Jakarta, dorlanhikmah.com – Musim kemarau panjang yang memicu kekeringan kini menimbulkan berbagai kesulitan hidup bagi masyarakat pemukiman. Umat Islam meyakini tuntunan tata cara shalat istisqa menjadi langkah ikhtiar spiritual terbaik untuk memohon keberkahan air hujan.
Kondisi kekeringan berlarut-larut kerap mengganggu pasokan air bersih dan melumpuhkan aktivitas harian warga. Syariat Islam mengajarkan pelaksanaan ibadah sunnah ini secara berjamaah demi mengetuk pertolongan Allah SWT.
Persiapan Puasa Tiga Hari Sebelum Pelaksanaan Shalat Istisqa
Pemerintah daerah setempat dianjurkan segera memberikan imbauan resmi saat ancaman kekeringan semakin sulit terkendali. Langkah tersebut bertujuan mengajak seluruh lapisan masyarakat menyatukan niat dalam menyikapi bencana kemarau.
Warga menjalankan ibadah puasa sunnah selama tiga hari berturut-turut sebagai bentuk persiapan spiritual. Puasa ini menjadi sarana mendekatkan diri kepada Sang Pencipta sebelum berkumpul bersama di lapangan.
Seluruh masyarakat mendatangi lapangan terbuka pada hari keempat untuk menggelar ibadah shalat berjamaah. Waktu pelaksanaan ibadah ini berlangsung pada pagi hari sebagaimana tradisi shalat Idul Fitri maupun Idul Adha.
Para jamaah memantapkan niat shalat istisqa dua rakaat menghadap kiblat sebelum imam memulai gerakan takbir. Pembacaan niat secara utuh berbunyi:
أُصَلِّي سُنَّةَ الإِسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ إِمَامًا/مَأْمُوْمًا لِلَّهِ تَعَالَى
Ushallī sunnatal-istisqā’i rak’ataini mustaqbilal-qiblati imāman/ma’mūman lillāhi ta’ālā.
Pembacaan niat ini menegaskan posisi seseorang sebagai imam maupun makmum karena mengharap ridha Allah SWT semata.
Tata Cara Pelaksanaan Shalat Istisqa Dan Penyampaian Khutbah
Masyarakat melaksanakan ibadah shalat dua rakaat ini dengan urutan gerakan yang menyerupai shalat Id. Imam memimpin pembacaan takbir sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama setelah gerakan takbiratul ihram.
Jamaah kemudian melanjutkan rakaat kedua dengan membaca takbir tambahan sebanyak lima kali secara tertib. Rangkaian ibadah terus berjalan melalui pembacaan surat al-qur’an, rukuk, sujud, hingga diakhiri dengan salam.
Khatib segera naik ke atas mimbar untuk menyampaikan dua sesi khutbah setelah shalat selesai. Penyampaian khutbah ini berlangsung dalam posisi berdiri dengan jeda sekali duduk di antara dua sesi.
Tata cara khutbah istisqa memiliki aturan yang persis sama dengan pelaksanaan khutbah shalat hari raya. Khatib melantunkan takbir sebanyak sembilan kali pada khutbah pertama dan tujuh kali pada khutbah kedua.
Anjuran Memperbanyak Taubat Dan Doa Penutup Memohon Hujan
Isi khutbah memuat ajakan mendalam agar masyarakat memperbanyak taubat dan memohon ampunan atas segala dosa. Khatib menggemakan bacaan istighfar agar Allah SWT berkenan menurunkan hujan yang membawa manfaat hidup.
Kehadiran air hujan sangat dinantikan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia beserta seluruh makhluk hidup lainnya. Keikhlasan jamaah dalam beristighfar menjadi kunci penting dalam memohon rahmat di tengah kekeringan.
Khatib menjalankan tata cara berdoa yang sangat khas pada setiap penutup sesi khutbah. Beliau membalikkan badan hingga membelakangi jamaah demi menghadap langsung ke arah kiblat.
Khatib juga mengubah posisi selendang atau sorban yang terpasang rapi pada bagian pundak. Beliau kemudian mengangkat kedua tangan setinggi mungkin sambil memanjatkan doa memohon guyuran air hujan.
Ibadah sunnah ini menegaskan ketergantungan penuh manusia terhadap kehendak dan kuasa Allah SWT. Seluruh rangkaian doa dan taubat menjadi pengingat bahwa nikmat hujan sepenuhnya berada dalam genggaman-Nya.(ust)










Komentar