Jakarta, dorlanhikmah.com – Di antara para sahabat Rasulullah ﷺ, terdapat sosok istimewa yang memiliki keterbatasan fisik namun mempunyai iman dan semangat perjuangan yang luar biasa.
Ia adalah Ibnu Ummi Maktum, seorang sahabat tunanetra yang mendapat kedudukan mulia di sisi Allah dan Rasul-Nya.
Kisah hidupnya menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik tidak pernah menghalangi seseorang untuk beribadah, berdakwah, dan berjihad di jalan Allah.
Muazin Nabi yang Tunanetra
Para ulama berbeda pendapat mengenai nama asli Ibnu Ummi Maktum. Sebagian menyebut namanya Abdullah bin Qais, sedangkan penduduk Irak menyebutnya ‘Amr.
Ia berasal dari kalangan Quraisy dan termasuk golongan sahabat yang lebih dahulu masuk Islam serta berhijrah.
Meski tidak dapat melihat, Ibnu Ummi Maktum dipercaya Rasulullah ﷺ menjadi muazin bersama Bilal bin Rabah, Sa‘d Al-Qurazh, dan Abu Mahdzurah.
Kehormatan itu menunjukkan bahwa Islam memuliakan ketakwaan, bukan kondisi fisik seseorang.
Rasulullah ﷺ bahkan beberapa kali menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai pengganti beliau di Madinah ketika bepergian.
Ia memimpin salat dan mengurus kaum Muslimin meskipun dalam keadaan tunanetra. Hal ini membuktikan besarnya kepercayaan Nabi ﷺ kepadanya.
Dalam hadis riwayat Abdullah bin Umar, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ بِلَالًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُنَادِيَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ
“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan pada malam hari, maka makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan azan.”
Hadis tersebut menunjukkan bahwa Ibnu Ummi Maktum memiliki peran penting dalam syiar Islam di Madinah.
Turunnya Surah ‘Abasa karena Ibnu Ummi Maktum
Kisah Ibnu Ummi Maktum juga berkaitan dengan turunnya Surah ‘Abasa. Saat itu Rasulullah ﷺ sedang berdakwah kepada para pemuka Quraisy.
Di tengah pembicaraan, Ibnu Ummi Maktum datang meminta pengajaran tentang Islam.
Karena Nabi ﷺ berharap para tokoh Quraisy menerima dakwah, beliau sempat memalingkan perhatian dari Ibnu Ummi Maktum. Maka Allah menegur Rasul-Nya melalui firman-Nya:
عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَىٰ
“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena seorang buta telah datang kepadanya. Tahukah engkau, barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia ingin mendapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 1–4)
Peristiwa ini menunjukkan kemuliaan Ibnu Ummi Maktum di sisi Allah. Bahkan seorang sahabat tunanetra mendapat perhatian langsung dalam Al-Qur’an.
Setelah turunnya ayat tersebut, Rasulullah ﷺ semakin memuliakan dan menghormatinya.
Turunnya Ayat “Ghairu Ulī ad-Dharar”
Ibnu Ummi Maktum juga menjadi sebab turunnya tambahan ayat dalam Surah An-Nisa tentang uzur bagi orang yang memiliki keterbatasan.
Ketika turun firman Allah:
لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ۚ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً ۚ وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا
“Tidaklah sama antara orang-orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang) tanpa mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwa mereka atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing Allah menjanjikan pahala yang baik, dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.” (QS. An-Nisa: 95)
Ibnu Ummi Maktum datang mengadukan keadaannya yang buta. Ia khawatir tidak mendapat keutamaan jihad karena keterbatasannya. Maka Allah menurunkan tambahan ayat:
غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ
“kecuali orang-orang yang memiliki uzur.”
Ayat tersebut menjadi bukti kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya yang memiliki keterbatasan fisik.
Islam tidak membebani seseorang di luar kemampuannya, tetapi tetap memberikan peluang pahala bagi mereka yang memiliki niat tulus.
Semangat Jihad Meski Memiliki Keterbatasan
Walaupun memiliki uzur, Ibnu Ummi Maktum tidak kehilangan semangat untuk berjihad.
Ia bahkan meminta agar diberi tugas membawa panji perang karena merasa tidak mungkin melarikan diri dari medan pertempuran.
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa ia ikut dalam Perang Qadisiyah bersama pasukan kaum Muslimin yang dipimpin Sa’d bin Abi Waqqash.
Saat itu ia membawa bendera perang sambil mengenakan baju perang lengkap.
Sebagian riwayat menyebutkan bahwa Ibnu Ummi Maktum wafat setelah kembali ke Madinah, sementara pendapat lain mengatakan ia gugur syahid dalam Perang Qadisiyah.
Kisah perjuangannya menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak memadamkan semangat iman dan pengabdian kepada Allah.
Pelajaran dari Kisah Ibnu Ummi Maktum
Kisah Ibnu Ummi Maktum mengandung banyak pelajaran berharga bagi kaum Muslimin. Pertama, kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak ditentukan oleh fisik, jabatan, atau kekayaan, melainkan oleh ketakwaannya.
Kedua, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti beramal. Di tengah kekurangannya, Ibnu Ummi Maktum tetap aktif berdakwah, menjadi muazin, memimpin salat, hingga ikut berjihad.
Ketiga, kisah ini mengingatkan agar kita tidak meremehkan orang lain hanya karena kondisi fisiknya. Allah bisa saja memuliakan seseorang yang dianggap lemah oleh manusia.
Di zaman sekarang, banyak orang memiliki tubuh sehat dan kesempatan luas, tetapi lalai dalam menuntut ilmu dan beribadah.
Karena itu, semangat Ibnu Ummi Maktum seharusnya menjadi motivasi bagi kita untuk lebih bersungguh-sungguh dalam menaati Allah.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang istiqamah dalam iman dan amal saleh.
اللهم ارزقنا حب الإيمان، وثبت قلوبنا على طاعتك، واجعلنا من عبادك الصالحين
“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kecintaan kepada iman, teguhkan hati kami di atas ketaatan kepada-Mu, dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh.”(ust)










Komentar