Jakarta, dorlanhikmah.com – Keutamaan waktu dhuha menjadi salah satu pembahasan penting dalam Islam karena Allah secara khusus menyebut waktu ini dalam Al-Qur’an.
Para ulama menjelaskan bahwa waktu dhuha menyimpan berbagai peluang kebaikan, mulai dari mencari nafkah yang halal, membantu sesama, hingga melaksanakan shalat dhuha yang memiliki pahala besar dan menjadi bentuk syukur atas nikmat yang Allah berikan kepada manusia setiap hari.
Rahasia Waktu Dhuha dan Amalan Terbaik untuk Meraih Berkah
Allah Subhanahu wa Ta’ala berulang kali bersumpah dengan berbagai waktu dalam Al-Qur’an. Di antara waktu yang mendapat perhatian khusus adalah waktu dhuha. Penyebutan waktu ini menunjukkan bahwa dhuha memiliki kedudukan istimewa dalam kehidupan seorang muslim.
Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:
وَالضُّحَى
“Demi waktu dhuha.”
(QS. Adh-Dhuha: 1)
Selain waktu dhuha, Allah juga bersumpah dengan waktu fajar, subuh, siang, asar, dan malam. Para ulama sepakat bahwa sumpah Allah terhadap sesuatu menunjukkan pentingnya hal tersebut dan menjadi isyarat agar manusia memberikan perhatian lebih terhadapnya.
Karena itu, seorang muslim yang memahami nilai waktu akan berusaha memanfaatkan masa dhuha dengan aktivitas yang bermanfaat. Ia tidak membiarkan waktu berlalu tanpa makna. Setiap kesempatan di gunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menjalankan tanggung jawab kehidupan dengan sebaik-baiknya.
Waktu dhuha bukan sekadar jeda antara pagi dan siang. Di dalamnya terdapat peluang ibadah, kesempatan bekerja, waktu untuk menebar manfaat, dan saat yang tepat untuk memperbanyak rasa syukur kepada Allah.
Kapan Waktu Dhuha Dimulai?
Para ulama menjelaskan batasan waktu dhuha berdasarkan hadis-hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan penjelasan para ahli fikih.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam kitab Syarah Al-Arba’in An-Nawawiyah menerangkan bahwa waktu dhuha dimulai ketika matahari telah naik setinggi tombak menurut pandangan mata. Waktu tersebut berlanjut hingga menjelang zawal atau sebelum masuk waktu Zuhur.
Jika dihitung secara praktis, waktu dhuha biasanya dimulai sekitar 15 hingga 20 menit setelah matahari terbit. Waktu ini berakhir sekitar lima sampai sepuluh menit sebelum matahari bergeser ke arah barat sebagai tanda masuknya waktu Zuhur.
Penjelasan yang hampir sama juga disampaikan oleh Al-Lajnah Ad-Da’imah. Lembaga fatwa tersebut menerangkan bahwa awal waktu shalat dhuha berada sekitar seperempat jam setelah matahari terbit.
Dengan rentang waktu yang cukup panjang, setiap muslim memiliki kesempatan luas untuk mengisi dhuha dengan berbagai amal yang bernilai.
Mengapa Allah Memilih Waktu Dhuha?
Banyak ulama menjelaskan bahwa waktu dhuha merupakan saat manusia mulai aktif menjalankan berbagai urusan kehidupannya. Sebagian orang memulai pekerjaan, berdagang, bertani, belajar, atau melakukan aktivitas sosial.
Karena itulah Islam tidak memisahkan antara ibadah dan kehidupan sehari-hari. Seorang muslim dapat mengubah aktivitas duniawinya menjadi ibadah selama ia melakukannya dengan niat yang benar dan mengikuti aturan syariat.
Ketika Allah bersumpah dengan waktu dhuha, terdapat pesan bahwa seorang mukmin harus menjaga kualitas aktivitasnya pada waktu tersebut. Ia tidak hanya mengejar keuntungan dunia, tetapi juga mencari ridha Allah melalui setiap pekerjaan yang dijalankan.
Aktivitas Utama yang Dianjurkan pada Waktu Dhuha
Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi dalam kitab Tauzi’ul Ibaadaat ‘ala Maqaadiril Auqaat menjelaskan sejumlah aktivitas yang layak menjadi pilihan seorang muslim pada waktu dhuha.
Penjelasan beliau menunjukkan bahwa Islam memberikan ruang yang luas bagi berbagai bentuk amal selama semuanya mengarah kepada kebaikan.
Mencari Nafkah dengan Cara yang Halal
Aktivitas pertama yang dianjurkan adalah mencari penghidupan yang halal.
Seorang pedagang dapat membuka tokonya dan melayani pelanggan dengan jujur. Seorang pekerja dapat menjalankan tugasnya secara profesional. Seorang petani dapat mengolah lahannya dengan penuh tanggung jawab.
Islam tidak memandang pekerjaan sebagai sesuatu yang terpisah dari ibadah. Justru pekerjaan yang dilakukan dengan niat yang benar dapat bernilai ibadah di sisi Allah.
Karena itu, seseorang perlu menjaga kejujuran saat berdagang, menghindari kecurangan, menunaikan amanah, serta menjauhi segala bentuk penipuan.
Bagi pemilik usaha, Islam juga mendorong sikap ramah, santun, dan mudah memberikan nasihat kepada orang lain. Keuntungan yang diperoleh melalui jalan halal akan membawa keberkahan yang jauh lebih besar dibandingkan keuntungan yang didapat melalui cara-cara yang dilarang.
Di tengah kesibukan bekerja, seorang muslim tetap dianjurkan untuk memperbanyak dzikir dan mengingat Allah. Kesibukan dunia tidak boleh membuat hati lalai dari Sang Pencipta.
Selain itu, Islam mengajarkan sikap qana’ah atau merasa cukup terhadap rezeki yang Allah berikan. Sikap ini menjaga seseorang dari sifat tamak dan keluh kesah yang berlebihan.
Qailulah, Istirahat yang Bernilai Ibadah
Pilihan aktivitas kedua adalah qailulah atau tidur sejenak pada siang hari.
Banyak orang menganggap tidur siang hanya sebagai bentuk istirahat biasa. Padahal para ulama menjelaskan bahwa qailulah memiliki manfaat besar bagi kehidupan seorang muslim.
Qailulah membantu tubuh memulihkan tenaga sehingga seseorang lebih siap menjalankan aktivitas hingga sore hari. Lebih dari itu, qailulah juga membantu seseorang bangun pada malam hari untuk melaksanakan tahajud.
Imam Hasan Al-Bashri pernah melewati sebuah pasar yang di penuhi orang-orang yang beraktivitas tanpa henti. Setelah melihat keadaan tersebut, beliau berkata bahwa kemungkinan malam mereka tidak baik karena mereka tidak melakukan qailulah.
Perkataan ini menunjukkan hubungan erat antara istirahat siang dan ibadah malam.
Para ulama bahkan memberikan perumpamaan yang sangat menarik. Mereka mengatakan bahwa orang yang melakukan qailulah tetapi tidak mengerjakan tahajud ibarat seseorang yang makan sahur tetapi tidak berpuasa pada siang hari.
Tujuan utama qailulah bukan sekadar mengistirahatkan tubuh. Qailulah juga menjadi sarana untuk memperkuat ibadah malam.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قِيلُوا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَقِيلُ
“Lakukanlah qailulah, karena setan tidak melakukan qailulah.”
(HR. Thabrani, dinilai hasan oleh Al-Albani)
Hadis ini menunjukkan bahwa qailulah merupakan kebiasaan yang di anjurkan dan menjadi salah satu karakter kehidupan seorang muslim.
Membantu Sesama dan Menebar Kebaikan
Aktivitas berikutnya yang dapat mengisi waktu dhuha adalah membantu orang lain.
Islam memberikan perhatian besar terhadap hubungan sosial. Karena itu, waktu dhuha juga dapat dimanfaatkan untuk menjenguk orang sakit, menghadiri majelis ilmu, membantu kebutuhan saudara muslim, atau mengantarkan jenazah.
Setiap bentuk bantuan yang di berikan dengan ikhlas memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah.
Ketika seseorang menyempatkan waktu untuk membantu orang lain, ia tidak hanya memberikan manfaat kepada sesamanya. Ia juga sedang membangun tabungan pahala yang akan ia petik hasilnya di akhirat kelak.
Kegiatan sosial semacam ini memperkuat persaudaraan dan menumbuhkan kepedulian dalam masyarakat.
Shalat Dhuha, Amalan Paling Utama di Waktu Dhuha
Di antara seluruh amalan yang dapat di lakukan pada waktu dhuha, para ulama menempatkan shalat dhuha sebagai amalan unggulan.
Shalat dhuha memiliki keutamaan yang sangat besar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa ibadah ini menjadi bentuk syukur atas seluruh persendian yang Allah karuniakan kepada manusia.
Beliau bersabda:
يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ، فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى
“Pada pagi hari setiap persendian salah seorang di antara kalian wajib disedekahi. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, amar makruf adalah sedekah, nahi mungkar adalah sedekah. Semua itu dapat dicukupi dengan dua rakaat shalat dhuha.”
(HR. Muslim)
Hadis ini memperlihatkan betapa besar nilai dua rakaat shalat dhuha. Allah memberikan kesempatan kepada hamba-Nya untuk menunaikan rasa syukur yang sangat besar melalui ibadah yang ringan namun penuh keberkahan.
Nikmat 360 Persendian yang Jarang Disadari
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa manusia memiliki 360 persendian.
Beliau bersabda:
إِنَّهُ خُلِقَ كُلُّ إِنْسَانٍ مِنْ بَنِي آدَمَ عَلَى سِتِّينَ وَثَلَاثِمِائَةِ مَفْصِلٍ
“Sesungguhnya setiap manusia keturunan Adam diciptakan dengan 360 persendian.”
(HR. Muslim No. 1007)
Persendian memungkinkan manusia berjalan, menulis, bekerja, berlari, mengangkat barang, dan melakukan berbagai aktivitas lainnya.
Banyak orang baru menyadari pentingnya persendian ketika mengalami gangguan kesehatan. Padahal sejak bangun tidur hingga kembali beristirahat pada malam hari, manusia memanfaatkan seluruh bagian tubuhnya tanpa henti.
Karena itu, shalat dhuha menjadi salah satu cara terbaik untuk mengungkapkan rasa syukur atas nikmat besar tersebut.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan:
“Hadis Abu Dzar menunjukkan keutamaan yang sangat besar dari shalat dhuha dan menunjukkan kedudukannya yang mulia. Shalat dhuha telah cukup dengan dua rakaat.”
Penjelasan Imam An-Nawawi memperlihatkan betapa tinggi kedudukan ibadah ini dalam Islam.
Shalat Dhuha dan Jaminan Kecukupan dari Allah
Keutamaan lain yang sangat terkenal adalah janji kecukupan dari Allah bagi orang yang menjaga shalat dhuha.
Dalam hadis qudsi di sebutkan:
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: يَا ابْنَ آدَمَ لَا تَعْجِزْ عَنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَكْفِكَ آخِرَهُ
“Allah Azza wa Jalla berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau meninggalkan empat rakaat pada awal siang, niscaya Aku akan mencukupimu hingga akhir hari.”
(HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Para ulama menjelaskan bahwa kecukupan dalam hadis ini memiliki makna yang luas.
Al-Azhim Abadi dalam kitab Aunul Ma’bud menerangkan bahwa shalat dhuha dapat menjadi sebab perlindungan dari berbagai keburukan. Allah juga dapat menjaga pelakunya dari dosa, memberikan kemudahan dalam urusan hidup, serta melimpahkan keberkahan yang tidak selalu berbentuk materi.
Karena itu, banyak ulama salaf yang menjaga shalat dhuha secara rutin sepanjang hidup mereka.(ust)
Wallahu a’lam








Komentar