Jakarta, dorlanhikmah.com – Kang Santri AI diluncurkan pada Rabu (17/6/2026) di Gedung PBNU, PBNU, Jakarta Pusat. Peluncuran ini berlangsung bersamaan dengan Talkshow Inovasi bertema Santri Berkarya, Berjejaring, dan Berdaya dalam Ekosistem Digital Indonesia.
Selain itu, pengembang memperkenalkan Kang Santri AI sebagai platform kecerdasan buatan yang berangkat dari literatur pesantren. Para santri mengembangkan sistem ini untuk menjembatani nilai tradisi dengan kebutuhan teknologi modern.
Di sisi lain, agenda ini juga mengarah pada persiapan Nahdlatul Ulama Innovation Summit 2026 yang akan digelar pada pertengahan Juli 2026. Forum tersebut akan menjadi ruang bagi warga Nahdliyin untuk mempresentasikan inovasi di bidang teknologi, sosial, dan pemberdayaan masyarakat.
PBNU Dorong Peran Aktif Santri di Dunia Digital
Sekretaris Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama, Ufi Ulfiah, menyambut positif peluncuran ini. Ia menilai santri kini tidak hanya bergerak di bidang keagamaan, tetapi juga aktif dalam inovasi teknologi.
Selain itu, ia menegaskan bahwa PBNU melihat kehadiran Kang Santri AI sebagai bukti kemampuan santri dalam beradaptasi dengan perkembangan digital. Karena itu, ia menilai inovasi ini memiliki nilai strategis bagi masyarakat luas.
Lebih lanjut, Ufi menjelaskan bahwa pengembangan platform masih terus berjalan. Oleh karena itu, tim pengembang membuka ruang masukan dari berbagai pihak agar sistem semakin matang dan relevan.
Kolaborasi dan Penguatan Ekosistem Teknologi Pesantren
Sementara itu, Ufi menekankan bahwa Kang Santri AI tidak hanya berdiri sebagai produk teknologi. Sebaliknya, platform ini hadir sebagai ruang kolaborasi antarwarga Nahdliyin dari berbagai latar belakang.
Dengan demikian, ia mendorong penguatan ekosistem digital berbasis pesantren agar mampu bersaing di era teknologi. Selain itu, ia menilai kolaborasi ini dapat memperluas kontribusi santri dalam ruang publik digital.
Kemudian, ia menegaskan bahwa inovasi berbasis nilai pesantren tetap menjadi fondasi utama dalam pengembangan teknologi ini.
Di sisi lain, praktisi digital Hasanuddin Ali menyoroti perkembangan kecerdasan buatan di Indonesia. Ia membagi pengguna AI ke dalam tiga kelompok, yaitu AI antusias, AI adaptor, dan AI skeptis.
Berdasarkan penelitiannya, ia mencatat bahwa pada 2024 sekitar 60 persen pengguna internet masih berada pada kategori adaptor. Sementara itu, masing-masing 20 persen berada pada kelompok antusias dan skeptis.
Namun demikian, ia menemukan perubahan signifikan pada 2025. Kelompok AI antusias meningkat menjadi sekitar 40 persen, sehingga menunjukkan lonjakan penerimaan terhadap teknologi AI.
Selain itu, Hasanuddin menilai tren tersebut menandakan bahwa masyarakat semakin terbuka terhadap pemanfaatan kecerdasan buatan dalam berbagai sektor kehidupan.(ust)









Komentar