Jakarta, dorlanhikmah.com – Bahaya syamatah dalam Islam merupakan bentuk penyakit hati yang muncul ketika seseorang merasa senang atas musibah, kegagalan, atau kesulitan yang dialami orang lain.
Dalam ajaran Islam, syamatah termasuk akhlak tercela karena merusak empati, melemahkan ukhuwah, dan membuka pintu kebencian sosial.
Sejak awal, Islam sudah mengingatkan bahwa hati seorang Muslim harus dijaga agar tidak berubah menjadi tempat tumbuhnya iri dan rasa tidak peduli terhadap penderitaan orang lain.
Oleh karena itu, Islam menempatkan syamatah sebagai penyakit hati yang berbahaya karena dapat merusak empati, melemahkan ukhuwah, dan mengganggu keharmonisan sosial.
Hakikat Syamatah dalam Kehidupan Hati
Pertama-tama, syamatah tidak hanya sekadar perasaan sesaat, tetapi mencerminkan kondisi batin yang tidak sehat. Dalam Islam, hati berfungsi sebagai pusat kendali perilaku. Karena itu, ketika hati dipenuhi iri dan kebencian, maka emosi negatif mudah muncul dan berkembang menjadi sikap yang merusak.
Selain itu, orang yang terjebak dalam syamatah sering menganggap kesulitan orang lain sebagai “kepuasan emosional”. Padahal, Islam justru mengajarkan keseimbangan hati yang bersih dari kebencian. Dengan demikian, syamatah menunjukkan lemahnya empati sekaligus rendahnya kontrol diri.
Di sisi lain, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa penyakit hati seperti iri dan syamatah muncul karena jiwa tidak mampu mengelola emosi. Oleh sebab itu, beliau menekankan pentingnya latihan spiritual agar hati tetap bersih dan stabil.
Dalil Al-Qur’an tentang Etika Sosial
Selanjutnya, Islam menegaskan larangan merendahkan orang lain dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 11:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang direndahkan itu lebih baik daripada mereka yang merendahkan…”
Dari ayat ini, Allah menegaskan bahwa manusia tidak boleh merasa lebih unggul, karena keadaan seseorang dapat berubah sewaktu-waktu. Oleh karena itu, syamatah jelas bertentangan dengan prinsip keadilan sosial dalam Islam.
Hadis tentang Larangan Syamatah
Kemudian, Rasulullah SAW juga memperingatkan umatnya agar tidak terjatuh dalam sikap syamatah. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari, beliau bersabda:
تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ، وَدَرْكِ الشَّقَاءِ، وَسُوءِ الْقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ
Artinya:
“Berlindunglah kalian kepada Allah dari beratnya cobaan, kesengsaraan, buruknya ketetapan, dan syamatah musuh.”
(HR. Al-Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa syamatah termasuk hal yang harus dihindari secara serius. Selain itu, Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa seseorang tidak boleh merasa aman dari perubahan keadaan hidup.
Larangan Menampakkan Kegembiraan atas Musibah
Di samping itu, Rasulullah SAW juga menegaskan larangan menampakkan kegembiraan ketika orang lain tertimpa musibah. Dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi disebutkan:
لَا تُظْهِرِ الشَّمَاتَةَ لِأَخِيكَ، فَيَرْحَمَهُ اللَّهُ وَيَبْتَلِيَكَ
Artinya:
“Janganlah kamu menampakkan rasa gembira atas musibah saudaramu, karena bisa jadi Allah merahmatinya dan mengujimu.”
(HR. At-Tirmidzi)
Dengan demikian, hadis ini menegaskan bahwa syamatah tidak hanya berdampak sosial, tetapi juga dapat berbalik menjadi ujian bagi pelakunya.
Syamatah dan Rusaknya Ukhuwah
Selanjutnya, Imam Al-Qurthubi Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa syamatah bertentangan dengan prinsip ukhuwah Islamiyah. Ia menegaskan bahwa seorang Muslim seharusnya ikut merasakan kesedihan saudaranya, bukan justru merasa senang atas penderitaannya.
Oleh karena itu, ketika syamatah muncul dalam masyarakat, hubungan sosial menjadi renggang. Orang mulai kehilangan rasa percaya, lalu hubungan berubah menjadi kompetisi emosional yang tidak sehat.
Akar Munculnya Syamatah
Lebih lanjut, syamatah tidak muncul secara tiba-tiba. Sebaliknya, ia tumbuh dari proses psikologis yang panjang. Salah satu akar utamanya adalah hasad atau iri dengki.
Muhammad al-Tahir Ibn Ashur Muhammad al-Tahir Ibn Ashur menjelaskan bahwa syamatah lahir dari permusuhan batin dan ketidakmampuan seseorang menerima kelebihan orang lain. Dengan kata lain, ketika seseorang gagal mengelola rasa iri, ia mulai mencari “kepuasan” saat orang lain jatuh.
Selain itu, kebiasaan membandingkan diri juga memperkuat emosi ini. Semakin sering seseorang membandingkan hidupnya dengan orang lain, semakin besar potensi munculnya syamatah.
Hubungan Syamatah dengan Hasad
Kemudian, syamatah sangat berkaitan erat dengan hasad. Hasad merupakan keinginan agar nikmat orang lain hilang, sedangkan syamatah muncul ketika seseorang merasa senang saat orang lain mengalami musibah.
Para mufasir seperti Jalaluddin As-Suyuthi Jalaluddin As-Suyuthi dan Ibn Jarir ath-Thabari Ibn Jarir ath-Thabari menjelaskan bahwa hasad dapat merusak jiwa, menghilangkan ketenangan, dan memutus hubungan sosial.
Akibatnya, ketika hasad tidak dikendalikan, ia berkembang menjadi syamatah yang lebih berbahaya.
Dampak Syamatah dalam Kehidupan Sosial
Selain berdampak pada individu, syamatah juga memengaruhi masyarakat secara luas. Pertama, ia melemahkan kepercayaan antarindividu. Kedua, ia menciptakan jarak emosional dalam hubungan sosial.
Selanjutnya, syamatah juga membuat masyarakat lebih fokus pada kegagalan orang lain daripada kerja sama. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka solidaritas akan melemah dan konflik lebih mudah muncul.
Perspektif Psikologi: Schadenfreude
Dalam psikologi modern, syamatah dikenal sebagai schadenfreude, yaitu rasa senang atas penderitaan orang lain. Fenomena ini telah banyak diteliti dalam psikologi sosial.
Penelitian menunjukkan bahwa emosi ini sering muncul ketika seseorang merasa terancam secara sosial atau memiliki harga diri rendah. Selain itu, kompetisi sosial juga memperkuat munculnya schadenfreude.
Van Dijk dan rekan-rekannya menjelaskan bahwa evaluasi diri sangat memengaruhi emosi ini. Ketika seseorang merasa kalah, ia mengalami tekanan emosional, namun tekanan itu bisa berubah menjadi kepuasan saat melihat orang lain gagal.
Faktor yang Memicu Syamatah
Beberapa faktor utama yang memicu syamatah antara lain:
- Pertama, iri terhadap keberhasilan orang lain
- Kedua, kompetisi sosial yang tidak sehat
- Ketiga, kurangnya empati
- Keempat, kebiasaan membandingkan diri
- Kelima, luka emosional yang belum selesai
Dengan demikian, faktor-faktor ini saling berkaitan dan memperkuat satu sama lain.
Cara Menghindari Syamatah
Untuk menghindari syamatah, Islam memberikan beberapa langkah praktis:
1. Memperbanyak doa untuk orang lain
Dengan berdoa, hati menjadi lebih lembut dan tidak mudah iri.
2. Menguatkan rasa syukur
Syukur membantu seseorang fokus pada nikmat sendiri.
3. Mengurangi perbandingan sosial
Semakin sedikit membandingkan diri, semakin tenang hati.
4. Melatih empati
Empati membantu seseorang memahami perasaan orang lain.
5. Melakukan muhasabah
Evaluasi diri membantu mencegah emosi negatif berkembang.
Syamatah di Era Media Sosial
Di era digital, syamatah semakin mudah muncul. Hal ini terjadi karena informasi tentang kehidupan orang lain tersebar luas. Bahkan, kegagalan seseorang sering menjadi konsumsi publik.
Oleh karena itu, seseorang perlu lebih bijak dalam menyikapi media sosial. Tidak semua yang terlihat mencerminkan kenyataan secara utuh. Dengan kesadaran ini, seseorang dapat mengendalikan emosinya dengan lebih baik.
Kesimpulan
Sebagai penutup, syamatah merupakan penyakit hati yang berbahaya karena merusak empati, melemahkan ukhuwah, dan bertentangan dengan ajaran Islam. Al-Qur’an dan hadis secara tegas melarang sikap merendahkan serta merasa senang atas penderitaan orang lain.
Oleh karena itu, setiap Muslim perlu menjaga hati tetap bersih, memperkuat empati, dan memperbanyak doa untuk sesama.
Pada akhirnya, kebahagiaan sejati tidak lahir dari kegagalan orang lain, tetapi dari hati yang bersyukur, tenang, dan penuh kasih sayang.(ust)










Komentar