Kisah Sarah Istri Nabi Ibrahim, Perempuan Tercantik Dunia

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 23 Juni 2026 - 23:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi syarah.( poto : jatimtime)

Ilustrasi syarah.( poto : jatimtime)

Jakarta, dorlanhikmah.com – Kisah Sarah istri Ibrahim menjadi salah satu cerita paling terkenal dalam tradisi Islam yang menggambarkan keteguhan iman, kecantikan luar biasa, dan ujian berat seorang perempuan mulia.

Dalam kisah ini, kisah Sarah istri Ibrahim menunjukkan bagaimana Allah menjaga hamba-Nya yang beriman ketika menghadapi ancaman penguasa zalim di masa lalu.

Sarah dikenal bukan hanya karena kecantikannya, tetapi juga karena keteguhan hati dan kedekatannya dengan Nabi Ibrahim. Ia menjalani kehidupan penuh ujian, namun tetap bersandar kepada Allah dalam setiap keadaan.

Sarah dalam Riwayat Keindahan Manusia

Para ulama menyebut Sarah sebagai salah satu perempuan paling indah yang pernah hidup di muka bumi. Riwayat yang dinisbatkan kepada Ibnu Abbas menyebut bahwa Allah membagi keindahan manusia ke dalam beberapa bagian besar.

Riwayat itu menjelaskan bahwa Allah membagi kecantikan menjadi sepuluh bagian, lalu memberikan tiga bagian kepada Hawa, tiga bagian kepada Sarah, tiga bagian kepada Yusuf, dan sisanya untuk seluruh manusia.

Para ulama hadis menyampaikan riwayat ini sebagai gambaran keutamaan fisik yang Allah berikan kepada beberapa manusia pilihan, bukan sebagai penilaian utama derajat ketakwaan.

Kehidupan Sarah yang Kaya dan Terhormat

Sarah hidup dalam kondisi ekonomi yang sangat baik. Ia memiliki ternak yang banyak dan lahan yang luas. Namun ia tidak menjadikan kekayaan itu sebagai tujuan hidup.

Menurut penjelasan Ibnu Katsir dalam karya-karyanya, Sarah dikenal sebagai perempuan yang memiliki tubuh indah, kehidupan terhormat, dan kekayaan melimpah.

Meski demikian, Sarah justru menyerahkan pengelolaan hartanya kepada suaminya, Ibrahim, agar harta tersebut berkembang dan digunakan untuk kebaikan. Sikap ini menunjukkan kepercayaan penuh Sarah kepada suaminya dalam urusan dunia.

Asal Usul Sarah dalam Berbagai Pendapat

Para sejarawan dan ulama berbeda pendapat mengenai asal-usul Sarah. Sebagian riwayat menyebut Sarah berasal dari keluarga bangsawan di wilayah Haran.

Sebagian pendapat lain menyatakan bahwa Sarah merupakan anak dari paman Nabi Ibrahim yang bernama Haran. Ada pula yang menyebut Sarah masih memiliki hubungan keluarga dekat dengan Nabi Ibrahim, sehingga pernikahan mereka terjadi dalam lingkup keluarga besar.

Baca Juga :  Kisah Ibnu Ummi Maktum, Sahabat Nabi yang Buta tetapi Mulia di Sisi Allah

Namun, Ibnu Katsir menegaskan bahwa pendapat yang paling kuat menyebut Sarah sebagai anak dari Haran, paman Nabi Ibrahim. Haran juga memiliki anak lain bernama Luth, yang kemudian menjadi nabi.

Hijrah ke Mesir dan Awal Ujian Berat

Ketika wilayah Palestina mengalami kekeringan dan krisis pangan, Nabi Ibrahim dan Sarah memutuskan untuk hijrah ke Mesir. Mereka berharap menemukan kehidupan yang lebih baik di negeri tersebut.

Namun perjalanan itu justru membawa ujian yang lebih besar. Kecantikan Sarah menarik perhatian banyak orang, termasuk penguasa Mesir yang dikenal zalim pada masa itu.

Situasi ini membuat Nabi Ibrahim menghadapi pilihan sulit demi menjaga keselamatan dirinya dan istrinya.

Ancaman Penguasa Zalim di Mesir

Ketika Sarah memasuki wilayah Mesir, para pejabat kerajaan melihat kecantikannya dan melaporkannya kepada penguasa. Sang raja kemudian memerintahkan agar Sarah dibawa ke istana.

Nabi Ibrahim pun menghadapi tekanan besar. Ia khawatir bahwa jika penguasa mengetahui Sarah adalah istrinya, maka nyawanya akan terancam.

Dalam kondisi itu, Nabi Ibrahim mengarahkan Sarah untuk mengatakan bahwa mereka adalah saudara seiman jika ada yang bertanya, demi menghindari bahaya yang lebih besar.

Doa Nabi Ibrahim dan Perlindungan Allah

Dalam riwayat Shahih Muslim, Abu Hurairah menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim menghadapi raja zalim yang mencoba mengambil Sarah.

Hadis tersebut menyebutkan:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
“لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ…”

Termasuk di dalamnya adalah peristiwa ketika Nabi Ibrahim berkata tentang Sarah dalam konteks penyelamatan diri.

Ketika Sarah dibawa ke istana, Nabi Ibrahim segera melaksanakan salat dan berdoa kepada Allah dengan penuh harap. Ia menyerahkan sepenuhnya urusan istrinya kepada perlindungan Allah.

Kekuatan Doa Sarah di Istana Raja

Ketika Sarah berada di hadapan raja, Allah menunjukkan kekuasaan-Nya. Setiap kali raja mencoba menyentuh Sarah, tubuhnya langsung terhenti dan terasa tidak mampu bergerak.

Raja kemudian memohon kepada Sarah agar ia berdoa kepada Tuhannya untuk membebaskannya. Sarah pun berdoa, dan Allah mengangkat kesulitan itu.

Baca Juga :  Tiga Metode Berpikir Imam Al-Ghazali di Era Media Sosial

Namun, ketika raja kembali mencoba berbuat buruk, keadaan yang sama kembali terjadi bahkan lebih berat dari sebelumnya.

Peristiwa ini berulang hingga raja benar-benar menyadari bahwa Sarah berada dalam perlindungan kekuatan yang tidak bisa ia lawan.

Raja Menyerah dan Memberikan Hajar

Setelah menyadari ketidakberdayaannya, raja akhirnya menyerah. Ia memerintahkan agar Sarah dibebaskan dari istana dan tidak diganggu lagi.

Ia juga memberikan seorang pelayan perempuan bernama Hajar sebagai hadiah kepada Sarah. Pelayan ini kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah keluarga Nabi Ibrahim.

Setelah peristiwa itu, Sarah kembali menemui Nabi Ibrahim dengan keadaan selamat.

Pertemuan Kembali Sarah dan Ibrahim

Ketika Sarah kembali, Nabi Ibrahim langsung menyambutnya dengan penuh syukur. Ia bertanya tentang keadaan Sarah selama berada di istana raja.

Sarah menjawab dengan tenang bahwa Allah telah melindunginya dari kejahatan raja tersebut. Ia juga menyampaikan bahwa Allah memberikan seorang pelayan sebagai bagian dari peristiwa itu.

Kisah ini menunjukkan hubungan penuh kepercayaan antara Nabi Ibrahim dan Sarah dalam menghadapi ujian hidup.

Kutipan Ulama Klasik tentang Sarah

Dalam beberapa karya klasik, para ulama menekankan bahwa peristiwa ini menunjukkan kekuasaan Allah yang menjaga orang beriman.

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kisah ini mengandung pelajaran tentang tawakal dan perlindungan Allah terhadap hamba-Nya yang bertakwa.

Ia juga menegaskan bahwa ujian Sarah menjadi bukti bahwa kesabaran dan doa mampu mengalahkan kekuatan manusia yang zalim.

Kisah Sarah memberikan banyak pelajaran penting bagi umat Islam. Pertama, kisah ini menunjukkan bahwa Allah selalu melindungi orang yang beriman dalam situasi sulit.

Kedua, kisah ini mengajarkan pentingnya doa dalam menghadapi tekanan hidup. Sarah tidak melawan dengan kekuatan fisik, tetapi dengan ketergantungan penuh kepada Allah.

Ketiga, kisah ini menunjukkan bahwa kecantikan dan kekayaan tidak selalu membawa kemudahan, tetapi juga ujian yang berat.(ust)

Berita Terkait

Kedudukan Perempuan Sebelum Islam dan Perubahan Besar yang Dibawa Islam
Kriminalisasi Kritik dalam Sejarah Islam dan Keteguhan Imam Ahmad
Raja Najasyi Wariskan Teladan Tauhid dan Toleransi di Habasyah
Kisah Sahabat Nabi Menegur Penguasa, Pesan tentang Pemimpin Adil
Rahasia Nama Bulan Hijriah: Budaya Arab Pra-Islam
Filosofi Kepemimpinan Nabi Sulaiman: Kekuasaan dan Keadilan
Biografi Ibnu Sina: Jejak Ilmuwan Muslim yang Mengubah Sejarah Kedokteran Dunia
Terbunuhnya Utsman bin Affan dan Krisis Politik Islam Awal
Berita ini 2 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 11 Juli 2026 - 03:00 WIB

Kedudukan Perempuan Sebelum Islam dan Perubahan Besar yang Dibawa Islam

Jumat, 10 Juli 2026 - 23:00 WIB

Raja Najasyi Wariskan Teladan Tauhid dan Toleransi di Habasyah

Jumat, 10 Juli 2026 - 21:00 WIB

Kisah Sahabat Nabi Menegur Penguasa, Pesan tentang Pemimpin Adil

Kamis, 9 Juli 2026 - 01:00 WIB

Rahasia Nama Bulan Hijriah: Budaya Arab Pra-Islam

Rabu, 8 Juli 2026 - 23:00 WIB

Filosofi Kepemimpinan Nabi Sulaiman: Kekuasaan dan Keadilan

Berita Terbaru

Apakah telur harus di cuci dulu sebelumdi ebus,simak penjelasannya.( poto: nuonline).

Fiqih

Kajian Fiqih, Perlukah Mencuci Telur Sebelum Dimasak?

Sabtu, 11 Jul 2026 - 05:00 WIB