Cara Al-Qur’an Menguatkan Nabi Saat Dakwah Ditolak

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 25 Juni 2026 - 23:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Al-Qur’an menguatkan Nabi Muhammad SAW saat menghadapi penolakan dakwah.( poto : ilustrasi poto : nuonline)

Al-Qur’an menguatkan Nabi Muhammad SAW saat menghadapi penolakan dakwah.( poto : ilustrasi poto : nuonline)

Jakarta, dorlanhikmah.com – Al-Qur’an menguatkan Nabi Muhammad SAW ketika beliau menghadapi penolakan, hinaan, dan permusuhan dari kaumnya.

Melalui kisah para nabi terdahulu, Allah menunjukkan bahwa ujian dalam dakwah bukanlah sesuatu yang baru. Sebaliknya, setiap rasul yang membawa kebenaran selalu menghadapi tantangan besar sebelum memperoleh pertolongan-Nya.

Hidup manusia tidak pernah berjalan dalam satu keadaan. Kadang seseorang merasakan kebahagiaan dan kemudahan, tetapi pada waktu lain ia menghadapi kesedihan dan kesempitan. Karena itu, tidak ada manusia yang benar-benar bebas dari ujian.

Orang kaya memiliki cobaannya sendiri. Demikian pula orang yang hidup sederhana. Bahkan para nabi yang menjadi manusia pilihan Allah juga harus menghadapi berbagai kesulitan dalam menjalankan tugas mereka.

Oleh sebab itu, ukuran kemuliaan seseorang bukan terletak pada banyak atau sedikitnya masalah yang dihadapi. Yang lebih penting adalah cara seseorang menyikapi ujian tersebut dan tetap berada di jalan yang benar.

Dalam banyak kesempatan, Al-Qur’an tidak hanya memberikan nasihat secara langsung. Sebaliknya, kitab suci ini mengajarkan berbagai nilai kehidupan melalui kisah-kisah yang menyentuh hati. Melalui metode itulah Allah mendidik manusia agar memiliki keteguhan, kesabaran, dan harapan.

Kesedihan Nabi Muhammad Saat Dakwah Ditolak

Sebagian orang mengira bahwa para nabi tidak pernah merasakan kesedihan karena kedekatan mereka dengan Allah SWT. Padahal, anggapan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan.

Sebagai manusia, para nabi tetap merasakan sedih, kecewa, dan lelah. Namun mereka tidak membiarkan perasaan tersebut menghentikan perjuangan yang sedang dijalankan.

Nabi Muhammad SAW juga mengalami keadaan yang sama. Ketika menyampaikan ajaran Islam di Makkah, beliau menghadapi penolakan keras dari kaum Quraisy. Mereka tidak hanya menolak dakwah beliau, tetapi juga melontarkan tuduhan, ejekan, dan berbagai bentuk permusuhan.

Besarnya kesedihan Rasulullah diabadikan Allah dalam Surah Asy-Syu’ara ayat 3:

لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ أَلَّا يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

Artinya:

“Boleh jadi engkau (Nabi Muhammad) akan membinasakan dirimu (dengan kesedihan) karena mereka tidak beriman.” (QS. Asy-Syu’ara: 3)

Ayat tersebut menunjukkan betapa besar kasih sayang Rasulullah kepada umatnya. Beliau sangat berharap mereka menerima petunjuk Allah sehingga merasa sangat sedih ketika melihat banyak orang tetap menolak kebenaran.

Tafsir At-Tustari: Tugas Rasul Hanya Menyampaikan

Ulama sufi terkemuka, Imam Abu Muhammad Sahl bin Abdullah At-Tustari, memberikan penjelasan mendalam mengenai ayat tersebut. Menurut beliau, Rasulullah hampir membinasakan dirinya sendiri karena begitu besar keinginannya agar seluruh kaumnya memperoleh hidayah.

At-Tustari menjelaskan:

لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ أَيْ مُهْلِكٌ نَفْسَكَ بِاتِّبَاعِ الْمُرَادِ فِي هِدَايَتِهِمْ

Beliau menerangkan bahwa Nabi Muhammad SAW sangat berharap semua orang beriman. Akan tetapi, Allah telah menetapkan ketentuan-Nya terkait siapa yang menerima hidayah dan siapa yang memilih jalan sebaliknya.

Baca Juga :  Tafsir Surat Al-Balad: Pesan Kehidupan, Jalan Terjal, dan Peringatan bagi Manusia

Lebih lanjut, At-Tustari menulis:

مَا عَلَيْكَ إِلَّا الْبَلَاغُ، فَلَا يَشْغَلْكَ الْحُزْنُ فِي أَمْرِهِمْ عَنَّا

Artinya:

“Tugasmu hanyalah menyampaikan. Maka jangan sampai kesedihan terhadap mereka membuatmu sibuk hingga melupakan Kami.”

Melalui pesan tersebut, Allah mengingatkan Rasulullah agar tidak menggantungkan ketenangan hati kepada hasil dakwah. Sebaliknya, beliau harus tetap bersandar kepada Allah yang mengatur segala sesuatu.

Mengapa Allah Menggunakan Kisah Para Nabi?

Menariknya, Allah tidak hanya memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk bersabar. Sebaliknya, Allah memperlihatkan pengalaman para nabi terdahulu agar beliau melihat bahwa jalan dakwah selalu dipenuhi ujian.

Dengan cara itu, Rasulullah dapat memahami bahwa penolakan bukan tanda kegagalan. Sebaliknya, penolakan merupakan bagian dari perjalanan panjang menuju kemenangan.

Selain itu, kisah-kisah tersebut memberikan kekuatan emosional yang lebih dalam dibandingkan sekadar nasihat langsung. Ketika seseorang melihat pengalaman orang lain yang menghadapi ujian serupa, ia akan lebih mudah memahami makna kesabaran.

Al-Qur’an Menguatkan Nabi Melalui Kisah Nabi Musa

Setelah menyebut kesedihan Nabi Muhammad SAW, Allah menghadirkan kisah Nabi Musa AS. Melalui kisah ini, Allah menunjukkan bahwa nabi-nabi sebelumnya juga menghadapi penolakan yang sangat berat.

Nabi Musa harus berhadapan dengan Fir’aun yang terkenal angkuh dan zalim. Meskipun Allah memperlihatkan berbagai mukjizat, Fir’aun tetap menolak kebenaran.

Dalam Surah Asy-Syu’ara ayat 63-67, Allah berfirman:

فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ

وَأَزْلَفْنَا ثَمَّ الْآخَرِينَ

وَأَنْجَيْنَا مُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَجْمَعِينَ

ثُمَّ أَغْرَقْنَا الْآخَرِينَ

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ

Allah menyelamatkan Nabi Musa dan pengikutnya dengan membelah lautan. Sementara itu, Fir’aun bersama pasukannya tenggelam akibat kesombongan mereka.

Namun yang paling menarik terdapat pada penutup ayat tersebut:

وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ

Artinya:

“Tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.”

Kalimat ini menjadi penghibur bagi Rasulullah SAW. Meskipun manusia menyaksikan mukjizat yang luar biasa, banyak di antara mereka tetap menolak beriman. Karena itu, penolakan yang beliau hadapi bukanlah sesuatu yang unik atau belum pernah terjadi sebelumnya.

Kisah Nabi Ibrahim dan Ujian yang Lebih Berat

Setelah kisah Nabi Musa, Allah menghadirkan kisah Nabi Ibrahim AS. Melalui kisah ini, Al-Qur’an menunjukkan bentuk ujian yang berbeda namun tidak kalah berat.

Nabi Ibrahim tidak hanya menghadapi penolakan dari masyarakat. Bahkan ayahnya sendiri menolak ajakan menuju tauhid.

Allah berfirman:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ إِبْرَاهِيمَ

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا تَعْبُدُونَ

قَالُوا نَعْبُدُ أَصْنَامًا فَنَظَلُّ لَهَا عَاكِفِينَ

Dalam dialog tersebut, Nabi Ibrahim mengajak kaumnya berpikir secara rasional. Beliau bertanya apakah berhala yang mereka sembah dapat mendengar, memberi manfaat, atau menolak bahaya.

Baca Juga :  Politisasi Al-Qur’an dalam Politik: Sejarah, Tafsir, dan Kritik Ulama

Namun demikian, kaumnya tetap bertahan pada keyakinan lama yang diwariskan oleh nenek moyang mereka.

Penjelasan Imam Fakhruddin Ar-Razi

Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam kitab Mafatihul Ghaib menjelaskan hikmah di balik penyebutan kisah Nabi Musa dan Nabi Ibrahim secara berurutan.

Beliau menulis:

لِيَعْرِفَ مُحَمَّدٌ أَنَّ مِثْلَ تِلْكَ الْمِحْنَةِ كَانَتْ حَاصِلَةً لِمُوسَى

Melalui kisah Nabi Musa, Allah ingin menunjukkan bahwa ujian serupa juga pernah menimpa nabi sebelumnya.

Selanjutnya, Ar-Razi menjelaskan:

أَنَّ حُزْنَ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ بِهَذَا السَّبَبِ كَانَ أَشَدَّ مِنْ حُزْنِهِ

Menurut beliau, kesedihan Nabi Ibrahim bahkan lebih berat daripada kesedihan Nabi Muhammad SAW pada saat itu.

Pasalnya, Nabi Ibrahim harus menyaksikan ayah dan kaumnya sendiri menolak kebenaran. Beliau mencintai mereka, tetapi tidak mampu memaksa mereka menerima hidayah.

Yang dapat beliau lakukan hanyalah berdoa, mengingatkan, dan menyampaikan kebenaran dengan penuh kesabaran.

Pelajaran Penting bagi Umat Islam

Melalui kisah-kisah tersebut, Al-Qur’an mengajarkan cara menghadapi masalah dengan sudut pandang yang lebih luas. Ketika seseorang tertimpa ujian, ia tidak perlu merasa bahwa dirinya paling menderita.

Sebaliknya, ia perlu melihat bagaimana orang-orang saleh menghadapi kesulitan yang jauh lebih besar.

Para nabi pernah mengalami penolakan dari masyarakatnya. Selain itu, mereka juga menghadapi penghinaan, ancaman, bahkan pengusiran. Dalam beberapa peristiwa, mereka kehilangan orang-orang yang sangat dicintai. Meski demikian, mereka tetap melanjutkan perjuangan karena keyakinan kepada Allah tidak pernah pudar.

Karena itu, kesabaran bukan berarti menghilangkan rasa sedih. Kesabaran berarti mengelola kesedihan agar tidak menjauhkan seseorang dari Allah.

Saat hati terluka, seorang mukmin tetap menjalankan perintah-Nya. Ketika harapan belum terwujud, ia terus berusaha tanpa kehilangan keyakinan. Jika jalan terasa berat, ia tetap melangkah sambil memohon pertolongan Allah.

Nasihat Ulama Klasik tentang Kesabaran

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitab Madarijus Salikin menulis:

فَالصَّبْرُ مِنَ الْإِيمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ

Artinya:

“Kesabaran dalam iman memiliki kedudukan seperti kepala bagi tubuh.”

Melalui ungkapan tersebut, Ibnul Qayyim menegaskan bahwa kesabaran merupakan fondasi utama dalam kehidupan seorang mukmin.

Sementara itu, Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menjelaskan bahwa kesabaran tidak berarti menghilangkan rasa sakit atau kesedihan. Sebaliknya, seseorang menjaga dirinya tetap berada dalam ketaatan kepada Allah meskipun menghadapi tekanan yang berat.(ust)

Berita Terkait

Keutamaan Surah Al-Fatihah, Surah Paling Agung dalam Alquran
Tafsir Az-Zumar Ayat 53: Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah
Cara Al-Qur’an Menguatkan Hati Nabi Muhammad Saat Ditolak
Tafsir Haji Mabrur, Maqbul, dan Mardud Al-Baqarah 197
Empat Kelompok Manusia Pasca Ibadah Haji Menurut Tafsir
6 Bencana Alam dalam Al-Qur’an dan Kisahnya Lengkap
Politisasi Al-Qur’an dalam Sejarah Politik Islam
Allah Selalu Melihat Hambanya: Tafsir QS. Al-‘Alaq 14
Berita ini 7 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Kamis, 9 Juli 2026 - 23:00 WIB

Keutamaan Surah Al-Fatihah, Surah Paling Agung dalam Alquran

Kamis, 9 Juli 2026 - 21:00 WIB

Tafsir Az-Zumar Ayat 53: Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah

Kamis, 9 Juli 2026 - 03:00 WIB

Cara Al-Qur’an Menguatkan Hati Nabi Muhammad Saat Ditolak

Sabtu, 27 Juni 2026 - 05:00 WIB

Tafsir Haji Mabrur, Maqbul, dan Mardud Al-Baqarah 197

Sabtu, 27 Juni 2026 - 03:00 WIB

Empat Kelompok Manusia Pasca Ibadah Haji Menurut Tafsir

Berita Terbaru

Apakah telur harus di cuci dulu sebelumdi ebus,simak penjelasannya.( poto: nuonline).

Fiqih

Kajian Fiqih, Perlukah Mencuci Telur Sebelum Dimasak?

Sabtu, 11 Jul 2026 - 05:00 WIB