Jakarta, dorlanhikmah.com – Tata cara wudhu lengkap menjadi pedoman penting bagi setiap Muslim sebelum melaksanakan shalat. Islam mengatur wudhu secara rinci melalui Al-Qur’an dan Sunnah agar setiap orang dapat menyucikan diri dengan benar.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya menjelaskan hukum-hukumnya, tetapi juga memperagakan langsung cara berwudhu kepada para sahabat.
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi Al-Khalafi dalam Kitab Thaharah menerangkan bahwa para sahabat meriwayatkan tata cara wudhu Rasulullah secara detail. Riwayat-riwayat tersebut kemudian menjadi landasan para ulama dalam menjelaskan syarat, rukun, dan sunnah wudhu.
Utsman bin Affan Mencontohkan Wudhu Rasulullah
Humran, mantan budak Utsman bin Affan Radhiyallahu anhu, menceritakan bahwa suatu hari Utsman meminta air untuk berwudhu. Setelah air tersedia, beliau langsung memperagakan tata cara wudhu yang pernah beliau lihat dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Utsman memulai wudhunya dengan membasuh kedua telapak tangan sebanyak tiga kali. Setelah itu beliau berkumur-kumur, menghirup air ke dalam hidung, lalu mengeluarkannya kembali.
Beliau kemudian membasuh wajah sebanyak tiga kali. Setelah selesai membasuh wajah, beliau membasuh tangan kanan hingga siku sebanyak tiga kali, lalu melanjutkannya pada tangan kiri dengan jumlah yang sama.
Setelah membasuh kedua tangan, Utsman mengusap kepalanya. Berikutnya beliau membasuh kaki kanan hingga mata kaki sebanyak tiga kali, kemudian membasuh kaki kiri sebanyak tiga kali.
Sesudah menyelesaikan wudhunya, Utsman berkata bahwa dirinya pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu dengan cara yang sama.
Utsman juga menyampaikan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian berdiri melaksanakan shalat dua rakaat tanpa memikirkan urusan lain di dalam hatinya, maka Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Ibnu Syihab Az-Zuhri menjelaskan bahwa para ulama pada zamannya menganggap tata cara tersebut sebagai bentuk wudhu yang paling sempurna untuk shalat.
Niat Menjadi Dasar Setiap Ibadah
Islam menempatkan niat sebagai syarat utama dalam seluruh ibadah, termasuk wudhu. Karena itu, seseorang harus menghadirkan niat sebelum mulai berwudhu.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya.”
Seseorang cukup menghadirkan niat di dalam hati ketika hendak berwudhu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melafalkan niat secara khusus sebelum memulai wudhu.
Karena itu, para ulama tidak menganjurkan pelafalan niat dengan lafaz tertentu. Kehadiran niat dalam hati sudah memenuhi syarat yang ditetapkan syariat.
Mengawali Wudhu dengan Basmalah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan umatnya untuk mengingat Allah ketika memulai wudhu. Salah satu caranya ialah membaca basmalah.
Beliau bersabda:
لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوْءَ لَهُ، وَلاَ وُضُوْءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللهِ عَلَيْهِ
“Tidak sah shalat seseorang tanpa wudhu, dan tidak ada wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah.”
Hadis ini menunjukkan pentingnya memulai wudhu dengan menyebut nama Allah sebagai bentuk pengagungan kepada-Nya.
Menjaga Kesinambungan Saat Berwudhu
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menginginkan umatnya melaksanakan wudhu secara sempurna tanpa jeda yang panjang antaranggota wudhu.
Khalid bin Ma’dan meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah melihat seorang laki-laki melaksanakan shalat. Ketika memperhatikannya, beliau menemukan bagian kecil pada punggung kaki laki-laki tersebut yang tidak terkena air.
Ukuran bagian yang kering itu hanya sebesar uang dirham. Meski demikian, Rasulullah tetap memerintahkan laki-laki tersebut untuk mengulangi wudhu dan shalatnya.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa seseorang harus memastikan air mengenai seluruh anggota wudhu tanpa menyisakan bagian yang terlewat.
Rukun Wudhu Berdasarkan Al-Qur’an
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai siku, sapulah kepalamu, dan basuhlah kakimu sampai kedua mata kaki.” (QS. Al-Maidah: 6)
Ayat ini menjadi dasar utama rukun-rukun wudhu.
Seorang Muslim wajib membasuh wajahnya. Setelah itu ia wajib membasuh kedua tangan hingga siku. Berikutnya ia wajib mengusap kepala lalu membasuh kedua kaki sampai mata kaki.
Para ulama juga memasukkan berkumur dan menghirup air ke hidung ke dalam bagian membasuh wajah karena keduanya berada dalam area wajah yang Allah perintahkan untuk dibersihkan.
Rasulullah Selalu Berkumur dan Beristinsyaq
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berkumur dan memasukkan air ke hidung ketika berwudhu.
Beliau bersabda:
إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلْ فِي أَنْفِهِ مَاءً ثُمَّ لِيَسْتَنْثِرْ
“Jika salah seorang di antara kalian berwudhu, hendaklah ia memasukkan air ke hidungnya lalu mengeluarkannya.”
Dalam hadis lain beliau bersabda:
وَبَالِغْ فِي اْلاِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا
“Bersungguh-sungguhlah dalam menghirup air ke hidung kecuali ketika engkau sedang berpuasa.”
Beliau juga bersabda:
إِذَا تَوَضَّأْتَ فَمَضْمِضْ
“Apabila engkau berwudhu maka berkumurlah.”
Hadis-hadis tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah memberi perhatian besar terhadap kebersihan mulut dan hidung ketika berwudhu.
Mengusap Seluruh Kepala
Para ulama menjelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap seluruh bagian kepala ketika berwudhu.
Al-Qur’an memang memerintahkan umat Islam untuk mengusap kepala. Namun Sunnah Nabi memberikan penjelasan rinci tentang cara pelaksanaannya.
Dalam banyak riwayat sahih, Rasulullah mengusap seluruh kepala beliau dari bagian depan ke belakang lalu mengembalikannya ke tempat semula.
Sebagian orang menggunakan hadis tentang ubun-ubun dan sorban sebagai alasan untuk mengusap sebagian kepala saja. Akan tetapi, para ulama menerangkan bahwa Rasulullah menyempurnakan usapan tersebut dengan mengusap bagian atas sorban yang menutupi sisa kepala.
Karena itu, seseorang sebaiknya mengusap seluruh kepala agar sesuai dengan praktik Rasulullah.
Kedua Telinga Termasuk Kepala
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اَلأُذُنَانِ مِنَ الرَّأْسِ
“Kedua telinga merupakan bagian dari kepala.”
Hadis ini menjelaskan bahwa seseorang perlu mengusap telinga ketika mengusap kepala.
Para sahabat pun mengikuti praktik tersebut sehingga para ulama memasukkan telinga ke dalam bagian kepala yang diusap saat berwudhu.
Menyela Jenggot dan Jari-Jari
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya membasuh bagian luar anggota wudhu. Beliau juga memperhatikan bagian-bagian yang berpotensi tidak terkena air.
Anas bin Malik Radhiyallahu anhu menceritakan bahwa Rasulullah mengambil segenggam air lalu memasukkannya ke bawah dagu. Setelah itu beliau menyela-nyela jenggotnya dengan air tersebut.
Kemudian beliau bersabda:
هكَذَا أَمَرَنِي رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ
“Beginilah Rabbku Yang Mahamulia dan Mahaagung memerintahkanku.”
Rasulullah juga memerintahkan umatnya menyela jari-jari tangan dan kaki.
Beliau bersabda:
أَسْبِغِ الْوُضُوْءَ، وَخَلِّلْ بَيْنَ اْلأَصَابِعِ، وَبَالِغْ فِي اْلاِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا
“Sempurnakanlah wudhu, sela-selalah jari-jari, dan bersungguh-sungguhlah dalam menghirup air ke hidung kecuali ketika berpuasa.”
Sunnah-Sunnah yang Menyempurnakan Wudhu
Bersiwak Sebelum Wudhu
Abu Hurairah Radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:
“Seandainya aku tidak khawatir memberatkan umatku, niscaya aku memerintahkan mereka bersiwak setiap kali berwudhu.”
Hadis ini menunjukkan besarnya perhatian Rasulullah terhadap kebersihan mulut.
Membasuh Telapak Tangan Tiga Kali
Rasulullah memulai wudhu dengan membasuh kedua telapak tangan sebanyak tiga kali sebelum membasuh anggota tubuh lainnya.
Menggabungkan Kumur dan Istinsyaq
Abdullah bin Zaid menjelaskan bahwa Rasulullah berkumur dan menghirup air ke hidung menggunakan satu genggaman air. Beliau mengulangi cara tersebut sebanyak tiga kali.
Mendahulukan Anggota Sebelah Kanan
Aisyah Radhiyallahu anha berkata:
“Rasulullah suka mendahulukan bagian kanan ketika memakai sandal, menyisir rambut, bersuci, dan dalam seluruh urusannya.”
Karena itu, seseorang dianjurkan mendahulukan tangan kanan dan kaki kanan ketika berwudhu.
Menggosok Anggota Wudhu
Abdullah bin Zaid meriwayatkan bahwa Rasulullah menggosok kedua tangannya ketika berwudhu. Praktik ini membantu air menjangkau seluruh bagian anggota wudhu.
Membasuh Tiga Kali
Rasulullah paling sering membasuh anggota wudhunya sebanyak tiga kali. Meski demikian, beliau juga pernah membasuh sekali atau dua kali.
Menjaga Urutan Wudhu
Mayoritas riwayat menunjukkan bahwa Rasulullah menjaga urutan anggota wudhu mulai dari wajah hingga kaki.
Doa Setelah Wudhu
Setelah menyelesaikan wudhu, Rasulullah mengajarkan umatnya membaca doa:
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”
Dalam riwayat lain Rasulullah menambahkan:
اَللّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersuci.”
Rasulullah menjelaskan bahwa Allah akan membuka delapan pintu surga bagi orang yang membaca doa tersebut setelah berwudhu.
Shalat Dua Rakaat Setelah Wudhu
Rasulullah menganjurkan umatnya melaksanakan shalat sunnah dua rakaat setelah berwudhu.
Beliau menjanjikan ampunan bagi orang yang melaksanakan shalat tersebut dengan penuh kekhusyukan dan tidak memikirkan urusan dunia.
Bilal bin Rabah Radhiyallahu anhu termasuk sahabat yang menjaga amalan ini. Ketika Rasulullah mendengar suara langkah Bilal di surga, beliau bertanya tentang amalan yang paling diharapkannya.
Bilal menjawab bahwa setiap kali bersuci, baik siang maupun malam, ia selalu mengerjakan shalat sunnah sesuai kemampuan yang Allah berikan kepadanya.(ust)










Komentar