Jakarta, dorlanhikmah.com – Selama ini, masyarakat meyakini gunung sebagai simbol keagungan alam yang tiada tanding. Kekuatan bangunannya menjulang tinggi ke angkasa, berdiri kokoh, dan tampak seolah tidak akan pernah tergerus oleh pergantian zaman. Para ahli geologi bahkan menyebut struktur raksasa ini sebagai pasak bumi yang berfungsi menstabilkan kerak planet.
Secara geologis, gunung memang memiliki susunan yang sangat kompleks di dalam lapisan tanah. Komposisi bebatuan yang menancap jauh ke perut bumi tersebut bekerja menahan pergerakan lempeng secara alamiah. Kehadirannya memberikan daya tahan luar biasa sehingga dataran di sekitarnya tetap berada dalam posisi seimbang.
Namun, di balik kemegahan yang menakjubkan itu, gunung menyimpan potensi bencana yang sangat dahsyat. Sebagian besar gunung yang tersebar di berbagai wilayah merupakan gunung api aktif. Di dalam perutnya, terdapat ruang dapur magma raksasa yang menyimpan tekanan serta suhu luar biasa tinggi.
Ketika aktivitas vulkanik mulai meningkat, gunung dapat menyemburkan berbagai material berbahaya secara tiba-tiba. Lelehan lava panas, awan debu abu vulkanik, hingga bongkahan bebatuan pijar terlontar membahayakan keselamatan makhluk hidup di sekitarnya. Ancaman ini membuat pemukiman warga di kawasan rawan bencana harus selalu berada dalam kondisi siaga.
Belakangan ini, lonjakan aktivitas vulkanik pada sejumlah gunung berapi menyita perhatian luas masyarakat Indonesia. Berdasarkan data terbaru yang rilis melalui media massa, petugas mencatat setidaknya ada enam gunung yang mengalami erupsi dalam rentang waktu yang berdekatan. Kondisi tersebut memicu kewaspadaan nasional mengingat persebaran lokasinya yang membentang dari wilayah barat hingga timur nusantara.
Keenam gunung yang menunjukkan peningkatan aktivitas tersebut adalah Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dan Gunung Semeru di Jawa Timur. Selain itu, erupsi juga terjadi pada Gunung Ibu di Maluku Utara serta Gunung Sinabung di Sumatera Utara. Wilayah Nusa Tenggara Timur juga melaporkan lonjakan erupsi yang terjadi pada Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Ile Lewotolok.
Fenomena Erupsi dan Ilustrasi Kiamat dalam Al-Qur’an
Peristiwa letusan gunung berapi yang menyaksikan masyarakat hari ini menjadi momok menakutkan bagi setiap insan. Sama seperti musibah alam lainnya, hempasan material vulkanik dapat mengancam keselamatan jiwa manusia dan merusak ekosistem secara permanen. Rasa cemas tentu menyelimuti setiap warga yang bermukim di sekitar lereng kawasan rawan bencana tersebut.
Namun, daya rusak letusan gunung berapi saat ini sebenarnya tidak sebanding dengan peristiwa dahsyat pada hari kiamat kelak. Bencana alam yang terjadi di bumi hari ini barulah gambaran kecil dari skenario kehancuran total semesta. Gunung-gunung yang selama ini berdiri sangat kokoh kelak bakal hancur luluh lantak tanpa sisa.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menganalogikan kehancuran gunung yang sangat keras tersebut layaknya bulu yang beterbangan. Keagungan struktur batuan yang menancap bumi akan hilang seketika saat terhempas guncangan dahsyat kehancuran alam semesta. Penjelasan mengenai peristiwa mengerikan ini tertuang secara eksplisit dalam firman-Nya di Surat Al-Qari’ah:
الْقَارِعَةُ (1) مَا الْقَارِعَةُ (2) وَمَا أ أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ (3) يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ (4) وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ (5)
Ayat tersebut memiliki arti, “Apakah al-Qāri‘ah itu? Tahukah kamu apakah al-Qāri‘ah itu? Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan. Dan gunung-gunung seperti bulu yang berhamburan.”
Analisis Para Mufassir Mengenai Kehancuran Gunung
Dalam ayat tersebut, Allah SWT membuat perumpamaan yang sangat mendalam mengenai kondisi gunung pada hari kiamat. Syaikh Ibnu ‘Asyur memberikan penjelasan ilmiah terkait perbandingan antara material gunung yang keras dengan lembutnya bulu yang terhempas. Menurutnya, titik persamaan keduanya terletak pada kondisi bagian-bagiannya yang tercerai-berai akibat guncangan.
وَوَجْهْ الشَّبَهِ تَفَرُّقُ الْأَجْزَاءِ لِأَنَّ الْجِبَالَ تَنْدَكُّ بِالزَّلَازِلِ وَنَحْوِهَا فَتَتَفَرَّقُ أَجْزَاءً
Pernyataan tersebut bermakna, “Titik persamaannya adalah bahwa bagiannya sama-sama terpisah-pisah. Sesungguhnya, gunung-gunung akan hancur disebabkan oleh guncangan hari kiamat. Sehingga ia akan terpencar-mencar menjadi beberapa bagian.” (Thahir bin ‘Asyur, At-Tahrir wat Tanwir, [Tunisia: Ad-Darut Tunisiyah, 1984), juz 30, hal. 512-513).
Umpama yang mengontraskan gunung dan bulu berhamburan ini menciptakan impresi psikologis yang sangat mendalam bagi pembaca Al-Qur’an. Gunung menggambarkan kekuatan absolut alam, sementara bulu merepresentasikan wujud paling rapuh yang melayang mudah menerpa angin. Perbandingan ekstrem ini secara efektif memperhebat kesan kengerian serta kedahsyatan suasana hari kiamat.
Pemikiran senada juga tertuang dalam karya monumental Abu Bakar al-Biqa’i melalui Kitab Nazhmud Durar. Ia menerangkan alasan mendasar mengapa Al-Qur’an memilih objek gunung untuk menggambarkan suasana kehancuran massal tersebut. Penjelasan mengenai hancurnya material terpadas bumi ini bertujuan menumbuhkan rasa takut yang mendalam pada hati manusia.
ولما كانت الجبال أشد ما تكون، عظم الرهبة بالإخبار بما يفعل بها فقال تعالى: {وتكون الجبال} على ما هي عليه من الشدة والصلابة وأنها صخور راسخة {كالعهن} أي الصوف المصبغ
Kutipan tersebut memiliki arti, “Ketika gunung merupakan bagian dari alam yang paling kuat (yang dapat kita saksikan), Allah SWT menambahkan rasa takut dengan mengabarkan hal yang akan terjadi. Dia berfirman bahwa gunung dengan segala kekuatan dan kekokohannya karena tersusun dari bebatuan dan menancap kuat di bumi, akan menjadi seperti bulu yang diwarnai.”
Pelajaran Moral dan Spiritual bagi Manusia yang Lemah
Rangkaian ayat dalam Surat Al-Qari’ah menyajikan gambaran huru-hara akhir zaman secara gamblang dan tanpa keraguan. Saat peristiwa itu berlangsung, seluruh tatanan alam semesta akan mengalami kehancuran total secara bersamaan. Manusia yang panik berhamburan tak tentu arah digambarkan bagaikan kawanan laron yang beterbangan liar.
Sementara itu, raksasa bumi yang tadinya berdiri megah melayang-layang bagai kapuk atau bulu warna-warni yang tertiup angin. Para ulama menegaskan bahwa deskripsi ini membawa pesan moral mendasar mengenai ketidakberdayaan mutlak spesies manusia. Ketika kiamat melanda, seluruh pilar kehidupan yang selama ini manusia banggakan akan runtuh seketika.
Harta benda melimpah tidak lagi memiliki nilai, sementara kekuasaan politik dan kekuatan fisik akan musnah tanpa bekas. Jika struktur gunung padas saja tidak mampu menahan dahsyatnya kehancuran kiamat, apalagi tubuh manusia yang sangat rapuh. Syekh al-Maraghi menegaskan perbandingan tajam ini melalui catatan penafsiran resminya:
إن الجبال لتفتتها وتفرق أجزائها لم يبق لها إلا صورة الصوف المنفوش فلا تلبث أن تذهب وتتطاير، فكيف يكون الإنسان حين حدوثها وهو ذلك الجسم الضعيف السريع الانحلال.
Uraian tersebut berarti, “Sesungguhnya gunung (pada hari itu) hanya tersisa seperti bulu yang dihamburkan, karena tercerai-berai dan bagian-bagiannya terpisah. Sehingga tak lama kemudian ia lenyap dan berhamburan. Lantas, bagaimana dengan manusia ketika peristiwa itu terjadi, sementara ia adalah makhluk yang lemah dan tubuhnya mudah hancur?” (Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, [Mesir: Maktabah Musthafa al-Babil Halabi, 1946], juz 30, hal. 226).
Penjelasan lugas al-Maraghi membuktikan bahwa pesan Al-Qur’an tidak berhenti pada pemaparan fisik kehancuran bumi semata. Al-Qur’an sengaja menghadirkan gambaran tersebut guna mengetuk kesadaran spiritual setiap individu manusia secara mendalam. Semua atribut keduniaan seperti kemewahan, jabatan, dan kehormatan tidak akan memberi pertolongan pada hari perhitungan kelak.
Oleh karena itu, Sayyid Muhammad Thanthawi menggarisbawahi pentingnya merenungi makna terdalam dari susunan ayat-ayat peringatan tersebut. Menurutnya, Al-Qur’an menggunakan teknik penyampaian terbaik untuk menggugah jiwa manusia yang seringkali terlena oleh kehidupan duniawi. Maksud utama dari perumpamaan dahsyat ini adalah memotivasi setiap orang agar segera memperbaiki kualitas diri.
ومما يبعث على التأمل في هذه الآيات الكريمة، يراها قد اشتملت على أقوى الأساليب وأبلغها في التحذير من أهوال يوم القيامة، وفي الحض على الاستعداد له بالإيمان والعمل الصالح
Kutipan tersebut memiliki arti, “Orang yang merenungkan ayat ini akan melihat bahwa di dalamnya terdapat redaksi yang kuat dan diksi yang sangat tepat dalam memberikan peringatan tentang huru-hara di hari kiamat. Selain itu, ia juga mengandung himbauan untuk mempersiapkan diri dengan iman dan amal saleh.” (Sayyid Muhammad Thanthawi, Tafsir al-Wasith, [Kairo: Dar Nahdhah, 1998], juz 15, hal. 489).
Fenomena erupsi gunung berapi yang melanda berbagai daerah sepatutnya menjadi sarana introspeksi diri yang nyata bagi masyarakat. Gambaran hancurnya gunung-gunung padas memberikan pelajaran berharga agar manusia meninggalkan sifat sombong dan membanggakan kelebihan fisik maupun harta. Sebab, bila penopang bumi saja hancur tak berbekas pada hari kiamat, manusia tentu jauh lebih tidak berdaya menghadapinya. Wallahu a’lam.(ust)










Komentar