Jakarta, dorlanhikmah.com – Dalam Islam, ilmu tanpa takwa dianggap tidak akan membawa keberkahan bagi diri sendiri maupun orang lain.
Rasulullah SAW bahkan mengingatkan bahwa nasihat dari orang berilmu yang tidak bertakwa sulit menyentuh hati manusia. Karena itu, para ulama salaf selalu menjaga adab, keikhlasan, dan kerendahan hati saat menuntut ilmu.
Ilmu dan Takwa Harus Berjalan Bersama
Islam menempatkan ilmu pada derajat yang sangat tinggi. Namun ajaran Islam tidak pernah memisahkan ilmu dari ketakwaan. Sebab ilmu tanpa takwa dapat membuat seseorang terjebak dalam kesombongan dan merasa paling benar.
Karena itu, para ulama selalu mengingatkan bahwa tujuan utama menuntut ilmu bukan untuk mencari pujian manusia. Ilmu harus menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT serta membawa manfaat bagi sesama.
Frasa ilmu tanpa takwa juga menjadi pengingat bahwa kepintaran saja tidak cukup. Seseorang bisa memiliki pengetahuan luas, tetapi jika hatinya jauh dari Allah SWT maka ilmunya sulit memberi cahaya bagi kehidupan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Artinya:
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”
(QS. Fatir: 28)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa ciri utama orang berilmu adalah rasa takut dan tunduk kepada Allah SWT. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula ketakwaannya.
Rasulullah SAW Mengingatkan Bahaya Ilmu Tanpa Takwa
Rasulullah SAW pernah memberikan nasihat penting kepada Ali bin Abi Thalib mengenai orang berilmu yang tidak menjaga ketakwaannya.
Nasihat itu tercantum dalam kitab Wasiyatul Musthafa karya ulama besar Mesir, Abdul Wahhab Asy-Sya’rani.
Rasulullah SAW bersabda:
يَا عَلِيُّ، إِذَا لَمْ يَكُنِ الْعَالِمُ تَقِيًّا ظَلَّتْ مَوْعِظَتُهُ عَلَى قُلُوْبِ النَّاسِ كَمَا يَظِلُّ الْقَطْرُ عَلَى بَيْضِ النَّعَامِ وَالصَّفَا
Transliterasi:
Yā ‘Aliyyu, idzā lam yakunil ‘ālimu taqiyyan zhallat mau‘izhathuhu ‘alā qulūbin nāsi kamā yazhillul qathru ‘alā baidhin na‘āmi wash-shafā.
Artinya:
“Wahai Ali, jika orang alim tidak bertakwa maka nasihat yang disampaikannya kepada hati manusia seperti tetesan air di atas telur burung unta dan di atas batu yang licin.”
Hadis tersebut menggambarkan bahwa nasihat dari orang yang tidak menjaga ketakwaan tidak akan membekas di hati manusia. Ucapan itu hanya terdengar di telinga, tetapi tidak masuk ke dalam jiwa.
Perumpamaan air di atas batu licin menunjukkan betapa cepatnya nasihat itu hilang. Tidak ada pengaruh yang menetap karena hati manusia sulit menerima ucapan yang tidak lahir dari ketulusan dan ketakwaan.
Ilmu Seharusnya Membuat Seseorang Rendah Hati
Orang yang benar-benar memahami ilmu akan sadar bahwa seluruh pengetahuan berasal dari Allah SWT. Kesadaran itu membuatnya rendah hati dan tidak mudah meremehkan orang lain.
Sebaliknya, orang yang menjadikan ilmu sebagai alat kebanggaan justru mudah terjatuh pada kesombongan. Ia merasa paling benar, sulit menerima nasihat, dan senang mencari kesalahan orang lain.
Padahal para ulama terdahulu selalu menunjukkan sikap tawadhu meskipun memiliki ilmu yang sangat luas. Mereka tidak berlomba mencari popularitas atau pujian manusia.
Mereka justru semakin takut kepada Allah SWT ketika ilmu bertambah. Sebab setiap ilmu akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa ilmu yang tidak mendekatkan manusia kepada Allah SWT dapat menjadi bencana bagi pemiliknya.
Beliau menulis bahwa ilmu seharusnya melahirkan rasa takut kepada Allah, bukan rasa bangga terhadap diri sendiri.
Ulama Salaf Mencontohkan Sikap Tawadhu
Para ulama salaf dikenal memiliki akhlak luar biasa. Semakin tinggi ilmu mereka, semakin sederhana pula kehidupan dan sikap mereka.
Mereka tidak mudah mengklaim diri paling benar. Bahkan banyak ulama besar yang lebih memilih diam daripada berbicara tanpa dasar yang kuat.
Imam Malik Sangat Hati-Hati Memberi Fatwa
Salah satu teladan besar datang dari Imam Malik.
Beliau dikenal sangat berhati-hati saat menjawab pertanyaan agama. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Imam Malik sering mengatakan “saya tidak tahu” ketika belum menemukan jawaban yang benar-benar kuat.
Sikap itu menunjukkan keluasan ilmu sekaligus ketakwaannya. Beliau tidak ingin berbicara sembarangan atas nama agama.
Imam Malik memahami bahwa satu ucapan yang salah bisa menyesatkan banyak orang. Karena itu, beliau lebih memilih berhati-hati daripada mencari pujian karena dianggap pintar.
Imam Syafii Menjaga Hati Saat Menuntut Ilmu
Kisah lain datang dari Imam Syafii yang sangat terkenal dalam dunia Islam.
Beliau pernah mengeluhkan hafalannya yang melemah kepada gurunya, Waki’. Sang guru kemudian memberikan nasihat agar menjauhi maksiat.
Nasihat itu terkenal dalam syair Imam Syafii:
شكوت إلى وكيع سوء حفظي
فأرشدني إلى ترك المعاصي
Artinya:
“Aku mengadu kepada Waki’ tentang buruknya hafalanku, lalu ia menasihatiku agar meninggalkan maksiat.”
Imam Syafii kemudian menjelaskan bahwa ilmu adalah cahaya dari Allah SWT. Cahaya itu tidak diberikan kepada hati yang kotor.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa kebersihan hati sangat penting dalam menuntut ilmu. Ulama salaf tidak hanya fokus pada kecerdasan intelektual, tetapi juga menjaga akhlak dan ketakwaan.
Adab Lebih Utama Sebelum Ilmu
Banyak ulama terdahulu menegaskan bahwa adab harus didahulukan sebelum ilmu. Sebab ilmu tanpa adab dapat melahirkan kerusakan.
Seseorang mungkin memiliki kemampuan berbicara yang hebat, tetapi jika tidak memiliki akhlak maka ilmunya bisa melukai orang lain.
Karena itu, para penuntut ilmu diajarkan untuk menghormati guru, menjaga lisan, serta menghindari sikap sombong.
Abdullah bin Mubarak pernah berkata:
“Kami mempelajari adab selama tiga puluh tahun dan mempelajari ilmu selama dua puluh tahun.”
Perkataan itu menunjukkan bahwa akhlak memiliki posisi yang sangat penting dalam tradisi keilmuan Islam.
Ulama salaf tidak hanya mengejar kecerdasan. Mereka juga berusaha menjaga hati agar tetap ikhlas dan dekat kepada Allah SWT.
Bahaya Kesombongan dalam Ilmu
Kesombongan menjadi salah satu penyakit paling berbahaya bagi orang berilmu. Ketika seseorang merasa paling pintar, ia akan sulit menerima kebenaran dari orang lain.
Sikap seperti itu dapat membuat ilmu kehilangan keberkahannya. Bahkan ilmu yang seharusnya menjadi cahaya justru berubah menjadi sumber perpecahan dan permusuhan.
Rasulullah SAW sendiri mengingatkan bahwa kesombongan sekecil apa pun dapat menghalangi seseorang masuk surga.
Karena itu, para ulama selalu berusaha menjaga hati mereka dari rasa ujub dan riya. Mereka sadar bahwa manusia tidak memiliki apa pun tanpa pertolongan Allah SWT.
Semakin luas ilmu seseorang, semakin ia menyadari betapa sedikit pengetahuan manusia dibanding ilmu Allah Yang Maha Luas.
Ilmu yang Bermanfaat Membawa Kebaikan
Islam mengajarkan bahwa ilmu terbaik adalah ilmu yang membawa manfaat. Ilmu itu membuat seseorang semakin dekat kepada Allah SWT dan semakin peduli kepada sesama manusia.
Orang berilmu seharusnya mampu menghadirkan ketenangan, bukan justru menimbulkan permusuhan. Nasihatnya lembut, sikapnya rendah hati, dan perilakunya mencerminkan akhlak yang baik.
Karena itu, para ulama selalu menekankan pentingnya keikhlasan dalam menuntut ilmu. Mereka tidak menjadikan ilmu sebagai alat mencari popularitas atau kedudukan dunia.
Ilmu yang disertai ketakwaan akan melahirkan keberkahan. Sebaliknya, ilmu tanpa ketakwaan hanya akan menjadi beban yang memberatkan pemiliknya di akhirat.(ust)










Komentar