Jakarta, dorlanhikmah.com – Pertanyaan mengenai apakah seorang istri akan tetap menemani suaminya di surga sering muncul di kalangan perempuan. Hal ini terjadi karena timbulnya rasa penasaran kaum hawa mengenai kedudukan istri di surga saat pasangan sama-sama beriman.
Oleh karena itu, Syekh Mahir Ahmad Ash-Shuffi menjelaskan persoalan klasik tersebut dalam bukunya yang berjudul Jinanul Khuldi, Naimuha wa Qushuruha wa Huruha. Beliau menegaskan bahwa pertanyaan ini memang lazim hadir dari wanita solehah yang senantiasa menjaga hubungan baik dengan Sang Pencipta.
Bahkan, para wanita sering mempertanyakan posisi mereka yang telah beramal saleh setara atau melebihi suami selama di dunia. Pasalnya, mereka merasa layak memperoleh derajat yang seimbang dengan pasangannya saat menerima balasan di akhirat kelak.
Oleh sebab itu, Syekh Mahir mengimbau umat Islam untuk menjauhkan cara pandang duniawi ketika membayangkan balasan ilahi. Sebab, akal manusia pada dasarnya tidak bakal mampu menjangkau hakikat keberadaan yang sebenarnya di dalam surga kekal.
Gambaran Kerajaan Akhirat yang Maha Luas
Pada hakikatnya, pemberian Allah di akhirat memiliki ukuran yang jauh melampaui seluas isi bumi. Dengan demikian, pemahaman mengenai tingkatan hidup di dunia tentu berbeda total dengan konsep kedudukan di alam abadi.
Sebagai gambaran, orang terakhir yang melangkahkan kaki ke surga bahkan memperoleh wilayah seluas sepuluh kali lipat dunia. Selain itu, Allah memerintahkan hamba tersebut untuk berangan-angan sebelum akhirnya mengabulkan seluruh keinginan itu.
Mengenai hal ini, Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan kabar tersebut dari Al-Mughirah bin Syu’bah melalui hadits marfu bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Penghuni surga yang terakhir masuk adalah seorang laki-laki yang keluar darinya dengan merangkak lalu Allah berfirman kepadanya, ‘Pergi dan masuklah ke surga!’ Lalu ia mendatanginya dan berpikiran bahwa surga telah penuh lalu ia kembali dan berkata, ‘Wahai Rabb, saya mendapatinya telah penuh.’ Lalu Allah berfirman, ‘Pergi dan masuklah ke surga karena bagimu seperti dunia dan sepuluh kali lipatnya atau bagimu sepuluh kali lipatnya dunia.'” (HR Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim).
Berdasarkan hadits tersebut, penghuni surga paling akhir saja menguasai tempat yang jauh melebihi ukuran bumi. Maka dari itu, fakta ini membuktikan bahwa tempat agung tersebut sangat lapang untuk menampung seorang mukmin beserta istrinya.
Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan keagungan tempat tersebut melalui firman-Nya:
وَاِذَا رَاَيْتَ ثَمَّ رَاَيْتَ نَعِيْمًا وَّمُلْكًا كَبِيْرًا
Wa iżā ra’aita ṡamma ra’aita na‘īmaw wa mulkan kabīrā(n).
Artinya: “Apabila melihat (keadaan) di sana (surga), niscaya engkau akan melihat berbagai kenikmatan dan kerajaan yang besar.” (QS Al-Insan Ayat 20).
Oleh karena itu, pasangan yang saling mencintai karena Allah tidak akan terpisah setelah melintasi kehidupan dunia. Hasilnya, cinta pasangan beriman ini terus berlanjut hingga memasuki alam keabadian.
Penciptaan Baru Tanpa Rasa Cemburu
Di samping itu, susunan psikologis wanita seperti sifat cemburu dan iri hati tidak akan tersisa saat memasuki hari kiamat. Sebab, Allah mencabut seluruh potensi penyakit hati tersebut dari dada penghuni surga.
Hal ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَنَزَعْنَا مَا فِيْ صُدُوْرِهِمْ مِّنْ غِلٍّ اِخْوَانًا عَلٰى سُرُرٍ مُّتَقٰبِلِيْنَ
Wa naza‘nā mā fī ṣudūrihim min gillin ikhwānan ‘alā sururim mutaqābilīn(a).
Artinya: “Kami mencabut segala rasa dendam yang ada dalam hati mekeraka. Mereka bersaudara (dan) duduk berhadap-hadapan di atas dipan.” (QS Al-Ḥijr Ayat 47).
Secara khusus, penggunaan kata “mencabut” menggambarkan pembersihan sifat dengki yang sebelumnya menancap kuat pada jasad manusia. Hal tersebut terjadi karena Allah membentuk manusia di akhirat melalui ciptaan baru yang terbebas dari sifat negatif duniawi.
Bahkan, penyucian jiwa ini sebagaimana tertuang dalam Al-Qur’an: “Dan menciptakan kamu kelak di akhirat dalam keadaan yang tidak kamu ketahui.” (QS Al-Waqi’ah Ayat 61).
Akibatnya, manusia menjalani kehidupan abadi tanpa merasakan kecemburuan maupun prasangka buruk. Sebaliknya, jiwa setiap penghuni surga terpenuhi oleh rasa qanaah, ridha, serta persaudaraan tulus.
Istri Mukminah Menjadi Ratu Surga
Selain itu, cahaya kebahagiaan bersinar terang memancar dari wajah-wajah orang beriman di akhirat. Mengenai hal ini, janji Allah mengenai pancaran cahaya tersebut tertuang jelas dalam Al-Qur’an:
“(Yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (Dikatakan kepada mereka), ‘Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.'” (QS Al-Hadid Ayat 12).
Pada akhirnya, pancaran cahaya tersebut menjadi bukti atas keridhaan Sang Pencipta kepada hamba-Nya. Dampaknya, wanita mukminah merasa sangat puas dan rela mendampingi suaminya pada tingkat kedudukan tersebut.
Bahkan, seorang suami tidak akan berpaling dari istrinya meskipun ratusan bidadari jelita hadir di sekeliling mereka. Sebab, kedudukan istri mukminah justru berada di atas para bidadari ibarat seorang ratu yang dilayani.
Dengan demikian, semua bentuk kecemburuan dan adu domba tertahan jauh di luar wilayah surga. Sebab, hanya kesucian serta keridhaan yang diizinkan masuk memenuhi alam keabadian tersebut. Wallahu a’lam.(ust)










Komentar