Jakarta, dorlanhikmah.com – Al-Qur’an menyajikan panduan pengasuhan anak secara sempurna untuk menjadi teladan sepanjang masa. Allah SWT mendokumentasikan pola asuh Nabi Ibrahim AS saat mendidik anak laki-laki, serta mengabadikan kisah Maryam sebagai inspirasi mendidik anak perempuan. Kali ini, kita akan mengulas secara mendalam mengenai tips parenting Keluarga Imran yang menjadi teladan luar biasa bagi para orang tua modern.
Pendakwah tadabbur Al-Qur’an, Ustadz Ahmad Isrofiel Mardhatillah hafidzahullah, menjelaskan bahwa sebagian orang mungkin merasa sulit meniru Nabi Ibrahim karena beliau seorang rasul. Oleh karena itu, Allah SWT menghadirkan kisah Keluarga Imran yang bukan dari kalangan nabi sebagai contoh nyata yang realistis bagi manusia biasa. Allah SWT menegaskan keistimewaan keluarga ini dalam Surah Ali Imran ayat 33-34:
۞ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىٓ اٰدَمَ وَنُوْحًا وَّاٰلَ اِبْرٰهِيْمَ وَاٰلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعٰلَمِيْنَۙ ذُرِّيَّةً ۢ بَعْضُهَا مِنْۢ بَعْضٍۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌۚ
“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (pada masa masing-masing), (sebagai) satu keturunan, sebagiannya adalah (keturunan) dari sebagian yang lain. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS Ali-Imran: 33-34)
Dalam kajian Parenting Baitul Maqdis yang diselenggarakan oleh Spirit of Aqsa (SoA) di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta Selatan pada Ahad (16/7/2023), Ustadz Isrofiel membagikan tiga pelajaran penting dari Keluarga Imran. Berikut ulasan lengkapnya.
Kekuatan Doa Tanpa Batas
Ustadz Isrofiel menjuluki Keluarga Imran sebagai “geng doa” karena seluruh anggota keluarganya sangat aktif memohon kepada Allah SWT. Keluarga ini terdiri dari Imran (ayah), Hanna (ibu), Nabi Zakaria (paman), dan Nabi Yahya (sepupu Maryam). Saat Maryam lahir, Imran telah wafat sehingga kepengasuhannya beralih kepada pamannya, Nabi Zakaria.
Keistimewaan keluarga ini terletak pada status mereka yang bukan nabi, sehingga semua orang tua hari ini berpotensi meniru kesuksesan mereka. Ibu Maryam bahkan memanjatkan doa terbaik dan bernazar sejak mendapati dirinya tengah mengandung. Komitmen mulia ini terekam jelas dalam Surah Ali Imran ayat 35:
اِذْ قَالَتِ امْرَاَتُ عِمْرَانَ رَبِّ اِنِّيْ نَذَرْتُ لَكَ مَا فِيْ بَطْنِيْ مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّيْ ۚ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
“(Ingatlah), ketika istri Imran berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu, apa (janin) yang dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu), maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengingat, Maha Mengetahui.” (QS Ali-Imran: 35)
Istri Imran merancang sebuah proyek besar untuk janinnya agar kelak menjadi pelayan di Baitul Maqdis. Para ulama mengartikan istilah muharraran sebagai ketetapan hati seorang ibu yang menginginkan anaknya berkhidmat di jalan Allah SWT. Ustadz Isrofiel mengingatkan para orang tua untuk terus membenahi kualitas doa mereka demi masa depan anak-anak.
Keluarga Imran menunjukkan ketekunan berdoa yang luar biasa tanpa pernah mengenal rasa putus asa. Keteladanan ini terpancar dari Nabi Zakaria yang terus meminta keturunan meski fisiknya sudah melemah, seperti dalam Surah Maryam ayat 4:
قَالَ رَبِّ اِنِّيْ وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّيْ وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَّلَمْ اَكُنْۢ بِدُعَاۤىِٕكَ رَبِّ شَقِيًّا
Dia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku.” (QS Maryam: 4)
Nabi Zakaria meyakini kebaikan Allah sepenuhnya dan tidak pernah merasa kecewa dalam berdoa. Keajaiban doa Maryam yang selalu terkabul akhirnya menginspirasi sang sepupu, Nabi Yahya, untuk menjadi hamba yang rajin berdoa. Keyakinan mutlak kepada Allah SWT menjadikan Keluarga Imran menempati posisi teratas dalam urusan kekuatan doa.
Mendekatkan Anak dengan Masjid dan Mihrab
Keluarga Imran membiasakan anak-anak mereka tumbuh dan berkembang di lingkungan masjid atau mihrab sejak dini. Maryam tumbuh menjadi perempuan salehah yang menghabiskan waktunya untuk beribadah di tempat shalat. Pola asuh ini selaras dengan perintah Allah SWT dalam Surah Ali Imran ayat 43:
يٰمَرْيَمُ اقْنُتِيْ لِرَبِّكِ وَاسْجُدِيْ وَارْكَعِيْ مَعَ الرَّاكِعِيْنَ
“Wahai Maryam! Taatilah Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.” (QS Ali Imran: 43)
Kisah ini memberikan tuntunan praktis bagi orang tua yang mengasuh anak perempuan di era modern. Orang tua wajib mengiringi tumbuh kembang anak perempuan dengan doa, lalu mendidiknya agar selalu menjaga shalat dan mencintai masjid. Pembiasaan ini akan membentuk benteng spiritual yang kokoh saat mereka beranjak dewasa.
Ustadz Isrofiel memberikan solusi cerdas bagi orang tua yang harus melepas anak perempuannya berkuliah di luar kota. Orang tua sebaiknya mencarikan tempat tinggal atau kos yang posisinya sangat dekat dengan masjid lingkungan setempat. Hal tersebut secara tidak langsung melatih kedisiplinan anak karena mereka akan selalu mendengar panggilan azan setiap waktu.
Nabi Ibrahim menempatkan anak laki-lakinya di dekat Baitullah, sedangkan Keluarga Imran mendidik Maryam di dalam mihrab Baitul Maqdis. Dua keluarga mulia ini sama-sama mengandalkan kekuatan doa dan mengaitkan kehidupan anak-anak mereka dengan rumah ibadah. Perbedaannya hanya terletak pada jenis kelamin anak yang mereka asuh, yaitu anak laki-laki dan anak perempuan.
Fokus Mendidik Anak Pertama sebagai Teladan
Ustadz Isrofiel mengingatkan bahwa kedurhakaan satu anak dapat merusak keharmonisan spiritual dan peluang surga bagi seluruh anggota keluarga. Al-Qur’an memaparkan fakta tersebut melalui perbandingan beberapa keluarga nabi terdahulu. Hal ini merujuk kembali pada penegasan Allah SWT dalam Surah Ali Imran ayat 33:
اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىٓ اٰدَمَ وَنُوْحًا وَّاٰلَ اِبْرٰهِيْمَ وَاٰلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعٰلَمِيْنَۙ
“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (pada masa masing-masing),” (QS Ali Imran: 33)
Nabi Nuh memiliki keturunan yang banyak, namun pembangkangan salah satu putranya membuat keluarganya tidak terpilih sebagai teladan utama. Kasus serupa menimpa Nabi Adam AS akibat perselisihan fatal yang berujung tragedi antara Habil dan Qabil. Fakta sejarah ini membuktikan bahwa kualitas kesalehan setiap anak sangat menentukan keutuhan reputasi sebuah keluarga.
Sebagai solusi praktis, orang tua wajib mencurahkan perhatian ekstra dan bekerja keras dalam mendidik anak pertama. Anak sulung memegang peran krusial sebagai cetak biru atau model percontohan bagi adik-adiknya di masa depan. Keberhasilan mendidik anak pertama menjadi pribadi yang saleh akan meringankan tugas orang tua dalam mengarahkan anak-anak berikutnya.
Orang tua memerlukan bekal ilmu pengasuhan yang matang sebelum memutuskan untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Persiapan yang matang mencegah orang tua menjadikan anak pertama sebagai kelinci percobaan dalam menerapkan metode pola asuh. Jika anak sulung terbiasa dengan kebiasaan buruk seperti kecanduan gawai, maka adik-adiknya hampir pasti akan meniru perilaku negatif tersebut.
Meneladani cara mendidik anak dari Keluarga Imran memberikan jaminan lahirnya generasi yang kokoh secara spiritual dan sosial. Melalui sinergi doa yang kuat, kedekatan dengan masjid, serta fokus mendidik anak sulung, kita dapat mewujudkan keluarga yang mendapat berkah dari Allah SWT. Semoga para orang tua muslim mampu menerapkan prinsip-prinsip mulia ini dalam kehidupan sehari-hari.(ust)










Komentar