Jakarta, dorlanhikmah.com – Hewan kurban jantan dalam syariat Islam, namun di sisi lain banyak umat Muslim masih mempertanyakan apakah Islam mewajibkan hewan kurban harus jantan atau tidak.
Pada dasarnya, dalam pelaksanaan ibadah Idul Adha, umat Islam menyembelih hewan ternak seperti kambing, sapi, dan unta sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.
Akan tetapi, muncul pemahaman di sebagian masyarakat bahwa hewan kurban harus jantan, sehingga menimbulkan kebingungan terkait hukum sebenarnya dalam fikih Islam.
Islam Tidak Mewajibkan Hewan Kurban Jantan
Syariat Islam menetapkan bahwa hewan kurban sah selama memenuhi syarat berikut:
- Hewan berasal dari jenis ternak yang sah (an’am)
- Hewan telah mencapai usia yang ditentukan
- Hewan tidak cacat
- Hewan dalam kondisi sehat
Dalam daftar syarat tersebut, tidak ada satu pun yang menyebutkan kewajiban jantan atau larangan betina. Artinya, Islam memberikan ruang yang sama antara hewan jantan dan betina dalam ibadah kurban.
Para ulama empat mazhab sepakat bahwa kurban dengan hewan betina tetap sah. Namun mereka juga menjelaskan bahwa hewan jantan lebih utama dalam kondisi normal.
Teladan Rasulullah SAW dalam Berkurban
Salah satu alasan munculnya anggapan bahwa hewan kurban harus jantan adalah karena Rasulullah SAW lebih sering menggunakan hewan jantan dalam kurban beliau.
Dalam riwayat sahih, Rasulullah SAW berkurban dengan dua domba jantan yang bertanduk, sehat, dan terbaik kualitasnya.
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah. Nabi SAW bersabda dalam praktiknya:
عَن أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: ضَحَّى النَّبِيُّ ﷺ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ
(رواه أحمد وابن ماجه)
Artinya: Anas RA berkata bahwa Nabi SAW berkurban dengan dua domba jantan yang putih bercampur hitam dan bertanduk.
Dari praktik ini, para ulama memahami bahwa Rasulullah SAW memilih hewan jantan karena kualitasnya yang baik dan layak dijadikan persembahan terbaik kepada Allah SWT.
Namun penting dipahami bahwa tindakan ini menunjukkan sunnah (anjuran), bukan kewajiban.
Penjelasan Kitab Klasik: Al-Majmu’ Imam Nawawi
Salah satu rujukan penting dalam fikih Syafi’iyah adalah kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab karya Imam Nawawi.
Imam Nawawi menjelaskan secara tegas bahwa hewan betina tetap sah untuk kurban, meskipun hewan jantan lebih utama.
Beliau berkata:
وَيَجُوزُ فِي الْأُضْحِيَةِ الذَّكَرُ وَالْأُنْثَى، وَلَكِنَّ الذَّكَرَ أَفْضَلُ
(المجموع شرح المهذب)
Artinya: “Boleh dalam kurban hewan jantan maupun betina, tetapi hewan jantan lebih utama.”
Kutipan ini menjadi dasar penting bahwa Islam tidak membatasi kurban hanya pada hewan jantan. Imam Nawawi menegaskan bahwa keutamaan tidak sama dengan kewajiban.
Penjelasan Kitab Al-Mughni karya Ibn Qudamah
Dalam mazhab Hanbali, Ibn Qudamah juga menjelaskan masalah ini secara jelas dalam kitab Al-Mughni.
Beliau menyebutkan:
وَالْأُنْثَى تَجْزِئُ فِي الْأُضْحِيَةِ كَالذَّكَرِ، لَا نَعْلَمُ فِي ذَلِكَ خِلَافًا
(المغني لابن قدامة)
Artinya: “Hewan betina mencukupi (sah) untuk kurban sebagaimana hewan jantan, dan kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam hal ini.”
Pernyataan ini menegaskan bahwa seluruh ulama sepakat (ijma’ dalam praktik fikih) bahwa hewan betina sah untuk kurban.
Mengapa Hewan Jantan Lebih Diutamakan?
Walaupun tidak wajib, para ulama menjelaskan beberapa alasan kenapa hewan jantan lebih utama. Penjelasan ini sering menjadi jawaban dari pertanyaan “kenapa hewan kurban harus jantan”.
1. Mengikuti Sunnah Nabi SAW
Rasulullah SAW secara praktik memilih hewan jantan. Umat Islam kemudian menilai bahwa mengikuti pilihan Nabi merupakan bentuk kesempurnaan ibadah.
Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
(الأحزاب: 21)
Artinya: “Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”
Ayat ini menjadi dasar bahwa mengikuti Nabi SAW dalam ibadah bernilai keutamaan tinggi.
2. Kualitas Hewan yang Lebih Baik
Dalam banyak kasus, hewan jantan memiliki:
- tubuh lebih besar
- daging lebih banyak
- harga lebih tinggi
Karena kurban menuntut seseorang memberikan sesuatu yang terbaik, maka hewan jantan sering dipilih sebagai bentuk kesempurnaan ibadah.
Namun Islam tidak membatasi kualitas hanya pada jantan. Hewan betina yang sehat dan besar juga bisa lebih baik daripada jantan tertentu.
3. Menjaga Keberlangsungan Populasi Ternak
Para ulama juga melihat aspek maslahat umum. Hewan betina memiliki fungsi penting dalam reproduksi. Jika masyarakat terlalu banyak menyembelih hewan betina, maka populasi ternak bisa berkurang.
Karena itu, memilih hewan jantan sering dianggap lebih bijak dari sisi keberlanjutan peternakan.
4. Simbol Pengorbanan yang Lebih Sempurna
Kurban berasal dari kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS yang menunjukkan ketaatan total kepada Allah SWT.
Hewan jantan sering di maknai sebagai simbol kekuatan dan nilai yang lebih tinggi. Maka, memilih hewan jantan dianggap mencerminkan kesempurnaan pengorbanan.
Namun simbol ini tidak mengubah hukum dasar syariat.
Apakah Kurban dengan Hewan Betina Tidak Sah?
Jawabannya tegas: sah.
Tidak ada satu pun dalil yang melarang hewan betina dalam kurban. Bahkan kitab-kitab fikih klasik secara eksplisit membolehkannya.
Imam Nawawi dan Ibn Qudamah sudah menjelaskan bahwa:
- jantan boleh
- betina boleh
- keduanya sah
Dengan demikian, jika seseorang hanya memiliki hewan betina yang memenuhi syarat, maka ia tetap bisa berkurban dan ibadahnya tetap diterima.
Kesalahan Pemahaman di Tengah Masyarakat
Banyak masyarakat masih memahami bahwa:
- kurban harus jantan
- kurban betina tidak sah
Pemahaman ini muncul karena tercampurnya antara sunnah (anjuran) dan wajib (syarat sah).
Dalam fikih Islam:
- Wajib menentukan sah atau tidaknya ibadah
- Sunnah menentukan keutamaan
Hewan jantan masuk dalam kategori sunnah, bukan wajib.
Hikmah di Balik Anjuran Memilih Hewan Jantan
Jika kita merangkum seluruh penjelasan ulama, maka hikmah utama memilih hewan jantan adalah:
- Mengikuti sunnah Rasulullah SAW
- Menjaga kualitas terbaik dalam ibadah
- Menjaga keseimbangan ekosistem ternak
- Mengandung nilai simbolik pengorbanan
- Meningkatkan kesempurnaan ibadah
Namun semua hikmah ini tidak mengubah hukum dasar bahwa betina tetap sah.
Kesimpulan
Pertanyaan “kenapa hewan kurban harus jantan” tidak bisa di jawab dengan kewajiban, karena Islam tidak pernah mewajibkannya.
Dalil dan kitab klasik justru menegaskan bahwa:
- Hewan jantan dan betina sama-sama sah
- Hewan jantan lebih utama karena sunnah Nabi SAW
- Tidak ada larangan menggunakan hewan betina
Dengan demikian, umat Islam perlu memahami bahwa inti dari kurban bukan jenis kelamin hewan, tetapi:
- ketakwaan
- keikhlasan
- dan kualitas ibadah kepada Allah SWT
Pada akhirnya, kurban menjadi bermakna bukan karena jantan atau betina, tetapi karena hati yang tunduk dan ikhlas kepada Allah SWT.(ust)










Komentar