Jakarta, dorlanhikmah.com – Pembahasan mengenai 70 ribu tanpa hisab sering menarik perhatian umat Islam, karena hadits ini menegaskan adanya kelompok umat Nabi Muhammad ﷺ yang langsung masuk surga tanpa melalui hisab dan azab.
Namun demikian, para ulama menjelaskan bahwa seluruh riwayat yang tampak berbeda justru saling melengkapi, bukan saling bertentangan.
Pada dasarnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa ada 70.000 orang dari umat Islam yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Akan tetapi, dalam riwayat lain, jumlah tersebut berkembang melalui penjelasan syafa’at dan tambahan karunia Allah.
Oleh karena itu, para ulama Ahlus Sunnah memahami bahwa hadits-hadits ini menunjukkan luasnya rahmat Allah, bukan pembatasan jumlah tertentu.
Dalil Utama Hadits 70 Ribu Tanpa Hisab
Riwayat Shahih Bukhari dan Muslim
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
هَذِهِ أُمَّتُكَ وَ مَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْـجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ
“Ini adalah umatmu, dan bersama mereka ada 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.”
(HR. Bukhari no. 6541, Muslim no. 220)
Dengan demikian, hadits ini menjadi dasar utama dalam pembahasan kelompok istimewa umat Nabi Muhammad ﷺ. Selain itu, para ulama menegaskan bahwa angka tersebut menunjukkan keutamaan, bukan pembatasan jumlah akhir.
Penjelasan Riwayat Lain yang Memperluas Makna
Hadits Tsauban tentang Syafa’at Berlapis
Kemudian, dalam riwayat lain dari Tsauban radhiallahu’anhu, Nabi ﷺ bersabda:
لَيدْخُلَنَّ الجنةَ من أُمتِي سَبعونَ ألفًا ، لا حِسابَ عليهم و لا عذابَ ، مع كلِّ ألْفٍ سَبعونَ ألفًا
“Akan masuk surga 70.000 orang dari umatku tanpa hisab dan tanpa azab. Dan setiap seribu dari mereka membawa 70.000 orang lagi.”
(HR. Ahmad, Shahih Al Jami no. 5366)
Selain itu, riwayat ini menunjukkan adanya perluasan jumlah melalui mekanisme syafa’at. Dengan kata lain, Allah tidak membatasi rahmat-Nya hanya pada angka tertentu.
Riwayat Tambahan dalam Musnad Ahmad
Selanjutnya, terdapat riwayat lain yang menyebutkan:
إنَّ ربِّي زادَني مع كُلِّ أَلْفٍ سَبعينَ أَلْفًا
“Sesungguhnya Rabb-ku menambahkan untuk setiap 70.000 ditambah 70.000 lagi.”
(HR. Ahmad no. 23505)
Namun demikian, sebagian ulama seperti Syaikh Syu’aib Al Arnauth menilai riwayat ini lemah. Walaupun begitu, maknanya tetap menunjukkan keluasan rahmat Allah.
Hadits Abu Umamah tentang Tambahan yang Lebih Luas
Di sisi lain, dalam riwayat At Tirmidzi disebutkan:
وَعَدَنِي رَبِّي أَنْ يُدْخِلَ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعِينَ أَلْفًا لَا حِسَابَ عَلَيْهِمْ وَلَا عَذَابَ ، مَعَ كُلِّ أَلْفٍ سَبْعُونَ أَلْفًا ، وَثَلَاثُ حَثَيَاتٍ مِنْ حَثَيَاتِهِ
“Rabb-ku menjanjikan kepadaku 70.000 orang tanpa hisab dan tanpa azab, setiap seribu membawa 70.000, serta tiga genggaman dari genggaman-Nya.”
(HR. At Tirmidzi no. 2437)
Oleh sebab itu, hadits ini menegaskan bahwa jumlah tersebut tidak bersifat terbatas. Sebaliknya, ia menggambarkan keluasan karunia Allah yang tidak terhingga.
Penjelasan Ulama tentang Makna Hadits
Pandangan Syaikh Ibnu Baz
Selanjutnya, Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan:
فالذين يدخلون الجنة بغير حساب ولا عذاب لا يحصيهم إلا الله
“Orang-orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab tidak ada yang mengetahui jumlahnya kecuali Allah.”
Dengan demikian, beliau menegaskan bahwa angka dalam hadits tidak membatasi jumlah sebenarnya.
Penjelasan Ulama Hadits Klasik
Selain itu, para ulama seperti Ibnu Hajar Al ‘Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa angka 70.000 dalam bahasa Arab sering digunakan untuk menunjukkan jumlah besar, bukan angka literal.
Dengan kata lain, angka tersebut berfungsi sebagai simbol banyaknya karunia, bukan batas matematis.
Makna Syafa’at dalam Hadits
Kemudian, para ulama mengaitkan hadits ini dengan bab syafa’at di hari kiamat.
Syafa’at berarti izin Allah kepada Nabi ﷺ dan orang-orang saleh untuk memberikan pertolongan kepada sesama mukmin.
Selain itu, kalimat “setiap seribu membawa 70.000” menunjukkan bahwa Allah meluaskan rahmat melalui syafa’at tersebut.
Oleh karena itu, umat Islam memahami bahwa keselamatan tidak hanya bersifat individual, tetapi juga melibatkan pertolongan Allah melalui para hamba-Nya yang saleh.
Apakah Hadits Ini Saling Bertentangan?
Pada kenyataannya, para ulama menegaskan bahwa tidak ada pertentangan dalam seluruh riwayat tersebut. Justru sebaliknya, semuanya saling melengkapi.
Pertama: Angka 70.000 bukan batas akhir
Angka tersebut menunjukkan kelompok utama yang mendapat keutamaan.
Kedua: Riwayat lain memperluas jumlah
Riwayat tambahan menjelaskan adanya pelipatgandaan melalui syafa’at.
Ketiga: Semua menunjukkan rahmat Allah
Pada akhirnya, semua riwayat bermuara pada satu makna: luasnya rahmat Allah tanpa batas.
Ciri Golongan Tanpa Hisab
Selain itu, dalam beberapa hadits lain, Rasulullah ﷺ menjelaskan ciri orang-orang yang masuk surga tanpa hisab, yaitu:
- Tidak meminta ruqyah kepada orang lain
- Tidak melakukan tathayyur (percaya pada pertanda buruk)
- Bertawakal penuh kepada Allah
Dengan demikian, mereka memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi kepada Allah.
Hikmah dari Hadits 70 Ribu Tanpa Hisab
Lebih jauh lagi, hadits ini mengandung banyak hikmah penting:
1. Rahmat Allah sangat luas
Allah tidak membatasi ampunan-Nya.
2. Tawakal menjadi kunci utama
Semakin kuat tawakal, semakin besar peluang rahmat Allah.
3. Syafa’at bagian dari akidah
Umat Islam meyakini adanya syafa’at di akhirat.
4. Tidak boleh merasa pasti
Seorang muslim tetap harus beramal dan berharap, bukan merasa aman.
Imam Al-Qurthubi dalam At-Tadzkirah menjelaskan:
“Rahmat Allah kepada umat Nabi Muhammad ﷺ jauh lebih luas daripada yang dapat dibayangkan akal manusia.”
Dengan demikian, ulama klasik pun menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan keluasan rahmat, bukan batasan angka.(ust)









Komentar