Jakarta, dorlanhikmah.com – Perang Hunain menjadi salah satu peristiwa besar dalam sejarah Islam yang menunjukkan bagaimana sakinah Allah pada Perang Hunain benar-benar menenangkan hati Rasulullah ﷺ dan para sahabat di saat keadaan sangat genting.
Ketika sebagian pasukan muslim sempat tercerai-berai akibat serangan mendadak, Allah menurunkan keteguhan, bantuan malaikat, dan akhirnya memberikan kemenangan kepada kaum muslimin.
Peristiwa ini terjadi setelah Fathu Mekah. Saat itu kaum Hawazin dan Tsaqif bersiap menyerang kaum muslimin dengan kekuatan besar.
Pasukan muslim memang memiliki jumlah yang banyak, namun kondisi di medan perang berubah sangat cepat hingga sebagian pasukan mundur dari pertempuran.
Di tengah situasi itulah Allah menurunkan sakinah kepada Rasulullah ﷺ dan orang-orang beriman yang tetap bertahan bersama beliau.
Allah Menurunkan Ketenangan
Allah Ta’ala berfirman:
ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلْكَٰفِرِينَ
“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 26)
Ayat ini menjelaskan bahwa kemenangan dalam Perang Hunain bukan hanya karena kekuatan pasukan, tetapi karena pertolongan Allah.
Para ulama tafsir menerangkan bahwa sakinah berarti ketenangan hati, keteguhan, dan keberanian yang Allah tanamkan dalam diri Rasulullah ﷺ dan para sahabat.
Sementara “bala tentara yang tidak terlihat” dijelaskan sebagai para malaikat yang Allah turunkan untuk membantu kaum muslimin.
Kesaksian Musuh tentang Malaikat
Imam Ibnu Jarir meriwayatkan kisah seorang lelaki dari pihak musyrik yang ikut dalam Perang Hunain. Ia mengaku bahwa pada awal pertempuran kaum muslimin tampak terpukul dan tidak mampu bertahan.
Namun keadaan berubah ketika mereka mendekati Rasulullah ﷺ yang berada di atas bagal putih.
Lelaki itu berkata bahwa tiba-tiba muncul orang-orang berpakaian putih dengan wajah tampan yang menghadang mereka sambil berkata:
“Semoga wajah-wajah kalian menjadi buruk! Kembalilah!”
Setelah itu pasukan musyrik justru ketakutan dan lari tunggang-langgang.
Riwayat ini sering disebut para ulama sebagai bukti pertolongan malaikat dalam Perang Hunain.
Rasulullah Tetap Berdiri di Medan Perang
Dalam riwayat lain, Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa ketika banyak orang tercerai-berai, Rasulullah ﷺ tetap maju menghadapi musuh.
Hanya sekitar delapan puluh orang dari Muhajirin dan Anshar yang bertahan bersama beliau.
Ibnu Mas‘ud berkata:
“Aku bersama Rasulullah ﷺ pada hari Perang Hunain. Ketika itu orang-orang tercerai-berai meninggalkan beliau, dan yang tersisa bersama beliau hanyalah delapan puluh orang dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Kami maju ke depan dan tidak membelakangi musuh. Merekalah orang-orang yang Allah turunkan kepada mereka ketenangan.”
Dalam keadaan genting itu, Rasulullah ﷺ meminta segenggam tanah lalu melemparkannya ke arah musuh hingga mata mereka dipenuhi debu.
Beliau kemudian memanggil kaum Muhajirin dan Anshar agar kembali berkumpul. Setelah pasukan muslim kembali bersatu, keadaan berbalik dan kaum musyrik mulai melarikan diri.
Kisah Syaibah yang Berubah Hati
Salah satu kisah paling menarik dalam Perang Hunain datang dari Syaibah bin Utsman.
Awalnya ia masih menyimpan dendam kepada Rasulullah ﷺ karena anggota keluarganya terbunuh dalam peperangan sebelumnya. Ia bahkan berniat membunuh Nabi ﷺ di tengah peperangan.
Syaibah mencoba mendekati Rasulullah ﷺ dari berbagai arah. Namun setiap kali hendak menyerang, ia merasa terhalang dan ketakutan.
Ia berkata bahwa tiba-tiba muncul nyala api seperti kilat di hadapannya hingga membuatnya mundur.
Rasulullah ﷺ lalu memanggilnya dan bersabda:
“Wahai Syaibah, wahai Syaibah, mendekatlah kepadaku. Ya Allah, hilangkanlah setan darinya.”
Doa itu langsung mengubah hati Syaibah.
Ia mengaku bahwa setelah itu Rasulullah ﷺ menjadi orang yang paling ia cintai dibanding apa pun.
Peristiwa ini menunjukkan bagaimana kelembutan Rasulullah ﷺ mampu melunakkan hati orang yang sebelumnya memusuhi beliau.
Kaum Hawazin Akhirnya Masuk Islam
Allah Ta’ala kemudian berfirman:
ثُمَّ يَتُوبُ ٱللَّهُ مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 27)
Setelah perang selesai, sebagian besar kaum Hawazin akhirnya masuk Islam.
Mereka datang menemui Rasulullah ﷺ di Ji‘ranah sekitar dua puluh hari setelah perang berakhir.
Saat itu mereka meminta agar keluarga dan tawanan mereka dikembalikan.
Rasulullah ﷺ memberi pilihan kepada mereka:
“أَبْنَاؤُكُمْ وَنِسَاؤُكُمْ أَحَبُّ إِلَيْكُمْ أَمْ أَمْوَالُكُمْ؟”
“Anak-anak dan wanita kalian lebih kalian cintai atau harta kalian?”
Kaum Hawazin memilih keluarga mereka.
Jumlah tawanan saat itu mencapai sekitar enam ribu orang, terdiri dari perempuan dan anak-anak.
Rasulullah ﷺ kemudian mengembalikan seluruh tawanan kepada mereka sebagai bentuk kasih sayang dan kelembutan dalam dakwah.
Pembagian Harta Rampasan
Harta rampasan perang dibagikan kepada para prajurit yang ikut dalam Perang Hunain.
Rasulullah ﷺ juga memberikan bagian besar kepada beberapa tokoh Quraisy dan orang-orang yang baru masuk Islam agar hati mereka semakin dekat dengan Islam.
Di antara yang mendapat seratus ekor unta adalah Malik bin ‘Auf an-Nadhri, mantan pemimpin Hawazin.
Menariknya, Rasulullah ﷺ kembali mengangkat Malik sebagai pemimpin kaumnya.
Sikap Nabi ﷺ ini membuat banyak orang semakin kagum dan akhirnya menerima Islam dengan tulus.
Dzul Khuwaishirah Memprotes Nabi
Di Ji‘ranah juga terjadi peristiwa terkenal ketika seorang lelaki bernama Dzul Khuwaishirah memprotes pembagian harta rampasan perang.
Ia berkata kepada Rasulullah ﷺ:
“Wahai Muhammad, berlakulah adil!”
Ucapan itu membuat para sahabat marah. Namun Rasulullah ﷺ menjawab dengan tenang:
“وَيْلَكَ، وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ؟ لَقَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ”
“Celakalah engkau! Siapa yang akan berlaku adil jika aku tidak berlaku adil? Sungguh engkau akan rugi dan merugi jika aku tidak berlaku adil.”
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu bahkan meminta izin untuk membunuh lelaki itu. Namun Rasulullah ﷺ melarangnya.
Beliau bersabda:
“مَعَاذَ اللَّهِ، أَنْ يَتَحَدَّثَ النَّاسُ أَنِّي أَقْتُلُ أَصْحَابِي”
“Aku berlindung kepada Allah dari ucapan orang-orang bahwa aku membunuh para sahabatku.”
Rasulullah Menghibur Kaum Anshar
Setelah pembagian harta rampasan, sebagian kaum Anshar merasa sedih karena mereka tidak mendapat bagian besar seperti tokoh-tokoh Quraisy.
Sa‘d bin ‘Ubadah lalu menyampaikan isi hati kaum Anshar kepada Rasulullah ﷺ.
Beliau kemudian mengumpulkan kaum Anshar dan berbicara langsung kepada mereka dengan penuh kelembutan.
Rasulullah ﷺ mengingatkan bagaimana dahulu mereka hidup dalam permusuhan lalu Allah satukan hati mereka melalui Islam.
Beliau juga mengingatkan bahwa kaum Anshar telah menjadi penolong dakwah sejak awal.
Lalu Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidakkah kalian ridha, wahai kaum Anshar, bahwa manusia kembali dengan kambing dan unta, sedangkan kalian kembali membawa Rasulullah ke tempat tinggal kalian?”
Ucapan itu membuat kaum Anshar menangis hingga janggut mereka basah.
Mereka berkata:
“Kami ridha dengan Rasulullah sebagai bagian kami.”
Pelajaran Besar dari Perang Hunain
Perang Hunain mengajarkan bahwa jumlah besar tidak selalu menjamin kemenangan.
Saat kaum muslimin sempat merasa percaya diri dengan jumlah pasukan mereka, ujian justru datang.
Namun ketika mereka kembali bergantung kepada Allah, pertolongan dan sakinah turun kepada mereka.
Peristiwa ini juga memperlihatkan kepemimpinan Rasulullah ﷺ yang penuh keberanian, kasih sayang, dan kebijaksanaan.
Beliau tidak hanya memimpin peperangan, tetapi juga mampu menyatukan hati manusia dengan kelembutan dan keadilan.
Penutup
Kisah Perang Hunain menjadi pengingat bahwa pertolongan Allah bisa datang di saat keadaan paling sulit. Ketika hati manusia mulai goyah, Allah menurunkan sakinah kepada hamba-hamba-Nya yang tetap beriman dan bertawakal.
Perang ini juga menunjukkan bagaimana Rasulullah ﷺ menghadapi musuh, memperlakukan tawanan, hingga menenangkan para sahabat dengan penuh hikmah.
Karena itu, Perang Hunain bukan sekadar kisah kemenangan, tetapi juga pelajaran tentang iman, keteguhan, dan kasih sayang dalam Islam.(ust).










Komentar