Jakarta, dorlanhikmah.com – Banyak umat Islam memanjatkan doa untuk diri sendiri setiap hari. Namun, doa untuk orang lain tanpa sepengetahuannya juga memiliki keutamaan yang sangat besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa amalan ini termasuk doa yang mustajab dan mendapat doa balasan dari malaikat.
Hadits-hadits shahih mendorong setiap muslim untuk memperbanyak doa bagi sesama muslim. Amalan ini mencerminkan keikhlasan, mempererat ukhuwah, sekaligus membuka peluang memperoleh kebaikan yang sama dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Rasulullah Menjelaskan Keutamaan Doa untuk Saudara Muslim
Islam mengajarkan setiap muslim agar tidak hanya berdoa untuk dirinya sendiri. Sebaliknya, seorang muslim juga perlu memohonkan kebaikan bagi keluarga, sahabat, tetangga, dan seluruh kaum muslimin.
Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّ دَعْوَةَ الأَخِ فِي اللَّهِ تُسْتَجَابُ
Artinya:
“Sesungguhnya doa seseorang kepada saudaranya karena Allah adalah doa yang mustajab (terkabulkan).”
(HR. Muslim no. 2732).
Hadits tersebut menunjukkan bahwa Allah memberikan keutamaan khusus kepada hamba yang mendoakan saudaranya dengan tulus. Orang yang berdoa tidak mengharapkan pujian ataupun balasan dari manusia. Ia hanya berharap Allah memberikan kebaikan kepada saudaranya.
Keikhlasan seperti inilah yang membuat doa tersebut memiliki kedudukan istimewa.
Malaikat Mengaminkan Doa Orang yang Ikhlas
Shafwan bin Abdullah meriwayatkan sebuah kisah yang menunjukkan besarnya keutamaan doa tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
Ketika tiba di negeri Syam, Shafwan bertemu Ummu Ad-Darda’ di rumahnya. Saat mengetahui Shafwan akan menunaikan ibadah haji, Ummu Ad-Darda’ meminta agar dirinya dan keluarganya ikut didoakan.
Permintaan itu berlandaskan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ
Artinya:
“Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab. Di sisi orang yang berdoa terdapat malaikat yang ditugaskan. Setiap kali ia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat itu berkata, ‘Aamiin. Dan bagimu juga seperti itu.'”
(HR. Muslim no. 2733).
Setelah itu, Shafwan bertemu Abu Ad-Darda’ di pasar. Abu Ad-Darda’ mengulangi hadits yang sama dan menegaskan bahwa ia mendengarnya langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Hadits tersebut memperlihatkan bahwa malaikat tidak hanya mengaminkan doa seorang muslim. Malaikat juga memohon kepada Allah agar orang yang berdoa memperoleh kebaikan yang sama.
Islam Melarang Sikap Egois Saat Berdoa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengingatkan umatnya agar tidak membatasi doa hanya untuk diri sendiri.
Abdullah bin Amr meriwayatkan bahwa seseorang pernah berdoa:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَلِمُحَمَّدٍ وَحْدَنَا
Artinya:
“Ya Allah, ampunilah aku dan Muhammad saja.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda:
لَقَدْ حَجَبْتَهَا عَنْ نَاسٍ كَثِيرٍ
Artinya:
“Sungguh engkau telah menyempitkan doamu dari orang banyak.”
(HR. Ahmad no. 6849, Al-Adab Al-Mufrad no. 626, dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban).
Melalui hadits tersebut, Rasulullah mengajarkan keluasan hati. Seorang muslim sebaiknya tidak hanya memohon ampunan dan rahmat bagi dirinya sendiri. Ia juga perlu mendoakan kaum muslimin agar memperoleh kebaikan yang sama.
Mendoakan Orang Lain Membawa Banyak Hikmah
Kebiasaan mendoakan sesama muslim memberikan banyak manfaat bagi kehidupan seorang mukmin.
Pertama, amalan ini melatih keikhlasan. Seseorang tidak mengharapkan balasan maupun ucapan terima kasih karena orang yang didoakan bahkan tidak mengetahui doa tersebut.
Kedua, doa itu memperkuat ukhuwah Islamiyah. Setiap muslim yang rutin mendoakan saudaranya akan lebih mudah menumbuhkan rasa cinta, kasih sayang, dan empati.
Ketiga, doa tersebut membantu membersihkan hati dari sifat iri dan dengki. Seseorang akan sulit memelihara hasad jika lisannya terus memohonkan kebaikan bagi orang lain.
Keempat, kebiasaan ini mengingatkan bahwa Islam mengajarkan kepedulian sosial. Seorang muslim tidak hidup sendiri, melainkan menjadi bagian dari umat yang saling menguatkan melalui doa.
Para Sahabat Juga Saling Meminta Doa
Kisah Ummu Ad-Darda’ menunjukkan bahwa para sahabat juga saling meminta doa. Ia meminta Shafwan mendoakan keluarganya ketika menunaikan ibadah haji.
Permintaan seperti itu tidak bertentangan dengan syariat. Banyak ulama membolehkan seorang muslim meminta doa kepada orang saleh, terutama ketika mereka menjalankan ibadah atau berada pada waktu yang memiliki keutamaan.
Meski demikian, setiap muslim tetap menggantungkan harapan hanya kepada Allah. Doa orang lain tidak menggantikan kewajiban seseorang untuk terus berdoa kepada Allah secara langsung.
Imam An-Nawawi Menjelaskan Makna Doa Bi Zhahril Ghaib
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa istilah bi zhahril ghaib berarti seseorang mendoakan saudaranya ketika orang tersebut tidak hadir dan tidak mengetahui doa itu.
Menurut beliau, kondisi tersebut lebih mencerminkan keikhlasan. Bahkan, seseorang tetap memperoleh keutamaan itu ketika ia mendoakan sekelompok kaum muslimin atau seluruh kaum muslimin.
Imam An-Nawawi juga menjelaskan bahwa sebagian ulama salaf mendahulukan doa untuk saudaranya sebelum berdoa untuk dirinya sendiri. Mereka berharap Allah mengabulkan doa itu sekaligus memberikan kebaikan yang sama kepada mereka.
Ulama Salaf Memberikan Teladan dalam Berdoa
Ibnu Jauzi meriwayatkan kisah Harm bin Hayyan yang pernah mengunjungi tabi’in mulia, Uwais al-Qarni.
Saat Harm berharap hubungan mereka terus terjalin melalui kunjungan, Uwais menjawab bahwa ia menjaga hubungan itu melalui doa tanpa sepengetahuan sahabatnya. Menurut Uwais, doa seperti itu lebih bermanfaat dan lebih jauh dari riya.
Ibnu Jauzi juga menceritakan Abu Hamdun yang memiliki daftar berisi sekitar 300 nama sahabatnya. Setiap malam, ia menyebut nama mereka satu per satu dalam doanya.
Suatu malam Abu Hamdun tertidur sebelum menjalankan kebiasaannya. Dalam mimpinya, seseorang menegurnya dengan bertanya mengapa ia tidak menyalakan lampu-lampunya. Setelah terbangun, Abu Hamdun segera mendoakan seluruh sahabatnya sebagaimana biasa.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa para ulama salaf memberikan perhatian besar kepada doa untuk sesama muslim. Mereka memandang amalan itu sebagai bentuk kasih sayang yang terus mengalir meskipun tanpa diketahui oleh orang yang menerima doa.(ust)









Komentar