Jakarta, dorlanhikmah.com – Umat Islam memiliki keutamaan dzikir tasbih harian sebagai amalan mulia yang mendatangkan limpahan pahala. Bahkan, Allah Ta’ala menjanjikan berbagai kebaikan bagi setiap hamba yang istiqamah menjaga ucapan suci ini.
Oleh karena itu, syariat Islam sangat mendorong setiap muslim untuk memperbanyak bacaan tasbih dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan ini pun menjadi sarana efektif untuk meraih keberkahan hidup serta ampunan-Nya.
1. Membuka Perbendaharaan Pahala yang Sangat Besar
Seseorang yang membasahi lisannya dengan tasbih akan memperoleh timbunan pahala berlimpah di akhirat kelak. Selanjutnya, Rasulullah SAW menegaskan betapa ringannya amalan ini, namun tetap memiliki bobot yang sangat berat di timbangan amal.
Dalam sebuah riwayat, Abdullah bin Amr RA menyampaikan sabda Nabi Muhammad SAW terkait keagungan dua amalan sederhana berikut:
خصلتان لا يحصيهما رجل مسلم إلا دخل الجنة، وهما يسير، ومن يعمل بهما قليل: يسبح الله في دبر كل صلاة عشرًا، ويكبِّر عشرًا، ويحمَد عشرًا، فرأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يعقدها بيده، فذلك خمسون ومائة باللسان، وألف وخمسمائة في الميزان، وإذا أوى إلى فراشه، سبح وحمد وكبر مائةً، فتلك مائة باللسان، وألف في الميزان، فأيكم يعمل في اليوم ألفين وخمسمائة سيئة؟
قالوا: وكيف لا يحصيهما؟ قال: يأتي أحدكم الشيطانُ وهو في الصلاة فيقول: اذكر كذا وكذا، حتى ينفك العبد لا يعقل، ويأتيه وهو في مضجعه، فلا يزال ينوِّمه حتى ينام
Dari Abdullah bin Amr RA, Rasulullah SAW bersabda, “Ada dua amalan yang apabila dijaga oleh seorang Muslim, niscaya ia akan masuk surga. Keduanya ringan dilakukan, namun sedikit orang yang mengamalkannya. Yaitu, bertasbih sepuluh kali, bertakbir sepuluh kali, dan bertahmid sepuluh kali setiap selesai sholat. Aku melihat Rasulullah SAW menghitungnya dengan jari-jarinya. Jumlahnya seratus lima puluh di lisan dan seribu lima ratus dalam timbangan amal. Kemudian ketika hendak tidur, ia bertasbih, bertahmid, dan bertakbir seratus kali. Itu bernilai seratus di lisan dan seribu dalam timbangan amal. Siapakah di antara kalian yang mampu berbuat dua ribu lima ratus dosa dalam sehari?” Para sahabat bertanya, “Bagaimana mungkin ada orang yang tidak mengamalkannya?” Beliau menjawab, “Setan datang kepada salah seorang di antara kalian ketika sedang sholat lalu berkata, ‘Ingatlah ini dan itu,’ hingga ia selesai shalat tanpa sadar. Setan juga datang ketika ia berada di tempat tidurnya dan terus membuatnya mengantuk hingga ia tertidur.” (HR Ibnu Majah)
Tentunya, hadis tersebut menunjukkan betapa besarnya ganjaran yang Allah sediakan bagi hamba-Nya. Meskipun kalimat ini terasa amat ringan di lisan, nilainya sangat berharga dalam timbangan amal kelak.
2. Menjadi Sebab Diampuninya Seluruh Dosa
Selain melipatgandakan pahala, membaca kalimat tasbih secara rutin juga dapat menghapuskan berbagai dosa serta kesalahan masa lalu. Bahkan, Rasulullah SAW memberikan jaminan ampunan yang sangat luas bagi siapa saja yang konsisten mengamalkannya.
Di samping itu, Abu Hurairah RA menyampaikan riwayat otentik mengenai keutamaan kalimat dzikir penyuci jiwa ini:
عن أبي هريرة رضي الله عنه، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: من قال: سبحان الله وبحمده، مائة مرة، غُفرت له ذنوبه وإن كانت مثل زَبَدِ البحر
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa mengucapkan: Subhānallāhi wa bihamdih (Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya) sebanyak seratus kali, maka dosa-dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan.” (Muttafaq ‘alaih)
Sungguh, kasih sayang Allah begitu melingkupi setiap hamba yang mau melafalkan ucapan singkat ini sebanyak seratus kali. Hasilnya, kesalahan sebanyak buih di lautan pun akan gugur berkat kemurahan-Nya.
3. Menggantikan Kekurangan dalam Amal Kebaikan
Sementara itu, bagi orang yang memiliki keterbatasan harta, tasbih menjadi solusi terbaik untuk terus menumpuk pahala sedekah. Dengan demikian, dzikir ini membuka kesempatan yang sama bagi setiap individu tanpa memandang status sosial.
Mengenai hal ini, Abu Dzar RA menceritakan dialog berharga antara para sahabat miskin dengan Rasulullah SAW:
عن أبي ذر رضي الله عنه: أن ناسًا من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم قالوا للنبي صلى الله عليه وسلم: يا رسول الله، ذهب أهل الدثور بالأجور، يصلون كما نصلي، ويصومون كما نصوم، ويتصدقون بفضول أموالهم، قال: أوليس قد جعل الله لكم ما تصدقون؟
إن بكل تسبيحة صدقةً، وكل تكبيرة صدقةً، وكل تحميدة صدقةً، وكل تهليلة صدقةً، وأمرٌ بالمعروف صدقة، ونهي عن منكر صدقة، وفي بُضع أحدكم صدقة، قالوا: يا رسول الله، أيأتي أحدنا شهوته ويكون له فيها أجر؟ قال: أرأيتم لو وضعها في حرام، أكان عليه فيها وزر؟ فكذلك إذا وضعها في الحلال كان له أجر
Dari Abu Dzar RA, diriwayatkan bahwa sejumlah sahabat berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah membawa pergi seluruh pahala. Mereka sholat sebagaimana kami sholat, berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Beliau bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian sesuatu yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, memerintahkan kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah kemungkaran adalah sedekah, bahkan pada hubungan suami istri salah seorang di antara kalian terdapat sedekah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah ketika seseorang menyalurkan syahwatnya, ia tetap mendapatkan pahala?” Beliau menjawab, “Bagaimana pendapat kalian jika ia menyalurkannya pada sesuatu yang haram, bukankah ia berdosa? Maka demikian pula jika ia menyalurkannya pada yang halal, ia mendapatkan pahala.” (HR ath-Thabarani)
Tidak hanya itu, penjelasan Rasulullah SAW mempertegas bahwa pintu kebajikan senantiasa terbuka lebar bagi seluruh umat. Sebab, bacaan tasbih, takbir, tahmid, dan tahlil bernilai setara dengan ibadah sedekah di sisi Allah.
Oleh sebab itu, setiap muslim sepatutnya senantiasa membasahi lidahnya dengan dzikir agung ini sepanjang hari. Akhirnya, amalan yang ringan ini sanggup menyempurnakan kekurangan serta menghimpun pahala yang tiada tara.(ust)










Komentar