Mengenal Kitab Maulid Barzanji: Sejarah, Isi, dan Waktu Baca

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 19 Agustus 2026 - 16:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Bacaan Maulid Al barzanji.(poto: istimewa).

Bacaan Maulid Al barzanji.(poto: istimewa).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Umat Islam rutin mengamalkan berbagai syair untuk menunjukkan kecintaan kepada Rasulullah SAW saat memperingati hari kelahiran Nabi. Salah satu karya populer yang memuat riwayat hidup Rasulullah SAW sejak lahir hingga wafat adalah Kitab Maulid Barzanji.

Syaikh Ja’far al-Barzanji mengarang syair indah ini untuk meningkatkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Buku Maulid al-Barzanji karya Ust. Syukron Maksum mencatat bahwa Syaikh Ja’far merupakan seorang ulama keturunan Nabi dari keluarga Sa’adah. Ia lahir pada Kamis awal bulan Dzulhijah tahun 1126 H di Madinah al-Munawwarah dan wafat pada Selasa, 4 Sya’ban tahun 1177 H. Keluarga memakamkannya di Jannatul Baqi’, tempat peristirahatan terakhir anak-anak perempuan Rasulullah SAW.

Tujuan dan Isi Kitab Maulid Barzanji

Penyusun menyusun kitab ini agar umat Islam mampu mempelajari perjalanan hidup Nabi melalui bait-bait syair yang indah. Berbagai kisah penting menghiasi kandungan isi Maulid Barzanji secara mendalam.

Silsilah keturunan Nabi Muhammad SAW menempati bagian awal dari keseluruhan isi kitab. Bagian berikutnya menceritakan masa kecil Rasulullah yang penuh keistimewaan luar biasa serta perjalanan dagang ke Syam bersama sang paman.

Kisah berlanjut pada pernikahan beliau dengan Siti Khadijah dan momen pengangkatan menjadi Rasul pada usia 40 tahun. Penulis juga merangkum perjalanan dakwah menyiarkan ajaran Islam hingga kisah wafatnya di Madinah setelah tugas suci tersebut sempurna.

Waktu Pembacaan Maulid Barzanji

Masyarakat umumnya membacakan syair Maulid Barzanji saat memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW setiap bulan Rabiul Awwal. Tradisi pembacaan ini juga mencakup berbagai momen penting seperti kelahiran bayi dan upacara pemberian nama.

Masyarakat kerap melantunkannya saat mencukur rambut bayi, melaksanakan aqiqah, khitanan, pernikahan, hingga acara syukuran. Kegiatan keagamaan lainnya juga sering memasukkan pembacaan ini karena sholawat Nabi bertujuan memohon berkah dan keselamatan.

Bacaan Maulid Barzanji Lengkap

NU Online merangkum bacaan Maulid Barzanji lengkap beserta teks Arab, latin, dan artinya untuk memudahkan umat Islam melafalkannya.

1. Abtadiul imla-a

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. أَبْتَدِئُ الْإِمْلَاءَ بِاسْمِ الذَّاتِ الْعَلِيَّةِ. مُسْتَدِرًّا فَيْضَ الْبَرَكَاتِ عَلَى مَا أَنَالَهُ وَأَوْلَاهُ. وَأُثَنِّيْ بِحَمْدٍ مَوَارِدُهُ سَائِغَةٌ هَنِيَّةٌ. مُمْتَطِيًا مِنَ الشُّكْرِ الْجَمِيْلِ مَطَايَاهُ. وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى النُّوْرِ الْمَوْصُوْفِ بِالتَّقَدُّمِ وَالْأَوَّلِيَّةِ. اَلْمُنْتَقِلِ فِي الْغُرَرِ الْكَرِيْمَةِ وَالْجِبَاهِ. وَأَسْتَمْنِحُ اللهَ تَعَالَى رِضْوَانًا يَخُصُّ الْعِتْرَةَ الطَّاهِرَةَ النَّبَوِيَّةَ. وَيَعُمُّ الصَّحَابَةَ وَالْأَتْبَاعَ وَمَنْ وَالَاهُ. وَأَسْتَجْدِيْهِ هِدَايَةً لِسُلُوْكِ السُّبُلِ الْوَاضِحَةِ الْجَلِيَّةِ. وَحِفْظًا مِنَ الْغَوَايَةِ فِيْ خِطَطِ الْخَطَاءِ وَخُطَاهُ. وَأَنْشُرُ مِنْ قِصَّةِ الْمَوْلِدِ النَّبَوِيِّ بُرُوْدًا حِسَانًا عَبْقَرِيَّةً. نَاظِمًا مِنَ النَّسَبِ الشَّرِيْفِ عِقْدًا تُحَلَّى الْمَسَامِعُ بِحُلَاهُ. وَأَسْتَعِيْنُ بِحَوْلِ اللهِ تَعَالَى وَقُوَّتِهِ الْقَوِيَّةِ. فَإِنَّهُ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

Bismillâhirraḫmânirraḫîm. Abtadi’ul-imlâ’a bismidz-dzâtil-‘aliyyah. mustadirran faidlal-barâkâti ‘alâ mâ anâ lahu wa aulâh, wa utsannî biḫamdin mawâriduhu sâ’ighatun haniyyah. mumtathiyan minasy-syukril-jamîli mâ thâyâh, wa ushallî wa usallimu ‘alan-nûril-maushûfi bit-taqaddumi wal-awwaliyyah. al-muntaqili fil-ghuraril-karîmati wal-jibâh, wa astamniḫullâha ta’âlâ ridlwânan yakhushshul-‘itratath-thâhiratan-nabawiyyah. wa ya’ummush-shaḫâbata wal-atbâ’a wa man wâlâh, wa astajdîhi hidâyatan lisulûkis-subulil-wâdliḫatil-jaliyyah. wa ḫifdhan minal-ghawâyati fî khithathil-khathâ’i wa khuthâhu, wa ansyuru min qishshatil-maulidin-nabawiyyi burûdan ḫisânan ‘abqariyyah. nâdhiman minan-nasabisy-syarîfi ‘iqdan tuḫallal-masâmiḫu biḫulâh, wa asta’înu biḫaulillâhi ta’âlâ wa quwwatihil-qawiyyah, fa innahu lâ ḫaula wa lâ quwwata illâ billâhi.

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku mulai membacakan dengan nama Dzat Yang Mahatinggi. Dengan memohon limpahan keberkahan atas apa yang Allah SWT berikan dan karuniakan kepadanya (Nabi Muhammad SAW). Aku memuji dengan pujian yang sumbernya selalu membuatku menikmati. Dengan mengendarai rasa syukur yang indah. Aku mohonkan sholawat dan salam (rahmat dan kesejahteraan) atas cahaya yang disifati dengan kedahuluan (atas makhluk lain) dan keawalan (atas seluruh makhluk). Yang berpindah-pindah pada orang-orang yang mulia. Aku memohon kepada Allah SWT karunia keridhaan yang khusus bagi keluarga beliau yang suci. Dan umumnya bagi para sahabat, para pengikut, dan orang yang dicintainya. Dan aku meminta tolong kepada-Nya agar mendapat petunjuk untuk menempuh jalan yang jelas dan terang. Dan terpelihara dari kesesatan di tempat-tempat dan jalan-jalan kesalahan. Aku sebar luaskan kain yang baik lagi indah tentang kisah kelahiran Nabi SAW. Dengan merangkai puisi mengenai keturunan yang mulia sebagai kalung yang membuat telinga terhias dengannya. Dan aku minta tolong dengan daya Allah SWT Ta’ala dan kekuatan-Nya yang kuat. Karena, sesungguhnya tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah SWT.”

2. Waba’du fa-aqulu

وَبَعْدُ؛ فَأَقُوْلُ هُوَ سَيِّدُنَا مُحَمَّدٌ ࣙ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَاسْمُهُ شَيْبَةُ الْحَمْدِ حُمِدَتْ خِصَالُهُ السَّنِيَّةُ. ابْنِ هَاشِمٍ وَاسْمُهُ عَمْرُو بْنُ عَبْدِ مَنَافٍ وَاسْمُهُ الْمُغِيْرَةُ الَّذِيْ يَنْتَمِي الْاِرْتِقَاءُ لِعُلْيَاهُ. اِبْنِ قُصَيِّ وَاسْمُهُ مُجَمِّعٌ سُمِّيَ بِقُصَيِّ لِتَقَاصِيْهِ فِيْ بِلَادِ قُضَاعَةَ الْقَصِيَّةِ. إِلَى أَنْ أَعَادَهُ اللهُ تَعَالَى إِلَى الْحَرَمِ الْمُحْتَرَمِ فَحَمَى حِمَاهُ. اِبْنِ كِلَابٍ وَاسْمُهُ حَكِيْمُ ابْنُ مُرَّةَ بْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيِّ بْنِ غَالِبِ بْنِ فِهْرٍ وَاسْمُهُ قُرَيْشٌ وَإِلَيْهِ تُنْسَبُ الْبُطُوْنُ الْقُرَشِيَّةُ. وَمَا فَوْقَهُ كِنَانِيٌّ كَمَا جَنَحَ إِلَيْهِ الْكَثِيْرُ وَارْتَضَاهُ. اِبْنِ مَالِكِ ابْنِ النَّضْرِ بْنِ كِنَانَةَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ مُدْرِكَةَ بْنِ إِلْيَاسَ وَهُوَ أَوَّلُ مَنْ أَهْدَى الْبُدْنَ إِلَى الرِّحَابِ الْحَرَمِيَّةِ. وَسُمِعَ فِيْ صُلْبِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ اللهَ تَعَالَى وَلَبَّاهُ. اِبْنِ مُضَرَ بْنِ نِزَارِ بْنِ مَعَدِّ بْنِ عَدْنَانَ وَهٰذَا سِلْكٌ نَظَّمَتْ فَرَآئِدَهُ بَنَانُ السُّنَّةِ السَّنِيَّةِ. وَرَفْعُهُ إِلَى الْخَلِيْلِ إِبْرَاهِيْمَ أَمْسَكَ عَنْهُ الشَّارِعُ وَأَبَاهُ. وَعَدْنَانُ بِلَا رَيْبٍ عِنْدَ ذَوِي الْعُلُوْمِ النَّسَبِيَّةْ. إِلَى الذَّبِيْحِ إِسْمَاعِيْلَ نِسْبَتُهُ وَمُنْتَمَاهُ. فَأَعْظِمْ بِهِ مِنْ عِقْدٍ تَأَلَّقَتْ كَوَاكِبُهُ الدُّرِّيَّةُ. وَكَيْفَ لَا وَالسَّيِّدُ الْأَكْرَمُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاسِطَتُهُ الْمُنْتَقَاهُ.

Wa ba’du, fa aqûlu huwa sayyidunâ muhammadubnu ‘abdillâhib-ni ‘abdil muththalibi wasmuhu syaibatul-ḫamdi ḫumidat khishâluhus-saniyyah, ibni hâsyimin wasmuhu ‘amrub-nu ‘abdi manâfin wasmuhul-mughîratul-ladzî yantamil-irtiqâ’u li ‘ulyâh, ibni qushayyin wasmuhu mujammi’un summiya biqushayyin litaqâshîhi fî bilâdi qudlâ’atal qashiyyah. ilâ an a’âdahullâhu ta’âlâ ilal-haramil-muḫtarami faḫama ḫimâh, ibni kilâbin wasmuhu ḫakîmub-ni murratab-ni ka’bib-ni luayyib-ni ghâlibib-ni fihrin wasmuhu quraisyun wa ilaihi tunsabul-buthûnul-qurasyiyyah. wa mâ fauqahu kinâniyun kamâ janaḫa ilaihil katsîru wartadlâh, ibni mâlikib-nin-nadlrib-ni kinânatab-ni khuzaimatab-ni mudrikatab-ni ilyâsa wa huwa awwalu man ahdal-budna ilar-riḫâbil haramiyyah. wasumi’a fî shulbihin-nabiyyu shallAllahu alaihi wa sallama dzakarAllah ta’âlâ wa labbâh, ibni mudlarabni nizâribni ma’addib-ni ‘adnâna wa hâdzâ silkun nadhdhamat farâ’idahu banânus-sunnatis-saniyyah. wa raf’uhu ilal-khalîli ibrâhîma amsaka ‘anhusy-syâri’u wa abâh, wa ‘adnânu bilâ raibin ‘inda dzawil ‘ulûmin-nasabiyyah. iladz-dzabîhi ismâ’îla nisbatuhu wa muntamâh, fa a’dhim bihi min ‘iqdin ta’allaqat kawâkibuhud-durriyyah, wa kaifa lâ was-sayyidul-akramu shallAllahu’alaihi wa sallama wâsithatuhul-muntaqâh.

Artinya: “Setelah itu aku berkata: Dia adalah junjungan kita, Nabi Muhammad bin Abdullah bin Abdil Muththalib. Namanya adalah Syaibatul Hamdi, dan perilaku luhurnya terpuji. Ia putra Hasyim yang bernama asli ‘Amr, putra Abdi Manaf yang bernama Mughirah. Ia putra Qushay yang bernama Mujammi’ dan mendapat julukan tersebut karena pergi ke negeri Qudha’ah. Allah Ta’ala mengembalikannya ke tanah haram terhormat lalu memeliharanya. Ia putra Kilab, Murrah, Ka’ab, Luayy, hingga Fihr yang berjuluk Quraisy. Orang di atasnya berasal dari Kabilah Kinanah menurut pendapat banyak ulama. Fihr merupakan putra Malik, Nadhr, Kinanah, Khuzaimah, Mudrikah, hingga Ilyas. Ilyas adalah orang pertama yang mempersembahkan unta ke Baitul Haram. Di tulang punggungnya, Nabi SAW terdengar menyebut dan memenuhi panggilan Allah Ta’ala. Ia adalah putra Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan sebagai rangkaian sunnah tinggi. Syari’ menahan diri untuk menyebut nasab di atas Adnan hingga Nabi Ibrahim. Nasab Adnan tersambung dengan pasti kepada Dzabih yaitu Nabi Ismail. Alangkah agungnya untaian permata bintang gemerlapan tersebut. Tuan yang paling mulia yaitu Nabi Muhammad SAW menjadi pusat pilihan.”

سَبٌ تَحْسَبُ الْعُلَا بِحَلَاهُ ۞ قَلَّدَتْهَا نُجُوْمَهَا الْجَوْزَاءُ

Nasabun taḫsibul-‘ulâ biḫulâhu ۞ qalladathâ nujûmahal jauzâ`u

Artinya: “Itulah nasab yang diyakini ketinggiannya karena kebersihannya. Bintang Jauza’ telah merangkai bintang-bintangnya.”

حَـبَّذَا عِقْدُ سُوْدَدٍ وَفَخَـــــارٍ ۞ أَنْتَ فِيْهِ الْيَتِيْمَةُ الْعَصْمَاءُ

Ḫabbadzâ ‘iqdu sûdadin wa fakhârin ۞ anta fîhil yatîmatul ‘ashmâ’u

Artinya:Alangkah indahnya untaian kesempurnaan dan kemegahan, sedangkan engkau padanya merupakan permata tunggal yang terpelihara.”

Baca Juga :  Perjalanan Menuntut Ilmu Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani

وَأَكْرِمْ بِهِ مِنْ نَسَبٍ طَهَّرَهُ اللهُ تَعَالَى مِنْ سِفَاحِ الْجَاهِلِيَّةِ. أَوْرَدَ الزَّيْنُ الْعِرَاقِيُّ وَارِدَهُ فِيْ مَوْرِدِهِ الْهَنِيِّ وَرَوَاهُ

Wa akrim bihi min nasabin thahharahullâhu ta’âlâ min sifâḫil-jâhiliyyah. Auradaz-zainul ‘irâqiyyu wâridahu fî mauridihil-haniِّ warawâh.

Artinya: “Alangkah mulianya keturunan yang disucikan oleh Allah Ta’ala dari perzinaan Jahiliyyah. Zain Al-Iraqi menuturkan dan meriwayatkannya di dalam karangannya yang bagus.”

حَفِظَ الْإِلـٰهُ كَرَامَــــةً لِمُحَـمَّدٍ ۞ آبَاءَهُ الْأَمْجَادَ صَوْنًا لاِسْمِهِ

Ḫafidhal-ilâhu karâmatan limuḫammadin ۞ âbâ’ahul-amjâda shaunan lismihi.

Artinya: “Tuhan memelihara nenek moyangnya yang mulia karena memuliakan Muhammad untuk menjaga namanya.”

تَرَكُوا السِّفَاحَ فَلَمْ يُصِبْهُمْ عَارُهُ ۞ مِنْ آدَمٍ وَإِلَى أَبِيْهِ وَأُمِّــهِ

Tarakus-sifâḫa falam yushibhum ‘âruhu ۞ min âdamin wa ilâ abîhi wa ummihi.

Artinya: “Mereka meninggalkan perzinaan sehingga cacat tersebut tidak menimpa mereka dari Adam sampai ayah dan ibu beliau.”

سَرَاةٌ سَرَى نُوْرُ النُّبُوَّةِ فِيْ أَسَارِيْرِ غُرَرِهِمُ الْبَهِيَّةِ. وَبَدَرَ بَدْرُهُ فِيْ جَبِيْنِ جَدِّهِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَابْنِهِ عَبْدِ اللهِ

Sarâtun sarâ nûrun-nubuwwati fî asârîri ghurarihimul-bahiyyah. Wa badarabadruhu fî jabîni jaddihi ‘abdil muththalibi wabnihi ‘abdillâh.

Artinya: “Mereka adalah para pemimpin yang cahaya kenabian berjalan di garis dahi cemerlang mereka. Cahaya Nabi Muhammad tampak jelas di dahi kakeknya Abdul Muththalib dan ayahnya Abdullah.”

3. Wa lamma aradallahu

وَلَمَّا أَرَادَ اللهُ تَعَالَى إِبْرَازَ حَقِيْقَتِهِ الْمُحَمَّدِيَّةِ. وَإِظْهَارَهُ جِسْمًا وَرُوْحًا بِصُوْرَتِهِ وَمَعْنَاهُ. نَقَلَهُ إِلَى مَقَرِّهِ مِنْ صَدَفَةِ آمِنَةَ الزُّهْرِيَّةِ. وَخَصَّهَا الْقَرِيْبُ الْمُجِيْبُ بِأَنْ تَكُوْنَ أُمًّا لِمُصْطَفَاهُ. وَنُوْدِيَ فِي السَّمَوَتِ وَالْأَرْضِ بِحَمْلِهَا لِأَنْوَارِهِ الذَّاتِيَّةِ. وَصَبَا كُلُّ صَبٍّ لِهُبُوْبِ نَسِيْمِ صَبَاهُ. وَكُسِيَتِ الْأَرْضُ بَعْدَ طُوْلِ جَدْبِهَا مِنَ النَّبَاتِ حُلَلًا سُنْدُسِيَّة. وَأَيْنَعَتِ الثِّمَارُ وَأَدْنَى الشَّجَرُ لِلْجَانِي جَنَاهُ. وَنَطَقَتْ بِحَمْلِهِ كُلُّ دَابَّةٍ لِقُرَيْشٍ بِفِصَاحِ الْأَلْسُنِ الْعَرَبِيَّة. وَخَرَّتِ الْأَسِرَّةُ وَالْأَصْنَامُ عَلَى الْوُجُوْهِ وَالْأَفْوَاهَ. وَتَبَاشَرَتْ وُحُوْشُ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ وَدَوَابُّهَا الْبَحْرِيَّةُ. وَاحْتَسَتِ الْعَوَالِمُ مِنَ السُّرُوْرِ كَأْسَ حُمَيَّاهْ. وَبُشِّرَتِ الْجِنُّ بِإِظْلَالِ زَمَنِهِ وَانْتَهَكَتِ الْكَهَانَةُ وَرَهِبَتِ الرَّهْبَانِيَّة. وَلَهِجَ بِخَبَرِهِ كُلُّ حِبْرٍ خَبِيْرٍ وَفِيْ حُلَا حُسْنِهِ تَاه. وَأُتِيَتْ أُمُّهُ فِي الْمَنَامِ فَقِيلَ لَهَا إِنَّكِ قَدْ حَمَلْتِ بِسَيِّدِ الْعَالَمِيْنَ وَخَيْرِ الْبَرِيَّة. وَسَمِّيْهِ إِذَا وَضَعْتِهِ مُحَمَّدًا لِأَنَّهُ سَتُحْمَدُ عُقْبَاهُ

Wa lammâ aradallahu ta’lâ ibrâza ḫaqîqatihil-muḫammadiyyah. wa idhhâruhu jisman wa rûḫan bishûratihi wa ma’nâh, naqalahu ilâ maqarrihi min shadafati âminataz-zuhriyyah. wa khashshahal-qarîbul-mujîbu bi an takûna umman limushthafâh, wa nûdiya fis-samawâti wal-ardli biḫamlihâ li’anwârihidz-dzâtiyyah. wa shabâ kullu shabbin lihubûbi nasimi shabâh. wa kusiyatil-ardlu ba’da thûli jadbihâ minan-nabâti ḫulalan sundusiyyah. wa aina’atits-tsimâru wa adnasy-syajaru lil-jânî janâh, wa nathaqat biḫamlihi kullu dâbbatin liquraisyin bifisâḫil-alsunil-‘arabiyyah. wa kharratil-asirratu wal-ashnâmu ‘alal-wujûhi wal-afwâh, wa tabâsyarat wuḫûsyul-masyâriqi wal-maghâribi wa dawâbbuhal-baḫriyyah. waḫtasatil-‘awalimu, minas-surûri ka’sa ḫumayyah. wa busysyiratil-jinnu bi idhlâli zamanihi wantahakatil-kahânatu wa rahibatir-ruhbâbiyyah. wa lahija bikhabarihi kullu ḫibrin khabîrin wa fî ḫulâ ḫusnihi tâh, wa utiyat ummuhu fil-manâmi faqîla lahâ innaki qad ḫamalti bisayyidil-‘âlamîna wa khairil-bariyyah. wa sammîhi idzâ wadla’tihi muḫammadan li annahu satuḫmadu ‘uqbâh.

Artinya: “Ketika Allah Ta’ala menghendaki untuk menampakkan hakikat terpuji dan memunculkannya sebagai jasmani rohani, Dia memindahkannya ke kandungan Aminah Az-Zuhriyyah. Dzat Yang Maha Dekat mengkhususkannya menjadi ibu makhluk pilihan-Nya. Langit dan bumi menyerukan bahwa Aminah mengandung penutup para nabi. Angin sepoi-sepoi berhembus menyambut pagi hari. Bumi yang gersang mengenakan sutra hijau dari tumbuh-tumbuhan. Buah-buahan masak dan pohon mendekatkan dahan kepada pemetiknya. Binatang suku Quraisy berbicara fasih dalam bahasa Arab mengabarkan kehamilan tersebut. Singgasana raja dan berhala tersungkur jatuh. Binatang liar timur barat serta lautan saling bergembira. Seluruh alam mengecap cawan kesenangan. Jin menyebarkan berita dekatnya masa kelahiran, juru tenung binasa, dan pendeta ketakutan. Orang pandai membicarakan kebaikan beliau yang membingungkan alam. Ibunya bermimpi didatangi seseorang yang menyatakan beliau mengandung pemimpin alam dan sebaik-baik manusia. Sang ibu mendapat pesan agar menamai anak tersebut Muhammad karena ia akan banyak dipuji.”

4. Wa lamma tamma

وَلَمَّا تَمَّ مِنْ حَمْلِهِ شَهْرَانِ عَلَى مَشْهُوْرِ الْأَقْوَالِ الْمَرْوِيَّة. تُوُفِّيَ بِالْمَدِيْنَةِ الْمُنَوَّرَةِ أَبُوْهُ عَبْدُ الله. وَكَانَ قَدِ اجْتَازَ بِأَخْوَالِهِ بَنِيْ عَدِيٍّ مِنَ الطَّائِفَةِ النَّجَّارِيَّة. وَمَكَثَ فِيْهِمْ شَهْرًا سَقِيْمًا يُعَانُوْنَ سُقْمَهُ وَشَكْوَاه. وَلَمَّا تَمَّ مِنْ حَمْلِهِ عَلَى الرَّاجِحِ تِسْعَةُ أَشْهُرٍ قَمَرِيَّة. وَآنَ لِلزَّمَانِ أَنْ يَنْجَلِيَ عَنْهُ صَدَاه. حَضَرَ أُمَّهُ لَيْلَةَ مَوْلِدِهِ آسِيَةُ وَمَرْيَمُ فِيْ نِسْوَةٍ مِنَ الْحَظِيْرَةِ الْقُدْسِيَّة. وَأَخَذَهَا الْمَخَاضُ فَوَلَدَتْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُوْرًا يَتَلَأْلَأُ سَنَاه.

Wa lammâ tamma min ḫamlihi syahrâni ‘alâ masyhûril-aqwâlil-marwiyyah. tuwuffiya bil-madînatil-munawwarati abûhu ‘abdullâh, wa kâna qadij-tâza bi’akhwâlihi banî ‘adiyyin minath-thâ’ifatin-najjâriyyah. wa makatsa fîhim syahran saqîman yu’ânûna suqmahu wa syakwâh, walamma tamma min ḫamlihi ‘alar-râjiḫi tis’ati asyhurin qamariyyah. wa âna liz-zamâni an yanjila ‘anhu shadâh, ḫadlara ummahu lailata maulidihi âsiyatu wa maryamu fî niswatin minal-hadhîratil-qudsiyyah. wa akhadzahal-makhâdlu fawaladathu shallAllahu’alaihi wa sallama nûran yatalalau sanâh.

Artinya: “Saat kandungan genap berusia dua bulan menurut riwayat populer, ayah beliau yakni Abdullah wafat di Madinah. Beliau sempat singgah pada paman dari Bani ‘Adiy kelompok Najjar dan tinggal sakit di sana selama sebulan. Ketika kandungan mencapai sembilan bulan qamariyah berdasarkan pendapat kuat, masa kesedihan berganti kebahagiaan. Asiyah dan Maryam hadir menemani Aminah pada malam kelahiran bersama para wanita suci. Aminah merasakan sakit persalinan lalu melahirkan Nabi SAW dalam pancaran cahaya cemerlang.”

وَمُحَيًّـا كَالشَّمْسِ مِنْكَ مُضِيْءُ ۞ أَسْفَرَتْ عَنْهُ لَيْلَةٌ غَرَّاءُ

Wa muḫayyan kasy-syamsi minka mudlî’u ۞ asfarat ‘anhu lailatun gharrâ’u

Artinya: “Wajahmu bagaikan matahari menyinari yang membuat malam menjadi terang benderang.”

لَيْــــــلَةُ الْمَــوْلِدِ الَّذِيْ كَانَ لِلدِّيـْـ ۞ ـنِ سُرُوْرٌ بِيَوْمِهِ وَازْدِهَاءُ

Lailatul-maulidil-ladzî kâna lid-di- ۞ ni surûrun biyaumihi wazdihâ’u

Artinya: “Malam kelahiran membawa kegembiraan bagi agama namun tidak disukai kaum kafir.”

يَوْمَ نَالَتْ بِوَضْعِهِ ابْنَــةُ وَهْبٍ ۞ مِنْ فَخَارٍ مَا لَمْ تَنَلْهُ النِّسَآءُ

Yauma nâlat biwadl’ihib-natu wahbin ۞ min fakhârin mâ lam tanalhun-nisâ’u

Artinya: “Putri Wahab memperoleh kemegahan lewat kelahiran tersebut yang tidak didapatkan wanita lain.”

وَأَتَتْ قَوْمَهَـــــا بِأَفْضَـــــلَ مِمَّـــــا ۞ حَمَلَتْ قَبْلُ مَرْيَمُ الْعَذْرَاءُ

Wa atat qaumahâ bi afdlala mimmâ ۞ ḫamalat qablu maryamul-‘adzrâ’u

Artinya: “Aminah membawa sosok yang jauh lebih utama daripada kandungan Maryam perawan.”

مَوْلِدٌ كَانَ مِنْـــهُ فِيْ طَالِعِ الْكُفْـ ۞ ـرِ وَبَالٌ عَلَيْهِمُ وَوَبَاءُ

Maulidun kâna minhu fî thâli’il-kuf- ۞ ri wa bâlun ‘alaihim wa wabâ’u

Artinya: “Kelahiran yang membawa musibah besar bagi kemunculan kekufuran.”

وَتَوَالَتْ بُشْرَى الْهَوَاتِفِ أَنْ قَد ۞ وُلِدَ الْمُصْطَفَى وَحَقَّ الْهَنَاءُ

Wa tawâlat busyral-hawâtifi an qad ۞ wulidal-mushthafâ wa ḫaqqal-hanâ’u

Artinya: “Kabar gembira terus menerus mengabarkan bahwa insan pilihan telah lahir.”

هَذَا، وَقَدِ اسْتَحْسَنَ الْقِيَامَ عِنْدَ ذِكْرِ مَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ أَئِمَّةٌ ذَوُوْ رِوَايَةٍ وَرَوِيَّة. فَطُوْبَى لِمَنْ كَانَ تَعْظِيْمُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَايَةَ مَرَامِهِ وَمَرْمَاهُ

Hâdzâ, wa qadis-taḫsanal-qiyâma ‘inda dzikri maulidihisy-syarîfi a’immatun dzawû riwâyatin wa rawiyyah. fathûbâ liman kâna ta’dhîmuhu shallAllahu ‘alaihi wa sallama ghâyata marâmihi wa marmâh.

Artinya: “Para imam ahli riwayat memandang baik sikap berdiri saat menyebut kelahiran mulia. Kebahagiaan besar milik orang yang menjadikan pengagungan kepada Nabi SAW sebagai puncak tujuan.”

5. Wa baraaza shallallahu

وَبَرَزَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاضِعًا يَدَيْهِ عَلَى الْأَرْضِ رَافِعًا رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ الْعَلِيَّةِ. مُوْمِيًا بِذٰلِكَ الرَّفْعِ إِلَى سُوْدَدِهِ وَعُلَاهُ. وَمُشِيْرًا إِلَى رِفْعَةِ قَدْرِهِ عَلَى سَائِرِ الْبَرِيَّةِ. بِأَنَّهُ الْحَبِيْبُ الَّذِيْ حَسُنَتْ طِبَاعُهُ وَسَجَايَاهُ. وَدَعَتْ أُمُّهُ عَبْدَ الْمُطَّلِبِ وَهُوَ يَطُوْفُ بِهَاتِيْكَ الْبَنِيَّةِ. فَأَقْبَلَ مُسْرِعًا وَنَظَرَ إِلَيْهِ وَبَلَغَ مِنَ السُّرُوْرِ مُنَاهُ. وَأَدْخَلَهُ الْكَعْبَةَ الْغَرَّاءَ وَقَامَ يَدْعُوْ بِخُلُوْصِ النِّيَّــــةِ. وَيَشْكُرُ اللهَ تَعَالَى عَلَى مَا مَنَّ بِهِ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ. وَوُلِدَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَظِيْفًا مَخْتُوْنًا مَقْطُوْعَ السُّرِّ بِيَدِ الْقُدْرَةِ الْإِلٰهِيَّةِ. طَيِّبًا دَهِيْنًا مَكْحُوْلَةً بِكُحْلِ الْعِنَايَةِ عَيْنَاهُ. وَقِيْلَ خَتَنَهُ جَدُّهُ بَعْدَ سَبْعِ لَيَالٍ سَوِيَّةٍ. وَأَوْلَمَ وَأَطْعَمَ وَسَمَّاهُ مُحَمَّدًا وَأَكْرَمَ مَثْوَاهُ

Wa baraza shallallahu ‘alaihi wa sallama wâdli’an yadaihi ‘alal-ardli râfi’an ra’sahu ilas-samâ’il-‘aliyyah. mûminan bidzâlikar-raf’i ilâ sûdadihi wa ‘ulâh. wa musyîran ilâ rif’ati qadrihi ‘alâ sâ’iril-bariyyah. bi annahul-ḫabîbul-ladzî ḫasunat thibâ’uhu wa sajâyâh. wa da’at ummuhu ‘abdal-muthallibi wa huwa yathûfu bihâtîkal-baniyyah. fa aqbala musri’an wa nadhara ilaihi wa balagha minas-surûri munâh. wa adkhalahul-ka’batal-gharrâ‘a wa qama yad’û bikhulûshin-niyyah. wa yasykurullâha ta’âlâ ‘alâ mâ manna bihi ‘alaihi wa a’thâh. wa wulida shallallahu ‘alaihi wa sallama nadhîfan makhtûnan maqthû’as-surri biyadil-qudratil-ilâhiyyah. Thayyiban dahînan makḫûlatan bikaḫlil-‘inâyati ‘ainâh. wa qîla khatanahu jadduhu ba’da sab’i layâlin sawiyyah. wa aulama wa ath’ama wa sammâhu muḫammadan wa akrama matswâh.

Baca Juga :  Kisah Ibnu Ummi Maktum, Sahabat Nabi yang Buta tetapi Mulia di Sisi Allah

Artinya: “Beliau lahir dengan meletakkan kedua tangan di tanah serta mengangkat kepala ke langit tinggi. Gestur tersebut mengisyaratkan kepemimpinan serta ketinggian akhlak beliau di atas seluruh manusia. Ibunya memanggil Abdul Muththalib yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah. Sang kakek datang segera, memandang sang bayi, dan meraih kebahagiaan sempurna. Beliau membawa sang cucu ke dalam Ka’bah untuk berdoa tulus serta bersyukur kepada Allah Ta’ala. Nabi Muhammad lahir dalam keadaan bersih, sudah dikhitan, dan tali pusatnya terpotong qudrah ilahi. Beliau berbau harum, berminyak rambut, serta bermata celak anugerah tuhan. Sebagian ulama menyebut kakeknya mengkhitankan beliau setelah tujuh hari lalu menggelar walimah, memberi makan, serta menamainya Muhammad.”

6. Wa dhahara

وَظَهَرَ عِنْدَ وِلَادَتِهِ خَوَارِقُ وَغَرَائِبُ غَيْبِيَّةٌ. إِرْهَاصًا لِنُبُوَّتِهِ وَإِعْلَامًا بِأَنَّهُ مُخْتَارُ اللهِ تَعَالَى وَمُجْتَبَاهُ. فَزِيْدَتِ السَّمَاءُ حِفْظًا وَرُدَّ عَنْهَا الْمَرْدَةُ وَذَوُا النُّفُوْوسِ الشَّيْطَانِيَّةِ. وَرَجَمَتْ نُجُوْمُ النَّيِّرَاتِ كُلَّ رَجِيْمٍ فِيْ حَالِ مَرْقَاهُ. وَتَدَلَّتْ إِلَيْهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْأَنْجُمُ الزُّهْرِيَّةُ. وَاسْتَنَارَتْ بِنُوْرِهَا وِهَادُ الْحَرَمِ وَرُبَاهُ. وَخَرَجَ مَعَهُ نُوْرٌ أَضَاءَتْ لَهُ قُصُوْرُ الشَّامِ الْقَيْصَرِيَّةُ. فَرَآهَا مَنْ بِبِطَاحِ مَكَّةَ دَارُهُ وَمَغْنَاه. وَانْصَدَعَ الْإِيْوَانُ بِالْمَدَائِنِ الْكِسْرَوِيَّةِ. الَّذِيْ رَفَعَ أَنُوْشَرْوَانَ سَمْكَهُ وَسَوَّاهُ. وَسَقَطَ أَرْبَعَ عَشْرَةَ مِنْ شُرَفَاتِهِ الْعُلْوِيَّةِ. وَكُسِرَ مُلْكُ كِسْرَى لِهَوْلِ مَا أَصَابَهُ وَعَرَاهُ. وَخَمَدَتِ النِّيرَانُ الْمَعْبُودَةُ بِالْمَمَالِكِ الْفَارِسِيَّة. لِطُلُوعِ بَدْرِهِ الْمُنِيْرِ وَإِشْرَاقِ مُحَيَّاهُ. وَغَاضَتْ بُحَيْرَةُ سَاوَةَ وَكَانَتْ بَيْنَ هَمَذَانَ وَقُمٍّ مِنَ الْبِلَادِ الْعَجَمِيَّة. وَجَفَّتْ إِذْ كَفَّ وَاكِفُ مَوْجِهَا الثَّجَّاجِ يَنَابِيعُ هَاتِيكَ الْمِيَاهِ. وَفَاضَ وَادِى سَمَاوَةَ وَهِيَ مَفَازَةٌ فِي فَلَاةٍ وَبَرِيَّة. لَمْ يَكُنْ بِهَا مِنْ قَبْلُ يَنْقَعُ لِلظَّمْاٰنِ اللَّهَاةَ. وَكَانَ مَوْلِدُهُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَوْضِعِ الْمَعْرُوفِ بِالْعِرَاصِ الْمَكِيَّةِ. وَالْبَلَدِ الَّذِي لَا يُعْضَدُ شَجَرُهُ وَلَا يُخْتَلَى خَلَاهُ. وَاخْتُلِفَ فِي عَامِ وِلَادَتِهِ وَفِي شَهْرِهَا وَفِي يَوْمِهَا عَلَى أَقْوَالٍ لِلْعُلَمَاءِ مَرْوِيَّةٍ. وَالرَّاجِحُ أَنَّهَا قُبَيْلَ فَجْرٍ يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ ثَانِي عَشَرِ شَهْرِ رَبِيعِ الْأَوَّلِ مِنْ عَامِ الْفِيلِ الَّذِي صَدَّهُ اللّٰهُ عَنِ الْحَرَمِ وَحَمَاهُ

Wa dhahara ‘inda wilâdatihi khawâriqu wa gharâibu ghaibiyyah. irhâshan linubuwwati wai'lâman bi annahu mukhtârullâhi ta'âlâ wa mujtabâh. fazîdatis-samâu ḫifdhan wa rudda ‘anhal-mardatu wa dzawun-nufûsisy-syaithâniyyah. wa rajamat nujûmun-nayyirâti kulla rajîmin fî ḫâli marqâh. wa tadallat ilaihi shallAllahallahu ‘alaihi wa sallamal-anjumuz-zuhriyyah. wastanârat binûrihâ wa hâdul-ḫarami wa rubâh. wa kharaja ma’ahu nûrun adlâat lahu qushûrusy-syâmil-qaishariyyah. faraâhâ man bibithâḫi makkata dâruhu wa maghnâh. wanshada’al-îwânu bil-madâinil-kisrawiyyah. alladzî rafa'a anûsyarwâna samkahu wa sawwâh. wa saqatha arba'a 'asyrata min syurafâtihil-'ulwiyyah. wa kusira mulku kisrâ lihauli mâ ashâbahu wa 'arâh. wa khamadatin-nîrânul-ma'bûdatu bil-mamâlikil-fârisiyyah. lithulû'i badrihil-munîri wa isyrâqi maḫayyâh. wa ghâslat buḫairatu sâwata wa kânat baina hamadzâna wa qummin minal-bilâdil-'ajamiyyah. wa jaffat idz kaffa wâkifu maujihats-tsajjâji yanâbî'u hâtîkal-miyâh. wa fâdlâ wâdî samâwata hiya mafâzatun fî falâtin wa bariyyah. lam yakun bihâ min qaablu yanqa'u lidhdhamânil-lahâh. wa kâna mauliduhu shallallahu ‘alaihi wa sallama bil-maudli’il-ma’rûfi bil-‘irâshil-makiyyah. wal-baladil-ladzî lâ yu’dladu syajaruhu wa lâ yukhlâ khalâh. wakhtulifa fî ‘âmi wilâdatihi wa fî syahrihâ wa fî yaumihâ ‘alâ aqwâlinil-‘ulamâ`i marwiyyah. war-râjiḫu annahâ qubaila fajrin yaumal-itsnaini tsânî ‘asyara rabî’il-awwali min ‘âmil-fîlil-ladzî shaddahullâhu ‘anil-ḫarami wa ḫamâh.

Artinya: “Peristiwa luar biasa muncul menyertai kelahiran beliau sebagai irhash kenabian serta bukti bahwa beliau adalah pilihan Allah Ta’ala. Penjagaan langit semakin diperketat untuk menolak kelompok setan pengganggu. Bintang-bintang melempar setiap setan yang mencoba mencuri pendengaran. Bintang cemerlang menunduk mendekati beliau sehingga lembah Makkah tersinari cahaya terang. Cahaya ikut terpancar menerangi istana kaisar di Syam hingga terlihat oleh penduduk Makkah. Istana Kisra di Madain retak dan empat belas menara tingginya roboh akibat guncangan hebat. Kerajaan Kisra hancur karena terkejut menghadapi peristiwa tersebut. Api sesembahan di negeri Persia padam seketika menyambut kemunculan cahaya wajah beliau. Danau Sawa di negeri Ajam surut dan sumber airnya mengering total. Lembah Samawah yang semula kering kerontang mendadak meluap menyediakan air bagi orang kehausan. Kelahiran terjadi di tempat bernama ‘Iras Makkah di tanah suci yang pepohonannya dilindungi aturan. Ulama berbeda pendapat mengenai tahun, bulan, serta hari kelahiran beliau. Pendapat paling kuat menyatakan kelahiran terjadi menjelang fajar hari Senin tanggal dua belas Rabiul Awwal tahun Gajah saat Allah melindungi Ka’bah dari gajah.”

7. Mahallul Qiyam: Ya nabi salam

يَــــا نَبِيْ سَـــــلَامٌ عَلَيْكَ ۞ يَا رَسُوْل سَــلَامٌ عَلَيْكَ

Yâ nabî salâmun ‘alaika ۞ yâ rasûl salâmun ‘alaik

Artinya: “Wahai Nabi, semoga keselamatan tetap untukmu. Wahai Rasul, semoga keselamatan tetap untukmu.”

يَا حَبِيْب سَلَامٌ عَلَيْكَ ۞ صَـــلَوَاتُ اللهِ عَلَيْــــكَ

Yâ ḫabîb salâmun ‘alaika ۞ sholawatullâhi ‘alaika

Artinya: “Wahai kekasih, semoga keselamatan tetap untukmu. Juga rahmat Allah SWT semoga tercurah untukmu.”

أَشْرَقَ الْبَــــدْرُ عَـلَيْنَـــا ۞ فَاخْتَــــفَــــتْ مِنْــــهُ الْبُدُوْرُ

Asyraqal-badru ‘alainâ ۞ fakhtafat minhul-budûru

Artinya: “Bulan purnama telah terbit menyinari kami, Pudarlah purnama-purnama lainnya.”

مِثْلَ حُسْنِكْ مَا رَاَيْنَا ۞ قَــــطُّ يَا وَجْــــهَ السُّــــرُوْرِ

Mitsla ḫusnik mâ rainâ ۞ qaththu yâ wajhas-surûri

Artinya: “Belum pernah aku lihat keelokan sepertimu wahai orang yang berwajah riang.”

أَنْتَ شَمْـسٌ أَنْتَ بَدْرٌ ۞ أَنْتَ نُورٌ فَوقَ نُورٍ

Anta syamsun anta badrun ۞ anta nûrun fauqa nurin

Artinya: “Engkau bagai matahari, engkau bagai bulan purnama, engkau cahaya di atas cahaya.”

أَنْتَ إِكْسِــــيْرٌ وَغَــالِي ۞ أَنْتَ مِصْبَاحُ الصُّـدُوْرِ

Anta iksîrun wa ghâlî ۞ anta mishbâhûs-sudûri

Artinya: “Engkau bagaikan emas murni yang mahal harganya, Engkaulah pelita hati.”

يَــــا حَبِيْبِيْ يَـــــا مُحَمَّـــدُ ۞ يَا عَرُوْسَ الْخَـــافِقَـــيْنِ

Yâ ḫabîbi yâ muḫammad ۞ yâ ‘arûsal-khâfiqaini

Artinya: “Wahai kekasihku, wahai Muhammad, wahai pengantin tanah timur dan barat.”

يَـــــا مُؤَيَّدْ يَـــــا مُمَجَّـــــدُ ۞ يَا إِمَامَ الْقِبْلَتَــــيْنِ

Yâ mu`ayyad yâ mumajjadu ۞ yâ imâmal-qiblataini

Artinya: “Wahai Nabi yang dikuatkan dengan wahyu, wahai Nabi diagungkan, wahai imam dua kiblat.”

مَنْ رَاٰى وَجْهَكَ يَسْعَدُ ۞ يَا كَــــرِيْمَ الْوالِدَيْنِ

Man râ’a wajhaka yas’ad ۞ yâ karîmal-wâlidaini

Artinya: “Siapa pun yang melihat wajahmu pasti berbahagia, wahai orang yang mulia kedua orang tuanya.”

حَوْضُكَ الصَّافِي الْمُبَرَّدُ ۞ وِرْدُنَا يَوْمَ النُّشُورِ

Ḫaudlukash-shâfil-mubarradu ۞ wirdunâ yauman-nusyûri

Artinya: “Telagamu jernih dan dingin, yang akan kami datangi kelak di hari kiamat.”

مَا رَأَيْـــنَا الْعِيْسَ حَنَّتْ ۞ بِالسُّـــرٰى إِلَّا إِلَيْـــكَ

Mâ ra’inal-‘îsa ḫannat ۞ bis-surâ illâ ilaika

Artinya: “Belum pernah unta putih berbalur hitam berdenting berjalan malam hari kecuali unta datang kepadamu.”

وَالْغَمَامَــــةْ قَـــدْ أَظَلَّتْ ۞ وَالْمَــلَا صَـلَّوْا عَلَيْكَ

Wal-ghamâmat qad adhallat ۞ wal-malâ shallaw ‘alaika

Artinya: “Awan tebal memayungimu, seluruh tingkat golongan manusia mengucapkan sholawat kepadamu.”

وَأَتَــــــاكَ الْعُـودُ يَبْـــــكِى ۞ وَتَـــذَلَّلْ بَيْنَ يَدَيْكَ

Wa atâkal-‘ûdu yabkî ۞ wa tadzallal baina yadaika

Artinya: “Pohon-pohon datang kepadamu menangis bersimpuh merasa hina di hadapanmu.”

وَاسْتَجَـــارَتْ يَا حَبِيْــبِي ۞ عِنْدَكَ الظَّــــبْيُ النُّـــفُوْرُ

Wastajârat yâ ḫabîbî ۞ ‘indakadh-dhabyun-nufûru

Artinya: “Kijang gesit datang memohon keselamatan kepadamu wahai kekasih.”

عِنْدَ مَا شَدُّوْا الْمَحَامِلْ ۞ وَتَنَــــادَوْا لِلرَّحِيْــــلِ

‘inda mâ syaddul-maḫâmil ۞ qultu qif lî yâ dalîlu

Artinya: “Ketika serombongan berkemas dan menyerukan untuk berangkat.”

جِئْتُهُمْ وَالدَّمْـــعُ سَائِـــلْ ۞ قُلْتُ قِفْ لِيْ يَا دَلِيْــــلُ

Ji’tuhum wad-dam’u sâ’il ۞ qultu qif lî yâ dalîlu

Artinya: “Kudatangi mereka dengan berlinang air mata seraya kuucapkan tunggulah wahai pemimpin rombongan.”

وَتَحَمَّلْ لِيْ رَسَـــائِــــلْ ۞ أَيُّهَا الشَّوْقُ الْجَـــزِيْلُ

Wa taḫammal lî rasâ’il ۞ ayyuhasy-syauqul-jazîlu

Artinya: “Bawakan aku surat yang berisikan kerinduan mendalam.”

نَحْوَهَا تِيْـــكَ الْمَنَازِلْ ۞ بِالْعَشِي وَالْبُكُورِ

Naḫwahâ tîkal-manâzil ۞ bil-‘asyiyyi wal-bukûri

Artinya: “Membawakan ke tempat jauh ketika petang dan paginya.”

كُلُّ مَنْ فِي الْكَونِ هَامُوا ۞ فِيْــــكَ يَا بَاهِي الْجَبِـــيْنِ

Kullu man fil-kauni hâmû ۞ fîka yâ bâhil-jabîni

Artinya: “Setiap orang di jagad raya ini bingung karena rindu kepadamu wahai pemilik kening bersinar.”

وَلَهُـــــــمْ فِيْـــكَ غَـــــرَامُ ۞ وَاشْتِيَـــــاقٌ وَحَنِيْنُ

Wa lahum fîka gharâmun ۞ wasytiyâqun wa hanînu

Artinya: “Dan mereka memiliki rasa cinta, kerinduan, dan kepedihan rindu kepadamu.”(ust)

Berita Terkait

Sejarah Perang Badar Kubra dan Strategi Pertahanan Rasulullah
Pemakaman Nabi Muhammad SAW di Kamar Aisyah
Sejarah Maulid Nabi 2026: Dalil dan Hukum Memperingatinya
Perjanjian Hudaibiyah Dilanggar Quraisy Picu Fathu Makkah
Berat Ujian Dakwah Rasulullah SAW Menghadapi Tekanan Kafir
Perjalanan Dagang Nabi Muhammad ke Syam dan Pendeta Buhaira
Panduan Mahalul Qiyam Maulid: Arab, Latin, Arti, dan Keutamaan
Doa Abdul Muthalib di Ka’bah Saat Kelahiran Nabi Muhammad
Berita ini 14 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 19:06 WIB

Sejarah Perang Badar Kubra dan Strategi Pertahanan Rasulullah

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 18:45 WIB

Pemakaman Nabi Muhammad SAW di Kamar Aisyah

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 05:59 WIB

Sejarah Maulid Nabi 2026: Dalil dan Hukum Memperingatinya

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 05:45 WIB

Perjanjian Hudaibiyah Dilanggar Quraisy Picu Fathu Makkah

Jumat, 21 Agustus 2026 - 09:20 WIB

Berat Ujian Dakwah Rasulullah SAW Menghadapi Tekanan Kafir

Berita Terbaru

Peserta komisi bahtsul masail waqi'iyah.(poto: istimewa).

Fiqih

Hukum Komersialisasi Data DNA Menurut Muktamar NU

Kamis, 3 Sep 2026 - 16:27 WIB