Jakarta, dorlanhikmah.com – Setiap manusia perlu mewaspadai dampak buruk perbuatan maksiat terhadap kehidupan spiritual mereka. Perilaku menyimpang ini dapat meredupkan cahaya akal sekaligus merusak kondisi hati secara perlahan.
Ketika seseorang terus-menerus melakukan kemaksiatan, kekuatan akalnya akan semakin melemah untuk menolak dosa. Pada saat yang sama, tumpukan dosa tersebut membuat kalbu berkarat dan menutupinya dari petunjuk ilahi.
Pandangan Ibnu Qayyim tentang Bahaya Maksiat
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitab Ad-Da’ wa ad-Dawa’ menerangkan bahwa kemaksiatan merusak akal manusia. Beliau menegaskan bahwa akal merupakan cahaya, sedangkan maksiat bertindak mematikan sinar tersebut.
Padamnya sinar cahaya tersebut akan melemahkan kalbu seseorang dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Para ulama salaf bahkan menyebutkan bahwa seseorang melanggar perintah Allah karena akalnya mengalami pengurangan.
Seseorang yang memiliki akal sempurna pasti akan segera meninggalkan maksiat saat berhadapan dengan godaan. Ia menyadari sepenuhnya keberadaan dirinya berada dalam genggaman Allah Yang Maha Memelihara.
Pengawasan Allah dan Peringatan Alquran
Allah selalu melihat serta memantau hamba-Nya saat berada di dalam rumah maupun pada setiap aktivitas. Para malaikat pun ikut menyaksikan seluruh perbuatan yang manusia lakukan sepanjang hidup.
Alquran, kematian, hingga ancaman neraka sebenarnya telah memberikan nasihat serta larangan secara jelas. Namun, kenikmatan semu akibat berbuat dosa justru sering menghapus berbagai kebaikan dunia dan akhirat.
Sikap mendatangi kehinaan tersebut menandakan bahwa seseorang telah menjadi figur yang lalai dan lupa. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan fenomena spiritual ini melalui firman-Nya:
كَلَّا بَلْ ۜرَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
Kallā bal…rāna ‘alā qulūbihim mā kānū yaksibūn(a).
Artinya: “Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS Al-Muṭaffifin Ayat 14).
Penutupan Hati dan Kendali Setan
Perbuatan dosa yang manusia lakukan secara berulang akan menutupi kalbu dengan kotoran serta karat tebal. Kondisi tersebut membuat seseorang tidak lagi mampu membedakan antara hal hak dan batil.
Kaum salaf mendefinisikan karat hati sebagai tumpukan dosa yang terus-menerus seseorang kerjakan tanpa henti. Hasan menyatakan bahwa dosa berkelanjutan akan membutakan hati lalu menutupinya secara rapat.
Karat yang terus bertambah akibat maksiat akhirnya berubah menjadi kotoran penutup seluruh bagian hati. Keadaan ini membalikkan posisi manusia hingga musuh utama mereka, yakni setan, berhasil menguasai dan menuntunnya.(ust)









Komentar