Kisah Taubat Fudail bin Iyadh dari Perampok Jadi Sufi

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 23 Mei 2026 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

ilustrasi Fudail bin Iyadh saat mendengar bacaan Al-Qur'an ( Poto : tebuirengonline ).

ilustrasi Fudail bin Iyadh saat mendengar bacaan Al-Qur'an ( Poto : tebuirengonline ).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Kisah taubat Fudail bin Iyadh menjadi salah satu cerita paling terkenal dalam sejarah Islam tentang perubahan hidup seorang manusia. kisah taubat Fudail bin Iyadh menggambarkan perjalanan seorang mantan perampok ganas yang akhirnya berubah menjadi ulama dan tokoh sufi besar setelah mendapatkan hidayah di tengah kehidupannya yang kelam.

Jalur Dagang yang Penuh Teror

Pada abad ke-2 Hijriah, jalur Abiwarda–Sarkhas di wilayah Khurasan dikenal sangat berbahaya bagi para kafilah dagang. Kelompok perampok sering menghadang dan merampas barang dagangan para saudagar yang melintas.

Di antara kelompok itu, muncul seorang pemimpin muda bernama Fudail bin ‘Iyadh. Ia lahir di Samarkand dan tumbuh di Abiwarda. Namanya dikenal sebagai pemimpin kawanan perampok yang sangat ditakuti di kawasan gurun antara Merv dan Baward.

Ia mengatur kelompoknya untuk merampok kafilah dagang siang dan malam. Hasil rampasan mereka kumpulkan, lalu Fudail mengambil bagian yang ia sukai sebelum sisanya dibagi kepada anggota kelompoknya.

Hati yang Mulai Gelisah

Meski hidup dalam kekerasan dan kemewahan hasil rampasan, Fudail sebenarnya tidak merasa tenang. Hatinya mulai gelisah dan ia menyadari bahwa perbuatannya menyimpang dari kebenaran.

Kesadaran itu mulai tumbuh, meskipun ia masih bertahan dalam kehidupannya sebagai perampok. Namun, jalan perubahan mulai terbuka ketika sebuah peristiwa tak terduga terjadi di padang pasir.

Pertemuan Tak Terduga di Gurun

Suatu hari, seorang pedagang dari kafilah besar melintas di jalur berbahaya itu. Ia mengetahui kabar tentang kawanan perampok dan mencoba menyembunyikan emas miliknya.

Dalam perjalanannya, ia melihat seorang lelaki di sebuah kemah yang tampak seperti orang zuhud. Tanpa mengetahui bahwa lelaki itu adalah Fudail sendiri, ia menitipkan sekantong emas kepadanya.

Baca Juga :  Panduan Mahalul Qiyam Maulid: Arab, Latin, Arti, dan Keutamaan

Tak lama kemudian, kafilah itu benar-benar diserang. Para perampok mengikat anggota rombongan dan merampas harta mereka. Setelah kejadian itu, lelaki tersebut kembali untuk mengambil emasnya dan terkejut saat melihat Fudail justru memimpin pembagian hasil rampokan.

Sikap Aneh Sang Pemimpin Perampok

Fudail justru mengembalikan emas milik lelaki tersebut. Ia berkata agar orang itu mengambil kembali hartanya dan segera meninggalkan tempat itu.

Tindakan ini mengejutkan para anggota kelompoknya. Mereka heran mengapa pemimpin mereka rela mengembalikan harta berharga itu.

Fudail menjawab dengan tenang, “Ia mempercayaiku seperti aku berharap Allah menerima tobatku. Aku ingin menjaga kepercayaannya agar Allah juga menjaga harapanku.”

Ayat yang Mengguncang Hati Fudail

Perubahan besar dalam hidup Fudail terjadi saat ia hendak melakukan perbuatan buruk di sebuah rumah. Ketika sedang memanjat tembok, ia mendengar seseorang membaca ayat Al-Qur’an:

“أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّۙ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْۗ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ”

Artinya:
“Apakah belum tiba waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang turun (Al-Qur’an)? Janganlah mereka seperti orang-orang sebelum mereka yang hatinya menjadi keras karena masa yang panjang, dan banyak di antara mereka adalah orang fasik.”

(QS. Al-Hadid: 16)

Ayat itu menghantam hati Fudail seperti anak panah. Ia langsung turun dari tembok dan berlari meninggalkan niatnya.

Tobat di Tengah Ketakutan

Dalam keadaan gelisah, Fudail berlari ke sebuah reruntuhan bangunan. Di sana ia mendengar kafilah yang sedang berkemah membicarakan dirinya.

Baca Juga :  Kisah Nabi Yusya bin Nun, Pemimpin Bani Israil

Mereka mengatakan bahwa Fudail sedang mengintai mereka. Namun tiba-tiba Fudail muncul dan berteriak, “Kabar gembira! Fudail telah bertobat!”

Sejak saat itu, ia berjalan sambil menangis dan meninggalkan dunia perampokan yang selama ini ia jalani.

Pengakuan dan Perubahan Hidup

Kabar taubat Fudail menyebar luas. Banyak orang yang sebelumnya takut kepadanya merasa lega dan bersyukur atas perubahan itu.

Ia kemudian meminta agar ikatan lama dengan kelompoknya dihapuskan. Namun sebagian orang masih meragukan ketulusannya.

Dalam catatan Siyar A’lam an-Nubala’ karya Imam adz-Dzahabi, Fudail disebut sebagai sosok yang benar-benar berubah total setelah tobatnya, dan menjadi salah satu ahli ibadah serta guru besar dalam ilmu zuhud.

Ujian Keimanan dan Kisah dengan Seorang Yahudi

Dalam salah satu kisah, Fudail pernah meminta seorang sahabat non-Muslimnya untuk mengakhiri perjanjian mereka. Orang itu justru menantangnya dengan sebuah ujian.

Ia meminta Fudail meratakan bukit pasir sebagai syarat. Fudail berusaha melakukannya, tetapi pekerjaan itu terasa sangat berat.

Namun, atas kehendak Allah, angin kencang meratakan bukit tersebut. Peristiwa itu membuat orang tersebut kagum dan akhirnya masuk Islam setelah menyaksikan tanda keimanan Fudail.

Penutup

Kisah Fudail bin ‘Iyadh menunjukkan bahwa perubahan hidup selalu mungkin terjadi, bahkan bagi seseorang yang pernah berada di jalan yang salah sekalipun. Dari seorang perampok yang ditakuti, ia berubah menjadi sosok sufi yang dihormati.

Perjalanannya mengajarkan bahwa hidayah bisa datang kapan saja, bahkan melalui satu ayat Al-Qur’an yang menyentuh hati terdalam manusia. Kisah ini terus menjadi pengingat bahwa tidak ada dosa yang lebih besar dari rahmat Allah.(ust)

Berita Terkait

Menelusuri Jejak Sejarah Pesantren dan Makna Santri
Kisah Nabi Ibrahim Menghormati Tamu Beda Agama yang Penuh Keteladanan
Kisah Umar bin Abdul Aziz Tolak Gratifikasi dan Fasilitas Negara
Kisah Keteguhan Ulama Besar Menghadapi Penjara Penguasa
Mukjizat Perang Tabuk: Berkah Makanan dan Kunci Surga
Kisah Abdullah bin Abi Umayyah Meraih Hidayah
Ketegasan Ali bin Abi Thalib Menjaga Amanah Kas Negara
Integritas Imam Abu Hanifah Hindari Konflik Kepentingan
Berita ini 17 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 13:17 WIB

Menelusuri Jejak Sejarah Pesantren dan Makna Santri

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:30 WIB

Kisah Nabi Ibrahim Menghormati Tamu Beda Agama yang Penuh Keteladanan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:24 WIB

Kisah Umar bin Abdul Aziz Tolak Gratifikasi dan Fasilitas Negara

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 08:21 WIB

Kisah Keteguhan Ulama Besar Menghadapi Penjara Penguasa

Kamis, 15 Oktober 2026 - 07:13 WIB

Mukjizat Perang Tabuk: Berkah Makanan dan Kunci Surga

Berita Terbaru

Tim Kerukunan Umat Beragama Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi mengawal langsung survei kerukunan umat beragama di Kabupaten Batang Hari.(poto: jambi.kemenag.go.id).

Berita Islam

Kemenag Jambi Awasi Survei Kerukunan di Batang Hari

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:56 WIB

Kegiatan gelar wicara bertajuk “Akses Rumah Pertama bagi Pekerja Muda” dalam ajang Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).(poto: republika).

Berita Islam

Bank BSN Rilis KPR Tenor 40 Tahun untuk Pekerja Muda

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:39 WIB

Gus Nadir.(poto: istimewa).

Pendidikan

Santri Masa Kini Mesti Kuasai AI dan Keterampilan Digital

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:32 WIB

Ponpes THOHIR YASIN Lendang Nangka-Masbagik-Lombok Timur(poto: istimewa).

Sejarah

Menelusuri Jejak Sejarah Pesantren dan Makna Santri

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:17 WIB

Isim Isyarah.

Bahasa Arab

Panduan Lengkap Isim Isyarah: Jenis dan Contoh Kalimat

Jumat, 23 Okt 2026 - 12:56 WIB