6 Sifat Tercela yang Dibenci Allah Menurut Alquran dan Hadis

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 10 Agustus 2026 - 15:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Alquran dan hadis membeberkan tingkatan akhlak buruk yang dibenci Allah SWT.(poto: republika).

Ilustrasi Alquran dan hadis membeberkan tingkatan akhlak buruk yang dibenci Allah SWT.(poto: republika).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Setiap umat Islam wajib menjauhi berbagai sifat dan perilaku tercela demi menjaga kesempurnaan imannya. Oleh karena itu, hamba yang sejati pasti membenci segala hal yang memicu kemurkaan Penciptanya.

Selain itu, banyak ayat Alquran dan hadis merincikan tingkatan perbuatan buruk yang mengundang murka Allah SWT. Sifat tercela ini mencakup kekufuran, dosa besar, hingga tindakan berstatus makruh.

Oleh sebab itu, berikut enam akhlak buruk dibenci Allah yang patut diwaspadai agar terhindar dari siksa-Nya:

1. Sombong, Membanggakan Diri, dan Angkuh

Secara umum, kesombongan (kibr) merupakan perasaan kagum pada diri sendiri yang memicu sikap memandang rendah orang lain. Seseorang juga kerap memamerkan harta atau kedudukan (fakhr) serta berlagak tinggi hati (khuyalā’).

Bahkan, Allah SWT mengecam keras perilaku angkuh ini melalui firman-Nya dalam Surah Luqman ayat 18:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى ٱلْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍۢ فَخُورٍۢ ١٨

“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS Luqman: 18)

Selanjutnya, Rasulullah SAW mempertegas keharaman sifat ini lewat hadis riwayat An-Nasa’i berstatus hasan:

الِاخْتِيَالُ الَّذِي يُبْغِضُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: الْخُيَلَاءُ فِي الْبَاطِلِ

“Keangkuhan yang dibenci Allah SWT adalah kesombongan dalam kebatilan.” (HR An-Nasa’i)

Dampak Sifat Angkuh Menurut Para Ulama

Di samping itu, Ibnu Abi Ad-Dunya menekankan bahwa sifat angkuh sanggup mengikis seluruh keutamaan diri seseorang. Oleh karena itu, Allah SWT kembali menegaskan kebencian-Nya terhadap para pembual dalam Surah An-Nahl ayat 23:

لَا جَرَمَ أَنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْتَكْبِرِينَ ٢٣

“Tidak diragukan lagi bahwa Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka tampakkan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang yang sombong.” (QS An-Nahl: 23)

Bahkan, bentuk kesombongan paling buruk justru lahir dari sosok miskin yang serba kekurangan namun tetap tinggi hati. Mengenai hal ini, Rasulullah SAW merinci empat golongan yang memicu kemurkaan-Nya lewat hadis sahih:

أَرْبَعَةٌ يُبْغِضُهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: الْبَيَّاعُ الْحَلَّافُ، وَالْفَقِيرُ الْمُخْتَالُ، وَالشَّيْخُ الزَّانِي، وَالْإِمَامُ الْجَائِرُ

“Ada empat golongan yang dibenci Allah SWT (yaitu) pedagang yang banyak bersumpah, orang miskin yang sombong, orang tua yang berzina, dan pemimpin yang zalim.” (HR An-Nasa’i)

Mengenai hadis tersebut, Imam Al-Munawy menjelaskan bahwa ketiadaan materi seharusnya memicu kerendahan hati pada diri orang fakir. Lebih lanjut, Rasulullah SAW mengingatkan bahaya sifat ini meskipun hanya tersimpan sekecil zarah di dalam dada:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar zarah.” (HR Muslim)

2. Sifat Kikir dan Pelit

Selain kesombongan, sifat enggan berbagi juga mengundang kemurkaan Allah SWT. Hal ini tertuang secara jelas dalam hadis riwayat Ath-Thabrani:

ثَلَاثَةٌ يُبْغِضُهُمُ اللَّهُ: مَلِكٌ كَذَّابٌ، وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ، ‌وَغَنِيٌّ ‌بَخِيلٌ

“Ada tiga golongan yang dibenci Allah: seorang penguasa yang suka berdusta, orang miskin yang sombong, dan orang kaya yang kikir.” (HR Ath-Thabrani)

Kemudian, Ibnu Hayyan Al-Andalusi memaparkan bahwa kekikiran mencakup penahanan harta, ilmu, makanan, salam, hingga shalawat. Rasulullah SAW juga menggambarkan parahnya sifat pelit ini melalui hadis sahih riwayat Ahmad:

شَرُّ مَا فِي الرَّجُلِ: ‌شُحٌّ ‌هَالِعٌ

Baca Juga :  Rahasia Keutamaan Dzikir Tasbih Pembuka Pintu Pahala

“Seburuk-buruk sifat yang ada pada seseorang adalah kekikiran yang sangat berat.” (HR Ahmad)

Bentuk-Bentuk Kekikiran yang Nyata

Bahkan, seseorang tergolong sangat kikir manakala menahan ucapan salam kepada saudaranya. Nabi SAW menyampaikan peringatan ini melalui riwayat Ibnu Hibban:

إِنَّ ‌أَبْخَلَ ‌النَّاسِ ‌مَنْ ‌بَخِلَ بِالسَّلَامِ

“Sesungguhnya manusia yang paling kikir adalah orang yang kikir mengucapkan salam.” (HR Ibnu Hibban)

Di sisi lain, penolakan untuk bershalawat saat nama Nabi SAW disebut juga menjadi bukti nyata kekikiran seseorang. Beliau menegaskan hal tersebut dalam hadis riwayat Ahmad:

الْبَخِيلُ ‌مَنْ ‌ذُكِرْتُ ‌عِنْدَهُ؛ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

“Orang yang kikir adalah orang yang ketika namaku disebut di hadapannya, ia tidak bershalawat kepadaku.” (HR Ahmad)

3. Perkataan dan Perilaku Keji

Selanjutnya, perbuatan maupun ucapan kotor (fuhsy) sangat bertentangan dengan fitrah manusia yang sehat. Oleh sebab itu, Al-Jurjani menyebut perilaku ini melanggar akal lurus dan dibenci oleh Ilahi:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفُحْشَ وَالتَّفَحُّشَ

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai perkataan dan perbuatan keji serta sikap suka berkata keji.” (HR Muslim)

Oleh karena itu, Rasulullah SAW meminta seluruh umatnya menjauhi tindakan serta tutur kata yang merusak keharmonisan. Beliau memperingatkan hal tersebut lewat riwayat Ibnu Hibban:

إِيَّاكُمْ ‌وَالْفُحْشَ؛ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَاحِشَ وَالْمُتَفَحِّشَ

“Jauhilah perbuatan keji, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berkata dan berbuat keji.” (HR Ibnu Hibban)

Peringatan terhadap Ucapan Kasar

Bahkan, Allah SWT membenci orang yang gemar memproduksi kalimat kasar (badzi’) walaupun bermaksud menyampaikan kebenaran. Sabda Nabi SAW menegaskan hal tersebut:

إِنَّ اللَّهَ لَيَبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيءَ

“Sesungguhnya Allah benar-benar membenci orang yang berkata keji dan kotor.” (HR At-Tirmidzi)

Sebaliknya, Abdullah bin Amr memberikan kesaksian mengenai keluhuran budi pekerti Rasulullah SAW semasa hidupnya. Beliau menyampaikan riwayat autentik ini:

لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا

“Nabi SAW bukanlah orang yang berkata keji dan bukan pula orang yang sengaja berkata-kata keji.” (HR Bukhari)

4. Berlebihan dan Dibuat-buat dalam Berbicara

Di samping itu, gaya bicara berlebihan (tsartsarah) dan pamer keahlian bahasa demi superioritas diri termasuk akhlak tercela. Oleh sebab itu, Allah SWT mengecam keras gaya penceramah yang memutar lidahnya bak hewan ternak:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبْغِضُ الْبَلِيغَ مِنَ الرِّجَالِ، الَّذِي يَتَخَلَّلُ بِلِسَانِهِ تَخَلُّلَ الْبَاقِرَةِ بِلِسَانِهَا

“Sesungguhnya Allah SAW membenci orang yang sangat pandai berbicara dari kalangan laki-laki, yang memutar-mutar lidahnya sebagaimana sapi memutar-mutarkan lidahnya.” (HR Abu Dawud)

Bahkan, Rasulullah SAW mengancam para pembual yang sombong dengan jarak tempat duduk paling jauh di akhirat. Beliau memaparkan peringatan ini kepada para sahabat:

إِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ، وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ: الثَّرْثَارُونَ، وَالْمُتَشَدِّقُونَ، وَالْمُتَفَيْهِقُونَ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَدْ عَلِمْنَا “الثَّرْثَارُونَ، وَالْمُتَشَدِّقُونَ” فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ؟ قَالَ: الْمُتَكَبِّرُونَ

“Sesungguhnya orang yang paling aku benci di antara kalian dan yang paling jauh tempat duduknya dariku pada hari kiamat adalah orang-orang yang banyak bicara, orang-orang yang suka berlebih-lebihan dalam berbicara, dan orang-orang yang suka membual dengan perkataannya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui siapa yang banyak bicara dan siapa yang berlebih-lebihan dalam berbicara. Lalu, siapa yang dimaksud dengan mutafayhiqun?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang sombong.” (HR At-Tirmidzi)

Bahaya Memaksakan Gaya Bicara

Lebih lanjut, orang yang melampaui batas dalam bertutur kata tergolong sebagai kelompok masyarakat paling buruk. Rasulullah SAW menegaskan hal ini dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad:

Baca Juga :  Hukum Memelihara Anjing dalam Islam, Ini Penjelasan Hadis

‌شِرَارُ ‌أُمَّتِي: ‌الثَّرْثَارُونَ، الْمُشَّدِّقُونَ، الْمُتَفَيْهِقُونَ

“Seburuk-buruk umatku adalah orang-orang yang banyak bicara, orang-orang yang suka berlebih-lebihan dalam berbicara, dan orang-orang yang sombong.” (HR Al-Bukhari)

Oleh karena itu, sikap memaksakan diri saat berbicara (tanaththu‘) bakal mengarahkan seseorang pada kebinasaan fatal. Bahkan, Nabi SAW mengulang peringatan ini sebanyak tiga kali:

هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ

“Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan.” (HR Muslim)

Mengenai hal ini, Qadhi ‘Iyadh memaparkan bahwa kata mutanaththi‘ merujuk pada orang yang memaksakan suara dari tenggorokan. Istilah tersebut berakar dari kata nath‘ yang berarti langit-langit mulut.

5. Pura-Pura Sengsara dan Mengabaikan Diri

Selain itu, Allah SWT membenci hamba yang berpura-pura miskin demi memancing belas kasihan serta bantuan publik. Sebaliknya, Sang Pencipta justru menyukai hamba yang memamerkan rasa syukur atas limpahan nikmat-Nya:

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى إِذَا أَنْعَمْ عَلَى عَبْدٍ نِعْمَةً يُحِبُّ أَنْ يَرَى أَثَرَ النِّعْمَةِ عَلَيْهِ، ‌وَيَكْرَهُ ‌الْبُؤْسَ ‌وَالتَّبَاؤُسَ

“Sesungguhnya apabila Allah memberikan suatu nikmat kepada seorang hamba, Dia suka melihat bekas nikmat tersebut pada diri hamba-Nya dan membenci kesengsaraan serta sikap berpura-pura sengsara.” (HR Al-Baihaqi)

Oleh sebab itu, seorang muslim hendaknya menjaga penampilan diri tanpa perlu terjerumus pada kemewahan berlebih. Nabi SAW mempertegas keindahan ajaran ini melalui riwayat Al-Baihaqi:

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، وَيُحِبُّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ، ‌وَيَكْرَهُ ‌الْبُؤْسَ ‌وَالتَّبَاؤُسَ

“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Dia suka melihat bekas nikmat-Nya pada diri hamba-Nya dan membenci kesengsaraan serta sikap berpura-pura sengsara.” (HR Al-Baihaqi)

Pada hakikatnya, tindakan menyembunyikan kecukupan materi sama halnya dengan mengadukan takdir Allah kepada manusia. Selain itu, perilaku buruk ini hanya akan memicu kehinaan serta cemoohan dari para musuh.

6. Cemburu Buta Tanpa Dasar

Akhirnya, Islam membagi perasaan cemburu (ghirah) menjadi dua kategori, yakni terpuji dan tercela. Cemburu terlarang biasanya muncul akibat prasangka buruk tanpa adanya bukti atau kecurigaan yang masuk akal:

إِنَّ مِنَ الْغَيْرَةِ مَا يُحِبُّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، وَمِنْهَا مَا يُبْغِضُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ… فَأَمَّا الْغَيْرَةُ الَّتِي يُحِبُّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ؛ فَالْغَيْرَةُ فِي الرِّيبَةِ، وَأَمَّا الْغَيْرَةُ الَّتِي يُبْغِضُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ؛ فَالْغَيْرَةُ فِي غَيْرِ رِيبَةٍ

“Sesungguhnya di antara kecemburuan ada yang dicintai Allah dan ada pula yang dibenci Allah. Adapun kecemburuan yang dicintai Allah adalah kecemburuan dalam perkara yang memang patut dicurigai, sedangkan kecemburuan yang dibenci Allah adalah kecemburuan dalam perkara yang tidak patut dicurigai.” (HR An-Nasa’i)

Sebab, kecemburuan tak berdasar memberi celah bagi setan untuk membisikkan prasangka liar ke dalam hati. Mengenai hal ini, Aisyah RA pernah memperlihatkan kecemburuan saat Nabi SAW keluar rumah pada malam hari.

Pelajaran dari Peristiwa Aisyah RA

Saat itu, Rasulullah SAW menanyakan gejolak emosi Aisyah RA hingga menyebutkan kehadiran setan di sampingnya. Kemudian, Aisyah bertanya tentang keberadaan setan pada diri Nabi SAW:

أَوَمَعَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ شَيْطَانٌ؟ قَالَ: نَعَمْ، وَلَكِنَّ رَبِّي أَعَانَنِي عَلَيْهِ حَتَّى أَسْلَمَ

“Aku bertanya: ‘Apakah bersamamu ada setan wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab: ‘Ya. Akan tetapi, Rabb-ku telah menolongku menghadapinya hingga ia tunduk kepadaku.’” (HR Muslim)

Pada akhirnya, kisah tersebut memberikan pelajaran berharga agar iman senantiasa mengendalikan gejolak emosi manusia. Oleh karena itu, setiap muslim harus membersihkan jiwa dari seluruh sifat tercela demi meraih keridhaan Allah SWT.(ust)

Berita Terkait

Menag Nasaruddin Umar Ingatkan Perlindungan Data Pribadi Bagian Martabat Manusia
Penghulu Viral Mojokerto Soroti Pentingnya Kerendahan Hati Orang Berilmu
Mengendalikan Volume Suara: Cermin Adab dan Tanggung Jawab Sosial Seorang Muslim
Akhlak Nabi Muhammad SAW: Cerminan Nyata Ajaran Alquran
Nasihat KH Hasyim Asy’ari tentang Menghadapi Perbedaan Pendapat Ulama
4 Tipe Manusia Menurut Imam Al Ghazali dan Cara Menyikapinya
Etika Bisnis dalam Islam: Panduan Lengkap Menurut Syariat
Adab Memperbaiki Bacaan Imam Salat yang Keliru Menurut Ulama
Berita ini 18 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:01 WIB

Menag Nasaruddin Umar Ingatkan Perlindungan Data Pribadi Bagian Martabat Manusia

Minggu, 18 Oktober 2026 - 16:02 WIB

Penghulu Viral Mojokerto Soroti Pentingnya Kerendahan Hati Orang Berilmu

Senin, 21 September 2026 - 16:36 WIB

Mengendalikan Volume Suara: Cermin Adab dan Tanggung Jawab Sosial Seorang Muslim

Selasa, 11 Agustus 2026 - 03:00 WIB

Akhlak Nabi Muhammad SAW: Cerminan Nyata Ajaran Alquran

Senin, 10 Agustus 2026 - 15:00 WIB

6 Sifat Tercela yang Dibenci Allah Menurut Alquran dan Hadis

Berita Terbaru

Tim Kerukunan Umat Beragama Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi mengawal langsung survei kerukunan umat beragama di Kabupaten Batang Hari.(poto: jambi.kemenag.go.id).

Berita Islam

Kemenag Jambi Awasi Survei Kerukunan di Batang Hari

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:56 WIB

Kegiatan gelar wicara bertajuk “Akses Rumah Pertama bagi Pekerja Muda” dalam ajang Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).(poto: republika).

Berita Islam

Bank BSN Rilis KPR Tenor 40 Tahun untuk Pekerja Muda

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:39 WIB

Gus Nadir.(poto: istimewa).

Pendidikan

Santri Masa Kini Mesti Kuasai AI dan Keterampilan Digital

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:32 WIB

Ponpes THOHIR YASIN Lendang Nangka-Masbagik-Lombok Timur(poto: istimewa).

Sejarah

Menelusuri Jejak Sejarah Pesantren dan Makna Santri

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:17 WIB

Isim Isyarah.

Bahasa Arab

Panduan Lengkap Isim Isyarah: Jenis dan Contoh Kalimat

Jumat, 23 Okt 2026 - 12:56 WIB