Al-Quran Jadi Fondasi Argumen Ketuhanan, Ulama Minta Umat Tinggalkan Perdebatan Filsafat (Bag.2)

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 20 Mei 2026 - 12:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Argumen ketuhanan dalam Islam wajib bersandar pada Al-Quran dan As-Sunah.( Ilustrasi poto : muslim.or.id ).

Argumen ketuhanan dalam Islam wajib bersandar pada Al-Quran dan As-Sunah.( Ilustrasi poto : muslim.or.id ).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Argumen ketuhanan dalam Islam wajib bersandar pada Al-Quran dan As-Sunah. Banyak ulama menilai umat Islam tidak perlu membangun akidah melalui perdebatan filsafat yang rumit.

Mereka mengajak umat kembali memakai metode Al-Quran dalam menjelaskan keberadaan Allah ﷻ dan persoalan keimanan.

Pandangan tersebut muncul karena Al-Quran memuat penjelasan paling benar tentang Tuhan, manusia, dan kehidupan.

Allah ﷻ juga menurunkan Al-Quran dengan bahasa yang jelas agar manusia mudah memahami petunjuk-Nya.

Karena itu, para ulama mengingatkan umat agar tidak terlalu sibuk memakai istilah filsafat atau ilmu kalam yang sulit dipahami masyarakat umum.

Mereka menilai pendekatan wahyu jauh lebih kuat, sederhana, dan menenangkan hati.

Allah ﷻ Tegaskan Kebenaran Al-Quran

Allah ﷻ menegaskan bahwa tidak ada perkataan yang lebih benar dibanding firman-Nya. Penegasan itu terdapat dalam Al-Quran:

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا

“Lantas siapa yang lebih benar pengungkapannya dibandingkan Allah ﷻ?!” (QS. An-Nisa: 87)

Allah ﷻ kembali berfirman:

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا

“Lantas siapa yang lebih benar pernyataannya dibandingkan Allah ﷻ?!” (QS. An-Nisa: 122)

Dosen tarbiyah di Jamiah Al-Manshurah Mesir, Prof. Fuad Muhammad Musa, menjelaskan bahwa ayat tersebut menunjukkan keistimewaan narasi Islam dibanding seluruh perkataan manusia.

Menurut dia, Al-Quran menghadirkan penjelasan paling benar sekaligus paling mudah dipahami karena Allah ﷻ langsung menyampaikannya kepada manusia.

Ia berkata:

“Narasi yang digunakan Islam tidak pantas digantikan dengan ungkapan manusia lainnya dalam seruan kepada Islam, betapapun tinggi kefasihan dan keindahan gaya bahasa mereka.”

Melalui penjelasan itu, Prof. Fuad mengajak umat Islam menjadikan Al-Quran sebagai rujukan utama dalam dakwah dan pembahasan akidah.

Al-Quran Hadir dengan Bahasa yang Jelas

Allah ﷻ menurunkan Al-Quran dengan bahasa Arab yang jelas dan mudah dipahami. Firman Allah ﷻ:

بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ

“Al-Quran dengan lisan Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara: 195)

Baca Juga :  Anak Lahir Non-Muslim, Apakah Allah Tidak Adil?

Allah ﷻ juga membantah tuduhan kaum Quraisy terhadap Nabi Muhammad ﷺ melalui firman-Nya:

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ ۗ لِّسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُّبِينٌ

“Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, ‘Sesungguhnya Al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya.’ Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan itu bahasa ‘Ajam, sedangkan Al-Quran adalah bahasa Arab yang terang.” (QS. An-Nahl: 103)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah ﷻ sengaja menurunkan Al-Quran dengan bahasa yang terang agar manusia mudah memahami kandungannya.

Karena itu, para sahabat Nabi ﷺ tidak sibuk memperdebatkan istilah rumit dalam urusan akidah. Mereka langsung menerima petunjuk Al-Quran dan sunnah dengan iman yang kuat.

Banyak ulama menilai kesederhanaan metode para sahabat justru membuat akidah mereka lebih kokoh.

Islam Sudah Lengkap dan Sempurna

Para ulama juga menegaskan bahwa Islam telah sempurna sehingga umat tidak perlu mencari tambahan konsep akidah dari luar wahyu.

Allah ﷻ berfirman:

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَٰتِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

“Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil.” (QS. Al-An’am: 115)

Allah ﷻ juga berfirman:

ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu.” (QS. Al-Maidah: 3)

Melalui ayat tersebut, Allah ﷻ menegaskan bahwa Islam sudah mencakup seluruh kebutuhan manusia, termasuk penjelasan tentang keberadaan Tuhan dan persoalan keimanan.

Karena itu, banyak ulama mengingatkan umat agar tidak mudah terpengaruh pemikiran asing yang bertentangan dengan Al-Quran dan hadis.

Ulama Kritik Pengaruh Filsafat Yunani

Pembahasan ini juga menyoroti pengaruh filsafat Yunani dalam diskursus ilmu kalam.

Penulis menilai banyak istilah filsafat justru membingungkan masyarakat karena maknanya tidak jelas. Selain itu, penggunaan logika tanpa bimbingan wahyu sering memunculkan syubhat baru.

Penulis menyebut beberapa kelompok seperti Khawarij, Qadariyah, Jahmiyah, dan Mu’tazilah sebagai contoh kelompok yang terlalu mengedepankan akal dalam urusan akidah.

Baca Juga :  Cara Rasulullah ﷺ Menenangkan Hati di Perang Hunain(Bag.5)

Menurut penulis, kelompok tersebut membangun pemikiran berdasarkan logika manusia, bukan berdasarkan nash Al-Quran dan hadis.

Penulis juga menyinggung sebagian mutakallimin seperti Asy’ariyah dan Maturidiyah yang mencoba menjawab filsafat memakai pendekatan filsafat pula.

Kondisi itu dinilai membuat sebagian umat semakin sulit memahami akidah Islam secara sederhana.

Rasulullah ﷺ Larang Umat Membuat Perkara Baru

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan umat Islam agar selalu mengikuti petunjuk wahyu dan menjauhi perkara baru dalam agama.

Dalam hadis riwayat Muslim no. 867, Nabi ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ. Sejelek-jelek perkara adalah perkara agama yang diada-adakan.”

Imam Malik rahimahullah juga berkata:

“Barangsiapa yang berbuat bid’ah di dalam agama Islam yang ia anggap baik, maka sungguh ia telah menuduh Muhammad ﷺ mengkhianati risalah.”

Sementara Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Ikutilah petunjuk Nabi ﷺ dan jangan membuat bid’ah. Karena sunnah sudah mencukupi bagi kalian.”

Pesan tersebut tetap relevan hingga sekarang karena banyak orang mempelajari agama melalui media sosial tanpa dasar ilmu yang kuat.

Masyarakat Perlu Memperkuat Pemahaman Akidah

Perkembangan teknologi membuat masyarakat semakin mudah menemukan berbagai pembahasan tentang Tuhan dan agama.

Namun, kondisi itu juga memudahkan penyebaran pemikiran yang menyimpang.

Sebagian orang mempelajari filsafat ketuhanan tanpa memahami dasar akidah Islam. Akibatnya, mereka mudah bingung dan ragu terhadap ajaran agama.

Karena itu, para ulama mengajak umat Islam memperkuat pemahaman Al-Quran dan As-Sunah melalui kajian yang benar dan terpercaya.

Langkah tersebut membantu masyarakat menjaga akidah sekaligus membangun pola pikir yang lebih tenang dan terarah.

Pada akhirnya, Al-Quran dan sunnah Nabi ﷺ tetap menjadi pedoman utama umat Islam dalam memahami ketuhanan, kehidupan, dan tujuan penciptaan manusia.(ust)

Bersambung ke bag.3

Berita Terkait

Kedudukan Perempuan Sebelum Islam dan Perubahan Besar yang Dibawa Islam
Kriminalisasi Kritik dalam Sejarah Islam dan Keteguhan Imam Ahmad
Raja Najasyi Wariskan Teladan Tauhid dan Toleransi di Habasyah
Kisah Sahabat Nabi Menegur Penguasa, Pesan tentang Pemimpin Adil
Rahasia Nama Bulan Hijriah: Budaya Arab Pra-Islam
Filosofi Kepemimpinan Nabi Sulaiman: Kekuasaan dan Keadilan
Biografi Ibnu Sina: Jejak Ilmuwan Muslim yang Mengubah Sejarah Kedokteran Dunia
Terbunuhnya Utsman bin Affan dan Krisis Politik Islam Awal
Berita ini 4 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 11 Juli 2026 - 01:00 WIB

Kriminalisasi Kritik dalam Sejarah Islam dan Keteguhan Imam Ahmad

Jumat, 10 Juli 2026 - 23:00 WIB

Raja Najasyi Wariskan Teladan Tauhid dan Toleransi di Habasyah

Jumat, 10 Juli 2026 - 21:00 WIB

Kisah Sahabat Nabi Menegur Penguasa, Pesan tentang Pemimpin Adil

Kamis, 9 Juli 2026 - 01:00 WIB

Rahasia Nama Bulan Hijriah: Budaya Arab Pra-Islam

Rabu, 8 Juli 2026 - 23:00 WIB

Filosofi Kepemimpinan Nabi Sulaiman: Kekuasaan dan Keadilan

Berita Terbaru

Pimpinan Polda Sumbar dan jajaran DPP MUI serta MUI Sumbar.(poto: padangkita.com).

Berita Islam

Polda Sumbar dan MUI Perkuat Sinergi Penanganan Perkara Keagamaan

Minggu, 12 Jul 2026 - 17:00 WIB

Apakah telur harus di cuci dulu sebelumdi ebus,simak penjelasannya.( poto: nuonline).

Fiqih

Kajian Fiqih, Perlukah Mencuci Telur Sebelum Dimasak?

Sabtu, 11 Jul 2026 - 05:00 WIB