Keutamaan Nabi dan Rasul dalam Islam Menurut Dalil

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 6 Juni 2026 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Keutamaan para Nabi dan Rasul. Simak dalil Al-Qur’an, hadis, dan penjelasan ulama. (ilustrasi Poto : detikcom)

Keutamaan para Nabi dan Rasul. Simak dalil Al-Qur’an, hadis, dan penjelasan ulama. (ilustrasi Poto : detikcom)

Jakarta, dorlanhikmah.com – Keutamaan Nabi dan Rasul merupakan bagian dari akidah yang dijelaskan secara tegas dalam Al-Qur’an dan hadis. Islam mengajarkan bahwa Allah Ta’ala memberikan kedudukan yang berbeda kepada para Nabi dan Rasul sesuai hikmah dan kehendak-Nya.

Namun, keyakinan tersebut tidak boleh melahirkan sikap merendahkan atau mencela Nabi yang lain karena seluruh Nabi adalah manusia pilihan yang menerima wahyu dari Allah.

Pembahasan tentang tingkatan para Nabi sering menimbulkan pertanyaan karena terdapat ayat yang menunjukkan adanya perbedaan keutamaan, sementara pada saat yang sama terdapat hadis yang melarang membanding-bandingkan para Nabi.

Para ulama kemudian menjelaskan bagaimana memahami seluruh dalil tersebut secara utuh agar tidak muncul pemahaman yang keliru.

Dalil Al-Qur’an Tentang Tingkatan Keutamaan Para Nabi

Al-Qur’an menjelaskan secara jelas bahwa Allah memberikan keutamaan kepada sebagian Nabi dan Rasul di atas yang lain.

Allah Ta’ala berfirman:

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ

“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain” (QS. Al-Baqarah [2]: 253).

Ayat ini menunjukkan bahwa para Rasul memiliki kedudukan yang tidak sama. Ada yang Allah berikan keistimewaan tertentu berupa mukjizat, pengikut yang lebih banyak, ujian yang lebih berat, ataupun syariat yang lebih luas.

Allah Ta’ala juga berfirman:

وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ عَلَى بَعْضٍ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُوراً

“Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain). Dan Kami berikan Zabur kepada Daud” (QS. Al-Isra’ [17]: 55).

Ayat ini kembali menegaskan bahwa keutamaan tersebut merupakan ketetapan Allah. Tidak ada seorang pun yang menentukan tingkatan para Nabi berdasarkan pendapat pribadi.

Para ulama menjelaskan bahwa keutamaan ini termasuk bagian dari iman kepada para Rasul sebagaimana yang diajarkan dalam Islam.

Penjelasan Ulama Tentang Tingkatan Para Rasul

Para ulama telah menjelaskan adanya tingkatan di antara para Nabi dan Rasul berdasarkan nash yang sahih.

Ibnu Katsir Rahimahullah berkata:

“Tidak ada perbedaan pendapat bahwa Rasul itu lebih utama daripada para Nabi. Dan di antara para Rasul, yang lebih utama adalah Rasul ulul ‘azmi.”
(Tafsir Ibnu Katsir, 5: 87)

Penjelasan ini menunjukkan adanya tingkatan yang jelas.

Secara umum, para ulama menerangkan bahwa:

  • Rasul lebih utama daripada Nabi.
  • Rasul ulul ‘azmi lebih utama dibanding Rasul lainnya.
  • Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan Nabi dan Rasul yang paling utama.
Baca Juga :  Allah Selalu Melihat Hambanya: Tafsir QS. Al-‘Alaq 14

Perbedaan keutamaan ini tidak mengurangi kemuliaan para Nabi yang lain. Seluruh Nabi tetap merupakan manusia pilihan yang membawa petunjuk kepada umat masing-masing.

Hadis yang Melarang Membandingkan Para Nabi

Di sisi lain, terdapat hadis-hadis yang secara lahiriah tampak melarang melebihkan sebagian Nabi atas Nabi lainnya.

Dari Abu Sa’id Al-Khudriy Radhiallahu ‘anhu, beliau menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk bersama para sahabat. Kemudian seorang Yahudi datang dan mengadu karena dipukul oleh seorang dari kalangan Anshar.

Peristiwa itu bermula ketika orang Yahudi tersebut bersumpah:

“Demi Dzat yang telah memilih Musa untuk seluruh manusia.”

Ucapan tersebut memicu emosi seorang sahabat sehingga terjadi perselisihan.

Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تُخَيِّرُوا بَيْنَ الأَنْبِيَاءِ، فَإِنَّ النَّاسَ يَصْعَقُونَ يَوْمَ القِيَامَةِ، فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ تَنْشَقُّ عَنْهُ الأَرْضُ، فَإِذَا أَنَا بِمُوسَى آخِذٌ بِقَائِمَةٍ مِنْ قَوَائِمِ العَرْشِ، فَلاَ أَدْرِي أَكَانَ فِيمَنْ صَعِقَ، أَمْ حُوسِبَ بِصَعْقَةِ الأُولَى

“Janganlah kalian banding-bandingkan (lebihkan) sesama para Nabi. Karena nanti saat seluruh manusia dimatikan pada hari kiamat, akulah orang yang pertama kali dibangkitkan dari bumi. Namun saat itu di hadapanku telah ada Musa yang sedang berpegangan pada salah satu tiang ‘Arsy. Dan aku tidak tahu apakah dia termasuk orang yang dibangkitkan lebih dahulu atau diselamatkan karena kegoncangan pertama.”
(HR. Bukhari no. 2412)

Dalam riwayat lain disebutkan:

لاَ تُخَيِّرُوا بَيْنَ الأَنْبِيَاءِ

“Janganlah kalian banding-bandingkan sesama para Nabi.”
(HR. Muslim no. 2374)

Terdapat pula hadis dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma:

لَا يَنْبَغِي لِعَبْدٍ أَنْ يَقُولَ أَنَا خَيْرٌ مِنْ يُونُسَ بْنِ مَتَّى

“Tidak sepatutnya seorang hamba berkata, aku lebih baik dari Yunus bin Matta.”
(HR. Bukhari no. 3395)

Hadis-hadis ini perlu dipahami bersama dengan ayat-ayat Al-Qur’an agar tidak muncul kesan adanya pertentangan.

Cara Ulama Mengkompromikan Dalil-Dalil Tersebut

Para ulama menjelaskan bahwa tidak ada pertentangan antara ayat dan hadis di atas.

Penjelasan pertama menyebutkan bahwa larangan melebihkan sebagian Nabi atas yang lain berlaku ketika perbandingan tersebut menimbulkan pelecehan terhadap Nabi lain.

Seseorang tidak boleh mengatakan seorang Nabi mulia sementara Nabi lain direndahkan. Sikap seperti itu bertentangan dengan adab kepada para Rasul.

Baca Juga :  Keutamaan Shalat Tahajud dalam Islam dan Dalil Lengkap

Penjelasan kedua menyebutkan bahwa larangan tersebut berasal dari ketawadhu’an Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Meski beliau adalah Nabi yang paling utama, beliau tetap mengajarkan umat agar menjaga adab dalam berbicara tentang para Nabi.

Karena itu, seorang muslim boleh meyakini adanya tingkatan keutamaan berdasarkan dalil, tetapi tidak boleh menjadikannya sebagai bahan perdebatan yang berujung merendahkan Nabi lain.

Siapa Nabi dan Rasul yang Paling Utama?

Ahlus Sunnah meyakini bahwa Nabi yang paling utama adalah Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah itu, para Rasul ulul ‘azmi menempati kedudukan tertinggi di antara para Rasul lainnya.

Dalil tentang para Rasul ulul ‘azmi terdapat dalam firman Allah:

وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنكَ وَمِن نُّوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَأَخَذْنَا مِنْهُم مِّيثَاقاً غَلِيظاً

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam. Dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh” (QS. Al-Ahzab [33]: 7).

Allah juga berfirman:

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحاً وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى

“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh, dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa” (QS. Asy-Syuura [42]: 13).

Para ulama menyimpulkan bahwa Rasul ulul ‘azmi terdiri dari:

  • Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam
  • Nabi Nuh ‘Alaihissalam
  • Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam
  • Nabi Musa ‘Alaihissalam
  • Nabi Isa ‘Alaihissalam

Mereka memperoleh kedudukan khusus karena besarnya amanah dakwah dan keteguhan menghadapi ujian.

Hikmah Memahami Keutamaan Para Nabi

Memahami tingkatan para Nabi bukan sekadar pembahasan teori akidah.

Pembahasan ini mengajarkan bahwa Allah memilih hamba-hamba terbaik untuk membawa risalah-Nya. Selain itu, seorang muslim juga belajar menjaga adab ketika membicarakan para Nabi.

Keutamaan yang Allah berikan tidak boleh menjadi alasan untuk meremehkan Nabi lain. Sebaliknya, hal itu harus memperkuat rasa hormat kepada seluruh Rasul.

Setiap Nabi membawa tauhid, mengajak manusia beribadah kepada Allah, dan menjadi teladan dalam kesabaran, keikhlasan, serta pengorbanan.(ust)

Berita Terkait

Panduan Lengkap Cabang Ilmu Balaghah: Pengertian Bayan, Ma’ani, dan Badi’
Rahasia Bahasa Al-Qur’an: Kalimat Berita Makna Perintah
Peran Al-Qur’an dan Sains Medis dalam Mencetak Dokter Masa Depan di PTKIN
Panduan Mad 6 Harakat Lengkap Contoh Bacaan Tajwid
Kemerdekaan Tanpa Diskriminasi Menurut Al-Hujurat Ayat 13
Kemuliaan Sejati Menurut Islam Bukan Ditentukan Jabatan
Panduan Alquran Menghadapi Tekanan Hidup dan Ujian Modern
Rezeki Tidak Akan Tertukar: Memahami Jaminan Allah dalam Alquran
Berita ini 24 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 09:33 WIB

Panduan Lengkap Cabang Ilmu Balaghah: Pengertian Bayan, Ma’ani, dan Badi’

Minggu, 13 September 2026 - 09:27 WIB

Rahasia Bahasa Al-Qur’an: Kalimat Berita Makna Perintah

Sabtu, 12 September 2026 - 19:26 WIB

Peran Al-Qur’an dan Sains Medis dalam Mencetak Dokter Masa Depan di PTKIN

Jumat, 4 September 2026 - 20:55 WIB

Panduan Mad 6 Harakat Lengkap Contoh Bacaan Tajwid

Jumat, 4 September 2026 - 20:45 WIB

Kemerdekaan Tanpa Diskriminasi Menurut Al-Hujurat Ayat 13

Berita Terbaru

Ngaji Ilmu Balagah.(ilustrasi poto: istimewa).

Al-Qur'an

Rahasia Bahasa Al-Qur’an: Kalimat Berita Makna Perintah

Minggu, 13 Sep 2026 - 09:27 WIB

Sikap tegas Ali bin Abi Thalib menolak korupsi.(ilustrasi poto: kemenag.go.id).

Sejarah

Ketegasan Ali bin Abi Thalib Menjaga Amanah Kas Negara

Minggu, 13 Sep 2026 - 09:18 WIB

Ilustrasi Imam Abu Hanifah menolak Jabatan.(poto: istimewa).

Sejarah

Integritas Imam Abu Hanifah Hindari Konflik Kepentingan

Minggu, 13 Sep 2026 - 09:13 WIB

Wawancara beserta awak media setelah acara pembukaan MTQ Nasional di Semarang, Sabtu (12/9/2026).(poto: kemenag.go.id).

Berita Islam

MTQ Nasional XXXI Semarang 2026 Integrasikan AI dan UMKM

Minggu, 13 Sep 2026 - 09:05 WIB