Mengapa Utsman bin Affan Terbunuh? Awal Krisis Politik Islam

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 30 Mei 2026 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Ustman Bib Affan salah satu Khulafa Urrasyidin ( Poto : CNN Indonesia ).

Ilustrasi Ustman Bib Affan salah satu Khulafa Urrasyidin ( Poto : CNN Indonesia ).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Terbunuhnya Utsman bin Affan menjadi salah satu peristiwa paling berpengaruh dalam sejarah Islam. Kematian khalifah ketiga ini tidak hanya mengakhiri masa pemerintahannya, tetapi juga memicu krisis politik yang mengubah arah perjalanan umat Islam.

Peristiwa tersebut lahir dari akumulasi ketegangan politik, kritik terhadap kebijakan pemerintahan, persaingan elite, serta melemahnya kepercayaan sebagian masyarakat terhadap kepemimpinan Utsman.

Banyak sejarawan Muslim menilai tragedi ini sebagai puncak dari krisis legitimasi yang berkembang secara perlahan selama beberapa tahun.

Ketika konflik mencapai titik tertinggi, Madinah yang sebelumnya menjadi pusat persatuan umat justru berubah menjadi arena pertarungan kepentingan politik.

Awal Munculnya Gelombang Kritik

Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan, wilayah Islam berkembang sangat pesat. Kekuasaan Islam membentang dari Jazirah Arab hingga wilayah Afrika Utara dan Persia.

Luasnya wilayah tersebut menghadirkan tantangan baru yang jauh berbeda dibanding masa pemerintahan Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

Seiring bertambahnya wilayah, kebutuhan akan pejabat dan gubernur juga meningkat. Utsman melakukan sejumlah pergantian pejabat di berbagai daerah. Sebagian kebijakan ini mendapat dukungan, tetapi sebagian lainnya memicu kritik.

Salah satu keputusan yang paling sering menjadi sorotan adalah pergantian gubernur Mesir. Utsman mencopot Amr bin al-Ash dan menunjuk Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh sebagai penggantinya. Menurut sejumlah riwayat sejarah, keputusan itu memicu ketidakpuasan di kalangan tertentu.

Dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Amr bin al-Ash dikenal mampu mengendalikan kelompok-kelompok yang berpotensi menimbulkan gangguan keamanan. Setelah pergantian tersebut, gerakan oposisi di Mesir mulai berkembang lebih leluasa.

Situasi ini kemudian menjadi titik awal lahirnya gelombang kritik yang semakin besar terhadap pemerintahan Utsman.

Mesir Menjadi Pusat Gerakan Oposisi

Ketidakpuasan yang muncul di Mesir tidak berhenti pada kritik biasa. Sejumlah tokoh mulai mengorganisasi gerakan yang menentang kebijakan pemerintah pusat.

Nama seperti Muhammad bin Abi Bakr dan Muhammad bin Abi Hudzaifah sering muncul dalam berbagai riwayat terkait gerakan tersebut. Mereka menghimpun berbagai keluhan masyarakat lalu mengarahkan kritik kepada khalifah.

Kelompok ini tidak hanya menyampaikan protes dari jauh. Mereka mengorganisasi rombongan yang bergerak menuju Madinah dengan alasan menunaikan ibadah umrah.

Di balik perjalanan itu, mereka membawa tuntutan politik yang ditujukan langsung kepada khalifah.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang awalnya bersifat administratif mulai berubah menjadi konflik politik yang mengancam stabilitas negara.

Ali bin Abi Thalib Turun Menenangkan Situasi

Ketika rombongan dari Mesir mendekati Madinah, Utsman tidak memilih pendekatan militer.

Ia justru meminta Ali bin Abi Thalib untuk berdialog dengan para penentang. Langkah ini menunjukkan bahwa Utsman masih berusaha menyelesaikan masalah melalui musyawarah.

Ali menemui kelompok tersebut dan mendengarkan berbagai tuduhan yang mereka sampaikan. Ia kemudian menjelaskan sejumlah kebijakan pemerintah yang dianggap bermasalah.

Upaya itu sempat berhasil meredakan ketegangan. Para penentang menerima penjelasan Ali dan memutuskan kembali ke daerah asal mereka.

Baca Juga :  Thariq bin Ziyad dan Pembebasan Andalusia: Jejak Kemenangan Islam di Bulan Ramadhan

Keberhasilan tersebut memperlihatkan bahwa posisi Ali sebagai tokoh yang dihormati masih mampu menjembatani konflik yang sedang berkembang.

Namun ketenangan itu ternyata hanya berlangsung sementara.

Kebijakan yang Menjadi Sasaran Kritik

Para pengkritik Utsman mengangkat berbagai isu yang mereka anggap sebagai penyebab ketidakpuasan masyarakat.

Mereka menyoroti kebijakan terkait kawasan hima atau kawasan lindung yang dikelola negara. Sebagian pihak juga mempersoalkan keputusan penyatuan mushaf Al-Qur’an yang dilakukan demi menjaga keseragaman bacaan.

Selain itu, mereka mengkritik pengangkatan sejumlah pejabat muda dalam pemerintahan.

Ali bin Abi Thalib menjelaskan bahwa pengangkatan pejabat muda bukanlah hal baru dalam tradisi Islam. Nabi Muhammad SAW juga pernah memberikan tanggung jawab penting kepada para sahabat yang masih muda apabila mereka memiliki kemampuan.

Meski demikian, penjelasan tersebut tidak sepenuhnya menghentikan kritik yang berkembang.

Sebagian kelompok tetap menilai bahwa dominasi keluarga Bani Umayyah dalam pemerintahan telah menimbulkan ketidakseimbangan politik.

Khutbah yang Mengharukan Masyarakat

Ketika tekanan terhadap pemerintah semakin besar, sejumlah sahabat menyarankan agar Utsman berbicara langsung kepada masyarakat.

Utsman menerima nasihat tersebut. Ia berdiri di hadapan publik dan menyampaikan khutbah yang penuh penyesalan.

Dalam pidatonya, ia memohon ampun kepada Allah serta menyatakan kesediaan memperbaiki berbagai persoalan yang terjadi selama pemerintahannya.

Ia juga menyampaikan keinginan untuk mengikuti teladan kepemimpinan Abu Bakar dan Umar yang sangat dihormati umat Islam.

Khutbah itu menyentuh hati banyak orang.

Ibnu Jarir ath-Thabari dalam Tarikh al-Umam wal Muluk meriwayatkan kesan mendalam yang muncul setelah pidato tersebut.

Beliau menulis:

قَالَ أَبُو حَبِيبَةَ: فَلَمْ أَرَ يَوْمًا أَكْثَرَ بَاكِيًا وَلا بَاكِيَةً مِنْ يَوْمَئِذٍ

Artinya:

“Abu Habibah berkata: Aku belum pernah melihat suatu hari yang lebih banyak orang laki-laki dan perempuan menangis selain hari itu.”

Kutipan ini menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki simpati yang besar kepada Utsman.

Pada saat itu, peluang rekonsiliasi sebenarnya terbuka lebar.

Intervensi yang Memperburuk Keadaan

Harapan untuk menyelesaikan konflik secara damai tidak berlangsung lama.

Setelah khutbah tersebut, Marwan bin al-Hakam menyampaikan pidato yang keras kepada massa.

Pidato itu menimbulkan kesan bahwa pemerintah tidak benar-benar ingin melakukan perubahan sebagaimana yang dijanjikan Utsman.

Akibatnya, suasana yang sempat mencair kembali memanas.

Banyak orang mulai melihat bahwa khalifah tidak sepenuhnya mengendalikan lingkaran terdekatnya.

Dalam dunia politik, persepsi seperti ini sering kali sangat berbahaya. Publik dapat kehilangan kepercayaan ketika menganggap seorang pemimpin tidak lagi memiliki kendali penuh atas kebijakan yang di ambil.

Sejak saat itu, posisi Utsman semakin sulit.

Pengepungan Rumah Khalifah

Ketegangan akhirnya berubah menjadi tindakan yang lebih serius.

Kelompok penentang mulai mengepung rumah Utsman di Madinah. Mereka membatasi aktivitas khalifah dan mengawasi siapa saja yang ingin menemuinya.

Pengepungan berlangsung selama beberapa minggu.

Dalam kondisi tersebut, Utsman tidak dapat menjalankan aktivitas seperti biasanya. Ia bahkan kesulitan menghadiri salat berjamaah di masjid.

Baca Juga :  Biografi Imam Muslim Lengkap: Perjalanan Hidup, Keilmuan, dan Warisan Hadis

Ibnul Atsir dalam Al-Kamil fit Tarikh menggambarkan betapa berat situasi yang dihadapi Utsman.

Ia menuliskan:

فَعِنْدَهَا حَالُوا بَيْنَ النَّاسِ وَبَيْنَ عُثْمَانَ، وَمَنَعُوهُ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْمَاءَ

Artinya:

“Sejak saat itu mereka menghalangi orang-orang untuk menemui Utsman dan mencegahnya memperoleh segala sesuatu, bahkan sampai air sekalipun.”

Riwayat tersebut menunjukkan bahwa konflik telah melewati batas kritik politik dan berubah menjadi tindakan yang mengancam keselamatan khalifah.

Hari-Hari Terakhir Utsman

Menjelang akhir hidupnya, Utsman tetap memilih tidak melakukan perlawanan bersenjata.

Beberapa sahabat sebenarnya siap membela dirinya. Namun Utsman tidak ingin pertumpahan darah terjadi di Madinah.

Menurut riwayat yang dikumpulkan Ibnu Katsir, Utsman bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar, dan Umar bin Khattab.

Dalam mimpi itu, ia mendapat kabar bahwa dirinya akan segera bertemu dengan mereka.

Karena itu, ia menjalani hari terakhirnya dalam keadaan tenang dan berpuasa.

Saat para penyerang berhasil masuk ke rumahnya, Utsman sedang membaca Al-Qur’an.

Mereka kemudian membunuh khalifah yang telah berusia lanjut tersebut.

Peristiwa itu menjadi salah satu tragedi terbesar dalam sejarah Islam.

Krisis Legitimasi yang Mengguncang Umat

Jika di telaah lebih jauh, persoalan yang terjadi pada masa Utsman bukan sekadar konflik personal.

Peristiwa tersebut mencerminkan krisis legitimasi yang sedang berkembang di tengah masyarakat Islam.

Dalam sistem politik Islam awal, legitimasi tidak hanya bertumpu pada jabatan resmi. Seorang pemimpin juga harus menjaga reputasi moral, kemampuan administrasi, dukungan elite, dan kepercayaan masyarakat.

Ketika salah satu unsur itu melemah, stabilitas pemerintahan ikut terganggu.

Ibnul Atsir mencatat ucapan keras yang di lontarkan sebagian penentang kepada Utsman:

مَا أَنْتَ إِلَّا صَادِقٌ أَوْ كَاذِبٌ، فَإِنْ كُنْتَ كَاذِبًا فَقَدِ اسْتَحْقَقْتَ الْخَلْعَ … وَإِنْ كُنْتَ صَادِقًا فَقَدِ اسْتَحْقَقْتَ أَنْ تَخْلَعَ نَفْسَكَ لِضَعْفِكَ عَنْ هَذَا الْأَمْرِ، وَغَفْلَتِكَ وَخُبْثِ بِطَانَتِكَ

Artinya:

“Engkau hanya mungkin jujur atau dusta. Jika engkau dusta maka engkau layak dicopot. Jika engkau jujur maka engkau layak mengundurkan diri karena kelemahanmu dalam urusan ini, kelalaianmu, dan buruknya orang-orang dekatmu.”

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa sebagian kelompok sudah kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Utsman.

Dampak Besar Setelah Wafatnya Utsman

Sebelum wafat, Utsman pernah mengingatkan bahwa jika dirinya terbunuh, umat Islam akan sulit kembali bersatu.

Perkataan itu terbukti dalam perjalanan sejarah.

Setelah kematiannya, umat Islam memasuki masa konflik panjang yang di kenal sebagai fitnah kubra.

Perang Jamal meletus antara kubu Ali bin Abi Thalib dan kelompok yang menuntut penyelesaian kasus pembunuhan Utsman.

Tidak lama kemudian terjadi Perang Shiffin yang melibatkan Ali dan Muawiyah bin Abi Sufyan.

Konflik tersebut melahirkan perpecahan politik yang kemudian berkembang menjadi perbedaan teologis di kalangan umat Islam.

Banyak sejarawan melihat pembunuhan Utsman sebagai titik balik yang mengubah struktur politik dunia Islam untuk waktu yang sangat lama.(ust)

Wallahu a’lam

Berita Terkait

Ummu Aiman: Pengasuh Rasulullah dan Sosok Ibu Sepanjang Hidup Nabi
Solidaritas Kemanusiaan dalam Teladan Agung Rasulullah SAW
Politisasi Al-Qur’an dalam Politik dan Sejarahnya
Kisah Talak Nabi kepada Hafshah binti Umar
Kisah Nabi Yusya bin Nun, Pemimpin Bani Israil
Fatimah dan Ulama Hanafi: Jejak Ilmu Mazhab Klasik
Keajaiban Kehamilan Aminah Menjelang Kelahiran Rasulullah
5 Rasul Ulul Azmi dan Keteguhan Dakwah Mereka
Berita ini 6 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 2 Juni 2026 - 11:00 WIB

Ummu Aiman: Pengasuh Rasulullah dan Sosok Ibu Sepanjang Hidup Nabi

Minggu, 31 Mei 2026 - 09:00 WIB

Solidaritas Kemanusiaan dalam Teladan Agung Rasulullah SAW

Minggu, 31 Mei 2026 - 07:00 WIB

Politisasi Al-Qur’an dalam Politik dan Sejarahnya

Sabtu, 30 Mei 2026 - 13:00 WIB

Mengapa Utsman bin Affan Terbunuh? Awal Krisis Politik Islam

Sabtu, 30 Mei 2026 - 07:00 WIB

Kisah Talak Nabi kepada Hafshah binti Umar

Berita Terbaru

Ilustrasi Seorang Fotografer dengan membawa peralatan kamera( poto : kompas edukasi )

Fiqih

Hukum Memfoto Orang Diam-Diam Tanpa Izin dalam Islam

Jumat, 5 Jun 2026 - 23:00 WIB

Al-Qur'an

QS Ghafir 3: Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah

Jumat, 5 Jun 2026 - 21:00 WIB