Jakarta, dorlanhikmah.com – Syarat qashar shalat menjadi pembahasan penting dalam fikih karena tidak semua perjalanan otomatis membolehkan seseorang meringkas shalat.
Islam memang memberikan keringanan kepada orang yang sedang safar, tetapi ulama menetapkan aturan yang jelas agar rukhsah tersebut digunakan sesuai ketentuan syariat.
Dalam mazhab Syafi’i, qashar hanya berlaku pada kondisi tertentu. Karena itu, seorang muslim perlu memahami batasan dan syaratnya agar ibadah tetap sah serta sesuai tuntunan para ulama.
Dasar pembahasan ini dijelaskan oleh Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib:
وَيَجُوزُ لِلْمُسَافِرِ قَصْرُ الصَّلَاةِ الرُّبَاعِيَّةِ بِخَمْسِ شُرُوطٍ:
أَنْ يَكُونَ سَفَرُهُ فِي غَيْرِ مَعْصِيَةٍ،
وَأَنْ تَكُونَ مَسَافَتُهُ سِتَّةَ عَشَرَ فَرْسَخًا بِلَا إِيَابٍ،
وَأَنْ يَكُونَ مُؤَدِّيًا لِلصَّلَاةِ الرُّبَاعِيَّةِ،
وَأَنْ يَنْوِيَ الْقَصْرَ مَعَ الْإِحْرَامِ،
وَأَنْ لَا يَأْتَمَّ بِمُقِيمٍ.
Artinya:
“Musafir boleh mengqashar shalat empat rakaat dengan lima syarat: perjalanannya bukan untuk maksiat, jaraknya mencapai enam belas farsakh tanpa menghitung pulang, shalat yang dilakukan memang shalat empat rakaat, berniat qashar saat takbiratul ihram, dan tidak bermakmum kepada orang mukim.”
Penjelasan rinci mengenai syarat tersebut diterangkan dalam kitab Fathul Qarib.
Qashar Shalat Adalah Bentuk Keringanan dari Allah
Allah memberikan kemudahan kepada hamba-Nya ketika menghadapi keadaan tertentu, termasuk saat melakukan perjalanan.
Allah berfirman:
وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ
Artinya:
“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah berdosa kamu mengqashar shalat.”
(QS. An-Nisa: 101)
Ayat ini menjadi dasar umum kebolehan qashar bagi musafir.
Meski demikian, para ulama menjelaskan bahwa kebolehan tersebut tidak berlaku tanpa batas. Mereka menyusun syarat berdasarkan dalil dan penjelasan para imam fikih.
Syarat Pertama: Safar Tidak Bertujuan Maksiat
Syarat pertama menyangkut tujuan perjalanan.
Ulama Syafiiyah menegaskan bahwa seseorang hanya mendapat rukhsah qashar jika safarnya bukan untuk melakukan maksiat.
Ketentuan ini mencakup berbagai bentuk perjalanan yang dibenarkan syariat.
Contohnya:
- bepergian untuk bekerja,
- menuntut ilmu,
- berdagang,
- bersilaturahmi,
- memenuhi kewajiban keluarga,
- menjalankan urusan sosial.
Semua bentuk safar tersebut tetap membuka peluang menggunakan rukhsah qashar apabila memenuhi syarat lainnya.
Sebaliknya, seseorang yang sengaja melakukan perjalanan untuk tujuan yang dilarang tidak memperoleh keringanan tersebut.
Dalam Fathul Qarib dijelaskan:
فَأَمَّا سَفَرُ الْمَعْصِيَةِ فَلَا تُبَاحُ فِيهِ الرُّخَصُ
Artinya:
“Adapun perjalanan maksiat, maka tidak dibolehkan mengambil rukhsah di dalamnya.”
Penjelasan ini menunjukkan bahwa kemudahan dalam syariat tidak berdiri terpisah dari tujuan ibadah dan ketaatan.
Syarat Kedua: Jarak Safar Mencapai Enam Belas Farsakh
Syarat berikutnya berkaitan dengan jarak perjalanan.
Menurut mazhab Syafi’i, seseorang baru boleh qashar apabila jarak safarnya mencapai 16 farsakh tanpa menghitung perjalanan pulang.
Ulama kemudian menjelaskan ukuran tersebut secara bertingkat:
- 1 farsakh = 3 mil
- 16 farsakh = 48 mil
Dalam penjelasan klasik:
- 1 mil = 4.000 langkah
- 1 langkah = 3 kaki
Ukuran ini merujuk kepada mil Hasyimi yang digunakan dalam literatur fikih.
Dalam praktik modern, banyak ulama kontemporer mengonversinya menjadi kisaran sekitar 80–90 kilometer.
Karena itu, perjalanan yang terlalu dekat biasanya belum memenuhi syarat qashar.
Imam An-Nawawi dalam Raudhah Ath-Thalibin juga menguatkan ketentuan tersebut sebagai pendapat yang menjadi pegangan dalam mazhab.
Namun para ulama tetap mengingatkan agar seseorang tidak menjadikan angka semata sebagai ukuran tanpa memahami konteks safar yang sebenarnya.
Syarat Ketiga: Shalat yang Dikerjakan Memang Empat Rakaat
Tidak semua shalat bisa diqashar.
Keringanan ini hanya berlaku pada shalat fardu yang jumlah asalnya empat rakaat.
Yang termasuk di dalamnya adalah:
- Zuhur
- Asar
- Isya
Sementara itu:
- Subuh tetap dua rakaat
- Magrib tetap tiga rakaat
Karena jumlah rakaat keduanya memang sudah ditentukan sejak awal.
Dalam penjelasan Fathul Qarib, ulama juga membahas persoalan qadha.
Apabila seseorang meninggalkan shalat ketika masih berada di rumah atau belum safar, maka ia harus mengqadhanya secara sempurna.
Sebaliknya, jika ia tertinggal shalat saat sedang safar lalu mengqadhanya ketika masih dalam perjalanan, ia boleh melakukannya dengan qashar.
Aturan ini menunjukkan bahwa status shalat mengikuti kondisi saat kewajiban itu muncul.
Syarat Keempat: Berniat Qashar Sejak Takbiratul Ihram
Syarat ini sering terlupakan oleh sebagian orang.
Mazhab Syafi’i mewajibkan niat qashar hadir sejak awal shalat, tepat ketika takbiratul ihram.
Artinya, seseorang tidak dapat memulai shalat empat rakaat kemudian memutuskan di tengah jalan untuk mengubahnya menjadi dua rakaat.
Niat menjadi pembeda antara shalat sempurna dan shalat qashar.
Imam Asy-Syirazi dalam Al-Muhadzdzab menjelaskan bahwa qashar merupakan bentuk perubahan dari hukum asal, sehingga membutuhkan niat yang jelas sejak permulaan.
Ketentuan ini juga menjaga kekhusyukan dan kepastian pelaksanaan ibadah.
Karena itu, musafir yang ingin mengambil rukhsah perlu memastikan niatnya sejak awal.
Syarat Kelima: Tidak Bermakmum kepada Imam Mukim
Syarat terakhir berkaitan dengan posisi seseorang saat shalat berjamaah.
Musafir yang ingin qashar tidak boleh bermakmum kepada imam yang menyempurnakan shalat.
Ketika seorang musafir mengikuti imam mukim, ia wajib mengikuti jumlah rakaat imam sampai selesai.
Hal ini berdasarkan kaidah umum dalam berjamaah bahwa makmum mengikuti imam.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ
Artinya:
“Sesungguhnya imam dijadikan untuk diikuti.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, jika imam shalat empat rakaat, maka makmum musafir juga menyelesaikan empat rakaat.
Sebaliknya, apabila sesama musafir bermakmum kepada imam yang juga qashar, maka mereka dapat menyelesaikan shalat dua rakaat.
Qashar bukan sekadar pengurangan jumlah rakaat.
Di balik rukhsah ini terdapat pesan bahwa Islam hadir dengan keseimbangan.
Perjalanan sering membawa kelelahan, perubahan waktu, dan keterbatasan kondisi. Syariat lalu memberikan kemudahan agar ibadah tetap berjalan tanpa memberatkan.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menjelaskan bahwa kemudahan dalam ibadah merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.
Keringanan bukan tanda lemahnya ibadah, melainkan bentuk ketaatan ketika dijalankan sesuai aturan.
Karena itu, memahami syarat qashar menjadi bagian dari menjaga kualitas ibadah selama safar.(ust)







Komentar