Jakarta, dorlanhikmah.com – Dakwah tauhid dalam Islam, menjadi inti utama seluruh risalah para nabi dan rasul yang diutus Allah kepada umat manusia.
Seluruh perjuangan mereka berfokus pada satu tujuan besar, yaitu memurnikan ibadah hanya kepada Allah dan membersihkan manusia dari segala bentuk syirik serta penyembahan selain-Nya.
Dalam realitas kehidupan umat, banyak orang memahami Islam hanya sebatas identitas dan pengakuan lisan.
Padahal, para ulama menegaskan bahwa inti agama ini terletak pada tauhid yang benar, bukan sekadar pengucapan syahadat tanpa pemahaman dan pengamalan yang lurus.
Tauhid sebagai Misi Utama Para Rasul
Allah Ta’ala menegaskan misi para rasul dalam firman-Nya:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan: Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36)
Ayat ini menunjukkan bahwa seluruh nabi membawa pesan yang sama, yaitu mengajak manusia untuk mengesakan Allah dalam ibadah dan menolak segala bentuk sesembahan selain-Nya.
Para rasul tidak memulai dakwah mereka dengan hal-hal sekunder. Mereka memulai dari fondasi utama, yaitu tauhid uluhiyah, karena seluruh amal ibadah tidak akan diterima tanpa kemurnian akidah.
Hakikat Tauhid dalam Ajaran Islam
Tauhid tidak hanya berarti meyakini bahwa Allah adalah Pencipta alam semesta. Lebih dari itu, tauhid mencakup pengesaan Allah dalam seluruh bentuk ibadah, baik lahir maupun batin.
Tauhid terbagi dalam beberapa aspek, namun yang paling utama adalah tauhid uluhiyah, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah. Semua doa, harapan, rasa takut, dan tawakal harus diarahkan hanya kepada Allah.
Tauhid inilah yang menjadi inti dari kalimat laa ilaha illallah, yang berarti tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.
Al-Fatihah dan Makna Ibadah Murni
Surah Al-Fatihah menjadi contoh nyata pendidikan tauhid dalam Al-Qur’an. Dalam ayat:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.”
Kalimat ini menegaskan bahwa seluruh ibadah harus ditujukan hanya kepada Allah. Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini juga menolak segala bentuk syirik dan riya dalam amal.
Dengan demikian, seorang muslim tidak boleh mencampurkan ibadah kepada Allah dengan permintaan kepada selain-Nya, baik kepada nabi, wali, maupun makhluk lainnya.
Larangan Menyekutukan Allah
Allah Ta’ala memperjelas larangan syirik dalam firman-Nya:
وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً
“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” (QS. An-Nisa: 36)
Allah juga berfirman:
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَداً
“Sesungguhnya masjid-masjid itu milik Allah, maka janganlah kalian menyeru siapa pun bersama Allah.” (QS. Al-Jin: 18)
Kedua ayat ini menegaskan bahwa ibadah adalah hak mutlak Allah. Tidak ada satu pun makhluk yang boleh disekutukan dengan-Nya dalam bentuk ibadah apa pun.
Kesalahan dalam Memahami Syahadat
Sebagian orang mengira bahwa cukup dengan mengucapkan syahadat, maka seseorang telah sempurna tauhidnya. Pemahaman ini tidak tepat jika tidak disertai ilmu, keyakinan, dan pengamalan yang benar.
Kaum munafik pada masa Nabi ﷺ juga mengucapkan syahadat, namun Allah tetap mencela mereka karena hati mereka tidak beriman dengan benar. Hal ini menunjukkan bahwa pengakuan lisan saja tidak cukup tanpa ketundukan hati dan amal yang benar.
Penjelasan Ulama tentang Hakikat Tauhid
Seorang ulama besar, Muhammad bin Saleh al-Utsaimin, menjelaskan bahwa kebanyakan manusia tidak mengingkari Allah sebagai Pencipta. Namun, masalah utama yang di hadapi para rasul adalah penyimpangan dalam ibadah kepada Allah.
Beliau menerangkan bahwa tauhid rububiyah pada dasarnya sudah diakui manusia, tetapi yang sering dilanggar adalah tauhid uluhiyah, yaitu ketika manusia mengarahkan ibadah kepada selain Allah.
Dengan penjelasan ini, menjadi jelas bahwa inti dakwah para nabi bukan sekadar membuktikan keberadaan Allah, tetapi mengajak manusia untuk memurnikan ibadah hanya kepada-Nya.
Kesombongan Fir’aun dan Penolakan Tauhid
Al-Qur’an menceritakan kesombongan Fir’aun yang berkata:
فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى
“Aku adalah Tuhan kalian yang paling tinggi.” (QS. An-Nazi’at: 24)
Fir’aun juga berkata:
مَا عَلِمْتُ لَكُم مِّنْ إِلَـهٍ غَيْرِي
“Aku tidak mengetahui bagi kalian sesembahan selain diriku.” (QS. Al-Qashash: 38)
Namun Allah menegaskan bahwa Fir’aun sebenarnya mengakui kebenaran di dalam hatinya, tetapi ia menolak karena kesombongan.
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنفُسُهُمْ ظُلْماً وَعُلُوّاً
“Mereka mengingkarinya padahal hati mereka meyakininya karena kezaliman dan kesombongan.” (QS. An-Naml: 14)
Tujuan Penciptaan Manusia dan Jin
Allah menegaskan tujuan penciptaan manusia dan jin dalam firman-Nya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini menunjukkan bahwa seluruh kehidupan manusia berpusat pada ibadah kepada Allah. Inilah inti dari tauhid yang benar dalam Islam.
Dakwah Para Nabi adalah Dakwah Tauhid
Seluruh nabi membawa pesan yang sama kepada umat mereka.
Nabi Nuh ‘alaihis salam berkata:
يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـهٍ غَيْرُهُ
Begitu juga Nabi Hud, Shalih, dan Syu’aib, semuanya menyeru:
“Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada bagi kalian sesembahan selain-Nya.” (QS. Al-A’raf)
Kesamaan pesan ini menunjukkan bahwa dakwah tauhid adalah fondasi seluruh risalah kenabian.
Pandangan Ulama Salaf tentang Tauhid
Ulama menjelaskan bahwa tauhid adalah inti dari seluruh ajaran Islam. Seorang ulama kontemporer, Abdul Aziz bin Baz, menegaskan bahwa seluruh amal tidak akan di terima tanpa tauhid yang benar.
Demikian pula Muhammad Nashiruddin al-Albani menjelaskan bahwa para nabi menghabiskan sebagian besar hidup mereka untuk mengajak manusia kepada tauhid, meskipun mendapat penolakan dari kaumnya.
Sementara itu, Shalih bin Fauzan al-Fauzan menegaskan bahwa syahadat tidak sah tanpa pengamalan tauhid yang benar dalam kehidupan sehari-hari.
Akidah tauhid menjadi fondasi utama dalam kehidupan seorang muslim. Tanpa tauhid, seluruh amal ibadah tidak memiliki nilai di sisi Allah.
Akidah ibarat pondasi bangunan. Jika pondasi rusak, maka seluruh bangunan akan runtuh. Begitu pula amal tanpa tauhid tidak akan berdiri kokoh di sisi Allah.
Oleh sebab itu, setiap muslim wajib memberikan perhatian besar terhadap perbaikan akidah sebelum memperbanyak amalan lainnya.(ust)








Komentar