Jakarta, dorlanhikmah.com – Pendidikan anak usia dini dalam Islam mendapat perhatian besar sejak masa Rasulullah ﷺ. Islam menempatkan keluarga sebagai tempat pertama pembentukan karakter, akhlak, dan kebiasaan ibadah anak.
Karena itu, orang tua perlu membimbing anak sejak kecil agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang disiplin dan berakhlak baik.
Salah satu hadis yang menjadi dasar penting pendidikan anak diriwayatkan oleh Abu Dawud berikut:
حَدَّثَنَا مُؤَمَّلُ بْنُ هِشَامٍ يَعْنِي الْيَشْكُرِيَّ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ عَنْ سَوَّارٍ أَبِي حَمْزَةَ قَالَ أَبُو دَاوُد وَهُوَ سَوَّارُ بْنُ دَاوُدَ أَبُو حَمْزَةَ الْمُزَنِيُّ الصَّيْرَفِيُّ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
(رواه أبو داود)
Artinya:
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka apabila pada usia sepuluh tahun mereka meninggalkan shalat, serta pisahkan tempat tidur mereka.”
(HR. Abu Dawud)
Hadis tersebut menegaskan pentingnya pendidikan sejak dini, terutama dalam membangun kebiasaan ibadah dan kedisiplinan anak.
Kualitas Hadis dan Sanad Perawi
Para ulama mengategorikan hadis ini sebagai hadis hasan. Mereka menerima hadis tersebut karena sanadnya bersambung dan didukung riwayat lain dalam Musnad Ahmad serta Sunan At-Tirmidzi.
Namun, salah satu perawi bernama Sawwar bin Dawud Al-Muzani Ash-Shairafi memiliki tingkat ketelitian periwayatan yang tidak mencapai derajat tertinggi hadis shahih.
Meski begitu, mayoritas ulama tetap memakai hadis ini sebagai dasar pendidikan anak dalam Islam. Beberapa perawi hadis ini antara lain:
- Mu’ammal bin Hisyam Al-Yasykuri
- Ismail bin Ibrahim bin Muqsim
- Sawwar bin Dawud Al-Muzani
- Amru bin Syu’aib
- Syu’aib bin Abdullah
- Abdullah bin Amru bin Al-Ash
Mayoritas ulama hadis menilai para perawi tersebut sebagai rawi tsiqah atau terpercaya.
Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2010, pendidikan anak usia dini bertujuan membantu pertumbuhan jasmani dan rohani anak sejak lahir hingga usia enam tahun.
Dengan demikian, anak memiliki kesiapan untuk memasuki jenjang pendidikan berikutnya.
Selain pendidikan formal, orang tua juga perlu memperhatikan perkembangan fisik dan mental anak sejak awal kehidupan.
Oleh sebab itu, pemenuhan nutrisi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) memegang peranan penting.
Masa 1000 HPK meliputi:
- 270 hari selama masa kehamilan
- 730 hari setelah anak lahir
Nutrisi yang baik membantu perkembangan otak, pertumbuhan tubuh, daya tahan tubuh, dan kemampuan kognitif anak.
Karena itu, orang tua perlu memberikan perhatian penuh pada fase penting tersebut.
Bentuk Pendidikan Anak Usia Dini
1. Mengenalkan Lingkungan dan Benda di Sekitar Anak
Orang tua perlu mengenalkan berbagai benda di sekitar anak sejak dini. Selain itu, orang tua juga perlu menjelaskan fungsi dan bahayanya.
Dengan cara ini, anak memahami alasan di balik larangan atau aturan yang diberikan.
Sebagai contoh, orang tua dapat mengenalkan:
- Sajadah dan Al-Qur’an sebagai benda yang baik
- Pisau, api, dan listrik sebagai benda berbahaya
Jika orang tua hanya melarang tanpa penjelasan, anak justru semakin penasaran. Sebaliknya, penjelasan yang baik membantu anak memahami risiko dengan lebih bijak.
2. Membiasakan Adab dan Kebiasaan Baik
Masa anak-anak menjadi waktu terbaik untuk membentuk karakter. Karena itu, orang tua perlu membangun rutinitas positif setiap hari.
Misalnya, anak dibiasakan bangun pagi, berdoa sebelum makan, menggunakan tangan kanan, dan mengucapkan terima kasih.
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan adab makan melalui hadis berikut:
يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ
(رواه البخاري)
Artinya:
“Wahai anak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di dekatmu.”
(HR. Al-Bukhari)
Melalui kebiasaan sederhana tersebut, anak belajar sopan santun dan kedisiplinan sejak kecil.
Mengajarkan Shalat Sejak Dini
Hadis riwayat Abu Dawud menegaskan kewajiban orang tua untuk mengajarkan shalat kepada anak sejak usia tujuh tahun. Oleh karena itu, orang tua harus mendampingi anak ketika belajar ibadah.
Orang tua dapat mengajarkan:
- Tata cara wudhu
- Bacaan shalat
- Gerakan shalat
- Disiplin waktu ibadah
Selain mengajarkan teori, orang tua juga perlu memberikan contoh secara langsung. Dengan demikian, anak lebih mudah mencintai ibadah dan menjalankannya secara rutin.
Makna “Memukul” dalam Hadis
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ
Artinya:
“Dan pukullah mereka apabila telah berusia sepuluh tahun.”
Namun, Islam tidak membenarkan kekerasan terhadap anak. Para ulama menjelaskan bahwa pukulan dalam hadis tersebut bertujuan mendidik, bukan menyakiti.
Karena itu, orang tua tidak boleh memukul wajah, melukai anak, atau melampiaskan emosi.
Sebaliknya, orang tua harus mengutamakan kasih sayang, nasihat, dan keteladanan dalam mendidik anak.
Orang Tua Menjadi Teladan Utama
Anak lebih mudah meniru perbuatan daripada mendengarkan nasihat. Oleh sebab itu, orang tua harus menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.
Jika orang tua rajin shalat, berkata sopan, dan bersikap jujur, anak cenderung mengikuti kebiasaan tersebut.
Sebaliknya, perilaku buruk orang tua juga mudah ditiru anak. Karena itu, keteladanan memiliki peran besar dalam membentuk karakter anak sejak dini.
Kesimpulan
Hadis tentang pendidikan anak usia dini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan pembentukan akhlak dan ibadah sejak kecil.
Oleh karena itu, orang tua perlu mendidik anak secara bertahap, konsisten, dan penuh kasih sayang.
Selain mengenalkan lingkungan sekitar, orang tua juga perlu membiasakan adab yang baik, mengajarkan ibadah, serta memberikan teladan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan pendidikan yang tepat, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang beriman, disiplin, dan bertanggung jawab.(ust)










Komentar