Kisah Al Ushairim Masuk Surga Tanpa Sempat Salat

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 10 Agustus 2026 - 05:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Amr bin Tsabit atau Al-Ushairim masuk Islam saat Perang Uhud.(poto: detikhikmah).

Ilustrasi Amr bin Tsabit atau Al-Ushairim masuk Islam saat Perang Uhud.(poto: detikhikmah).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Sejarah Islam mencatat kisah keimanan unik sosok pahlawan yang bisa masuk surga tanpa salat satu kali pun. Pria pemberani itu bernama Amr bin Tsabit, seorang sahabat Nabi yang populer dengan julukan Al-Ushairim.

Sebelum memeluk Islam, Al-Ushairim berulang kali menolak ajakan dakwah. Pria Anshar ini memilih mengikuti tradisi kaumnya serta sibuk mengurus bisnis riba pada era jahiliah.

Pintu hati Amr bin Tsabit baru terbuka lebar tepat beberapa saat sebelum letusan Perang Uhud pecah. Kisah inspiratif ini tertuang dalam buku Ghazawat Ar-Rasul Durus Wa ‘Ibar Wa Fawa’id karya Prof. Ali Muhammad Ash-Shallabi terjemahan Masturi Irham dan Asmui Taman berdasarkan riwayat Abu Hurairah RA.

Percakapan Singkat yang Mengubah Jalan Hidup

Kala itu, Amr bin Tsabit mendadak hadir sewaktu Rasulullah SAW mengabsen jajaran pasukan dan kaumnya. Nabi Muhammad SAW bertanya kepada para sahabat yang berada di lokasi tersebut.

“Manakah Sa’ad bin Mu’adz?” tanya Rasulullah SAW.

“Di Uhud,” jawab para sahabat.

“Manakah keluarga saudaranya?” tanya beliau kembali.

“Di Uhud,” sahut para sahabat lagi.

Rasulullah SAW lantas menanyakan keberadaan kaum Amr bin Tsabit, dan para sahabat menjawab, “Di Uhud.”

Baca Juga :  Tafsir Surat Al Fatihah Ayat 1-7

Mendengar jawaban beruntun tersebut, simpati dan hidayah langsung menyentuh nurani Amr bin Tsabit secara mendalam. Ia segera mengucapkan kalimat syahadat, menggenggam pedang beserta tombaknya, lalu memacu kuda secepat mungkin menuju garis depan Perang Uhud.

Keberanian Mualaf di Garis Depan

Kedatangan Amr bin Tsabit di tengah kecamuk pertempuran sempat mengejutkan jajaran pasukan muslimin. Sejumlah prajurit Islam bahkan memintanya segera menjauh dari medan laga.

Namun, mualaf dari suku Aus Bani Abdul Asyhal ini menolak mundur tegas. “Sesungguhnya aku telah beriman,” cetusnya mantap.

Amr bin Tsabit langsung menerjang musuh demi membela panji Islam hingga tubuhnya menderita luka yang sangat parah. Keberaniannya menyulut rasa takjub rekan-rekannya di lapangan pertempuran.

Wasiat Terakhir dan Jaminan Surga

Usai pertempuran mereda, beberapa orang dari Bani Abdul Asyhal menyisir lokasi untuk mencari korban gugur. Mereka terkejut saat menemukan Al-Ushairim terbaring lemah berlumuran darah.

Baca Juga :  Sejarah Shalawat Badar dan Maknanya

“Demi Allah, ini adalah Al-Ushairim. Apa yang mendorongnya datang ke mari?” bisik mereka penuh keheranan.

Amr bin Tsabit menegaskan rasa bahagianya memeluk Islam serta tekad kuatnya membela agama Allah SWT. Ia pun menyampaikan wasiat terakhir terkait seluruh aset hartanya.

“Aku beriman kepada Allah dan utusan-Nya, dan aku masuk Islam. Setelah itu, aku mengambil pedangku dan pergi bersama Rasulullah SAW. Aku pun bertempur hingga menderita luka-luka sebagaimana yang kalian lihat padaku. Kalaulah aku meninggal dunia, maka harta bendaku aku serahkan kepada Muhammad agar dikelolanya sesuai kehendaknya,” tutur Al-Ushairim.

Para sahabat segera menyampaikan kabar memilukan sekaligus mengagumkan ini kepada Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW kemudian menegaskan bahwa Amr bin Tsabit tergolong sebagai penghuni surga.

Pernyataan mulia ini berlaku meski Al-Ushairim belum sempat menunaikan salat satu rakaat pun sepanjang hidupnya. Sebagaimana termaktub dalam Shahih Al-Bukhari kitab Al-Jihad, Rasulullah SAW bersabda, “Ia beramal sedikit dan mendapat pahala.”(ust)

Berita Terkait

Kisah Abdullah bin Abi Umayyah Meraih Hidayah
Ketegasan Ali bin Abi Thalib Menjaga Amanah Kas Negara
Integritas Imam Abu Hanifah Hindari Konflik Kepentingan
Sejarah Panjang Penurunan Kitab Suci Al-Qur’an
Sejarah Al Quran dan Perannya Sebagai Pedoman Hidup Umat Humanis
Mengenal Sistem Iqtha Dinasti Ayyubiyah Masa Salahuddin
Sejarah Shalawat Badar dan Maknanya
Sejarah Perang Badar Kubra dan Strategi Pertahanan Rasulullah
Berita ini 8 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 20 September 2026 - 16:05 WIB

Kisah Abdullah bin Abi Umayyah Meraih Hidayah

Minggu, 13 September 2026 - 09:18 WIB

Ketegasan Ali bin Abi Thalib Menjaga Amanah Kas Negara

Minggu, 13 September 2026 - 09:13 WIB

Integritas Imam Abu Hanifah Hindari Konflik Kepentingan

Sabtu, 12 September 2026 - 19:51 WIB

Sejarah Panjang Penurunan Kitab Suci Al-Qur’an

Sabtu, 12 September 2026 - 19:40 WIB

Sejarah Al Quran dan Perannya Sebagai Pedoman Hidup Umat Humanis

Berita Terbaru

Ilustrasi: Kiai mengajar kitab fikih klasik tentang istibra dan menjaga nasab kepada para santri di pesantren tradisional.(poto: AI).

Fiqih

Hukum Istibra Matan Taqrib: Aturan Menjaga Nasab

Selasa, 13 Okt 2026 - 15:53 WIB

Wali Kota Padang, Fadly Amran memimpin rapat Pembentukan Tim Fasilitasi Sertifikasi Keamanan Pangan dan Sertifikasi Halal Kota Padang.(poto: padangkita.com).

Berita Islam

Lindungi Konsumen, Pemko Padang Bentuk Tim Sertifikasi Pangan Halal

Selasa, 13 Okt 2026 - 15:45 WIB