Puasa Arafah Buka Pintu Ampunan di Bulan Dzulhijjah

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 28 Mei 2026 - 07:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Jamaah haji sedang di Arafah ( Poto : ist )

Jamaah haji sedang di Arafah ( Poto : ist )

Jakarta, dorlanhikmah.com – Keutamaan puasa Arafah selalu menjadi perhatian umat Islam menjelang Idul Adha. Puasa sunnah yang berlangsung setiap 9 Dzulhijjah ini menawarkan pahala besar sekaligus kesempatan meraih ampunan Allah SWT. Rasulullah SAW bahkan menyebut puasa Arafah mampu menghapus dosa selama dua tahun.

Umat Islam yang tidak menjalankan ibadah haji sangat dianjurkan melaksanakan puasa ini. Pada waktu yang sama, jamaah haji menjalani wukuf di Padang Arafah sebagai puncak rangkaian ibadah haji.

Dzulhijjah Jadi Bulan Penuh Kemuliaan

Bulan Dzulhijjah menempati posisi istimewa dalam kalender Hijriah. Banyak ulama menjelaskan bahwa sepuluh hari pertama Dzulhijjah termasuk waktu terbaik untuk memperbanyak amal saleh.

Rasulullah SAW mendorong umat Islam memperbanyak ibadah pada hari-hari tersebut. Karena itu, banyak Muslim menjalankan puasa sunnah, membaca Alquran, memperbanyak zikir, dan bersedekah.

Allah SWT berfirman:

“Demi fajar, dan malam yang sepuluh.”
(QS Al-Fajr: 1-2)

Mayoritas ulama tafsir menerangkan bahwa ayat tersebut merujuk pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Dalam kitab Lathaif al-Ma’arif, Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskan bahwa Allah SWT mengumpulkan banyak ibadah utama pada hari-hari tersebut, mulai dari salat, puasa, sedekah, hingga haji.

Makna Puasa Arafah bagi Umat Islam

Puasa Arafah berlangsung setiap tanggal 9 Dzulhijjah. Nama Arafah berasal dari Padang Arafah, tempat jamaah haji melaksanakan wukuf.

Muslim yang tidak berhaji tetap bisa meraih kemuliaan Hari Arafah dengan menjalankan puasa sunnah tersebut. Karena itu, banyak umat Islam memanfaatkan momen ini untuk meningkatkan ibadah.

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

“Tiada hari yang lebih banyak Allah membebaskan hamba-Nya dari api neraka selain Hari Arafah.”
(HR Muslim)

Hadis itu menunjukkan betapa besar rahmat Allah SWT pada Hari Arafah.

Puasa Arafah Hapus Dosa Dua Tahun

Salah satu keutamaan terbesar puasa Arafah terdapat dalam hadis shahih riwayat Muslim dari Abu Qatadah Al-Anshari.

Baca Juga :  Hukum Haid Putus Nyambung Menurut Fikih dan Keabsahan Ibadah

Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِى قَتَادَةَ الأَنْصَارِىِّ رَضِىَ الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

Artinya:

“Puasa Arafah menghapus dosa-dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”
(HR Muslim No 1162)

Hadis tersebut membuat banyak umat Islam berlomba menjalankan puasa Arafah setiap tahun.

Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ menjelaskan bahwa dosa yang dimaksud dalam hadis itu ialah dosa kecil. Jika seseorang tidak memiliki dosa kecil, Allah SWT dapat mengangkat derajatnya atau meringankan dosa besar.

Jamaah Haji Tidak Dianjurkan Berpuasa

Islam memberikan keringanan kepada jamaah haji untuk tidak berpuasa saat wukuf di Arafah. Prosesi ibadah haji membutuhkan tenaga dan kondisi fisik yang prima.

Rasulullah SAW bersabda:

“Rasulullah SAW melarang puasa Arafah bagi orang yang sedang berada di Arafah.”
(HR Abu Daud, Ahmad, dan Nasa’i)

Para ulama menilai jamaah haji perlu menjaga stamina karena mereka harus menjalani perjalanan dari Arafah menuju Muzdalifah dan Mina.

Imam Syafi’i menjelaskan bahwa puasa Arafah menjadi hadiah khusus bagi umat Islam yang tidak berhaji agar tetap memperoleh pahala besar.

Puasa Awal Dzulhijjah Juga Dianjurkan

Selain puasa Arafah, umat Islam juga bisa menjalankan puasa sunnah sejak awal Dzulhijjah. Sebagian Muslim memilih berpuasa dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah.

Masyarakat sering menyebut puasa tanggal 1–8 Dzulhijjah sebagai puasa Tarwiyah. Hadis riwayat Ahmad dan Nasa’i menjadi dasar anjuran tersebut.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Rasulullah SAW berpuasa sembilan hari awal Dzulhijjah, Hari Asyura, dan tiga hari setiap bulan.”

Anjuran itu membuat banyak umat Islam memanfaatkan awal Dzulhijjah untuk memperbanyak ibadah sunnah.

Hari Arafah Jadi Waktu Terbaik Berdoa

Hari Arafah juga menjadi waktu mustajab untuk berdoa. Banyak ulama mendorong umat Islam memperbanyak istigfar dan doa pada hari tersebut.

Baca Juga :  Menemukan Ketenangan lewat Sepuluh Hari Dzulhijjah

Pegiat literasi NU Bondowoso, Lutfi Hidayatul Amri mengatakan Hari Arafah menyimpan peluang besar untuk mendapatkan ampunan Allah SWT.

“Hari Arafah adalah hari yang disiapkan Allah SWT sebagai ladang pengampunan dan pembebasan dari api neraka bagi hamba-Nya,” ujar Lutfi.

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Sebaik-baik doa adalah doa pada Hari Arafah.”
(HR Tirmidzi)

Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa untuk diri sendiri, keluarga, dan sesama Muslim.

Puasa Arafah Latih Ketakwaan

Puasa Arafah tidak hanya mendatangkan pahala besar. Ibadah ini juga melatih kesabaran, pengendalian diri, dan keikhlasan.

Saat berpuasa, seseorang belajar menjaga lisan, menahan emosi, dan menghindari perbuatan buruk. Nilai-nilai tersebut membantu umat Islam meningkatkan kualitas ketakwaan.

Selain itu, Hari Arafah mengingatkan umat Islam pada keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam menaati perintah Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(QS Al-Hujurat: 13)

Ayat tersebut menegaskan bahwa ketakwaan menjadi ukuran utama kemuliaan manusia di sisi Allah SWT.

Amalan Sunnah pada Hari Arafah

Selain berpuasa, umat Islam bisa mengisi Hari Arafah dengan berbagai amalan lain. Banyak ulama menyarankan umat Islam memperbanyak ibadah pada hari istimewa tersebut.

Beberapa amalan yang bisa dilakukan antara lain:

  • Membaca Alquran
  • Memperbanyak zikir
  • Bersedekah
  • Memanjatkan doa
  • Menjaga silaturahmi
  • Memperbanyak istigfar

Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali mengingatkan umat Islam agar memanfaatkan waktu-waktu mulia dengan ibadah dan menjauhi perbuatan sia-sia.

Waktu Pelaksanaan Puasa Arafah

Umat Islam menjalankan puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah sesuai penetapan kalender Hijriah.

Pelaksanaan puasa dimulai sejak terbit fajar hingga matahari terbenam seperti puasa sunnah lainnya. Karena itu, umat Islam perlu memperhatikan penetapan awal Dzulhijjah di wilayah masing-masing.

Yang paling penting, setiap Muslim menjalankan puasa dengan niat ikhlas karena Allah SWT.(ust)

Berita Terkait

Hukum Istibra Matan Taqrib: Aturan Menjaga Nasab
Mengenal Darah Haid Nifas Istihadhah dan Batas Waktunya
Larangan Hadats Besar dan Kecil Menurut Fikih Mazhab Syafi’i
Hukum Pelaut Tidak Shalat Jumat Menurut Fiqih Syafii
Ibadah yang Paling Utama Menurut Ibnul Qayyim
Hukum Sisa Kuota Hangus dalam Fikih Islam dan Ijarah
Bukan Jam 12 Malam, Ini Waktu Utama Shalat Tahajud Menurut Ustaz Adi Hidayat
Catat, Inilah Batas Minimal Bacaan Shalat yang Benar
Berita ini 10 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 15:53 WIB

Hukum Istibra Matan Taqrib: Aturan Menjaga Nasab

Minggu, 11 Oktober 2026 - 13:48 WIB

Mengenal Darah Haid Nifas Istihadhah dan Batas Waktunya

Minggu, 11 Oktober 2026 - 13:42 WIB

Larangan Hadats Besar dan Kecil Menurut Fikih Mazhab Syafi’i

Minggu, 11 Oktober 2026 - 13:32 WIB

Hukum Pelaut Tidak Shalat Jumat Menurut Fiqih Syafii

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 18:01 WIB

Ibadah yang Paling Utama Menurut Ibnul Qayyim

Berita Terbaru

Ilustrasi: Kiai mengajar kitab fikih klasik tentang istibra dan menjaga nasab kepada para santri di pesantren tradisional.(poto: AI).

Fiqih

Hukum Istibra Matan Taqrib: Aturan Menjaga Nasab

Selasa, 13 Okt 2026 - 15:53 WIB

Wali Kota Padang, Fadly Amran memimpin rapat Pembentukan Tim Fasilitasi Sertifikasi Keamanan Pangan dan Sertifikasi Halal Kota Padang.(poto: padangkita.com).

Berita Islam

Lindungi Konsumen, Pemko Padang Bentuk Tim Sertifikasi Pangan Halal

Selasa, 13 Okt 2026 - 15:45 WIB