Makna Hijrah dalam Islam: Perjalanan Menuju Ridha Allah

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 21 Juni 2026 - 19:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Makna Hijrah dalam Islam ( poto : istimewa)

Makna Hijrah dalam Islam ( poto : istimewa)

Jakarta, dorlanhikmah.com – Hijrah menuju ridha Allah bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Hijrah merupakan perjalanan panjang untuk meninggalkan kemaksiatan, memperbaiki diri, serta mengarahkan seluruh kehidupan kepada ketaatan dan keridhaan Allah SWT.

Karena itu, makna hijrah selalu hidup di setiap zaman dan tetap relevan bagi setiap muslim.

Saat mendengar kata hijrah, sebagian orang langsung mengaitkannya dengan perpindahan fisik sebagaimana yang terjadi pada masa Rasulullah ﷺ dan para sahabat.

Pandangan itu memang berangkat dari sejarah Islam yang menjadikan hijrah sebagai titik balik lahirnya peradaban Islam.

Namun demikian, hijrah tidak berhenti pada perpindahan geografis. Islam memandang hijrah sebagai proses perubahan yang menyentuh hati, pikiran, dan perilaku.

Dengan kata lain, seseorang belum sepenuhnya berhijrah hanya karena berganti tempat apabila arah hidupnya belum berubah.

Hijrah dalam Sejarah: Menjaga Iman di Tengah Tekanan

Pada masa awal dakwah di Makkah, kaum Quraisy terus meningkatkan tekanan kepada Rasulullah ﷺ dan para pengikutnya.

Mereka mempersempit ruang gerak kaum muslimin, menghalangi dakwah, serta menciptakan tekanan sosial yang berat.

Meski menghadapi keadaan sulit, Rasulullah ﷺ dan para sahabat tidak menyerah. Sebaliknya, mereka mencari jalan agar tetap dapat menjaga iman dan menjalankan agama secara bebas.

Di tengah situasi tersebut, Allah SWT menurunkan firman-Nya:

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.”
(QS. Az-Zumar: 10)

Ayat tersebut memberi pesan bahwa seorang mukmin tidak boleh membiarkan imannya terancam oleh keadaan. Ketika satu tempat tidak lagi memberi ruang untuk menjaga agama, Allah membuka jalan yang lebih luas.

Karena petunjuk itulah, kaum muslimin berhijrah ke Habasyah. Setelah itu, perjalanan dakwah berlanjut ke Thaif hingga akhirnya Rasulullah ﷺ dan para sahabat berhijrah ke Madinah.

Peristiwa ini menjadi salah satu tonggak terbesar dalam sejarah Islam.

Meskipun hijrah Rasulullah ﷺ berlangsung dalam bentuk perpindahan tempat, para ulama menjelaskan bahwa hakikat hijrah jauh lebih luas.

Secara bahasa, hijrah berasal dari akar kata ha-ja-ra yang berarti meninggalkan sesuatu lalu beralih menuju sesuatu yang lain.

Baca Juga :  Jangan Pernah Melupakan Kebaikan Orang Lain, Teladan Mulia dari Rasulullah

Dari pengertian tersebut, hijrah tidak selalu mengharuskan seseorang berpindah wilayah. Sebaliknya, hijrah dapat hadir dalam keputusan-keputusan kecil yang membawa manusia semakin dekat kepada Allah SWT.

Karena itu, semangat hijrah tetap berlaku sepanjang zaman.

Dua Dimensi Hijrah Menurut Ulama

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa inti hijrah dalam syariat adalah meninggalkan segala sesuatu yang Allah larang.

Penjelasan tersebut merujuk pada sabda Rasulullah ﷺ:

«المهاجر من هجر ما نهى الله عنه»

“Seorang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan penjelasan tersebut, hijrah memiliki dua dimensi besar.

Hijrah Lahiriah

Hijrah lahiriah berarti berpindah dari tempat yang membahayakan agama menuju lingkungan yang lebih mendukung ibadah dan keselamatan iman.

Pada masa Nabi ﷺ, bentuk hijrah seperti ini menjadi kebutuhan nyata.

Akan tetapi, dalam kehidupan modern, bentuk hijrah lahiriah tetap dapat dilakukan ketika seseorang perlu menjauh dari lingkungan yang merusak keyakinan atau menghambat ketaatan.

Hijrah Batiniah

Selain perubahan lahir, Islam juga menekankan perubahan batin.

Hijrah batin berarti meninggalkan dosa, mengendalikan hawa nafsu, memperbaiki niat, serta membangun hubungan yang lebih dekat dengan Allah SWT.

Ibnu Hajar menegaskan bahwa perubahan batin menjadi dasar bagi perubahan lahir. Sebab, perubahan lingkungan tidak akan bertahan lama jika hati belum berubah.

Banyak orang menganggap hijrah sebagai satu titik perubahan besar dalam hidup. Padahal, hijrah lebih tepat dipahami sebagai perjalanan yang berlangsung sepanjang usia.

Seseorang mungkin memulai hijrah dengan memperbaiki shalat. Setelah itu, ia belajar menjaga lisan. Kemudian, ia mulai memperhatikan pergaulan, mengendalikan emosi, dan memperbaiki kualitas ibadah.

Setiap langkah kecil menuju kebaikan merupakan bagian dari hijrah.

Karena itu, seseorang tidak perlu menunggu momen besar untuk memulai perubahan.

Dua Arah Hijrah Menurut Imam Ibnul Qayyim

Dalam kitab Thariq al-Hijratain wa Bab as-Sa‘adatain, Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa seorang mukmin menjalani dua bentuk hijrah selama hidupnya.

Hijrah Menuju Allah SWT

Perjalanan pertama adalah hijrah menuju Allah.

Hijrah ini terjadi ketika seseorang mengarahkan hati untuk mencintai Allah, berharap kepada-Nya, bertawakal kepada-Nya, dan menjadikan ridha-Nya sebagai tujuan hidup.

Semakin kuat hubungan seorang hamba dengan Allah, semakin besar ketenangan yang ia rasakan.

Baca Juga :  Kesadaran Manusia dalam Ayat Al-Qur’an tentang Kembali

Selain itu, hijrah hati juga membantu seseorang menghadapi ujian tanpa kehilangan arah hidup.

Hijrah Menuju Rasulullah ﷺ

Perjalanan berikutnya adalah hijrah menuju Rasulullah ﷺ.

Artinya, seorang muslim berusaha menjadikan sunnah Nabi sebagai pedoman dalam ibadah, akhlak, pekerjaan, dan kehidupan sosial.

Dengan mengikuti Rasulullah ﷺ, amal tidak berhenti menjadi rutinitas, tetapi berubah menjadi ibadah yang bernilai.

Imam Junaid Al-Baghdadi pernah berkata:

«الطرق كلها مسدودة على الخلق إلا على من اقتفى أثر الرسول ﷺ»

“Semua jalan menuju Allah tertutup bagi manusia, kecuali bagi mereka yang mengikuti jejak Rasulullah ﷺ.”

Perkataan ini menegaskan bahwa jalan menuju Allah harus ditempuh melalui tuntunan Rasul-Nya.

Bentuk Hijrah yang Dekat dengan Kehidupan Saat Ini

Pada masa sekarang, hijrah hadir dalam banyak bentuk.

Pertama, hijrah untuk menjaga iman. Seseorang memilih lingkungan yang mendukung ibadah dan mengurangi pengaruh yang melemahkan keyakinan.

Kedua, hijrah sosial. Seseorang mulai menata pergaulan dan meninggalkan kebiasaan yang membawa kepada kemaksiatan.

Ketiga, hijrah orientasi hidup. Banyak orang mengejar dunia secara berlebihan hingga melupakan tujuan akhirat. Melalui hijrah, seorang muslim menata kembali prioritas hidupnya.

Keempat, hijrah digital. Di era teknologi, seseorang dapat berhijrah dengan memperbaiki pilihan tontonan, menjaga interaksi di media sosial, serta memperbanyak konten yang memberi manfaat.

Hijrah menuntut keberanian.

Seseorang harus berani meninggalkan kebiasaan lama, melawan kenyamanan yang menyesatkan, dan memilih jalan yang lebih baik.

Karena itu, Allah menjanjikan ganjaran besar bagi orang-orang yang berhijrah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«أما علمت أن الإسلام يهدم ما كان قبله وأن الهجرة تهدم ما كان قبلها»

“Tidakkah engkau mengetahui bahwa Islam menghapus dosa-dosa sebelumnya, dan hijrah pun menghapus dosa-dosa yang telah lalu?”
(HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa hijrah membuka kesempatan baru.

Allah memberikan ruang bagi setiap hamba untuk memulai lembaran kehidupan yang lebih baik.

Memulai Hijrah dari Langkah yang Paling Dekat

Hijrah tidak selalu dimulai dengan keputusan besar.

Mulailah dari kebiasaan sederhana.

Perbaiki shalat secara bertahap. Tambah waktu membaca Al-Qur’an. Jaga ucapan. Pilih lingkungan yang mendukung kebaikan. Luangkan waktu untuk belajar agama.

Selanjutnya, tanamkan niat bahwa setiap perubahan dilakukan semata-mata karena Allah SWT.

Ketika langkah kecil dilakukan secara konsisten, perubahan besar akan mengikuti.(ust)

Berita Terkait

Menelusuri Jejak Sejarah Pesantren dan Makna Santri
Kisah Nabi Ibrahim Menghormati Tamu Beda Agama yang Penuh Keteladanan
Kisah Umar bin Abdul Aziz Tolak Gratifikasi dan Fasilitas Negara
Kisah Keteguhan Ulama Besar Menghadapi Penjara Penguasa
Mukjizat Perang Tabuk: Berkah Makanan dan Kunci Surga
Kisah Abdullah bin Abi Umayyah Meraih Hidayah
Ketegasan Ali bin Abi Thalib Menjaga Amanah Kas Negara
Integritas Imam Abu Hanifah Hindari Konflik Kepentingan
Berita ini 10 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 13:17 WIB

Menelusuri Jejak Sejarah Pesantren dan Makna Santri

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:30 WIB

Kisah Nabi Ibrahim Menghormati Tamu Beda Agama yang Penuh Keteladanan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:24 WIB

Kisah Umar bin Abdul Aziz Tolak Gratifikasi dan Fasilitas Negara

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 08:21 WIB

Kisah Keteguhan Ulama Besar Menghadapi Penjara Penguasa

Kamis, 15 Oktober 2026 - 07:13 WIB

Mukjizat Perang Tabuk: Berkah Makanan dan Kunci Surga

Berita Terbaru

Tim Kerukunan Umat Beragama Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi mengawal langsung survei kerukunan umat beragama di Kabupaten Batang Hari.(poto: jambi.kemenag.go.id).

Berita Islam

Kemenag Jambi Awasi Survei Kerukunan di Batang Hari

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:56 WIB

Kegiatan gelar wicara bertajuk “Akses Rumah Pertama bagi Pekerja Muda” dalam ajang Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).(poto: republika).

Berita Islam

Bank BSN Rilis KPR Tenor 40 Tahun untuk Pekerja Muda

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:39 WIB

Gus Nadir.(poto: istimewa).

Pendidikan

Santri Masa Kini Mesti Kuasai AI dan Keterampilan Digital

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:32 WIB

Ponpes THOHIR YASIN Lendang Nangka-Masbagik-Lombok Timur(poto: istimewa).

Sejarah

Menelusuri Jejak Sejarah Pesantren dan Makna Santri

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:17 WIB

Isim Isyarah.

Bahasa Arab

Panduan Lengkap Isim Isyarah: Jenis dan Contoh Kalimat

Jumat, 23 Okt 2026 - 12:56 WIB