara langsung. Ia lebih sering mengalihkan perhatian manusia secara perlahan. Ketika seseorang merasa “tidak sempat belajar”, saat itulah pintu kelalaian mulai terbuka.
Seiring waktu, kebiasaan meninggalkan majelis ilmu membuat hati menjadi keras. Akhirnya, seseorang tidak lagi merasa rindu terhadap ilmu agama, bahkan tidak lagi menganggapnya sebagai kebutuhan utama.
STRATEGI IBLIS MENGHALANGI ILMU
Iblis menggunakan strategi halus untuk menjauhkan manusia dari kebenaran. Ia tidak selalu menakut-nakuti, tetapi sering membuat manusia merasa cukup dengan dunia yang mereka miliki.
Ibnul Jauzi rahimahullah menjelaskan hal ini dalam kitabnya:
اِعْلَمْ أَنَّ أَوَّلَ تَلْبِيْسِ إِبْلِيْسَ عَلَى النَّاسِ صَدُّهُمْ عَنِ العِلْمِ ، لِأَنَّ العِلْمَ نُوْرٌ ؛ فَإِذَا أَطْفَأَ مَصَابِيْحَهُمْ خَبَطَهُمْ فِي الظَلَامِ كَيْفَ شَاءَ
“Ketahuilah, bahwa talbis Iblis yang pertama kepada umat manusia adalah menghalangi mereka dari ilmu agama. Karena ilmu itu adalah cahaya. Apabila ia memadamkan lampu-lampu mereka, maka ia akan dengan mudah menyesatkan mereka dalam kegelapan.”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa ilmu agama memiliki peran sentral dalam menjaga arah hidup manusia.
DALIL AL-QUR’AN TENTANG JANJI IBLIS
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikan sumpah Iblis dalam Al-Qur’an:
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ، ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
Iblis berkata: “Karena Engkau telah menghukumku tersesat, maka aku benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan, belakang, kanan, dan kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS. Al-A’raf: 16-17)
Ayat ini menjelaskan bahwa Iblis menyerang manusia dari berbagai sisi kehidupan. Salah satu sisi yang paling sering dilupakan adalah sisi ilmu dan hidayah.
Ustaz Satria Hadi Lubis menjelaskan bahwa Iblis tidak hanya menggoda manusia dengan dosa, tetapi juga dengan kesibukan dunia. Ia membuat manusia merasa tidak punya waktu untuk belajar agama.
Menurut beliau, ketika seseorang terus menunda belajar agama, maka ia sedang mengikuti salah satu strategi Iblis tanpa disadari. Hal ini terjadi karena manusia lebih mengutamakan urusan dunia dibandingkan kebutuhan akhiratnya.
Akibatnya, banyak orang kehilangan kesempatan untuk memahami agama secara benar, padahal mereka sangat membutuhkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Ilmu agama memiliki kedudukan penting dalam Islam. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.”
Hadis ini menegaskan bahwa belajar agama bukan aktivitas tambahan, tetapi kewajiban.
Imam Al-Ghazali juga menekankan bahwa ilmu adalah jalan menuju keselamatan hati. Tanpa ilmu, seseorang akan mudah tersesat meskipun ia terlihat sibuk dalam kebaikan dunia.
Ketika seseorang meninggalkan ilmu agama, ia mulai kehilangan arah dalam mengambil keputusan hidup. Ia mudah terpengaruh oleh lingkungan, budaya, dan opini tanpa dasar yang benar.
Hati juga menjadi kering dari nasihat. Ia tidak lagi mudah tersentuh oleh ayat Al-Qur’an atau hadis Nabi. Lebih jauh lagi, ia bisa merasa cukup dengan pemahaman sendiri tanpa bimbingan ilmu.
Kondisi ini sangat berbahaya karena menjauhkan manusia dari petunjuk Allah secara perlahan.
CARA MELAWAN GANGGUAN IBLIS
Islam memberikan solusi yang jelas untuk menghadapi gangguan ini. Seorang Muslim harus menjaga waktu untuk belajar agama meskipun hanya sedikit.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
- Menjadwalkan waktu khusus untuk belajar agama
- Mengikuti kajian secara rutin
- Membaca Al-Qur’an setiap hari
- Mendengarkan nasihat ulama
- Berdoa agar diberi kemudahan dalam menuntut ilmu
Dengan langkah ini, seorang Muslim tetap bisa menjaga hubungan dengan ilmu meskipun dalam kesibukan.(ust)









Komentar