Jakarta, dorlanhikmah.com – Sejarah dunia kerap mencatat nama besar penguasa, namun tidak ada yang menandingi keagungan Raja Yerusalem kuno. Artikel ini membedah filosofi kepemimpinan Nabi Sulaiman yang menguasai kerajaan terbesar sepanjang peradaban manusia. Beliau sengaja memohon kekuasaan absolut tersebut langsung kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Namun, kekuatan superior ini memicu pertanyaan besar bagi para pengamat sejarah modern. Mengapa takhta yang begitu mutlak tidak melahirkan kesombongan atau keangkuhan dalam diri beliau? Fenomena ini sangat kontras dengan perilaku para pemimpin era modern yang sering terjebak dalam bias kekuasaan.
Sebagai utusan Allah, Nabi Sulaiman memiliki sifat ma’shum atau terjaga dari segala dosa dan maksiat. Karakter mulia ini otomatis membersihkan diri beliau dari segala prasangka miring dan sifat buruk manusiawi. Oleh karena itu, kita harus melihat kekuasaan besar tersebut dari sudut pandang risalah kenabian.
Doa Memohon Kerajaan Absolut
Al-Qur’an mengabadikan momentum sakral ketika putra Nabi Daud ini memanjatkan doa yang sangat spesifik. Doa tersebut terekam dengan jelas dalam Surah Shad ayat 35:
قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَهَبْ Lِيْ مُلْكًا لَّا يَنْۢبَغِيْ لِاَحَدٍ مِّنْۢ بَعْدِيْۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ
Artinya: “Dia (Sulaiman) berkata; Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak patut (dimiliki) oleh seorang pun sesudahku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.”
Sebagian orang keliru mengartikan permohonan ini sebagai bentuk ambisi duniawi yang egois. Ulama besar Ar-Razi meluruskan pandangan miring tersebut dalam kitab Tafsir Mafatih Al-Ghaib. Beliau menegaskan bahwa permintaan kerajaan tiada tanding itu berfungsi sebagai mukjizat kenabian.
لا شَكَّ أنَّهُ مُعْجِزَةٌ دالَّةٌ عَلى نُبُوَّتِهِ، فَكانَ قَوْلُهُ: (هَبْ لِي مُلْكًا لا يَنْبَغِي لِأحَدٍ مِن بَعْدِي) هو هَذا Mَعْنى لِأنَّ شَرْطَ المُعْجِZَةِ أنْ لا يَقْدِرَ غَيْرُهُ عَلى مُعارَضَتِها،: ﴿لا يَنْبَغِي لِأحَدٍ مِن بَعْدِي﴾ يَعْنِي لا يَقْدِرُ أحَدٌ عَلى مُعارَضَتِهِ.
Artinya: “Tidak diragukan bahwa kerajaan itu merupakan mukjizat yang menunjukkan kenabiannya. Firman Allah: “Anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak patut (dimiliki) oleh seorang pun sesudahku” inilah maknanya (sebagai mukjizat) karena syarat mukjizat itu siapapun tidak mampu buat melawannya.” (Ar-Razi, Tafsir Mafatih Al-Ghaib, Juz 26, Cet. 3, 1420 H, halaman 394)
Nabi Sulaiman membutuhkan bukti kuat untuk meyakinkan umat manusia atas risalah kedalamannya. Allah kemudian memberikan mukjizat berupa kerajaan superior yang memaksa semua makhluk tunduk dan patuh.
Di sisi lain, Imam Ibnu Asyur menilai doa ini justru menunjukkan kebersihan hati Nabi Sulaiman dari rasa dengki. Beliau merasa iba jika ada manusia biasa tanpa bimbingan wahyu memegang kekuasaan sekuat itu. Kerajaan tanpa tuntunan nabi hanya akan memicu konflik, pertikaian, dan sengketa sosial yang parah.
Melalui kalimat penutup doa tersebut, Nabi Sulaiman menegaskan kesadaran tauhidnya yang sangat mendalam. Beliau mengakui Allah sebagai satu-satunya Dzat yang Maha Absolut dalam memberi. Kekuasaan murni merupakan anugerah besar yang menuntut pertanggungjawaban berat, bukan hak istimewa yang melahirkan kesombongan.
Menyadari Hakikat Pemberian
Kesadaran spiritual ini memandu setiap gerak-gerik Nabi Sulaiman dalam menjalankan roda pemerintahan. Pola pikir luhur tersebut tertuang indah dalam Surah An-Naml ayat 16:
وَوَرِثَ سُلَيْمٰنُ دَاوٗدَ وَقَالَ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَاُوْتِيْنَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍۗ اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِيْنُ
Artinya: “Sulaiman telah mewarisi Daud dan dia (Sulaiman) berkata, “Wahai manusia, kami telah diajari (untuk memahami) bahasa burung dan kami dianugerahi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar karunia yang nyata.”
Secara tata bahasa, ayat tersebut menggunakan bentuk kata kerja pasif (fi’il mabni majhul), yaitu “diajari” dan “diberikan”. Pilihan redaksi ini membuktikan bahwa sang raja menganggap takhtanya sebagai pemberian, bukan pencapaian pribadi. Beliau memandang kekuasaan sebagai misi suci untuk menebar maslahat, bukan ambisi pribadi.
Peka Terhadap Suara Rakyat Kecil
Al-Qur’an juga memotret interaksi sosial yang sangat humanis antara sang penguasa dengan kawanan semut. Peristiwa unik di lembah semut ini terekam dalam Surah An-Naml ayat 18:
حَتّٰىٓ اِذَآ اَتَوْا عَلٰى وَادِ النَّMْلِۙ قَالَتْ نَمْلَةٌ يّٰٓاَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوْا مَسٰكِنَكُمْۚ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمٰنُ وَجُنُوْدُهٗۙ وَهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ
Artinya: “hingga ketika sampai di lembah semut, ratu semut berkata, “Wahai para semut, masuklah ke dalam sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadarinya.”
Nabi Sulaiman yang mendengar kekhawatiran rakyat kecil tersebut langsung tersenyum lalu tertawa ramah. Beliau tidak merasa terhina, melainkan langsung meresponsnya dengan doa syukur dalam ayat 19. Sang raja memohon agar Allah membimbingnya untuk tetap mengerjakan kebajikan dan menetap dalam golongan hamba yang saleh.
Sikap bersahaja ini menjadi teladan abadi bagi para pemimpin di seluruh dunia. Beliau mendengarkan aspirasi dari entitas terkecil tanpa merasa wibawanya jatuh atau pamornya runtuh. Sikap ini menepis kebiasaan penguasa modern yang sering mengabaikan dan menindas kaum marginal.
Imam Ibnu Asyur menegaskan bahwa kisah ini menjadi simbol keadilan universal yang sangat sempurna. Seorang pemimpin wajib menegakkan hukum secara merata tanpa melihat status sosial subjek yang di pimpinnya.
وهَذا تَنْوِيهٌ بِرَأْفَتِهِ وعَدْلِهِ الشّامِلِ بِكُلِّ مَخْلُوقٍ لا فَسادَ مِنهُ أجْراهُ اللَّهُ عَلى نَمْلَةٍ لِيَعْلَمَ شَرَفَ العَدْلِ ولا يَحْتَقِرَ مَواضِعَهُ وأنَّ ولِيَّ الأمْرِ إذا عَدَلَ سَرى عَدْلُهُ في سائِرِ الأشْياءِ
Artinya: “ini adalah pengingat akan belas kasih dan keadilan Sulaiman yang menyeluruh terhadap setiap makhluk, tanpa kerusakan sedikit pun. Allah memberlakukannya kepada semut agar ia dapat mengetahui kemuliaan keadilan dan tidak meremehkan tempatnya, dan agar ketika penguasa berlaku adil, keadilannya akan menyebar ke segala sesuatu.” (Ibnu ‘Asyur, At-Tahrir wa At-Tanwir, Juz 19, halaman 243)
Kekuasaan Sebagai Arena Ujian
Dimensi spiritual Nabi Sulaiman kembali teruji saat singgasana Ratu Bilqis berpindah dalam sekejap mata. Fenomena supranatural tersebut sama sekali tidak membuat beliau jemawa atau tinggi hati. Beliau justru menjadikannya ruang refleksi diri melalui kalimat yang tercantum dalam Surah An-Naml ayat 40:
فَلَمَّا رَاٰهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهٗ قَالَ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْۗ لِيَبْلُوَنِيْٓ ءَاَشْكُرُ اَم_ اَكْفُرُۗ
Artinya: “Ketika dia (Sulaiman) melihat (singgasana) itu ada di hadapannya, dia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau berbuat kufur.”
Sang Nabi memahami betul bahwa keistimewaan lahiriah merupakan instrumen ujian dari Allah. Melansir pemikiran Imam At-Thabari, rasa syukur akan mengikat nikmat, sementara kekufuran pasti merugikan diri sendiri.(ust)









Komentar