Akhlak Nabi Muhammad SAW: Cerminan Nyata Ajaran Alquran

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 11 Agustus 2026 - 03:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Akhlak Nabi Muhammad SAW.(Ilustrasi poto: istimewa).

Akhlak Nabi Muhammad SAW.(Ilustrasi poto: istimewa).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Akhlak Nabi Muhammad SAW merupakan cerminan nyata dari seluruh ajaran Alquran. Oleh karena itu, Imam Al-Ghazali menguraikan pandangan mendasar ini secara detail dalam kitab Ihya Ulumuddin.

Selanjutnya, ulama bergelar Hujjatul Islam Zainuddin al-Thusi tersebut menegaskan fakta penting ini. Berbagai sifat, sikap, adab, dan cara Rasulullah SAW menghadapi kehidupan menjadi gambaran utuh nilai Alquran.

Secara bertahap, Allah SWT menurunkan Alquran langsung kepada Rasulullah SAW sepanjang masa kenabiannya. Dengan demikian, kitab suci ini mengajarkan sifat, cara, adab, serta sikap terbaik dalam mengarungi kehidupan.

Sementara itu, kesaksian sejarah mencatat dialog Sa’ad bin Hisyam saat mendatangi tempat Aisyah Radhiyallahu anha bersama ayahnya, Abu Bakar. Pada saat itulah, Sa’ad mengajukan pertanyaan langsung mengenai bagaimana sebenarnya budi pekerti sang Nabi.

Menanggapi hal tersebut, Aisyah Radhiyallahu anha merespons pertanyaan itu dengan mengajukan pertanyaan balik. “Apa kamu tidak membaca Alquran?” tutur Aisyah bertanya.

Lantas, Sa’ad bin Hisyam menjawab bahwa dirinya rutin membaca kitab suci tersebut. Oleh sebab itu, Aisyah Radhiyallahu anha menegaskan, “Sesungguhnya akhlak Rasulullah SAW adalah Alquran.”

Panduan Alquran Membentuk Akhlak Mulia Rasulullah

Di samping itu, Ihya Ulumuddin memaparkan bukti-bukti firman Allah SWT yang membentuk karakter Rasulullah SAW. Secara khusus, kitab tersebut merinci ayat-ayat yang memerintahkan beliau agar selalu berakhlak terpuji.

Sebagai langkah awal, Allah SWT memerintahkan sikap pemaaf dan pengampun kepada sesama manusia. Perintah ini tertuang tegas dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ

Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh. (QS Al-A‘raf Ayat 199)

Selain itu, ajaran Alquran juga menegakkan keadilan serta kebaikan kepada sesama kerabat. Sebaliknya, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang tegas setiap bentuk kejahatan melalui firman-Nya:

۞ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia (juga) melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu selalu ingat. (QS An-Nahl Ayat 90)

Lebih lanjut, setiap Muslim wajib menegakkan salat serta menjaga kesabaran. Nasihat Luqman ini diabadikan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Baca Juga :  4 Tipe Manusia Menurut Imam Al Ghazali dan Cara Menyikapinya

يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ

Wahai anakku, tegakkanlah sholat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar serta bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (harus) diutamakan. (QS Luqman Ayat 17)

Oleh karena itu, kesabaran dan kelapangan dada memaafkan menjadi urusan paling utuh. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan keutamaan tersebut melalui firman-Nya:

وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ اِنَّ ذٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ ࣖ

Akan tetapi, sungguh siapa yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (patut) diutamakan. (QS Asy-Syura Ayat 43)

Sifat Pemaaf Nabi Menghadapi Manusia

Bahkan, sikap pemaaf Nabi tetap meluas meski berhadapan dengan pengkhianatan. Maka dari itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan perintah mulia ini dalam firman-Nya:

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِّيْثَاقَهُمْ لَعَنّٰهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوْبَهُمْ قٰسِيَةً ۚ يُحَرِّفُوْنَ الْكَلِمَ عَنْ مَّوَاضِعٖۙ وَنَسُوْا حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوْا بِهٖۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلٰى خَاۤىِٕنَةٍ مِّنْهُمْ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ ۗاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

(Namun,) karena mereka melanggar janjinya, Kami melaknat mereka dan Kami menjadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah firman-firman (Allah) dari tempat-tempatnya dan mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka. Engkau (Nabi Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka, kecuali sekelompok kecil di antara mereka (yang tidak berkhianat). Maka, maafkanlah mereka dan biarkanlah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang muhsin (muhsin adalah prilaku ihsan atau manusia sempurna atau insan kami). (QS Al-Ma’idah Ayat 13)

Demikian pula, Allah melarang ikrar untuk tidak membantu kerabat yang membutuhkan. Hasilnya, kemurahan hati tersebut diperintahkan melalui firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلَا يَأْتَلِ اُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ اَنْ يُّؤْتُوْٓا اُولِى الْقُرْبٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَالْمُهٰجِرِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۖوَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan (rezeki) di antara kamu bersumpah (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(nya), orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS An-Nur Ayat 22)

Di sisi lain, karakter dermawan dan menahan amarah menandai kebaikan seorang hamba. Karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyukai hamba terpuji lewat firman-Nya:

Baca Juga :  Etika Dagang Rasulullah yang Penuh Berkah

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS Ali ‘Imrān Ayat 134)

Larangan Menjauhi Prasangka dan Pujian Agung Allah

Tidak hanya itu, umat Islam harus menjauhi persangkaan buruk serta perbuatan menggunjing sesama. Oleh sebab itu, Allah Subhanahu wa Ta‘ala melarang keras perbuatan tercela ini dalam firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَّعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (QS Al-Ḥujurāt Ayat 12)

Secara menyeluruh, Imam Al-Ghazali yang bernama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali memaparkan penafsiran ini. Singkatnya, seluruh uraian tersebut menegaskan kepribadian Nabi SAW sebagai manifestasi Alquran.

Pada akhirnya, Rasulullah SAW menerangkan secara konsisten kepada umat manusia mengenai prinsip akhlak. Yaitu, Allah SWT menyukai akhlak terpuji dan membenci setiap akhlak tercela.

Sebagai penutup, Allah SWT memuji keagungan budi pekerti Nabi Muhammad SAW secara khusus. Pujian abadi ini termaktub dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS Al-Qalam Ayat 4).(ust)

Berita Terkait

6 Sifat Tercela yang Dibenci Allah Menurut Alquran dan Hadis
Nasihat KH Hasyim Asy’ari tentang Menghadapi Perbedaan Pendapat Ulama
4 Tipe Manusia Menurut Imam Al Ghazali dan Cara Menyikapinya
Etika Bisnis dalam Islam: Panduan Lengkap Menurut Syariat
Adab Memperbaiki Bacaan Imam Salat yang Keliru Menurut Ulama
Quraish Shihab Ungkap Bukti Rasulullah Simbol Damai
Arti Akhlak Menurut Prof Quraish Shihab dan Hak Jalanan
Makna Berpakaian tetapi Telanjang Menurut Hadis Nabi
Berita ini 11 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 03:00 WIB

Akhlak Nabi Muhammad SAW: Cerminan Nyata Ajaran Alquran

Senin, 10 Agustus 2026 - 15:00 WIB

6 Sifat Tercela yang Dibenci Allah Menurut Alquran dan Hadis

Rabu, 29 Juli 2026 - 21:00 WIB

Nasihat KH Hasyim Asy’ari tentang Menghadapi Perbedaan Pendapat Ulama

Selasa, 28 Juli 2026 - 17:00 WIB

4 Tipe Manusia Menurut Imam Al Ghazali dan Cara Menyikapinya

Sabtu, 25 Juli 2026 - 17:00 WIB

Etika Bisnis dalam Islam: Panduan Lengkap Menurut Syariat

Berita Terbaru

Peserta komisi bahtsul masail waqi'iyah.(poto: istimewa).

Fiqih

Hukum Komersialisasi Data DNA Menurut Muktamar NU

Kamis, 3 Sep 2026 - 16:27 WIB