Kisah Nabi Muhammad SAW Melihat Neraka Saat Isra Mi’raj

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 23 Juni 2026 - 19:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kisah Nabi Muhammad SAW melihat neraka saat Isra Mi’raj.( ilustrasi poto : bincangsyariah)

Kisah Nabi Muhammad SAW melihat neraka saat Isra Mi’raj.( ilustrasi poto : bincangsyariah)

Jakarta, dorlanhikmah.com – Nabi Muhammad melihat neraka dalam perjalanan Isra dan Mi’raj sebagai bagian dari pelajaran yang Allah SWT tunjukkan kepada beliau tentang balasan amal manusia.

Dalam perjalanan menuju Sidratul Muntaha, Rasulullah SAW menyaksikan keindahan surga sekaligus melihat gambaran siksa bagi orang yang mengabaikan perintah Allah dan menyakiti sesama.

Syekh Ahmad Dardir menjelaskan kisah tersebut dalam kitab Al-Dardir ‘ala Qissat al-Mi’raj. Melalui riwayat itu, Rasulullah SAW menggambarkan keadaan akhirat kepada para sahabat agar umat memahami akibat dari setiap perbuatan.

Selain menunjukkan dahsyatnya neraka, kisah ini juga membawa kabar tentang luasnya rahmat Allah dan besarnya pahala bagi orang yang menjaga ibadah, memperbanyak dzikir, dan berbakti kepada orang tua.

Rasulullah SAW Menceritakan Kenikmatan Surga

Setelah menyelesaikan perjalanan Mi’raj, Rasulullah SAW menyampaikan pengalaman tersebut kepada para sahabat. Beliau menjelaskan berbagai kenikmatan yang Allah siapkan bagi penghuni surga.

Beliau menceritakan bahwa di surga terdapat buah delima dengan ukuran sangat besar. Selain itu, beliau juga melihat burung-burung surga yang ukurannya menyerupai unta Khurasan yang memiliki dua punuk.

Kemudian Sayyidina Abu Bakar RA bertanya kepada Rasulullah SAW:

“Wahai Rasulullah, apakah daging burung itu terasa nikmat?”

Rasulullah SAW menjawab bahwa beliau pernah mencicipinya dan merasakan kenikmatan yang tidak dapat dibandingkan dengan seluruh kenikmatan makanan di dunia.

Beliau lalu menyampaikan harapan agar Abu Bakar juga dapat menikmati kenikmatan tersebut di akhirat.

Gambaran itu menunjukkan bahwa surga bukan hanya tempat penuh kebahagiaan, tetapi juga tempat balasan terbaik bagi orang yang beriman.

Allah SWT berfirman:

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

Artinya:

“Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”
(QS. Al-Baqarah: 25)

Rasulullah SAW Menyaksikan Telaga Kautsar

Selanjutnya Rasulullah SAW melihat Telaga Kautsar.

Beliau melihat rumah-rumah kecil di kedua sisinya yang tersusun dari mutiara berongga. Selain itu, tanah di sekitarnya mengeluarkan aroma harum seperti minyak kasturi.

Pemandangan tersebut menunjukkan kemuliaan yang Allah siapkan bagi Rasulullah SAW dan umat yang mengikuti ajarannya.

Baca Juga :  Perjalanan Dagang Nabi Muhammad ke Syam dan Pendeta Buhaira

Allah SWT berfirman:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

Artinya:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.”
(QS. Al-Kautsar: 1)

Karena itu, banyak ulama memaknai Telaga Kautsar sebagai simbol kemuliaan dan kasih sayang Allah kepada Nabi Muhammad SAW.

Ketika Nabi Muhammad SAW Melihat Neraka

Setelah memperlihatkan kenikmatan surga, Allah SWT memperlihatkan neraka kepada Rasulullah SAW.

Beliau melihat batu dan besi yang menjadi gambaran tempat kemurkaan, kutukan, dan siksaan.

Riwayat tersebut menjelaskan bahwa panas neraka sangat dahsyat hingga dapat menghancurkan apa pun yang masuk ke dalamnya.

Kemudian Rasulullah SAW melihat sekelompok manusia yang memakan bangkai.

Beliau bertanya kepada Malaikat Jibril:

“Siapakah mereka?”

Jibril menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang ketika hidup gemar memakan daging manusia, yaitu orang yang suka menggunjing dan mengumpat.

Melalui gambaran tersebut, Rasulullah SAW mengingatkan umat agar menjaga lisan.

Allah SWT berfirman:

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

Artinya:

“Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati?”
(QS. Al-Hujurat: 12)

Ayat tersebut memperkuat pesan bahwa ghibah bukan sekadar kesalahan sosial, melainkan dosa yang membawa konsekuensi besar.

Pertemuan Rasulullah SAW dengan Malaikat Malik

Setelah itu, Rasulullah SAW melihat Malaikat Malik, penjaga neraka.

Riwayat menggambarkan Malaikat Malik sebagai sosok yang sangat tegas dan penuh kewibawaan.

Rasulullah SAW segera mengucapkan salam kepada beliau.

Kemudian pintu neraka tertutup sebagai bentuk penghormatan kepada Rasulullah SAW.

Keterangan tentang Malaikat Malik juga muncul dalam Al-Qur’an.

Allah SWT berfirman:

وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ

Artinya:

“Mereka berkata: Wahai Malik, biarlah Tuhanmu membinasakan kami.”
(QS. Az-Zukhruf: 77)

Karena itu, para ulama menjelaskan bahwa keberadaan Malaikat Malik menunjukkan bahwa azab neraka berjalan sesuai ketetapan Allah.

Rasulullah SAW Melanjutkan Perjalanan ke Sidratul Muntaha

Selanjutnya Rasulullah SAW melanjutkan perjalanan menuju Sidratul Muntaha.

Beliau melihat suasana yang dipenuhi cahaya dan warna yang tidak menyerupai apa pun di dunia.

Baca Juga :  Tiga Metode Berpikir Imam Al-Ghazali di Era Media Sosial

Pada titik itu, Malaikat Jibril berhenti.

Jibril menjelaskan bahwa dirinya tidak dapat melanjutkan perjalanan melewati batas yang telah Allah tentukan.

Setelah itu, Rasulullah SAW melanjutkan perjalanan menuju Mustawa.

Di tempat tersebut beliau mendengar suara gemericik yang menenangkan dan merasakan suasana yang penuh kemuliaan.

Allah SWT berfirman:

عِندَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىٰ ۝ عِندَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ

Artinya:

“Di dekat Sidratul Muntaha, di dekatnya terdapat surga tempat tinggal.”
(QS. An-Najm: 14–15)

Lelaki yang Selalu Berdzikir kepada Allah

Kemudian Rasulullah SAW melihat seorang lelaki yang dipenuhi cahaya dari ‘Arsy.

Beliau bertanya kepada Jibril apakah lelaki itu seorang malaikat.

Jibril menjawab bahwa dia bukan malaikat.

Rasulullah SAW bertanya lagi apakah dia seorang nabi.

Jibril kembali menjawab bahwa dia bukan nabi.

Akhirnya Jibril menjelaskan bahwa lelaki itu adalah seorang hamba yang semasa hidup selalu berdzikir kepada Allah.

Selain itu, hatinya selalu terikat dengan masjid.

Tidak hanya itu, dia juga menjaga adab dan tidak pernah menyakiti kedua orang tuanya.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa amal yang terlihat sederhana dapat mengangkat derajat seseorang.

Rasulullah SAW bersabda:

رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ

Artinya:

“Keridaan Allah bergantung pada keridaan orang tua dan kemurkaan Allah bergantung pada kemurkaan orang tua.”

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin juga menjelaskan bahwa dzikir yang terus dilakukan akan menghidupkan hati dan menguatkan hubungan seorang hamba dengan Allah SWT.

Pesan Nabi Ibrahim tentang Tanaman Surga

Dalam perjalanan itu Rasulullah SAW juga bertemu Nabi Ibrahim AS.

Beliau menyambut Rasulullah SAW dengan penuh kemuliaan.

Kemudian Nabi Ibrahim berpesan agar Rasulullah menyampaikan kepada umat supaya memperbanyak tanaman surga.

Rasulullah SAW bertanya:

“Apakah tanaman surga itu?”

Nabi Ibrahim menjawab:

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ

Dalam riwayat lain beliau juga menyebut:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

Dzikir tersebut menjadi amal yang menumbuhkan kebaikan dan menjadi penghias surga.

Karena itu, para ulama terus menganjurkan umat Islam agar memperbanyak dzikir dalam kehidupan sehari-hari.(ust)

Berita Terkait

Menelusuri Jejak Sejarah Pesantren dan Makna Santri
Kisah Nabi Ibrahim Menghormati Tamu Beda Agama yang Penuh Keteladanan
Kisah Umar bin Abdul Aziz Tolak Gratifikasi dan Fasilitas Negara
Kisah Keteguhan Ulama Besar Menghadapi Penjara Penguasa
Mukjizat Perang Tabuk: Berkah Makanan dan Kunci Surga
Kisah Abdullah bin Abi Umayyah Meraih Hidayah
Ketegasan Ali bin Abi Thalib Menjaga Amanah Kas Negara
Integritas Imam Abu Hanifah Hindari Konflik Kepentingan
Berita ini 13 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 13:17 WIB

Menelusuri Jejak Sejarah Pesantren dan Makna Santri

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:30 WIB

Kisah Nabi Ibrahim Menghormati Tamu Beda Agama yang Penuh Keteladanan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:24 WIB

Kisah Umar bin Abdul Aziz Tolak Gratifikasi dan Fasilitas Negara

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 08:21 WIB

Kisah Keteguhan Ulama Besar Menghadapi Penjara Penguasa

Kamis, 15 Oktober 2026 - 07:13 WIB

Mukjizat Perang Tabuk: Berkah Makanan dan Kunci Surga

Berita Terbaru

Tim Kerukunan Umat Beragama Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi mengawal langsung survei kerukunan umat beragama di Kabupaten Batang Hari.(poto: jambi.kemenag.go.id).

Berita Islam

Kemenag Jambi Awasi Survei Kerukunan di Batang Hari

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:56 WIB

Kegiatan gelar wicara bertajuk “Akses Rumah Pertama bagi Pekerja Muda” dalam ajang Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).(poto: republika).

Berita Islam

Bank BSN Rilis KPR Tenor 40 Tahun untuk Pekerja Muda

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:39 WIB

Gus Nadir.(poto: istimewa).

Pendidikan

Santri Masa Kini Mesti Kuasai AI dan Keterampilan Digital

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:32 WIB

Ponpes THOHIR YASIN Lendang Nangka-Masbagik-Lombok Timur(poto: istimewa).

Sejarah

Menelusuri Jejak Sejarah Pesantren dan Makna Santri

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:17 WIB

Isim Isyarah.

Bahasa Arab

Panduan Lengkap Isim Isyarah: Jenis dan Contoh Kalimat

Jumat, 23 Okt 2026 - 12:56 WIB