Menemukan Ketenangan lewat Sepuluh Hari Dzulhijjah

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 24 Mei 2026 - 10:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

ilustrasi Bulan Zulhijjah( Poto : istimewa ).

ilustrasi Bulan Zulhijjah( Poto : istimewa ).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Keutamaan sepuluh hari Dzulhijjah kembali mengingatkan umat Islam bahwa manusia tidak hanya membutuhkan kemajuan materi, tetapi juga ketenangan jiwa.

Di tengah tekanan hidup modern, Islam menghadirkan momentum ibadah sebagai sarana memperbaiki hubungan dengan Allah dan memulihkan kondisi ruhani manusia.

Islam memandang waktu bukan sekadar hitungan hari. Alquran menjelaskan bahwa ada waktu-waktu tertentu yang Allah muliakan karena mengandung nilai ibadah dan keberkahan yang besar bagi kehidupan manusia.

Salah satu waktu paling istimewa itu ialah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Pada masa inilah umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh, dzikir, puasa, sedekah, hingga ibadah qurban.

Islam Memuliakan Waktu-Waktu Tertentu

Dalam ajaran Islam, waktu memiliki kedudukan sangat penting. Para ulama menyebut adanya al-azminah al-fadhilah atau waktu-waktu mulia yang memiliki keutamaan lebih besar dibanding hari biasa.

Selain Ramadhan dan hari Jumat, sepuluh hari pertama Dzulhijjah termasuk waktu paling agung dalam kalender Islam. Allah SWT bahkan mengabadikannya dalam sumpah-Nya pada awal Surah Al-Fajr:

وَالْفَجْرِ ۙ وَلَيَالٍ عَشْرٍ

“Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh.”
(QS. Al-Fajr: 1–2)

Mayoritas ulama tafsir menjelaskan bahwa “malam yang sepuluh” merujuk pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Imam Ath-Thabari dalam Jami’ al-Bayan meriwayatkan penafsiran Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang ayat tersebut sebagai sepuluh hari Dzulhijjah.

Pendapat serupa juga dijelaskan Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim. Menurut beliau, inilah tafsir yang paling kuat berdasarkan riwayat para sahabat dan tabi’in.

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa Allah tidak bersumpah kecuali dengan sesuatu yang memiliki kemuliaan besar. Karena itu, sumpah Allah pada ayat tersebut menunjukkan betapa agungnya hari-hari Dzulhijjah.

Manusia Modern Kehilangan Sensitivitas Ruhani

Di tengah perkembangan teknologi dan budaya digital, banyak manusia justru kehilangan kedekatan spiritual. Kehidupan modern membuat manusia lebih sibuk mengejar target ekonomi, popularitas, dan hiburan.

Banyak orang hafal jadwal konser, pertandingan olahraga, atau promo belanja besar, tetapi lupa dengan momentum ibadah yang Allah muliakan.

Fenomena ini berkaitan erat dengan meningkatnya krisis mental dan kegelisahan hidup manusia modern.

World Health Organization (WHO) pada 2022 mencatat lebih dari 970 juta orang mengalami gangguan kesehatan mental di seluruh dunia. Gangguan kecemasan dan depresi menjadi kasus terbesar yang terus meningkat setelah pandemi COVID-19.

Laporan Global Emotions Report 2023 dari Gallup juga menunjukkan tingkat stres dan kesedihan masyarakat dunia masih tinggi meski pandemi mulai mereda.

Masalah lain yang kini banyak dibahas para ahli ialah loneliness epidemic atau epidemi kesepian. Pada 2023, Surgeon General Amerika Serikat, Vivek Murthy, menyebut kesepian kronis sebagai ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.

Psikolog sosial Jonathan Haidt dalam bukunya The Anxious Generation menjelaskan bahwa budaya digital dan penggunaan media sosial berlebihan membuat banyak orang lebih mudah cemas, rapuh secara emosional, dan kehilangan kedalaman hubungan sosial maupun spiritual.

Baca Juga :  Panduan Lengkap Ibadah Qurban dalam Islam Sesuai Sunnah Rasulullah SAW

Dzulhijjah Menjadi Momentum Spiritual Reset

Islam sebenarnya sudah lama menghadirkan solusi ruhani melalui momentum ibadah yang berulang setiap tahun.

Ramadhan, Jumat, sepertiga malam, hari Arafah, dan sepuluh hari pertama Dzulhijjah berfungsi sebagai sarana memperbaiki hati manusia agar tidak tenggelam dalam materialisme dunia.

Para ulama menyebut momentum ini sebagai mawashim ath-tha’ah atau musim-musim ketaatan.

Pada masa Dzulhijjah, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh karena nilai ibadah pada hari-hari tersebut sangat besar di sisi Allah.

Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ

“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini.”

Para sahabat bertanya:

وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟

“Tidak juga jihad di jalan Allah?”

Beliau menjawab:

وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun.”
(HR Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa amal saleh pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah memiliki kedudukan sangat tinggi.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa keutamaan hari-hari tersebut muncul karena seluruh induk ibadah berkumpul di dalamnya, seperti shalat, puasa, sedekah, haji, dan qurban.

Ibadah Membantu Menenangkan Jiwa

Berbagai penelitian modern juga membuktikan bahwa aktivitas spiritual memberi pengaruh positif terhadap kesehatan mental manusia.

Riset Harvard T.H. Chan School of Public Health tahun 2020 menemukan bahwa orang yang rutin menjalankan kegiatan spiritual memiliki tingkat depresi lebih rendah dan daya tahan psikologis lebih baik.

Penelitian dalam Journal of Religion and Health tahun 2021 juga menunjukkan bahwa doa, dzikir, puasa, dan meditasi spiritual membantu menurunkan stres serta meningkatkan ketenangan batin.

Dalam Islam, ibadah pada bulan Dzulhijjah memang membentuk pendidikan ruhani yang mendalam.

Puasa melatih pengendalian diri dan kesabaran. Dzikir dan takbir memperkuat kesadaran tauhid. Sedekah dan qurban melatih kepedulian sosial serta keikhlasan.

Allah SWT berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)

Ayat ini menunjukkan bahwa manusia membutuhkan hubungan spiritual dengan Allah untuk mendapatkan ketenangan hidup yang sejati.

Dzulhijjah Menghidupkan Syiar Islam

Generasi salaf memandang Dzulhijjah bukan sekadar peringatan simbolik. Mereka benar-benar menghidupkan suasana ibadah di tengah masyarakat.

Dalam riwayat Imam Bukhari disebutkan:

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِي أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا

“Dahulu Ibn Umar dan Abu Hurairah keluar menuju pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah sambil mengumandangkan takbir, lalu orang-orang ikut bertakbir mengikuti keduanya.”

Riwayat ini menggambarkan bagaimana para sahabat tetap menghadirkan dzikir di tengah aktivitas sosial dan ekonomi.

Baca Juga :  Krisis Mazhab di Era Media Sosial

Takbir tidak hanya terdengar di masjid, tetapi juga menggema di pasar, jalan, rumah, dan pusat keramaian masyarakat.

Hal ini menunjukkan bahwa spiritualitas Islam tidak memisahkan manusia dari kehidupan dunia. Islam justru mengajarkan agar manusia menghadirkan nilai ketuhanan di tengah aktivitas sehari-hari.

Kesungguhan Ulama Salaf Menyambut Dzulhijjah

Para ulama generasi awal Islam menyambut Dzulhijjah dengan kesungguhan luar biasa.

Imam Ad-Darimi meriwayatkan tentang tabi’in besar Sa’id bin Jubair rahimahullah:

كَانَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ إِذَا دَخَلَتْ أَيَّامُ الْعَشْرِ اجْتَهَدَ اجْتِهَادًا حَتَّى مَا يَكَادُ يُقْدَرُ عَلَيْهِ

“Sa’id bin Jubair apabila telah masuk sepuluh hari pertama Dzulhijjah, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah dengan kesungguhan yang sangat.”

Para salaf memperbanyak tilawah Alquran, puasa sunnah, qiyamullail, sedekah, dan dzikir pada hari-hari tersebut.

Mereka memahami bahwa ada momentum tertentu yang menjadi kesempatan besar untuk mendapatkan ampunan dan rahmat Allah.

Karena itu, mereka tidak membiarkan satu hari pun berlalu tanpa tambahan amal saleh.

Hikmah Besar Sepuluh Hari Dzulhijjah

Ada banyak pelajaran penting yang bisa diambil dari momentum Dzulhijjah.

Pertama, Dzulhijjah mengingatkan manusia agar tidak sepenuhnya tenggelam dalam rutinitas dunia. Manusia membutuhkan waktu untuk kembali mendekat kepada Allah.

Kedua, Dzulhijjah mengajarkan makna pengorbanan melalui kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Ketaatan kepada Allah harus berada di atas kepentingan duniawi.

Ketiga, ibadah haji mengajarkan kesetaraan manusia. Semua jamaah memakai pakaian ihram sederhana tanpa membedakan status sosial, jabatan, atau kekayaan.

Keempat, Dzulhijjah mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati lahir dari ketenangan hati dan kebermaknaan hidup, bukan semata-mata materi.

Amalan yang Dianjurkan Saat Dzulhijjah

Umat Islam dianjurkan memperbanyak berbagai amal saleh pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah.

Beberapa amalan yang sangat dianjurkan antara lain:

  • Memperbanyak dzikir, takbir, tahmid, dan tahlil
  • Membaca Alquran
  • Memperbanyak istighfar
  • Menjalankan puasa sunnah, terutama puasa Arafah
  • Memperbanyak sedekah
  • Menjaga silaturahmi
  • Menyiapkan hewan qurban terbaik
  • Membantu orang yang membutuhkan

Allah SWT berfirman:

ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah maka itu termasuk ketakwaan hati.”
(QS. Al-Hajj: 32)

Ayat ini menegaskan bahwa penghormatan terhadap syiar Islam merupakan bagian dari ketakwaan seorang hamba.

Penutup

Sepuluh hari pertama Dzulhijjah menjadi pengingat penting bahwa manusia tidak cukup hanya mengejar pencapaian materi dan kesibukan dunia.

Teknologi, popularitas, dan kekayaan tidak selalu mampu memberikan ketenangan jiwa. Karena itu, manusia membutuhkan hubungan spiritual yang kuat dengan Allah.

Melalui dzikir, puasa, sedekah, qurban, dan berbagai amal saleh lainnya, Dzulhijjah mengajarkan cara membersihkan hati sekaligus menemukan kembali makna hidup yang sering hilang di tengah hiruk-pikuk dunia modern.(ust)

Berita Terkait

7 Ibadah Hati Penentu Haji Mabrur yang Harus Dihidupkan
Pengertian Fiqih Islam dan Cabang Ilmunya
Salaman dengan Mertua, Apakah Wudhu Batal?
Amalan Sunnah Sebelum Shalat Idul Adha Lengkap
Panduan Lengkap Niat Shalat Idul Adha, Hukum dan Tata Cara
Hukum Affiliate Marketing dalam Jual Beli Online Menurut Fiqih
Hukum Menyaksikan Penyembelihan Kurban saat Idul Adha
Pembagian Daging Kurban yang Dianjurkan dalam Islam
Berita ini 10 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 27 Mei 2026 - 19:10 WIB

7 Ibadah Hati Penentu Haji Mabrur yang Harus Dihidupkan

Rabu, 27 Mei 2026 - 15:00 WIB

Pengertian Fiqih Islam dan Cabang Ilmunya

Rabu, 27 Mei 2026 - 09:00 WIB

Salaman dengan Mertua, Apakah Wudhu Batal?

Rabu, 27 Mei 2026 - 05:30 WIB

Amalan Sunnah Sebelum Shalat Idul Adha Lengkap

Rabu, 27 Mei 2026 - 05:18 WIB

Panduan Lengkap Niat Shalat Idul Adha, Hukum dan Tata Cara

Berita Terbaru

ciri-ciri haji Mabrur( Poto : detiknews).

Fiqih

7 Ibadah Hati Penentu Haji Mabrur yang Harus Dihidupkan

Rabu, 27 Mei 2026 - 19:10 WIB

Kitab Al-ahkam Al-Kitabiyah merupakan salah satu Kitab Fiqih ( Poto : arabicbookshop.net).

Fiqih

Pengertian Fiqih Islam dan Cabang Ilmunya

Rabu, 27 Mei 2026 - 15:00 WIB

Hadist Arba'in bagian ke dua tentang Islam dan Ikhsan,( Poto : bersamadakwah )

Hadist

Hadits Arbain Nawawi 2 tentang Islam dan Ihsan

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:00 WIB

Hadist Arba'in Nawawi tentang Niat ( Poto : Menuntut Ilmu ).

Hadist

Hadits Arbain Nawawi 1 tentang Pentingnya Niat

Rabu, 27 Mei 2026 - 11:00 WIB

Ilustrasi menantu bersalaman dengan mertua ( Poto : ist).

Fiqih

Salaman dengan Mertua, Apakah Wudhu Batal?

Rabu, 27 Mei 2026 - 09:00 WIB