Kisah Kasih Sayang Rasulullah Memeluk Yatim Hari Raya

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 22 Juli 2026 - 07:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Syekh al-Qalyubi mengisahkan keteladanan Rasulullah menyantuni anak yatim piatu.(ilustrasi poto: pusaranmedia.com).

Syekh al-Qalyubi mengisahkan keteladanan Rasulullah menyantuni anak yatim piatu.(ilustrasi poto: pusaranmedia.com).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Syekh Ahmad Syihabuddin bin Salamah al-Qalyubi (wafat 1069 H) merangkum kisah penuh haru mengenai kasih sayang Rasulullah kepada seorang anak kecil dalam kitab an-Nawadir. Momen berharga ini berlangsung tepat pada perayaan hari raya saat anak-anak lain menyambut kelapangan hari raya dengan kegembiraan.

Suasana Haru di Tengah Kemeriahan Hari Raya

Kota Makkah menyambut pagi hari raya dengan suasana yang sangat indah dan penuh sukacita. Warga berbondong-bondong meninggalkan kediaman mereka demi menunaikan ibadah shalat hari raya bersama Rasulullah.

Anak-anak riang bermain di sepanjang pinggir jalan sambil memamerkan pakaian terbaik yang mereka kenakan. Namun, seorang anak kecil justru terduduk sendirian di sudut jalan tanpa pakaian bagus maupun tawa bahagia.

Ia hanya bisa meratapi nasib sambil menangis pilu memakai pakaian yang sangat lusuh. Rasulullah yang sedang melintasi jalan menuju lokasi shalat sunnah hari raya langsung menghentikan langkah beliau.

Pengakuan Memilukan Seorang Anak Yatim

Beliau mendekati anak tersebut untuk menyapa sekaligus menanyakan alasan di balik tangisannya. Anak kecil itu belum menyadari bahwa sosok mulia yang mengajak bermusyawarah di hadapannya adalah Rasulullah.

Dengan nada suara yang penuh kepedihan, anak tersebut langsung mengungkapkan rasa duka yang melingkupi dirinya. Ia menceritakan penderitaan hidupnya secara jujur kepada sosok di hadapannya:

خَلِّ عَنِّي! فَإِنَّ أَبِي مَاتَ فِي غَزْوَةِ كَذَا مَعَ النَّبِيِّ، فَتَزَوَّجَتْ أُمِّي بِزَوْجِ غَيْرِهِ. فَأَكَلَ مَالِي وَأَخْرَجَنِي زَوْجُهَا مِنْ بَيْتِهِ. وَلَيْسَ لِي طَعَامٌ وَلاَ شرَابٌ وَلاَ ثِيابٌ وَلاَ بَيْتٌ آوى إِلَيْهِ، فَلَمَّا رَئيتُ الصِّبْيَانَ ذَوِي الْأَبَاءِ يَلْعَبُوْنَ وَعَلَيْهِمُ الثِّيَابُ تَجَدَّدَ حُزْنِي وَمُصِيْبَتِي، فَلِذَلِكَ بكَيْتُ

Artinya, “Tinggalkan aku! Sesungguhnya ayahku gugur dalam perang bersama Nabi, kemudian ibuku menikah dengan laki-laki lain. Laki-laki itu memakan hartaku dan mengusirku dari rumahnya. Aku tidak punya makanan, tidak punya minuman, tidak punya pakaian, dan tidak punya rumah yang bisa aku tempati. Maka ketika aku melihat anak-anak yang masih memiliki ayah yang sedang bermain dengan pakaian-pakaian (baru) mereka, semakin bertambahlah kesedihan dan musibahku. Karena itulah aku menangis.” (Al-Qalyubi, an-Nawadir, [Mesir: Mathba’ah al-Halabi, 1955 M], halaman 13).

Baca Juga :  Keajaiban Kehamilan Aminah Menjelang Kelahiran Rasulullah

Tawaran Hangat Menjadi Bagian Keluarga Nabi

Mendengar penuturan yang sangat menyayat hati tersebut, Rasulullah segera mendekati dan menggenggam jemari sang anak. Beliau lantas memberikan tawaran yang sangat menyejukkan jiwa:

أَمَا تَرْضَى أَنْ أَكُونَ لَكَ أَنَا أَبًا، وَعَائِشَةَ أُمًّا، وَفَاطِمَةَ أُخْتًا، وَعَلِيًّا عَمًّا، وَالْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ إِخْوَةً؟

Artinya, “Tidakkah engkau rela jika aku menjadi ayah bagimu, Aisyah menjadi ibu, Fatimah menjadi saudara perempuan, Ali menjadi paman, serta Hasan dan Husain menjadi saudara laki-laki (bagimu)?” (An-Nawadir, 14).

Mendengar ucapan lembut itu, anak kecil tersebut mendongakkan kepala dan tersentak kaget. Ia seketika menyadari bahwa laki-laki penyayang di hadapannya adalah Rasulullah.

Tanpa ragu sedikit pun, ia langsung menyambut tawaran istimewa tersebut dengan penuh rasa syukur. “Bagaimana mungkin aku tidak mau, wahai Rasulullah,” sahut anak itu.

Rasulullah segera membimbing anak kecil tersebut menuju kediaman beliau yang mulia. Beliau mengenakan pakaian yang sangat indah serta menyajikan hidangan lezat hingga anak itu merasa sangat kenyang.

Kebahagiaan Utuh dan Keteladanan Abu Bakar

Satu momen kemudian, anak itu keluar dari rumah Nabi dengan wajah memancar kebahagiaan. Ia berlari riang menuju kerumunan teman-temannya untuk merayakan kebahagiaan bersama.

Teman-teman sebayanya merasa heran melihat perubahan drastis pada raut wajah sang anak. Mereka pun bertanya, “Bukankah tadi kamu masih menangis sendirian, lantas apa yang membuatmu sangat bahagia?”

Baca Juga :  Mengapa Utsman bin Affan Terbunuh? Awal Krisis Politik Islam

Anak kecil itu menjawab pertanyaan kawan-kawannya dengan senyuman hangat. Ia menceritakan kepedulian agung yang baru saja ia terima dari keluarga Nabi:

كنت جائعا فشبعت وعاريا فاكتسيت ويتيما فصارا رسول الله أبي وعائشة أمي وفاطمة أختي وعلي عمي

Artinya, “Dulu aku lapar, lalu aku kenyang. Dulu aku telanjang, lalu aku berpakaian. Dan dulu aku yatim, lalu Rasulullah menjadi ayahku, Aisyah menjadi ibuku, Fatimah menjadi saudariku, dan Ali menjadi pamanku.”

Mendengar penjelasan tersebut, anak-anak lain terpukau dan memendam rasa iri yang positif. Mereka seraya berkata, “Alangkah bahagianya jika seandainya kami bisa mengalami hal yang sama sepertinya.”

Syekh al-Qalyubi mencatat bahwa kehidupan anak yatim tersebut selanjutnya berjalan penuh suka cita di bawah naungan keluarga Nabi. Namun, duka mendalam kembali menyelimuti hatinya beberapa tahun kemudian saat Rasulullah wafat.

Anak tersebut meratapi kepergian sang Nabi sambil melangkah keluar rumah dengan kesedihan mendalam. Ia berjalan seraya meratap, “Barulah sekarang aku kembali menjadi anak yatim, barulah sekarang aku menjadi orang asing yang tidak memiliki apa-apa.”

Meskipun Rasulullah telah berpulang, kasih sayang terhadap anak tersebut tidak berhenti begitu saja. Abu Bakar ash-Shiddiq melanjutkan pengasuhan dan perawatan anak itu persis sebagaimana yang pernah Rasulullah lakukan.

Kisah ini memberikan keteladanan nyata bagi umat Islam saat menyambut momen-momen istimewa seperti hari raya. Semoga masyarakat mampu meniru kepekaan sosial Rasulullah agar anak-anak yatim tidak lagi menangis di tengah kebahagiaan bersama. Wallahu a’lam bisshawab.(ust)

Berita Terkait

Kisah Pemuda Bertobat Usai Disadarkan Pertanyaan Sederhana
Sejarah Mazhab Syafi’i dari Gaza Hingga Perkembangan Qaul Jadid
Kisah Imam Ahmad Hadapi Ujian Fitnah Quran Makhluk
Mengenal Asy-Syifa binti Abdullah: Tokoh Literasi dan Pelopor Perempuan Islam
Kisah Fatimah binti Hubaisy: Teladan Muslimah dan Rujukan Hukum Istihadhah
Kisah Khalidah binti Qais, Shahabiyah Penguat Dakwah Nabi
Misteri Azab Kubur dan Kisah Ular Hitam Konstantinopel
Kedudukan Perempuan Sebelum Islam dan Perubahan Besar yang Dibawa Islam
Berita ini 6 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 09:00 WIB

Kisah Pemuda Bertobat Usai Disadarkan Pertanyaan Sederhana

Sabtu, 25 Juli 2026 - 15:00 WIB

Sejarah Mazhab Syafi’i dari Gaza Hingga Perkembangan Qaul Jadid

Rabu, 22 Juli 2026 - 07:00 WIB

Kisah Kasih Sayang Rasulullah Memeluk Yatim Hari Raya

Rabu, 22 Juli 2026 - 05:00 WIB

Kisah Imam Ahmad Hadapi Ujian Fitnah Quran Makhluk

Rabu, 22 Juli 2026 - 01:00 WIB

Mengenal Asy-Syifa binti Abdullah: Tokoh Literasi dan Pelopor Perempuan Islam

Berita Terbaru

Komisi Informasi, Komunikasi, dan Digital (Infokomdigi) MUI berkolaborasi dengan Baznas RI untuk memperkuat literasi keislaman digital AI.(poto: hidayatullah.com).

Berita Islam

MUI dan Baznas Latih Mujahid Digital Kuasai Teknologi AI

Kamis, 30 Jul 2026 - 09:00 WIB