Jakarta, dorlanhikmah.com – Masyarakat sering kali salah memahami pemenuhan hak dan kewajiban pasangan. Oleh karena itu, ajaran Islam menempatkan adab suami terhadap istri secara setara demi menciptakan kedudukan rumah tangga yang harmonis.
Sebab, ketika kedua pihak saling memenuhi kewajiban, kehidupan keluarga akan terasa damai. Hal ini tentu membentengi ikatan pernikahan dari ketimpangan dan perselisihan.
Pandangan Ulama Kitab Kuning
Mengenai hal tersebut, Imam Al-Ghazali merinci etika pendamping hidup dalam kitab Al-Adab fid Din. Selain itu, beliau menekankan pentingnya keramahan serta kelembutan sikap seorang laki-laki.
آداب الرجل مع زوجته: حسن العشرة، ولطافة الكلمة، وإظهار المودة، والبسط في الخلوة، والتغافل عن الزلة وإقالة العثرة، وصيانة عرضها، وقلة مجادلتها، وبذل المؤونة بلا بخل لها، وإكرام أهلها، ودوام الوعد الجميل، وشدة الغيرة عليها
Artinya: “Adab suami terhadap Istri, yakni: berinteraksi dengan baik, bertutur kata yang lembut, menunjukkan cinta kasih, bersikap lapang ketika sendiri, tidak terlalu sering mempersoalkan kesalahan, memaafkan jika istri berbuat salah, menjaga harta istri, tidak banyak mendebat, mengeluarkan biaya untuk kebutuhan istri secara tidak bakhil, memuliakan keluarga istri, senantiasa memberi janji yang baik, dan selalu bersemangat terhadap istri.”
Pedoman Praktis Berdasarkan Sunnah
Selanjutnya, Holilur Rohman memaparkan panduan tersebut lewat karya bukunya yang berjudul Rumah Tangga Surgawi. Berikut merupakan sembilan bentuk perilaku ideal yang wajib dijalankan:
1. Memperlakukan Pasangan Secara Baik
Seorang laki-laki memegang janji suci saat meminang pasangan hidupnya. Oleh sebab itu, ia mengemban amanah besar untuk terus menghadirkan kebahagiaan.
Bahkan, At-Tirmidzi meriwayatkan sabda Rasulullah SAW mengenai perlakuan mulia ini:
أَلاَ وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَـاءِ خَيْرًا، فَإِنَّهُنَّ عَوَانٌ عِنْدَكُمْ -أَيْ أسِيْرَاتٍ- لَيْسَ تَمْلِكُوْنَ مِنْهُنَّ شَيْئًا غَيْرَ ذَلِكَ، إِلاَّ أَنْ يَأْتِيْنَ بِفَـاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ، فَإِنْ فَعَلْنَ فَـاهْجُرُوْهُنَّ فِـي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْاهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ، فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ أَنْ لاَ يُوْطِئْنَ فُرُشَكُمْ مَنْ تَكْرَهُوْنَ، وَلاَ يَأْذَنَّ فِيْ بُيُوْتِكُمْ لِمَنْ تَكْرَهُوْنَ، أَلاَ وَحَقَّهُنَّ عَلَيْكُمْ أَنْ تُحْسِنُوْا إِلَيْهِنَّ فِيْ كِسْوَتِهِنَّ وَطَعَامِهِنَّ.
Artinya: “Ingatlah, berbuat baiklah kepada wanita. Sebab, mereka itu (bagaikan) tawanan di sisi kalian. Kalian tidak berkuasa terhadap mereka sedikit pun selain itu, kecuali bila mereka melakukan perbuatan nista. Jika mereka melakukannya, maka tinggalkanlah mereka di tempat tidur mereka dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Jika ia mentaati kalian, maka janganlah berbuat aniaya terhadap mereka. Mereka pun tidak boleh memasukkan siapa yang tidak kalian sukai ke tempat tidur dan rumah kalian. Ketahui-lah bahwa hak mereka atas kalian adalah kalian berbuat baik kepada mereka (dengan mencukupi) pakaian dan makanan mereka.”
2. Memimpin Rumah Tangga Bijaksana
Sementara itu, pemimpin yang hebat selalu mengedepankan musyawarah saat mengambil keputusan. Maka dari itu, kepala keluarga wajib membimbing seluruh anggota rumah tangga menuju kebaikan.
Lebih lanjut, Allah SWT menegaskan perintah tersebut dalam surat At-Tahrim ayat 6:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
3. Mencukupi Kebutuhan Keluarga
Di samping itu, keseriusan seorang pria terlihat dari caranya menjamin sandang, pangan, dan papan. Karena itu, setiap harta yang disalurkan dengan ikhlas bernilai pahala melimpah.
Bahkan, Rasulullah SAW menjelaskan keutamaan ini melalui hadis riwayat Muslim nomor 995:
“Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi)”
Selain itu, suapan makanan pun mendatangkan kebaikan sebagaimana riwayat Bukhari nomor 56:
“Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti) kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), sampai pun makanan yang kamu berikan kepada istrimu.”
4. Ringan Tangan Mengurus Rumah
Namun, banyak masyarakat terjebak pandangan keliru mengenai pembagian tugas domestik. Padahal, pasangan sejatinya merupakan mitra yang harus saling membantu.
Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW meneladankan kesiapan melakukan tugas harian di tengah kesibukan dakwah. Terkait hal ini, Urwah meriwayatkan kesaksian Aisyah RA dalam hadis riwayat Ibnu Hibban:
عن عروة قال قُلْتُ لِعَائِشَةَ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِيْنَ أي شَيْءٌ كَانَ يَصْنَعُ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا كَانَ عِنْدَكِ قَالَتْ مَا يَفْعَلُ أَحَدُكُمْ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ يَخْصِفُ نَعْلَهُ وَيُخِيْطُ ثَوْبَهُ وَيَرْفَعُ دَلْوَهُ
Artinya: Urwah berkata kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika ia bersamamu (di rumahmu)?”, Aisyah berkata, “Ia melakukan (seperti) apa yang dilakukan oleh salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya, ia memperbaiki sendalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air di ember”
5. Menjaga Akhlak dan Menjauhi Kekerasan
Bukan hanya itu, pria mulia selalu menjaga tutur kata dan tindakan dari perilaku kasar. Dengan demikian, Rasulullah SAW memberikan teladan nyata tanpa pernah main tangan.
Mengenai hal ini, Sayyidah Aisyah RA menegaskan hal tersebut melalui riwayat Muslim nomor 2328:
مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ وَلاَ امْرَأَةً وَلاَ خَادِمًا إِلاَّ أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
Artinya: “Rasulullah sama sekali tidak pernah memukul siapa pun dengan tangannya, baik itu pelayan beliau maupun perempuan, kecuali saat berjihad di jalan Allah”
Lalu, beliau juga mengecam keras pelaku kekerasan lewat hadis riwayat Bukhari nomor 5204:
لاَ يَجْلِدُ أَحَدُكُمُ امْرَأَتَهُ جَلْدَ الْعَبْدِ، ثُمَّ يُجَامِعُهَا فِي آخِرِ الْيَوْمِ
Artinya: “Janganlah salah seorang dari kalian memukul istrinya seperti ia memukul seorang budak, sedangkan di penghujung hari ia pun menggaulinya”
6. Menasihati Secara Persuasif
Di sisi lain, sikap sabar sangat dibutuhkan saat meluruskan kekhilafan pendamping hidup. Sebab, tindakan emosional justru memicu keretakan hubungan.
Mengenai cara menasihati, Abu Hurairah RA meriwayatkan sabda Nabi SAW dalam Sahih Bukhari nomor 5239:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «المَرْأَةُ كَالضِّلَعِ، إِنْ أَقَمْتَهَا كَسَرْتَهَا، وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ»
Artinya: “Istri itu (terkadang) seperti tulang rusuk (yang bengkok dan keras). Jika kamu luruskan, kamu bisa mematahkannya. Jika kamu (biarkan, dan tetap) menikmatinya, maka kamu menikmati seseorang yang ada kebengkokan (kekurangan) dalam dirinya”.
7. Mencintai Karena Allah
Selain itu, kasih sayang tulus mengabaikan materi maupun status sosial semata. Oleh sebab itu, ungkapan perasaan menjadi kunci keharmonisan ikatan.
Secara khusus, hadis riwayat Bukhari dan Muslim mencatat pengakuan cinta Rasulullah SAW:
“Suatu ketika Amr bin al-Ash bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling kau cintai?, Beliau menjawab, “Aisyah.” “Dari kalangan laki-laki?” tanya Amr. Beliau menjawab, “bapaknya.””
8. Memegang Teguh Komitmen
Pada dasarnya, kesetiaan membentengi pasangan dalam mengarungi dinamika kehidupan. Oleh karena itu, komitmen kuat menjaga keutuhan ikatan pernikahan.
Sehingga, setiap pemicu ketegangan harus diselesaikan secara bersama-sama. Sebab, kedua pihak memegang teguh janji suci dalam suka maupun duka.
9. Meredam Potensi Konflik
Akhirnya, ancaman keretakan sering bersumber dari hal-hal yang terabaikan. Oleh sebab itu, Hj. Ulfiah merinci sembilan pemicu perselisihan dalam buku Psikologi Keluarga:
-
Buruknya pola komunikasi
-
Gesekan antara orang tua dan anak
-
Beban finansial
-
Kecemburuan tak berdasar
-
Sikap merasa superior
-
Perilaku perselingkuhan
-
Tindakan KDRT
-
Campur tangan pihak luar
-
Keputusan poligami.Wallahu a”lam.(ust)










Komentar