Hawazin Pilih Masuk Islam Setelah Perang Hunain(Bag.3)

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 21 Mei 2026 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustarsi Perang Hunain ( Poto : LDII Kediri ).

Ilustarsi Perang Hunain ( Poto : LDII Kediri ).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Kaum Hawazin masuk Islam setelah kekalahan mereka dalam Perang Hunain. Mereka datang menemui Rasulullah ﷺ di Ji‘ranah sekitar dua puluh hari setelah peperangan berakhir.

Kedatangan itu menjadi salah satu momen penting dalam sejarah Islam karena menunjukkan bagaimana dakwah Rasulullah ﷺ mampu melunakkan hati musuh yang sebelumnya memerangi kaum muslimin.

Allah Ta’ala berfirman:

ثُمَّ يَتُوبُ ٱللَّهُ مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. At-Taubah: 26)

Kaum Hawazin datang dalam keadaan telah menerima Islam. Mereka meminta agar keluarga dan tawanan mereka dikembalikan. Rasulullah ﷺ pun memperlakukan mereka dengan penuh kelembutan.

Jumlah tawanan ketika itu mencapai sekitar enam ribu orang, terdiri dari wanita dan anak-anak. Nabi ﷺ memberi pilihan kepada mereka: mengambil kembali harta rampasan atau mengambil kembali keluarga mereka.

Tanpa ragu, mereka memilih keluarga dan anak-anak mereka.

Rasulullah ﷺ Mengembalikan Tawanan Hawazin

Rasulullah ﷺ lalu mengembalikan seluruh tawanan kaum Hawazin. Sementara harta rampasan perang dibagikan kepada pasukan muslim yang ikut bertempur dalam Perang Hunain.

Dalam pembagian itu, Rasulullah ﷺ juga memberi bagian besar kepada sebagian tokoh Quraisy dan para mualaf baru. Tujuannya bukan karena pilih kasih, tetapi untuk melembutkan hati mereka agar semakin kuat memeluk Islam.

Beberapa tokoh bahkan mendapat hadiah seratus ekor unta.

Salah satu penerima hadiah itu ialah Malik bin ‘Auf an-Nadhri, mantan pemimpin Hawazin yang sebelumnya memimpin pasukan melawan kaum muslimin. Rasulullah ﷺ bahkan mengangkatnya kembali menjadi pemimpin kaumnya setelah ia masuk Islam.

Sikap Rasulullah ﷺ membuat Malik bin ‘Auf kagum. Ia kemudian memuji Nabi ﷺ melalui syair yang terkenal.

Di antara isi qasidahnya berbunyi:

Aku tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar
di tengah seluruh manusia seseorang seperti Muhammad.

Paling menepati janji dan paling banyak memberi,
bila diminta kebaikan; dan kapan pun engkau kehendaki,
ia mampu mengabarkan apa yang akan terjadi esok hari.

Syair itu menunjukkan besarnya penghormatan Malik kepada Rasulullah ﷺ setelah mengenal akhlak beliau secara langsung.

Hawazin Meminta Keluarga Mereka Dikembalikan

Delegasi Hawazin kemudian berbicara langsung kepada Rasulullah ﷺ di Ji‘ranah. Mereka memohon agar keluarga mereka dibebaskan.

Mereka berkata:

“Wahai Rasulullah, kami memiliki keluarga dan kerabat. Kami telah tertimpa musibah yang tidak tersembunyi bagimu. Maka berilah kami sebagian dari apa yang Allah berikan kepadamu.”

Rasulullah ﷺ lalu bertanya:

“أَبْنَاؤُكُمْ وَنِسَاؤُكُمْ أَحَبُّ إِلَيْكُمْ أَمْ أَمْوَالُكُمْ؟”

“Anak-anak dan wanita kalian lebih kalian cintai atau harta kalian?”

Mereka menjawab bahwa keluarga lebih mereka cintai dibanding harta.

Baca Juga :  Nabi Yusya’ bin Nun: Penakluk Baitul Maqdis

Mendengar itu, Rasulullah ﷺ langsung bersabda:

“أَمَّا مَا كَانَ لِي وَلِبَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَهُوَ لَكُمْ”

“Adapun yang menjadi bagianku dan bagian Bani Abdul Muththalib, maka itu untuk kalian.”

Beliau juga meminta kaum muslimin ikut membantu mengembalikan tawanan Hawazin. Sebagian besar sahabat menerima permintaan itu dengan lapang dada.

Kaum Muhajirin bahkan berkata:

“Apa yang menjadi bagian kami, maka itu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Namun ada beberapa tokoh Arab yang awalnya menolak menyerahkan bagian mereka. Rasulullah ﷺ kemudian menjanjikan pengganti pada pembagian rampasan perang berikutnya.

Akhirnya para tawanan pun dikembalikan kepada kaum Hawazin.

Kisah Dzul Khuwaishirah yang Menuduh Nabi Tidak Adil

Di tengah pembagian harta rampasan perang, muncul seorang laki-laki bernama Dzul Khuwaishirah. Ia datang ketika Rasulullah ﷺ sedang membagikan harta kepada manusia.

Dengan nada keras, ia berkata:

“Wahai Muhammad, berlakulah adil!”

Ucapan itu membuat suasana menjadi tegang. Rasulullah ﷺ lalu menjawab:

“وَيْلَكَ، وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ؟ لَقَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ”

“Celakalah engkau! Siapa yang akan berlaku adil jika aku tidak berlaku adil? Sungguh engkau akan rugi dan merugi jika aku tidak berlaku adil.”

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu sempat meminta izin untuk membunuh orang tersebut. Namun Rasulullah ﷺ melarangnya.

Beliau bersabda:

“مَعَاذَ اللَّهِ، أَنْ يَتَحَدَّثَ النَّاسُ أَنِّي أَقْتُلُ أَصْحَابِي”

“Aku berlindung kepada Allah dari ucapan orang-orang bahwa aku membunuh para sahabatku.”

Rasulullah ﷺ juga memperingatkan bahwa dari kelompok orang seperti itu nanti akan muncul kaum yang rajin membaca Al-Qur’an, tetapi tidak memahami hakikat agama.

Beliau bersabda:

“إِنَّ هَذَا وَأَصْحَابَهُ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنْهُ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ”

“Sesungguhnya orang ini dan pengikutnya membaca Al-Qur’an, tetapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat dari sasarannya.”

Kaum Anshar Sempat Merasa Sedih

Pembagian harta rampasan perang juga membuat sebagian kaum Anshar merasa kecewa. Mereka melihat banyak tokoh Quraisy mendapat bagian besar, sedangkan mereka tidak memperoleh hal serupa.

Baca Juga :  Raja Najasyi Wariskan Teladan Tauhid dan Toleransi di Habasyah

Kabar itu sampai kepada Rasulullah ﷺ melalui Sa‘d bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu.

Rasulullah ﷺ lalu mengumpulkan kaum Anshar dan berbicara langsung kepada mereka dengan penuh kelembutan.

Beliau bersabda:

“يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ، مَا قَالَةٌ بَلَغَتْنِي عَنْكُمْ؟”

“Wahai kaum Anshar, apa ucapan yang sampai kepadaku dari kalian?”

Kaum Anshar menjelaskan bahwa sebagian anak muda mereka merasa heran karena Rasulullah ﷺ banyak memberi kepada Quraisy.

Mendengar itu, Rasulullah ﷺ mengingatkan jasa besar kaum Anshar sejak awal dakwah Islam.

Beliau bersabda:

“أَلَمْ آتِكُمْ ضُلَّالًا فَهَدَاكُمُ اللَّهُ، وَعَالَةً فَأَغْنَاكُمُ اللَّهُ، وَأَعْدَاءً فَأَلَّفَ اللَّهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ؟”

“Bukankah dahulu kalian dalam keadaan sesat lalu Allah memberi kalian petunjuk, kalian dalam keadaan miskin lalu Allah mencukupkan kalian, dan kalian saling bermusuhan lalu Allah menyatukan hati kalian?”

Beliau juga menyampaikan kalimat yang membuat kaum Anshar menangis haru.

“Tidakkah kalian ridha, wahai kaum Anshar, bahwa manusia kembali dengan kambing dan unta, sedangkan kalian kembali membawa Rasulullah ke tempat tinggal kalian?”

Mendengar itu, kaum Anshar menangis hingga janggut mereka basah.

Mereka berkata:

“Kami ridha dengan Rasulullah sebagai bagian kami dan pembagian yang kami terima.”

Pelajaran Penting dari Perang Hunain

Peristiwa Hawazin masuk Islam menyimpan banyak pelajaran penting bagi umat Islam.

Salah satunya ialah bahwa kemenangan tidak ditentukan oleh jumlah pasukan. Saat Perang Hunain, kaum muslimin sempat merasa percaya diri karena jumlah mereka sangat banyak.

Sebagian bahkan berkata bahwa mereka tidak akan kalah karena jumlah yang besar.

Namun Rasulullah ﷺ tidak menyukai ucapan tersebut. Hunain menjadi pelajaran bahwa kemenangan hanya datang dari pertolongan Allah.

Selain itu, kisah ini juga mengajarkan pentingnya menjaga hati dari sifat ujub atau bangga diri.

Pelajaran lainnya ialah tentang kelembutan Rasulullah ﷺ dalam berdakwah. Meski Hawazin sebelumnya memerangi kaum muslimin, Nabi ﷺ tetap memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang.

Beliau tidak membalas dendam, bahkan mengembalikan keluarga mereka dan membantu menguatkan hati mereka agar semakin dekat kepada Islam.

Penutup

Masuk Islamnya kaum Hawazin setelah Perang Hunain menjadi bukti besarnya pengaruh akhlak Rasulullah ﷺ. Dengan kelembutan, kebijaksanaan, dan keadilan, beliau mampu mengubah musuh menjadi saudara seiman.

Peristiwa ini juga menunjukkan bahwa Islam tidak dibangun di atas balas dendam, melainkan kasih sayang, kesabaran, dan ketulusan dalam membimbing manusia menuju hidayah.(ust)

(Bersambung ke bag.4 )

Berita Terkait

Kedudukan Perempuan Sebelum Islam dan Perubahan Besar yang Dibawa Islam
Kriminalisasi Kritik dalam Sejarah Islam dan Keteguhan Imam Ahmad
Raja Najasyi Wariskan Teladan Tauhid dan Toleransi di Habasyah
Kisah Sahabat Nabi Menegur Penguasa, Pesan tentang Pemimpin Adil
Rahasia Nama Bulan Hijriah: Budaya Arab Pra-Islam
Filosofi Kepemimpinan Nabi Sulaiman: Kekuasaan dan Keadilan
Biografi Ibnu Sina: Jejak Ilmuwan Muslim yang Mengubah Sejarah Kedokteran Dunia
Terbunuhnya Utsman bin Affan dan Krisis Politik Islam Awal
Berita ini 6 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 11 Juli 2026 - 01:00 WIB

Kriminalisasi Kritik dalam Sejarah Islam dan Keteguhan Imam Ahmad

Jumat, 10 Juli 2026 - 23:00 WIB

Raja Najasyi Wariskan Teladan Tauhid dan Toleransi di Habasyah

Jumat, 10 Juli 2026 - 21:00 WIB

Kisah Sahabat Nabi Menegur Penguasa, Pesan tentang Pemimpin Adil

Kamis, 9 Juli 2026 - 01:00 WIB

Rahasia Nama Bulan Hijriah: Budaya Arab Pra-Islam

Rabu, 8 Juli 2026 - 23:00 WIB

Filosofi Kepemimpinan Nabi Sulaiman: Kekuasaan dan Keadilan

Berita Terbaru

Pimpinan Polda Sumbar dan jajaran DPP MUI serta MUI Sumbar.(poto: padangkita.com).

Berita Islam

Polda Sumbar dan MUI Perkuat Sinergi Penanganan Perkara Keagamaan

Minggu, 12 Jul 2026 - 17:00 WIB

Apakah telur harus di cuci dulu sebelumdi ebus,simak penjelasannya.( poto: nuonline).

Fiqih

Kajian Fiqih, Perlukah Mencuci Telur Sebelum Dimasak?

Sabtu, 11 Jul 2026 - 05:00 WIB