Jakarta, dorlanhikmah.com – Jumlah malaikat dalam islam sering menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Sebagian orang menganggap malaikat hanya berjumlah sepuluh karena mereka hanya mengenal beberapa nama yang sering diajarkan dalam pelajaran agama.
Padahal, Al-Qur’an dan hadits tidak pernah menetapkan angka tersebut. Wahyu justru menjelaskan bahwa hanya Allah Ta’ala yang mengetahui jumlah malaikat.
Karena itu, seorang muslim tidak perlu mencari angka pasti yang tidak pernah dijelaskan dalam syariat. Islam mengajarkan umatnya untuk mengimani keberadaan malaikat sesuai dalil serta menahan diri dari perkara gaib yang tidak diterangkan secara rinci.
Mengapa Muncul Anggapan Malaikat Hanya Sepuluh?
Banyak orang mengenal nama beberapa malaikat sejak usia dini. Dari kebiasaan itu, sebagian kemudian menyimpulkan bahwa seluruh malaikat hanya berjumlah seperti yang mereka hafal.
Padahal, pengenalan nama tidak sama dengan penetapan jumlah.
Islam memang menyebut beberapa malaikat secara khusus beserta tugas mereka. Namun, Allah dan Rasul-Nya tidak pernah menyatakan bahwa nama-nama tersebut mewakili seluruh malaikat yang ada.
Para ulama menjelaskan bahwa seorang muslim cukup mengimani malaikat yang disebutkan secara rinci dan mengimani secara umum malaikat lain yang tidak disebutkan namanya.
Al-Qur’an Menjelaskan Jumlah Malaikat Hanya Allah yang Tahu
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا جَعَلْنَا أَصْحَابَ النَّارِ إِلَّا مَلَائِكَةً وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلَّا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَاناً وَلَا يَرْتَابَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْمُؤْمِنُونَ وَلِيَقُولَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ وَالْكَافِرُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلاً كَذَلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكْرَى لِلْبَشَرِ
Artinya:
“Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat. Dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir… Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri…”
(QS. Al-Mudatsir [74]: 31)
Ayat ini menegaskan bahwa manusia tidak memiliki kemampuan mengetahui jumlah seluruh tentara Allah.
Selain itu, Allah mengingatkan bahwa ukuran keimanan bukan terletak pada kemampuan menghitung perkara gaib, melainkan pada penerimaan terhadap wahyu.
Al-Baitul Ma’mur Menunjukkan Banyaknya Malaikat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan besarnya jumlah malaikat saat menceritakan peristiwa Isra’ dan Mi’raj.
Beliau bersabda:
فَرُفِعَ لِي البَيْتُ المَعْمُورُ، فَسَأَلْتُ جِبْرِيلَ، فَقَالَ: هَذَا البَيْتُ المَعْمُورُ يُصَلِّي فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ، إِذَا خَرَجُوا لَمْ يَعُودُوا إِلَيْهِ آخِرَ مَا عَلَيْهِمْ
Artinya:
“Kemudian aku diperlihatkan Al-Baitul Ma’mur. Aku bertanya kepada Jibril lalu dia berkata, ‘Ini adalah Al-Baitul Ma’mur. Setiap hari tujuh puluh ribu malaikat melaksanakan shalat di sana. Setelah mereka keluar, mereka tidak kembali lagi.’”
(HR. Bukhari no. 3207)
Hadits ini menggambarkan jumlah yang sangat besar.
Setiap hari kelompok baru malaikat datang untuk beribadah. Setelah selesai, mereka tidak kembali lagi. Siklus itu terus berlangsung tanpa henti.
Dari sini terlihat bahwa jumlah malaikat jauh melampaui kemampuan manusia untuk menghitungnya.
Langit Penuh Dengan Malaikat yang Bersujud
Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ، وَأَسْمَعُ مَا لَا تَسْمَعُونَ أَطَّتِ السَّمَاءُ، وَحُقَّ لَهَا أَنْ تَئِطَّ مَا فِيهَا مَوْضِعُ أَرْبَعِ أَصَابِعَ إِلَّا وَمَلَكٌ وَاضِعٌ جَبْهَتَهُ سَاجِدًا لِلَّهِ
Artinya:
“Sesungguhnya aku melihat apa yang kalian tidak lihat dan mendengar apa yang kalian tidak dengar. Langit merintih dan memang pantas baginya merintih. Tidak ada ruang selebar empat jari kecuali ada malaikat yang meletakkan dahinya untuk bersujud kepada Allah.”
(HR. Tirmidzi no. 2312)
Keterangan ini memberikan gambaran yang sangat kuat.
Hampir seluruh ruang di langit di penuhi malaikat yang beribadah. Dengan demikian, hadits tersebut memperlihatkan keluasan ciptaan Allah sekaligus menunjukkan banyaknya malaikat.
Malam Lailatul Qadar Menjadi Bukti Lain
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menggambarkan jumlah malaikat yang turun pada malam Lailatul Qadar.
Beliau bersabda:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ السَّابِعَةِ، أَوِ التَّاسِعَةِ وَالْعِشْرِينَ، وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ أَكْثَرُ فِي الْأَرْضِ مِنْ عَدَدِ الْحَصَى
Artinya:
“Malam Lailatul Qadar adalah malam kedua puluh tujuh atau kedua puluh sembilan. Jumlah malaikat pada malam itu di bumi lebih banyak daripada jumlah batu kerikil.”
(HR. Ibnu Khuzaimah)
Perumpamaan tersebut menunjukkan sesuatu yang hampir mustahil di hitung manusia.
Semakin banyak seseorang mempelajari dalil tentang malaikat, semakin jelas bahwa jumlah mereka tidak terbatas pada angka tertentu.
Setiap Malaikat Memiliki Tempat dan Tugas
Riwayat dari Aisyah radhiyallahu ‘anha memperkuat pemahaman ini.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan bahwa tidak ada tempat di langit dunia kecuali terdapat malaikat yang berdiri atau bersujud.
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا مِنَّا إِلَّا لَهُ مَقَامٌ مَّعْلُومٌ
وَإِنَّا لَنَحْنُ الصَّافُّونَ
وَإِنَّا لَنَحْنُ الْمُسَبِّحُونَ
Artinya:
“Tiada seorang pun di antara kami melainkan mempunyai kedudukan tertentu. Dan sesungguhnya kami benar-benar bershaf-shaf. Dan sesungguhnya kami benar-benar bertasbih.”
(QS. Ash-Shaaffat [37]: 164–166)
Ayat tersebut memperlihatkan bahwa para malaikat menjalankan tugas dengan keteraturan yang sempurna.
Mereka terus bertasbih dan tidak pernah melanggar perintah Allah.
Cara yang Benar Mengimani Malaikat
Islam tidak mengarahkan umatnya untuk mencari jumlah pasti malaikat.
Sebaliknya, syariat mengajarkan beberapa sikap penting.
Seorang muslim wajib mengimani keberadaan malaikat.
Selanjutnya, ia menerima nama serta tugas malaikat yang disebutkan dalam dalil sahih.
Di sisi lain, ia tidak menetapkan rincian yang tidak di jelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Pendekatan seperti ini menjaga akidah tetap bersih dari dugaan dan spekulasi.
Fokus Keimanan Ada Pada Pelajaran yang Diberikan
Tujuan iman kepada malaikat bukan untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang jumlah mereka.
Yang lebih penting, seorang muslim mengambil pelajaran dari ketaatan para malaikat.
Para malaikat selalu menjalankan perintah Allah.
Mereka tidak pernah bermaksiat.
Mereka juga tidak merasa lelah dalam beribadah.
Karena itu, keimanan kepada malaikat seharusnya mendorong manusia untuk memperbaiki amal dan meningkatkan ketundukan kepada Allah.(ust)








Komentar