Hari Tasyrik: Makna, Asal Usul, dan Amalan Ibadah

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 28 Mei 2026 - 21:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Hari Tasyrik: Makna, Asal Usul, dan Amalan Ibadah (poto : chatGPT ).

Hari Tasyrik: Makna, Asal Usul, dan Amalan Ibadah (poto : chatGPT ).

Jakarta, dorlanhikmah.comHari Tasyrik dalam Islam terjadi pada 11, 12, dan 13 Dzulhijjah setelah Idul Adha, dan umat Islam menyebutnya sebagai waktu makan, minum, serta memperbanyak ibadah.

Pada hari Tasyrik dalam Islam, umat Muslim melanjutkan ibadah kurban dan tidak melakukan puasa sebagai bentuk ketaatan pada sunnah Rasulullah ﷺ.

Hari Tasyrik dalam Islam: Makna dan Kedudukannya

Hari Tasyrik dalam Islam memiliki kedudukan yang istimewa karena umat Muslim masih berada dalam suasana Idul Adha. Umat Islam tidak hanya merayakan penyembelihan hewan kurban, tetapi juga melanjutkan ibadah dengan penuh rasa syukur.

Umat Muslim menjalani hari-hari ini dengan memperbanyak zikir, menikmati daging kurban, dan menjaga kebersamaan keluarga serta masyarakat. Islam menempatkan hari Tasyrik sebagai bagian dari hari raya yang penuh keberkahan.

Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa hari Tasyrik bukan waktu untuk berpuasa, melainkan waktu untuk makan dan minum sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah.

Asal Usul Penamaan Hari Tasyrik

Para ulama bahasa menjelaskan bahwa kata tasyrik berasal dari bahasa Arab syarraqa yang berarti “matahari terbit” atau “menghadap timur”. Kata ini juga berkaitan dengan aktivitas menjemur sesuatu di bawah sinar matahari.

Syekh Ibnu Manzur dalam kitab Lisan al-Arab menjelaskan bahwa istilah ini muncul karena dua pendapat utama ulama.

Pendapat pertama menyebut masyarakat Arab dahulu menjemur daging kurban pada hari Tasyrik. Mereka mengeringkan daging agar awet karena belum mengenal teknologi pendingin.

Pendapat kedua menjelaskan bahwa ibadah kurban banyak dilakukan setelah matahari terbit. Aktivitas pagi hari ini kemudian melekat dengan istilah Tasyrik.

Kedua pendapat ini menunjukkan bahwa hari Tasyrik selalu berkaitan dengan cahaya matahari, aktivitas ibadah, dan pengolahan daging kurban.

Larangan Puasa di Hari Tasyrik

Islam melarang umat Muslim berpuasa pada hari Tasyrik. Rasulullah ﷺ memberikan penjelasan tegas mengenai hal ini melalui hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Baca Juga :  Puasa Arafah Buka Pintu Ampunan di Bulan Dzulhijjah

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَا: لَمْ يُرَخَّصْ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ أَنْ يُصَامْنَ إِلَّا لِمَنْ لَمْ يَجِدِ الْهَدْيَ
“Tidak diperkenankan berpuasa pada hari Tasyrik kecuali bagi orang yang tidak mendapatkan hewan hadyu.” (HR. Bukhari no. 1859)

Larangan ini muncul karena Islam ingin umatnya menikmati rezeki dari Allah pada hari raya. Umat Muslim memakan daging kurban, berbagi dengan sesama, dan merasakan kebahagiaan bersama.

Islam juga memberikan keringanan khusus bagi jamaah haji yang tidak menemukan hewan hadyu, sehingga mereka tetap boleh berpuasa dalam kondisi tertentu.

Hari Tasyrik sebagai Hari Makan dan Minum

Rasulullah ﷺ juga menyebut hari Tasyrik sebagai hari makan dan minum. Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengatur ibadah ritual, tetapi juga keseimbangan dalam menikmati nikmat dunia.

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ:
إِنَّ يَوْمَ عَرَفَةَ وَيَوْمَ النَّحْرِ وَأَيَّامَ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ
“Hari Arafah, Idul Adha, dan hari Tasyrik adalah hari raya umat Islam dan hari untuk makan serta minum.” (HR. An-Nasa’i no. 2954)

Hadis ini menegaskan bahwa Islam memberikan ruang kebahagiaan setelah ibadah besar seperti kurban. Umat Islam tidak hanya beribadah, tetapi juga merayakan nikmat Allah dengan penuh syukur.

Amalan di Hari Tasyrik

Umat Islam tidak berhenti beribadah pada hari Tasyrik. Justru pada hari ini, umat Muslim memperbanyak amal saleh dengan cara yang berbeda dari hari biasa.1. Memperbanyak Zikir

Umat Islam mengisi hari Tasyrik dengan zikir dan takbir. Mereka mengingat Allah dalam setiap aktivitas, terutama setelah shalat wajib.

Zikir membantu hati tetap tenang dan menjaga rasa syukur atas nikmat kurban yang telah Allah berikan.

Baca Juga :  Pandangan Empat Mazhab Tentang Qunut Subuh dan Hukum Sujud Sahwi Jika Ditinggalkan

2. Melanjutkan Ibadah Kurban

Umat Islam masih boleh menyembelih hewan kurban pada hari Tasyrik. Islam memberikan waktu yang luas agar umat tidak terburu-buru dalam melaksanakan ibadah ini.

Proses distribusi daging kurban juga berlangsung pada hari-hari ini. Banyak masyarakat saling berbagi agar semua orang merasakan manfaatnya.

3. Menjaga Silaturahmi

Hari Tasyrik juga menjadi momen mempererat hubungan sosial. Keluarga, tetangga, dan masyarakat saling berkunjung dan berbagi makanan.

Islam menekankan bahwa kebahagiaan Idul Adha tidak hanya bersifat individu, tetapi juga kolektif.

4. Bersyukur kepada Allah

Umat Islam menguatkan rasa syukur pada hari Tasyrik. Mereka menyadari bahwa seluruh rezeki datang dari Allah, termasuk hewan kurban yang mereka sembelih.

Syukur ini tidak hanya diucapkan, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan berbagi kepada sesama.

Pandangan Ulama tentang Hari Tasyrik

Para ulama klasik menjelaskan makna hari Tasyrik dengan sangat mendalam. Selain Lisan al-Arab, banyak kitab fikih juga menegaskan keutamaan hari ini.

Sebagian ulama menyebut hari Tasyrik sebagai bagian dari hari raya umat Islam. Mereka menegaskan bahwa umat Islam harus menghindari kesedihan dan memperbanyak kegembiraan yang halal.

Imam Al-Qurtubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa hari Tasyrik termasuk hari-hari yang Allah jadikan sebagai waktu untuk berdzikir dan bersyukur atas nikmat-Nya.

Hikmah Hari Tasyrik

Hari Tasyrik memberikan banyak pelajaran bagi umat Islam. Islam mengajarkan keseimbangan antara ibadah, sosial, dan kebahagiaan.

Pertama, Islam mengajarkan umat untuk tidak berlebihan dalam menahan diri, seperti larangan puasa pada hari ini. Umat diajak menikmati rezeki dengan cara yang halal.

Kedua, Islam menekankan pentingnya berbagi. Daging kurban tidak hanya untuk satu keluarga, tetapi juga untuk masyarakat luas.

Ketiga, Islam mengajarkan rasa syukur yang nyata. Umat tidak hanya mengucapkan syukur, tetapi juga menunjukkan melalui tindakan.(ust)

Berita Terkait

Hukum Memfoto Orang Diam-Diam Tanpa Izin dalam Islam
Penutupan Hati dalam Islam: Dosa, Maksiat, dan Peringatan
Shalat Jumat Bisa Tidak Sah? Ini Syarat dan Rukunnya
Hukum Muzara’ah dan Mukhabarah dalam Menggarap Tanah
Utang Si Mayit Harus Dilunasi Sebelum Warisan Dibagi
Ahli Waris dalam Ilmu Faraid: Jenis, Bagian, dan Hukum Warisan Islam
Hukum Warisan Anak Sepersusuan dalam Islam
Tanda Baligh dalam Islam: Usia, Biologis, dan Tanggung Jawab Syariat
Berita ini 2 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 23:00 WIB

Hukum Memfoto Orang Diam-Diam Tanpa Izin dalam Islam

Jumat, 5 Juni 2026 - 19:00 WIB

Penutupan Hati dalam Islam: Dosa, Maksiat, dan Peringatan

Jumat, 5 Juni 2026 - 11:00 WIB

Shalat Jumat Bisa Tidak Sah? Ini Syarat dan Rukunnya

Jumat, 5 Juni 2026 - 09:00 WIB

Hukum Muzara’ah dan Mukhabarah dalam Menggarap Tanah

Jumat, 5 Juni 2026 - 05:00 WIB

Utang Si Mayit Harus Dilunasi Sebelum Warisan Dibagi

Berita Terbaru

Ilustrasi Seorang Fotografer dengan membawa peralatan kamera( poto : kompas edukasi )

Fiqih

Hukum Memfoto Orang Diam-Diam Tanpa Izin dalam Islam

Jumat, 5 Jun 2026 - 23:00 WIB

Al-Qur'an

QS Ghafir 3: Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah

Jumat, 5 Jun 2026 - 21:00 WIB