Urutan Wali Nikah Menurut Mazhab Syafi’i Lengkap

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 23 Juni 2026 - 03:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi seorang wali sedang melaksanakan ijab dan qabul dengan mempelai pria ( poto : bincangsyariah.com )

Ilustrasi seorang wali sedang melaksanakan ijab dan qabul dengan mempelai pria ( poto : bincangsyariah.com )

Jakarta, dorlanhikmah.com – Pernikahan dalam Islam tidak hanya menjadi ikatan sosial, tetapi juga ibadah yang memiliki aturan ketat. Salah satu aturan penting yang harus dipenuhi adalah keberadaan wali. Dalam pembahasan ini, urutan wali nikah sah menjadi bagian utama yang menentukan keabsahan akad pernikahan seorang perempuan menurut syariat Islam.

Islam menetapkan wali nikah sebagai pihak yang bertanggung jawab menikahkan mempelai perempuan. Wali tidak berdiri sebagai formalitas, tetapi sebagai penjaga kehormatan dan kepastian hukum dalam akad. Karena itu, ulama Mazhab Syafi’i menjelaskan urutan wali secara rinci berdasarkan kedekatan nasab.

Kitab Al Fiqh Al Manhaji ‘ala Madzhab Al Imam Al Syafi’i menjelaskan bahwa wali nikah berasal dari garis ayah (asobah). Urutan ini berjalan dari yang paling dekat hingga yang lebih jauh, dan akan berpindah kepada wali hakim jika seluruh wali nasab tidak ada atau tidak memenuhi syarat.

Pentingnya Wali dalam Pernikahan Islam

Wali nikah memiliki kedudukan sebagai rukun nikah menurut jumhur ulama, khususnya dalam Mazhab Syafi’i. Tanpa wali, akad nikah dianggap tidak sah.

Rasulullah ﷺ menegaskan hal ini dalam sabdanya:

لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ

“Tidak ada pernikahan kecuali dengan wali.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Hadis ini menunjukkan bahwa wali bukan pilihan, melainkan syarat sah yang tidak dapat ditinggalkan.

Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab menjelaskan:

“Wali termasuk syarat sah nikah menurut Syafi’iyyah. Akad tidak sah tanpa keberadaan wali, meskipun kedua mempelai saling ridha.”

Penjelasan ini menegaskan bahwa Islam menjaga struktur keluarga sejak awal pembentukan ikatan pernikahan.

Urutan Wali Nikah Menurut Mazhab Syafi’i

Para ulama Mazhab Syafi’i menyusun urutan wali berdasarkan kedekatan hubungan darah dari pihak ayah. Berikut urutan lengkapnya:

1. Ayah Kandung

Ayah menjadi wali utama dalam pernikahan anak perempuan. Ia memiliki hak pertama karena hubungan nasab paling dekat dan tanggung jawab langsung terhadap anak.

Baca Juga :  Makna Zihar dalam Pernikahan yang Wajib Dipahami Suami

Ayah juga dianggap paling mengetahui kondisi dan maslahat anak perempuannya dalam memilih pasangan.

2. Kakek dari Pihak Ayah

Jika ayah tidak ada atau tidak memenuhi syarat sebagai wali, maka kakek dari jalur ayah mengambil alih posisi tersebut.

Kakek memiliki kedudukan sebagai perpanjangan garis nasab yang masih sangat dekat dengan mempelai perempuan.

3. Saudara Laki-laki Sekandung

Jika ayah dan kakek tidak ada, maka saudara laki-laki sekandung menjadi wali. Mereka memiliki hubungan darah langsung dari kedua orang tua yang sama.

Peran ini menunjukkan kuatnya ikatan keluarga dalam sistem perwalian Islam.

4. Saudara Laki-laki Sebapak

Apabila saudara sekandung tidak ada, maka saudara laki-laki sebapak mengambil alih peran wali.

Mereka tetap termasuk garis asobah dari pihak ayah yang memiliki hak perwalian.

5. Anak Saudara Laki-laki Sekandung

Jika tidak ada saudara laki-laki, maka anak laki-laki dari saudara sekandung (keponakan) menjadi wali berikutnya.

Mereka melanjutkan garis keturunan laki-laki dalam keluarga ayah.

6. Anak Saudara Laki-laki Sebapak

Urutan berlanjut kepada anak laki-laki dari saudara sebapak jika tidak ada yang sebelumnya.

Islam tetap menjaga struktur garis nasab secara sistematis dalam penentuan wali.

7. Paman Kandung (Saudara Ayah Sekandung)

Jika seluruh urutan di atas tidak ada, maka paman kandung dari pihak ayah menjadi wali.

Mereka adalah saudara laki-laki dari ayah yang memiliki hubungan darah kuat dalam keluarga besar.

8. Paman Sebapak

Setelah itu, paman sebapak dari pihak ayah menjadi wali berikutnya.

Urutan ini tetap mengikuti garis keturunan laki-laki dari jalur ayah.

9. Anak Paman Kandung

Jika paman tidak ada, maka anak laki-laki dari paman kandung dapat menjadi wali.

Baca Juga :  Buya Hamka Tegaskan Hak Perempuan Islam Pilih Jodoh Sendiri

Ini menunjukkan bahwa perwalian terus mengikuti garis asobah terdekat yang masih hidup.

10. Anak Paman Sebapak

Jika tidak ada juga, maka anak paman sebapak mengambil posisi wali terakhir dari garis keluarga nasab.

Wali Hakim Jika Tidak Ada Wali Nasab

Jika seluruh urutan wali nasab tidak ditemukan atau tidak dapat menjalankan tugasnya, maka Islam memberikan solusi melalui wali hakim.

Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah ﷺ:

فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ

“Sultan (pemimpin/hakim) adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Wali hakim bertugas memastikan akad nikah tetap berjalan sesuai syariat tanpa merugikan pihak perempuan.

Pandangan Ulama Klasik

Imam Asy-Syafi’i dalam Al-Umm menjelaskan bahwa perwalian nikah harus mengikuti urutan nasab secara ketat. Beliau menegaskan bahwa:

“Wali dalam nikah tidak boleh berpindah kepada yang lebih jauh selama masih ada yang lebih dekat.”

Sedangkan Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni menyatakan bahwa wali nasab memiliki prioritas berdasarkan kedekatan darah, dan tidak boleh dilompati tanpa alasan syar’i.

Hikmah Urutan Wali Nikah

Islam menetapkan urutan wali bukan tanpa tujuan. Sistem ini menjaga beberapa hal penting dalam kehidupan keluarga.

Pertama, Islam menjaga kehormatan perempuan melalui peran wali yang bertanggung jawab. Kedua, Islam memastikan keputusan pernikahan tidak dilakukan secara tergesa-gesa.

Ketiga, sistem ini menjaga keteraturan hukum keluarga agar tidak terjadi konflik dalam penentuan pernikahan.

Wali tidak hanya memberikan izin, tetapi juga memastikan calon suami layak secara agama dan moral. Wali bertugas menjaga kemaslahatan anak perempuan dalam jangka panjang.

Dengan demikian, Islam tidak menempatkan pernikahan sebagai hubungan bebas tanpa aturan, tetapi sebagai akad yang terjaga dan terarah.(ust)

Berita Terkait

Hukum Menghadiri Undangan Pernikahan Lewat Medsos Menurut Pandangan Fiqih
Hukum Wanita Menyembelih Ayam Menurut Islam
5 Rukun Khutbah Jumat yang Wajib Dipenuhi Khatib
Hukum Buah Pohon Tetangga yang Jatuh ke Lahan Kita
Hukum Komersialisasi Data DNA Menurut Muktamar NU
Legalitas Transaksi Bitcoin dalam Perspektif Fiqih Islam
Hukum Wanita Haid Berziarah Kubur dan Membaca Surah Yasin
Muktamar NU Membolehkan Implan Cip Otak Medis dan Bitcoin
Berita ini 13 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 19:54 WIB

Hukum Menghadiri Undangan Pernikahan Lewat Medsos Menurut Pandangan Fiqih

Sabtu, 5 September 2026 - 19:47 WIB

Hukum Wanita Menyembelih Ayam Menurut Islam

Sabtu, 5 September 2026 - 19:41 WIB

5 Rukun Khutbah Jumat yang Wajib Dipenuhi Khatib

Sabtu, 5 September 2026 - 19:36 WIB

Hukum Buah Pohon Tetangga yang Jatuh ke Lahan Kita

Kamis, 3 September 2026 - 16:27 WIB

Hukum Komersialisasi Data DNA Menurut Muktamar NU

Berita Terbaru

Ilustrasi pperempuan sedang menyembelih ayam.(poto: ist).

Fiqih

Hukum Wanita Menyembelih Ayam Menurut Islam

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:47 WIB

Ilustrasi Khutbah Jumat.(poto: arsip).

Fiqih

5 Rukun Khutbah Jumat yang Wajib Dipenuhi Khatib

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:41 WIB

Ilustrasi buah menjalar ke lahan tetangga.(poto: ist.).

Fiqih

Hukum Buah Pohon Tetangga yang Jatuh ke Lahan Kita

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:36 WIB

Foto bersama 34 pasangan pengantin pada acara Nikah Massal di Tennis Indoor Senayan Jakarta, Sabtu, (5/9/2026).(poto: kemenag.go.id).

Berita Islam

Wamenag Tegaskan Nikah Massal Perlawanan Terhadap LGBTQ

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:28 WIB