Kisah Teungku Fakinah Ulama Perempuan Aceh Lawan Belanda

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 10 Agustus 2026 - 19:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Teungku Fakinah, yang akrab disapa Teungku Faki, lahir pada tahun 1856 di Mukim Lam Krak.(ilustrsi poto: istimewa).

Teungku Fakinah, yang akrab disapa Teungku Faki, lahir pada tahun 1856 di Mukim Lam Krak.(ilustrsi poto: istimewa).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Perjuangan rakyat Serambi Mekkah menentang penjajahan kolonial Belanda tidak hanya mengandalkan keberanian kaum pria. Sosok ulama perempuan asal Aceh ini membuktikan bahwa kepemimpinan ulama wanita sanggup menggetarkan barisan musuh.

Teungku Fakinah, yang akrab disapa Teungku Faki, lahir pada tahun 1856 di Mukim Lam Krak. Putri dari Teungku Asahan dan Fathimah ini menimba ilmu agama secara mendalam hingga berusia 20 tahun.

Mengasuh Dayah dan Menghadapi Agresi Pertama

Setelah menikah dengan Teungku Ahmad, pasangan suami istri ini mengelola pusat pendidikan Islam Dayah Lam Pucok. Lembaga tersebut mendidik santri pria maupun wanita dalam bidang ilmu pengetahuan agama dan kerajinan tangan.

Ketika Belanda melancarkan agresi militer pertama pada tahun 1873, Teungku Ahmad memimpin para pemuda menghadapi musuh di Pantai Cermin. Pertempuran sengit tersebut mengugurkan beberapa tokoh penting Aceh pada 8 April 1873, termasuk suami Teungku Fakinah.

Baca Juga :  Mengenal Asy-Syifa binti Abdullah: Tokoh Literasi dan Pelopor Perempuan Islam

Membentuk Laskar Wanita dan Mendirikan Benteng

Pasca kematian suaminya, Teungku Fakinah langsung mengambil alih kepemimpinan dayah serta pasukan laskar. Beliau segera mengobarkan semangat jihad ke seluruh pelosok Aceh Besar sekaligus menggalang dana perang.

Pahlawan wanita ini kemudian membentuk laskar khusus yang awalnya beranggotakan para janda syuhada. Seiring berjalannya waktu, banyak perempuan berstatus istri yang ikut bergabung membela tanah air.

Atas perintah Teungku Chik Di Tiro, Teungku Fakinah memimpin pembangunan benteng pertahanan di Kuta Cot Weue. Beliau tidak sekadar merancang benteng tersebut, tetapi juga memimpin langsung pertempuran di garis depan.

Sementara itu, adiknya yang bernama Teungku Amat memimpin benteng pertahanan lain di Kuta Bak Garut. Persatuan keluarga pejuang ini memperkokoh pertahanan wilayah Lam Krak dari serbuan tentara kolonial.

Baca Juga :  Sejarah Shalawat Badar dan Maknanya

Perlawanan Gigih hingga Perang Gerilya

Pasukan Belanda di bawah pimpinan Kolonel JW Stempoort menggempur kawasan Lam Krak pada 9 Juni 1896. Pejuang Aceh memberikan perlawanan sengit selama dua bulan sebelum Belanda akhirnya menguasai daerah tersebut pada Agustus 1896.

Teungku Fakinah terpaksa menarik pasukannya menuju Kuta Cot Ukam, Gleyeueng, hingga Indrapuri. Dalam pertempuran berat tersebut, suami keduanya yang bernama Teungku Badai turut gugur sebagai syahid.

Setelah wilayah Aceh Besar jatuh, beliau memindahkan basis perjuangannya ke daerah Pidie. Beliau sempat mendirikan dayah darurat di Tiro dan Tangse untuk mendidik generasi muda.

Saat Belanda menguasai Tangse pada April 1899, Teungku Fakinah mengungsikan pasukannya ke Pase. Beliau terus melanjutkan perang gerilya hingga ke wilayah Gayo Lues demi mempertahankan kemerdekaan.(ust)

Berita Terkait

Menelusuri Jejak Sejarah Pesantren dan Makna Santri
Kisah Nabi Ibrahim Menghormati Tamu Beda Agama yang Penuh Keteladanan
Kisah Umar bin Abdul Aziz Tolak Gratifikasi dan Fasilitas Negara
Kisah Keteguhan Ulama Besar Menghadapi Penjara Penguasa
Mukjizat Perang Tabuk: Berkah Makanan dan Kunci Surga
Kisah Abdullah bin Abi Umayyah Meraih Hidayah
Ketegasan Ali bin Abi Thalib Menjaga Amanah Kas Negara
Integritas Imam Abu Hanifah Hindari Konflik Kepentingan
Berita ini 8 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 13:17 WIB

Menelusuri Jejak Sejarah Pesantren dan Makna Santri

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:30 WIB

Kisah Nabi Ibrahim Menghormati Tamu Beda Agama yang Penuh Keteladanan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:24 WIB

Kisah Umar bin Abdul Aziz Tolak Gratifikasi dan Fasilitas Negara

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 08:21 WIB

Kisah Keteguhan Ulama Besar Menghadapi Penjara Penguasa

Kamis, 15 Oktober 2026 - 07:13 WIB

Mukjizat Perang Tabuk: Berkah Makanan dan Kunci Surga

Berita Terbaru

Tim Kerukunan Umat Beragama Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi mengawal langsung survei kerukunan umat beragama di Kabupaten Batang Hari.(poto: jambi.kemenag.go.id).

Berita Islam

Kemenag Jambi Awasi Survei Kerukunan di Batang Hari

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:56 WIB

Kegiatan gelar wicara bertajuk “Akses Rumah Pertama bagi Pekerja Muda” dalam ajang Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).(poto: republika).

Berita Islam

Bank BSN Rilis KPR Tenor 40 Tahun untuk Pekerja Muda

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:39 WIB

Gus Nadir.(poto: istimewa).

Pendidikan

Santri Masa Kini Mesti Kuasai AI dan Keterampilan Digital

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:32 WIB

Ponpes THOHIR YASIN Lendang Nangka-Masbagik-Lombok Timur(poto: istimewa).

Sejarah

Menelusuri Jejak Sejarah Pesantren dan Makna Santri

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:17 WIB

Isim Isyarah.

Bahasa Arab

Panduan Lengkap Isim Isyarah: Jenis dan Contoh Kalimat

Jumat, 23 Okt 2026 - 12:56 WIB