Hukum Syair Menurut Al-Qur’an dan Hadits Lengkap

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 12 September 2026 - 20:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi hukum syair dalam Islam.(poto: AI).

Ilustrasi hukum syair dalam Islam.(poto: AI).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Para ulama memberikan penjelasan mengenai hukum syair dalam islam berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Al-Hadits. Firman Allah Ta’ala memuat teguran keras terhadap para penyair yang menyampaikan kebatilan dalam karya-karya mereka. Umat Islam perlu memahami rincian hukum ini agar tidak salah melangkah dalam menikmati maupun merangkai syair.

Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Asy-Syu’ara ayat 224:

وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ

“Dan para penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat” (QS. Asy-Syu’ara: 224).

Kata asy-syu’ara bermakna para penyair. Ayat tersebut menyoroti para penyair yang memuat kebatilan di dalam bait-bait syairnya. Ibnu Katsir rahimahullah membawakan perkataan para salaf untuk memperjelas makna tersebut:

وقال الحسن البصري : قد – والله – رأينا أوديتهم التي يهيمون فيها ، مرة في شتمة فلان ، ومرة في مدحة فلان . وقال قتادة : الشاعر يمدح قوما بباطل ، ويذم قوما بباطل

“Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan: “Sungguh demi Allah kami melihat lembah-lembah yang dilewati para penyair itu. Terkadang mereka mencela si fulan dengan syairnya, terkadang mereka memuji si fulan”. Qatadah rahimahullah berkata: “Para penyair biasanya memuji suatu kaum secara batil dan mencela suatu kaum secara batil”” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/172).

Tuduhan Penyair Kafir Terhadap Rasulullah

Imam Al-Baghawi rahimahullah turut memberikan penjelasan mengenai konteks penafsiran ayat tersebut. Beliau menerangkan sosok-sosok penyair yang kerap menyerang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui karangan mereka:

أراد شعراء الكفار الذين كانوا يهجون رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ، وذكر مقاتل أسماءهم ، فقال : منهم عبد الله بن الزبعرى السهمي ، وهبيرة بن أبي وهب المخزومي ، ومشافع بن عبد مناف . وأبو عزة بن عبد الله الجمحي ، وأمية بن أبي الصلت الثقفي ، تكلموا بالكذب وبالباطل ، وقالوا : نحن نقول مثل ما يقول محمد

“Yang dimaksud dalam ayat ini adalah para penyair kaum kafir yang dahulu sering menyerang Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Dan disebutkan perintah untuk memerangi nama mereka (dalam syair). Para ulama menyebutkan, bahwa di antara penyair tersebut adalah Abdullah bin Az-Zab’ari As-Sahmi, Haibarah bin Abi Wahb Al-Makhzumi, Musafi’ bin Abdi Manaf, Abu Ghazzah bin Abdillah Al-Juhmi, Umayyah bin Abi Ash-Shalt Ats-Tsaqafi. Mereka semua mengucapkan dusta dan kebatilan (dalam syair mereka). Mereka juga berkata: kami sekedar mengucapkan seperti yang diucapkan Muhammad” (Tafsir Al-Baghawi, 6/135).

Para penyair kafir mengklaim kalimat mereka sama seperti ucapan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menganggap Al-Qur’an yang beliau sampaikan hanyalah sebatas syair biasa. Allah Ta’ala membantah tuduhan tersebut melalui Surah Ath-Thur ayat 31-33:

أَمْ يَقُولُونَ شَاعِرٌ نَتَرَبَّصُ بِهِ رَيْبَ الْمَنُونِ قُلْ تَرَبَّصُوا۟ فَإِنِّى مَعَكُم مِّنَ ٱلْمُتَرَبِّصِينَ أَمْ تَأْمُرُهُمْ أَحْلَٰمُهُم بِهَٰذَآ ۚ أَمْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ

“Bahkan mereka mengatakan: “Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya”. Katakanlah: “Tunggulah, maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu”. Apakah mereka diperintah oleh fikiran-fikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas?” (QS. Ath-Thur: 31-33).

Baca Juga :  Ilmu Tanpa Takwa Tak Akan Menyentuh Hati

Perbedaan Karakter Pengikut Syair dan Al-Qur’an

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menguraikan perbedaan mendasar antara pengagum syair kebatilan dan pengikut Al-Qur’an. Beliau menegaskan bahwa Al-Qur’an bukanlah karya puisi atau syair buatan manusia:

فإِنَّه لا يَتَّبِعُ الشعرَ غالبًا إِلَّا الغواةُ، فهو باطلٌ، وهذا القُرآنُ ليس كذلك، هذا القُرانُ لا يتبعه إلا أهلُ الرُّشْدِ والسَّدادِ، فدَلَّ ذلك على أنه ليسَ بالشعرِ؛ لأن الغالبَ أن الشعرَ لا يَتَّبِعُه إلّا الغاوونَ

“Yang mengikuti syair-syair mereka umumnya adalah orang-orang sesat. Maka syair-syair mereka adalah kebatilan. Adapun Al-Qur’an, tidaklah demikian. Yang mengikuti Al-Qur’an adalah orang-orang yang berpikir dan lurus akalnya. Maka ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukanlah syair. Karena umumnya syair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat” (Tafsir Surah Asy-Syu’ara, hal. 311).

Imam Ath-Thabari merangkum empat pendapat ulama mengenai makna kata al-ghawun dalam Tafsir Ath-Thabari (19/416). Pendapat-pendapat ini menerangkan golongan yang mengikuti para penyair sesat tersebut:

  1. Maknanya adalah orang-orang yang meriwayatkan syair-syair yang batil. Ini tafsiran dari Ibnu Abbas.

  2. Maknanya adalah para setan. Ini tafsiran dari Mujahid, Qatadah, dan Ikrimah.

  3. Maknanya adalah orang-orang bodoh. Ini tafsiran dari Ibnu Abbas dan Adh-Dhahhak.

  4. Maknanya adalah orang-orang sesat dan orang-orang musyrik. Ini tafsiran Ibnu Abbas dan Ibnu Wahab.

Para ahli tafsir menyimpulkan seluruh pendapat tersebut tidak saling bertentangan. Kita dapat mengompromikan semua pandangan ini secara utuh. Penyair yang sesat di ikuti oleh hamba-hamba yang menyimpang, orang yang gembira menukil syair batil, orang bodoh, penganut musyrik, serta godaan setan.

Namun Al-Qur’an mengecualikan para penyair yang memiliki keimanan dan ketakwaan. Allah Ta’ala melanjutkan firman-Nya dalam Surah Asy-Syu’ara ayat 227:

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيراً وَانتَصَرُوا مِن بَعْدِ مَا ظُلِمُوا

“Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman.” (QS. Asy-Syu’ara’: 247).

Dalil-Dalil yang Melarang dan Membolehkan Syair

Beberapa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperlihatkan ancaman bagi orang yang tenggelam dalam syair kebatilan. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

لأَنْ يَمْتَلِئَ جَوْفُ رَجُلٍ قَيْحًا يَرِيهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا

“Lebih baik salah seorang dari kalian memenuhi perutnya dengan nanah daripada memenuhinya dengan syair.” (HR. Al-Bukhari no. 6155).

Amr bin Syu’aib meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya, mengenai larangan melantunkan syair di tempat ibadah:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ تَنَاشُدِ الْأَشْعَارِ فِي الْمَسْجِدِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang melantunkan syair-syair di masjid“ (HR. Tirmidzi no. 296, di hasankan Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi).

Baca Juga :  Mengapa Umat Islam Lemah? Ini Penjelasan Hadits Nabi

Di sisi lain, terdapat pula dalil sahih yang membolehkan pembacaan syair yang berisi kebaikan. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengisahkan dialog antara Umar bin Khattab dan Hassan bin Tsabit radhiyallahu ‘anhuma:

وَعَنْهُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ؛ أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَرَّ بِحَسَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يُنْشِدُ فِي الْمَسْجِدِ، فَلَحَظَ إلَيْهِ، فَقَالَ: قَدْ كُنْتُ أُنْشِدُ، وَفِيهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ.

“Umar radhiyallahu ‘anhu pernah melewati Hassan bin Tsabit yang sedang bersyair di dalam masjid kemudian beliau memandangnya dengan tajam. Maka Hassan berkata, “Aku pernah bersyair dan di masjid ketika ada seorang yang lebih utama darimu (yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam)” (HR. Al-Bukhari no. 3212 dan Muslim no. 2485).

Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu juga meriwayatkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kandungan hikmah di dalam syair:

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ مِنْ الشِّعْرِ حِكْمَةً

“Sesungguhnya di sebagian syair terdapat hikmah” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 85, di shahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad).

Perincian Hukum Menurut Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menegaskan pentingnya mendudukkan masalah ini secara rinci. Beliau menukil kaidah terkenal dari Imam Asy-Syafi’i rahimahullah:

هذا فيه تفصيل أيضًا، والشعر مثلما قال الشافعي رحمه الله: “حسنه حسن، وقبيحه قبيح”، فالشعر الذي ينصر الحقَّ ويُؤيد الحقَّ، ويهدم الباطل وأهل الباطل؛ هذا مطلوبٌ، هذا مشروعٌ، وهو الذي كان يقوم به حسان بن ثابت ، وعبدالله بن رواحة، وسعد بن مالك، وغيرهم من الشعراء الذين كانوا في عهده ﷺ وبعده. أما إذا كان الشعر في ذمِّ الحق، ومدح الخنا والفساد، والدعوة إلى الزنا والفجور؛ فهذا منكرٌ محض لا يجوز

“Hal ini juga memerlukan perincian. Hukum syair sebagaimana dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, “Syair yang baik maka baik hukumnya, dan syair yang jelek maka jelek hukumnya”. Syair yang mendukung kebenaran dan menghancurkan kebatilan serta para pelakunya, maka ini di tuntut dalam agama dan di syariatkan. Dan itulah yang dilakukan Hassan bin Tsabit radhiyallahu’anhu, Abdullah bin Rawahah radhiyallahu’anhu, Sa’ad bin Malik radhiyallahu’anhu, dan para penyair lainnya yang ada di zaman Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Namun, jika syairnya mencela kebenaran, memuji pengkhianatan dan kejahatan, serta menyerukan perzinaan dan maksiat, maka ini jelas kemungkaran dan tidak di perbolehkan” (Fatawa Ad Durus, no.413).

Pemaparan para ulama di atas membuktikan bahwa Islam tidak mengharamkan seni syair secara mutlak. Karya sastra yang berisi ajaran tauhid, pembelaan agama, serta nasihat kebaikan justru mendapat tempat yang mulia. Sebaliknya, syair yang mengandung celaan, dusta, dan ajakan kemaksiatan tergolong sebagai perbuatan yang terlarang.(ust)

Berita Terkait

Tanda Husnul Khotimah dan Keutamaan Pujian Orang Beriman
Rahasia Dialog Allah dan Hamba dalam Surat Al-Fatihah
Hadits tentang Maulid Nabi, Adakah Perintah Merayakannya?
Siapa yang Setia Menemani Manusia di Dalam Kubur?
Gambaran Azab Neraka yang Mengerikan Menurut Alquran dan Hadis
Alasan Gunung Uhud Disebut Gunung Surga dalam Hadis
Keutamaan Sujud: Kunci Meraih Surga dan Kedekatan dengan Nabi
3 Orang yang Doanya Paling Mustajab Menurut Hadis Nabi
Berita ini 2 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 20:07 WIB

Hukum Syair Menurut Al-Qur’an dan Hadits Lengkap

Sabtu, 12 September 2026 - 19:59 WIB

Tanda Husnul Khotimah dan Keutamaan Pujian Orang Beriman

Senin, 31 Agustus 2026 - 08:03 WIB

Rahasia Dialog Allah dan Hamba dalam Surat Al-Fatihah

Selasa, 18 Agustus 2026 - 19:08 WIB

Hadits tentang Maulid Nabi, Adakah Perintah Merayakannya?

Rabu, 12 Agustus 2026 - 09:00 WIB

Siapa yang Setia Menemani Manusia di Dalam Kubur?

Berita Terbaru

Ngaji Ilmu Balagah.(ilustrasi poto: istimewa).

Al-Qur'an

Rahasia Bahasa Al-Qur’an: Kalimat Berita Makna Perintah

Minggu, 13 Sep 2026 - 09:27 WIB

Sikap tegas Ali bin Abi Thalib menolak korupsi.(ilustrasi poto: kemenag.go.id).

Sejarah

Ketegasan Ali bin Abi Thalib Menjaga Amanah Kas Negara

Minggu, 13 Sep 2026 - 09:18 WIB

Ilustrasi Imam Abu Hanifah menolak Jabatan.(poto: istimewa).

Sejarah

Integritas Imam Abu Hanifah Hindari Konflik Kepentingan

Minggu, 13 Sep 2026 - 09:13 WIB

Wawancara beserta awak media setelah acara pembukaan MTQ Nasional di Semarang, Sabtu (12/9/2026).(poto: kemenag.go.id).

Berita Islam

MTQ Nasional XXXI Semarang 2026 Integrasikan AI dan UMKM

Minggu, 13 Sep 2026 - 09:05 WIB