Cara Rasulullah ﷺ Menenangkan Hati di Perang Hunain(Bag.5)

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 21 Mei 2026 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustarsi Perang Hunain ( Poto : LDII Kediri ).

Ilustarsi Perang Hunain ( Poto : LDII Kediri ).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Cara Rasulullah melunakkan hati manusia tampak jelas dalam peristiwa setelah Perang Hunain. Rasulullah ﷺ tidak hanya memenangkan peperangan, tetapi juga berhasil memenangkan hati orang-orang yang sebelumnya memusuhi Islam. Melalui kelembutan, hadiah, dan kebijaksanaan, banyak tokoh Arab akhirnya memeluk Islam dengan penuh keikhlasan.

Peristiwa ini menjadi pelajaran penting bahwa dakwah tidak selalu dilakukan dengan perdebatan keras. Dalam banyak keadaan, akhlak yang lembut dan perhatian kepada manusia justru lebih cepat menyentuh hati.

Rasulullah ﷺ Memberi untuk Menarik Hati

Setelah Perang Hunain, Rasulullah ﷺ membagikan harta rampasan perang kepada sejumlah tokoh Quraisy dan pemimpin kabilah Arab. Sebagian dari mereka bahkan baru saja masuk Islam, sementara sebagian lainnya masih lemah imannya.

Beliau memberi mereka unta, kambing, dan harta dalam jumlah besar. Tujuannya bukan sekadar bantuan materi, tetapi untuk melunakkan hati mereka agar semakin dekat dengan Islam.

Hasilnya sangat terlihat. Banyak orang yang sebelumnya membenci Islam berubah menjadi pembela agama ini. Mereka tidak hanya masuk Islam, tetapi juga menjadi pendukung yang jujur dan kuat.

Dari sini tampak betapa dalam pemahaman Rasulullah ﷺ terhadap tabiat manusia. Manusia secara alami mencintai orang yang berbuat baik kepadanya. Karena itu, beliau menggunakan pendekatan yang penuh hikmah.

Kisah Hakim bin Hizam yang Berubah Total

Salah satu kisah paling menarik dalam peristiwa ini adalah kisah Hakim bin Hizam.

Hakim termasuk orang yang baru masuk Islam. Rasulullah ﷺ memberinya seratus ekor unta. Setelah itu Hakim meminta lagi, lalu Nabi ﷺ kembali memberinya. Bahkan ketika ia meminta untuk ketiga kalinya, Rasulullah ﷺ tetap memberinya.

Namun setelah itu Rasulullah ﷺ menasihatinya dengan lembut.

Beliau bersabda:

«يَا حَكِيمُ، إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ، وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ، وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى»

“Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini hijau lagi manis. Siapa yang mengambilnya dengan jiwa yang lapang (tidak tamak), maka harta itu akan diberkahi baginya. Namun siapa yang mengambilnya dengan penuh ambisi dan ketamakan, maka tidak ada keberkahan baginya. Ia seperti orang yang makan, tetapi tidak pernah merasa kenyang. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”

Nasihat itu benar-benar mengubah hidup Hakim bin Hizam.

Ia langsung bersumpah tidak akan meminta sesuatu pun kepada manusia setelah hari itu. Bahkan setelah Rasulullah ﷺ wafat, ia tetap memegang janjinya.

Baca Juga :  Cara Salaf Membuktikan Keberadaan Tuhan, Panduan Berdialog dengan Ateis Menurut Al-Qur’an( Bag.1 )

Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq memberinya bagian harta, ia menolak. Begitu pula ketika Umar bin Khattab memanggilnya untuk menerima bagian, ia tetap menolak.

Hakim mempertahankan sikap itu hingga wafat.

Dunia Tidak Pernah Membuat Manusia Puas

Dalam kisah ini, Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bahwa kecintaan berlebihan terhadap dunia tidak akan pernah membuat manusia merasa cukup.

Dari Anas bin Malik, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah. Dan tidak ada yang dapat memenuhi mulutnya kecuali tanah. Namun Allah menerima tobat orang yang bertobat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menggambarkan sifat dasar manusia yang mudah merasa kurang.

Karena itu, Rasulullah ﷺ mengajarkan pentingnya qanaah atau merasa cukup. Harta yang sedikit tetapi berkah jauh lebih baik daripada harta melimpah yang hanya mendatangkan kegelisahan.

Dakwah Tidak Selalu dengan Perdebatan

Perang Hunain juga menunjukkan bahwa keberhasilan dakwah bukan sekadar menang argumentasi. Yang lebih penting adalah memenangkan hati manusia.

Banyak sahabat yang awalnya datang dengan kebencian kepada Rasulullah ﷺ, tetapi akhirnya pulang sebagai Muslim yang mencintai beliau.

Di antaranya adalah Amr bin Al-Ash, Adi bin Hatim, dan Hakim bin Hizam.

Sebagian dari mereka bahkan pernah berniat memerangi Rasulullah ﷺ. Namun setelah melihat akhlak dan kelembutan beliau, kebencian itu berubah menjadi cinta.

Inilah seni dakwah yang sering terlupakan.

Sebagian orang terlalu sibuk memenangkan perdebatan, tetapi gagal menjaga hubungan baik dengan manusia. Akibatnya, jarak semakin lebar dan dakwah menjadi sulit diterima.

Mengutamakan Maslahat yang Lebih Besar

Rasulullah ﷺ juga memberi pelajaran tentang pentingnya mempertimbangkan maslahat umum.

Beliau memberikan banyak harta kepada tokoh-tokoh Quraisy yang kaya. Sementara kaum Anshar yang lebih membutuhkan justru tidak mendapatkan bagian besar seperti mereka.

Hal itu bukan karena Rasulullah ﷺ lebih mencintai orang Quraisy daripada kaum Anshar. Justru karena iman kaum Anshar sudah sangat kuat.

Kepada kaum Anshar, Rasulullah ﷺ berkata:

«أَلَا تَرْضَوْنَ أَنْ أَرْجِعَ النَّاسُ بِالشَّاةِ وَالْبَعِيرِ، وَتَرْجِعُوا أَنْتُمْ بِرَسُولِ اللَّهِ؟»

“Tidakkah kalian ridha jika manusia pulang membawa kambing dan unta, sedangkan kalian pulang membawa Rasulullah?”

Baca Juga :  Bilal bin Rabah: Kisah Iman, Perjuangan, dan Suara Azan Pertama dalam Islam

Mendengar ucapan itu, kaum Anshar menangis karena terharu.

Mereka sadar bahwa kedudukan mereka di sisi Rasulullah ﷺ jauh lebih besar daripada sekadar harta dunia.

Kelembutan Rasulullah ﷺ kepada Orang Kasar

Dalam peristiwa Hunain juga muncul kisah tentang Dzul Khuwaishirah, seorang Arab Badui yang berbicara kasar kepada Rasulullah ﷺ saat pembagian harta.

Ia berkata dengan nada keras agar Rasulullah ﷺ berlaku adil.

Padahal saat itu Nabi ﷺ sedang membagikan seluruh harta demi kepentingan umat dan tidak mengambil sedikit pun untuk dirinya sendiri.

Meski demikian, Rasulullah ﷺ tidak marah berlebihan. Beliau tetap sabar dan memilih menahan diri.

Sikap ini menunjukkan besarnya kesabaran Rasulullah ﷺ dalam menghadapi manusia yang keras dan kasar.

Beliau tidak membalas keburukan dengan keburukan.

Pentingnya Menjaga Hati Manusia

Dalam banyak kesempatan, Rasulullah ﷺ sangat memperhatikan kondisi hati manusia.

Beliau tidak ingin tindakan tertentu justru membuat orang menjauh dari Islam.

Karena itu, saat sebagian sahabat meminta izin membunuh orang munafik, Rasulullah ﷺ menolak dan bersabda:

«مَعَاذَ اللَّهِ أَنْ يَتَحَدَّثَ النَّاسُ أَنِّي أَقْتُلُ أَصْحَابِي»

“Semoga Allah melindungi (aku) dari anggapan manusia bahwa aku membunuh para sahabatku.”

Hadis ini menunjukkan pentingnya menjaga citra Islam dan menghindari hal-hal yang bisa menimbulkan prasangka buruk di tengah masyarakat.

Pelajaran Besar dari Perang Hunain

Peristiwa Hunain bukan hanya kisah perang dan pembagian harta rampasan.

Di balik itu terdapat pelajaran besar tentang cara memahami manusia, pentingnya kelembutan, serta hikmah dalam berdakwah.

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa manusia bisa berubah jika didekati dengan akhlak yang baik. Musuh dapat menjadi sahabat, dan kebencian bisa berubah menjadi cinta.

Beliau juga menunjukkan bahwa tujuan utama dakwah adalah menyelamatkan manusia, bukan sekadar memenangkan perdebatan atau mencari keuntungan dunia.

Karena itu, dakwah membutuhkan kesabaran, keluasan hati, dan kemampuan memahami kondisi manusia.

Semua itu tampak jelas dalam akhlak Rasulullah ﷺ yang penuh kasih sayang dan kebijaksanaan.

Penutup

Kisah setelah Perang Hunain memperlihatkan bagaimana Rasulullah ﷺ membangun dakwah dengan kelembutan dan hikmah. Beliau memahami bahwa hati manusia tidak selalu bisa disentuh dengan kekerasan atau perdebatan panjang.

Melalui hadiah, perhatian, dan nasihat yang tepat, banyak orang akhirnya mencintai Islam dengan sepenuh hati. Dari peristiwa ini, umat Islam belajar bahwa akhlak yang baik sering kali menjadi jalan paling kuat untuk membuka pintu hidayah.(ust)

Selesai, Wallahu a’lam

Berita Terkait

5 Rasul Ulul Azmi dan Keteguhan Dakwah Mereka
Uwais al-Qarni, Lelaki Saleh yang Dirindukan Langit
Kisah Taubat Pemuda dan Luasnya Ampunan Allah
Kisah Taubat Fudail bin Iyadh dari Perampok Jadi Sufi
Pelajaran Besar dari Hunain tentang Tauhid dan Keteguhan (Bag.4)
Hawazin Pilih Masuk Islam Setelah Perang Hunain(Bag.3)
Sakinah Allah Turun di Tengah Perang Hunain(Bag.2)
Perang Hunain: Saat Jumlah Besar Tak Menjamin Menang (Bag.1)
Berita ini 8 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 15:00 WIB

Uwais al-Qarni, Lelaki Saleh yang Dirindukan Langit

Sabtu, 23 Mei 2026 - 14:00 WIB

Kisah Taubat Pemuda dan Luasnya Ampunan Allah

Sabtu, 23 Mei 2026 - 13:00 WIB

Kisah Taubat Fudail bin Iyadh dari Perampok Jadi Sufi

Kamis, 21 Mei 2026 - 13:00 WIB

Cara Rasulullah ﷺ Menenangkan Hati di Perang Hunain(Bag.5)

Kamis, 21 Mei 2026 - 12:00 WIB

Pelajaran Besar dari Hunain tentang Tauhid dan Keteguhan (Bag.4)

Berita Terbaru

ciri-ciri haji Mabrur( Poto : detiknews).

Fiqih

7 Ibadah Hati Penentu Haji Mabrur yang Harus Dihidupkan

Rabu, 27 Mei 2026 - 19:10 WIB

Kitab Al-ahkam Al-Kitabiyah merupakan salah satu Kitab Fiqih ( Poto : arabicbookshop.net).

Fiqih

Pengertian Fiqih Islam dan Cabang Ilmunya

Rabu, 27 Mei 2026 - 15:00 WIB

Hadist Arba'in bagian ke dua tentang Islam dan Ikhsan,( Poto : bersamadakwah )

Hadist

Hadits Arbain Nawawi 2 tentang Islam dan Ihsan

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:00 WIB

Hadist Arba'in Nawawi tentang Niat ( Poto : Menuntut Ilmu ).

Hadist

Hadits Arbain Nawawi 1 tentang Pentingnya Niat

Rabu, 27 Mei 2026 - 11:00 WIB

Ilustrasi menantu bersalaman dengan mertua ( Poto : ist).

Fiqih

Salaman dengan Mertua, Apakah Wudhu Batal?

Rabu, 27 Mei 2026 - 09:00 WIB