Nasihat Ibnu Al-Qayyim: Pentingnya Menjaga Lisan

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 7 Juni 2026 - 21:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Nasihat Ibnu Al-Qayyim tentang menjaga lisan, bahaya ucapan, dan hadis Nabi ﷺ agar berkata baik( ilustrasi poto : BAZNAS Kabupaten Cianjur ).

Nasihat Ibnu Al-Qayyim tentang menjaga lisan, bahaya ucapan, dan hadis Nabi ﷺ agar berkata baik( ilustrasi poto : BAZNAS Kabupaten Cianjur ).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Menjaga lisan dalam islam menjadi pesan utama yang Ibnu Al-Qayyim رحمه الله sampaikan dalam banyak karyanya.

Beliau menegaskan bahwa lisan menentukan arah kehidupan seseorang. Ucapan bisa mengangkat derajat atau justru menjatuhkan seseorang ke dalam kebinasaan.

Ibnu Al-Qayyim menjelaskan bahwa manusia sering meremehkan lisan karena ia mudah bergerak. Banyak orang berbicara tanpa berpikir, lalu menanggung akibat dari ucapannya sendiri.

Karena itu, beliau mengingatkan bahwa setiap kata memiliki tanggung jawab besar di hadapan Allah ﷻ.

Seorang muslim harus memahami bahwa lisan tidak sekadar alat komunikasi, tetapi juga sumber pahala atau dosa. Oleh sebab itu, Islam menempatkan adab berbicara sebagai bagian penting dari iman.

Ibnu Al-Qayyim رحمه الله menjelaskan bahwa seseorang akan merasakan ketenangan jika ia menjaga lisannya. Ia menukil ucapan ulama salaf sebagai pengingat:

قَالَ ثَابِتُ بْنُ قُرَّةَ:
“رَاحَةُ الْجَسَدِ فِي قِلَّةِ الطَّعَامِ، وَرَاحَةُ الْقَلْبِ فِي قِلَّةِ الذُّنُوبِ، وَرَاحَةُ اللِّسَانِ فِي قِلَّةِ الْكَلَامِ.”

Ucapan ini menegaskan bahwa seseorang mencapai ketenangan ketika ia mengurangi ucapan yang tidak bermanfaat. Orang yang banyak berbicara sering kehilangan ketenangan karena ia membuka peluang lebih besar untuk salah.

Dosa Lisan yang Sering Diremehkan

Ibnu Al-Qayyim menyoroti bahwa banyak orang meremehkan dosa lisan. Mereka menganggap ghibah, namimah, dan ucapan tanpa ilmu sebagai hal biasa. Padahal, dosa tersebut bisa merusak amal dan hubungan sosial.

Beliau menjelaskan bahwa seseorang bisa menjaga diri dari dosa besar seperti mencuri atau zina, tetapi ia tetap gagal menjaga lisannya. Hal ini terjadi karena lisan bergerak tanpa usaha besar, sehingga manusia sering tidak sadar saat menggunakannya secara salah.

Dalam kehidupan sehari-hari, satu ucapan bisa merusak kehormatan seseorang. Karena itu, Islam menekankan pentingnya berpikir sebelum berbicara.

Baca Juga :  Dakwah Tauhid dalam Islam: Inti Perjuangan Para Nabi

Ibnu Al-Qayyim رحمه الله menjelaskan bahwa setan menggunakan lisan sebagai pintu utama untuk menyesatkan manusia. Ia mendorong manusia berbicara tanpa ilmu dan tanpa pertimbangan.

Setan menghias ucapan batil agar terlihat benar. Ia juga membuat kebenaran tampak berat untuk diucapkan. Dengan cara ini, banyak orang jatuh dalam kesalahan tanpa mereka sadari.

Setan juga memanfaatkan kelalaian manusia saat berbicara untuk menimbulkan fitnah dan permusuhan di tengah masyarakat.

Hadis Nabi ﷺ tentang Lisan

Rasulullah ﷺ memberikan pedoman jelas dalam berbicara:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa seorang muslim hanya berbicara jika ia membawa kebaikan. Jika tidak, ia memilih diam.

Dalam riwayat lain Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa satu ucapan bisa menjatuhkan seseorang ke dalam neraka jika ia tidak berhati-hati.

Ibnu Al-Qayyim رحمه الله menjelaskan bahwa lisan bisa menghapus amal seseorang. Seseorang mungkin mengumpulkan amal selama bertahun-tahun, tetapi satu ucapan yang salah bisa menghancurkan semuanya.

Allah ﷻ juga mengingatkan dalam Al-Qur’an:

“مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ”
“Tidak ada satu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18)

Ayat ini menegaskan bahwa setiap kata tercatat dan akan dimintai pertanggungjawaban.

Teladan Para Salaf dalam Menjaga Lisan

Para sahabat Rasulullah ﷺ menunjukkan kehati-hatian luar biasa dalam berbicara. Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه memberikan peringatan keras tentang lisan:

احْذَرْ لِسَانَكَ أَنْ يَقُولَ فَتُبْتَلَى إِنَّ الْبَلَاءَ مُوَكَّلٌ بِالْمَنْطِقِ

Beliau juga sering mengingatkan dirinya sendiri dengan memegang lisannya dan menyadari bahwa banyak kesalahan berasal dari ucapan.

Baca Juga :  Keseimbangan Ibadah dan Akhlak dalam Islam: Antara Ritual dan Perilaku

Para ulama salaf lain juga hanya berbicara jika mereka melihat manfaat yang jelas. Mereka memilih diam ketika ucapan tidak membawa kebaikan.

Ibnu Al-Qayyim رحمه الله menjelaskan bahwa ucapan yang tidak terkontrol bisa merusak hubungan sosial. Banyak konflik muncul hanya karena satu kalimat yang tidak dipikirkan dengan baik.

Ghibah dan fitnah menyebar melalui ucapan yang ringan di lidah, tetapi berat dampaknya di masyarakat. Karena itu, Islam menutup jalan menuju kerusakan sosial melalui aturan ketat tentang lisan.

Seorang muslim harus menjaga lisannya agar tidak menyakiti orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Prinsip Berbicara dalam Islam

Ibnu Al-Qayyim menegaskan bahwa seseorang harus menimbang setiap ucapan sebelum ia berbicara. Ia perlu menilai manfaat dan mudarat dari setiap kata.

Jika ucapan membawa manfaat, ia mengucapkannya dengan bijak. Jika tidak, ia menahan diri.

Prinsip ini sejalan dengan ajaran Nabi ﷺ yang menekankan keseimbangan antara berbicara dan diam.

Ibnu Al-Qayyim رحمه الله menjelaskan bahwa diam menunjukkan kekuatan iman. Orang yang mampu menahan lisannya menunjukkan kedewasaan spiritual.

Ia menegaskan bahwa lisan sering membawa manusia pada dosa karena ia tidak membutuhkan usaha besar untuk bergerak. Oleh sebab itu, pengendalian lisan menjadi latihan penting dalam kehidupan seorang muslim.

Dengan membiasakan diam dari hal yang tidak bermanfaat, seseorang menjaga dirinya dari banyak dosa.(ust)

Berita Terkait

Dakwah Tauhid dalam Islam: Inti Perjuangan Para Nabi
Keseimbangan Ibadah dan Akhlak dalam Islam: Antara Ritual dan Perilaku
Etika Dagang Rasulullah yang Penuh Berkah
Waspada Ulama Su’ di Balik Kasus Pelecehan Seksual
Kesalahan dalam Ibadah Qurban yang Masih Sering Terjadi Saat Idul Adha
Flexing di Media Sosial dan Pelajaran Besar dari Kisah Qarun dalam Al-Qur’an
Al-‘Afuwwu: Allah Maha Menghapus Dosa dan Membuka Pintu Ampunan Tanpa Batas
Berita ini 6 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 17:00 WIB

Dakwah Tauhid dalam Islam: Inti Perjuangan Para Nabi

Minggu, 7 Juni 2026 - 21:00 WIB

Nasihat Ibnu Al-Qayyim: Pentingnya Menjaga Lisan

Minggu, 31 Mei 2026 - 19:00 WIB

Keseimbangan Ibadah dan Akhlak dalam Islam: Antara Ritual dan Perilaku

Senin, 25 Mei 2026 - 07:00 WIB

Etika Dagang Rasulullah yang Penuh Berkah

Sabtu, 23 Mei 2026 - 07:00 WIB

Waspada Ulama Su’ di Balik Kasus Pelecehan Seksual

Berita Terbaru

Metode berpikir logis untuk membangun kesimpulan yang benar di tengah derasnya opini media sosial menurut Imam Al-gazali( ilustrasi poto : surau.co )

Sejarah

Tiga Metode Berpikir Imam Al-Ghazali di Era Media Sosial

Rabu, 10 Jun 2026 - 11:00 WIB

Asal usul Bulan Hijriyah( poto : madaninews.id )

Sejarah

Asal Usul Nama Bulan Hijriah dari Tradisi Arab Kuno

Rabu, 10 Jun 2026 - 09:00 WIB

Delapan amalan yang mengundang do'a para Malaikat( poto :chatGPT ).

Al-Qur'an

8 Amalan yang Mengundang Doa Para Malaikat

Rabu, 10 Jun 2026 - 07:00 WIB

Al-Qur'an( poto : islami.co )

Al-Qur'an

Bergembira dengan Al-Qur’an, Karunia yang Tak Tertandingi

Rabu, 10 Jun 2026 - 05:22 WIB