Jakarta, dorlanhikmah.com – Kisah Nabi Yusya bin Nun menunjukkan bagaimana Allah mengangkat seorang pemimpin dari kalangan pengikut Nabi Musa AS untuk memimpin Bani Israil menuju kemenangan di Tanah Suci.
Dalam kisah Nabi Yusya bin Nun, Allah memperlihatkan bagaimana ketaatan, kesabaran, dan keberanian mampu mengubah nasib sebuah kaum dari keterpurukan menuju kejayaan.
Sosok Penting dalam Sejarah Bani Israil
Yusya’ bin Nun memegang peran besar dalam sejarah Bani Israil setelah masa Nabi Musa AS. Ia tidak hanya dikenal sebagai murid setia, tetapi juga sebagai pemimpin yang membawa perubahan besar bagi kaumnya.
Ia tumbuh dalam lingkungan kenabian dan belajar langsung dari Nabi Musa. Ia juga ikut dalam perjalanan penting yang disebut dalam Al-Qur’an ketika Nabi Musa mencari seorang hamba saleh yang dikenal sebagai Nabi Khidir.
Allah mengabadikan momen perjalanan itu dalam Surah Al-Kahfi ayat 60:
وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَىٰهُ لَآ أَبْرَحُ حَتَّىٰٓ أَبْلُغَ مَجْمَعَ ٱلْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِىَ حُقُبًا
“Ketika Musa berkata kepada muridnya: Aku tidak akan berhenti sebelum sampai pertemuan dua laut atau aku akan berjalan terus-menerus.”
Yusya dalam Al-Qur’an dan Tafsir
Al-Qur’an tidak menyebut nama Yusya secara langsung, tetapi para ulama tafsir seperti Imam ath-Thabari menjelaskan bahwa kata fatâ dalam ayat tersebut merujuk kepada Yusya bin Nun.
Imam ath-Thabari menulis:
واذكر يا محمد إذ قال موسى بن عمران لفتاه يوشع
Artinya: “Ingatlah ketika Musa berkata kepada muridnya yaitu Yusya.”
Para ahli hadis juga memperkuat hal ini. Dalam riwayat shahih disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW menyebut nama Yusya bin Nun secara jelas ketika menceritakan perjalanan Nabi Musa.
Nasab dan Latar Belakang Yusya bin Nun
Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah menjelaskan bahwa Yusya berasal dari keturunan Nabi Yusuf AS. Nasabnya adalah:
Yusya bin Nun bin Afrayim bin Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim.
Nasab ini menunjukkan bahwa Yusya tumbuh dari garis keturunan para nabi yang membawa tauhid di tengah Bani Israil.
Apakah Yusya Seorang Nabi?
Sebagian ulama menyebut bahwa Nabi Yusya bin Nun menerima kenabian setelah atau menjelang akhir masa Nabi Musa AS.
Imam Ibnu Katsir menyampaikan adanya riwayat dari Ibnu Ishaq yang menyebut peralihan kenabian tersebut, tetapi beliau menilainya dengan hati-hati karena sebagian riwayat berasal dari cerita Israiliyat.
Ibnu Katsir menegaskan bahwa Nabi Musa tetap menerima wahyu langsung dari Allah sampai akhir hayatnya.
Masa Padang Tih: Ujian Besar Bani Israil
Setelah Nabi Musa menyelamatkan Bani Israil dari Fir’aun, Allah menguji mereka dengan perintah memasuki Tanah Suci. Namun mereka menolak karena takut menghadapi kaum yang kuat.
Allah kemudian menghukum mereka dengan kehidupan di padang pasir selama 40 tahun, yang dikenal sebagai Padang Tih.
Allah berfirman dalam Surah Al-Maidah ayat 26:
فَاِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيۡهِمۡ اَرۡبَعِيۡنَ سَنَةً ۚ يَتِيۡهُوۡنَ فِى الۡاَرۡضِ
“Negeri itu terlarang bagi mereka selama 40 tahun, mereka akan mengembara di bumi.”
Selama masa itu, generasi lama berganti dengan generasi baru yang lebih siap untuk taat kepada perintah Allah.
Kepemimpinan Yusya bin Nun
Setelah Nabi Musa dan Nabi Harun wafat, Allah mengangkat Yusya bin Nun sebagai pemimpin Bani Israil.
Ia memimpin kaumnya keluar dari Padang Tih dan menuju Tanah Suci. Ia mengatur strategi, membangun semangat pasukan, dan menegakkan syariat Allah.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Yusya membawa Bani Israil menyeberangi Sungai Yordan dan memulai penaklukan wilayah Syam hingga menuju Baitul Maqdis.
Penaklukan Kota Yerikho
Yusya memimpin pengepungan kota Yerikho, salah satu kota terkuat pada masa itu. Ia mengepung kota tersebut selama enam bulan.
Setelah perjuangan panjang, Allah memberikan kemenangan kepada Bani Israil. Yusya kemudian melanjutkan penaklukan berbagai wilayah hingga wilayah Palestina.
Mukjizat Penahanan Matahari
Salah satu peristiwa paling terkenal terjadi ketika Yusya mengepung Baitul Maqdis pada hari Jumat.
Ia khawatir matahari terbenam sebelum kemenangan tercapai, sehingga ia berdoa:
إنك مأمورة وأنا مأمور، اللهم احبسها عليَّ
“Engkau diperintahkan, dan aku juga diperintahkan. Ya Allah, tahanlah matahari untukku.”
Allah mengabulkan doa itu.
Rasulullah SAW bersabda:
إن الشمس لم تحبس لبشر إلا ليوشع ليالي سار إلى بيت المقدس
“Matahari tidak pernah ditahan untuk manusia kecuali untuk Yusya ketika ia menuju Baitul Maqdis.”
Penaklukan Baitul Maqdis
Setelah mukjizat itu, Yusya berhasil memasuki Baitul Maqdis dan mengalahkan kaum jabbarin, yaitu kaum yang terkenal kuat dan kejam.
Imam ath-Thabari menjelaskan bahwa kaum ini memiliki kekuatan besar hingga mampu menundukkan banyak bangsa di sekitarnya.
Allah memerintahkan Bani Israil memasuki kota dengan rendah hati dan mengucapkan doa ampunan, tetapi sebagian dari mereka menolak perintah tersebut sehingga mereka mendapat hukuman.
Setelah kemenangan itu, Yusya membangun kembali Baitul Maqdis bersama orang-orang saleh. Ia menegakkan hukum Allah dan membentuk sistem kehidupan yang berlandaskan wahyu.
Dari masa inilah awal kebangkitan Bani Israil di Tanah Suci dimulai, yang kemudian berlanjut pada masa Nabi Daud dan Nabi Sulaiman.
Akhir Kehidupan Yusya bin Nun
Menurut Ibnu Katsir, Yusya wafat pada usia sekitar 127 tahun, beberapa dekade setelah wafatnya Nabi Musa.
Ia meninggalkan warisan kepemimpinan yang kuat dan menjadi simbol keberhasilan seorang pemimpin yang taat kepada Allah.
Pelajaran Penting dari Kisah Yusya
Kisah ini memberikan banyak pelajaran penting bagi umat manusia.
Pertama, ketakutan dapat menghancurkan kesempatan besar. Bani Israil kehilangan peluang awal karena mereka takut menghadapi tantangan.
Kedua, ketaatan membawa kemenangan. Yusya menunjukkan bahwa kepatuhan kepada Allah membuka jalan pertolongan.
Ketiga, pemimpin yang beriman mampu mengubah sejarah sebuah bangsa.(ust)
wallahu a’lam









Komentar