Jakarta, dorlanhikmah.com – Manusia sering kali terjebak dalam perburuan materi tanpa menyadari arah tujuan hidupnya. Penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah memberikan kaidah pengelolaan harta islam yang mendalam saat menguraikan wasiat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu kepada Kumail bin Ziyad. Penjelasan tersebut menekankan pentingnya ilmu daripada sekadar menumpuk kekayaan materi.
Persoalan besar mengenai harta sebenarnya bukan sekadar berapa banyak angka yang berhasil terkumpul. Umat Islam perlu memeriksa dari mana harta tersebut berasal dan ke mana harta itu dialirkan. Harta memiliki dua sisi mata uang yang bisa menjadi jalan mendekat kepada Allah atau justru berubah menjadi penghalang utama.
Ketika Mengumpulkan Harta Menjadi Tujuan Hidup
Masyarakat modern kerap mengukur kesuksesan seseorang dari seberapa banyak aset yang ia simpan. Padahal, bekerja, berdagang, dan menyiapkan finansial masa depan bukanlah sebuah perbuatan tercela. Masalah besar baru muncul ketika aktivitas mengumpulkan uang berubah dari sarana menjadi pusat tujuan hidup.
Ibnul Qayyim rahimahullah menggambarkan satu golongan manusia yang terjebak dalam ambisi materi ini:
الصِّنْفُ الرَّابِعُ: مَنْ حِرْصُهُ وَهِمَّتُهُ فِي جَمْعِ الْأَمْوَالِ وَتَثْمِيرِهَا وَادِّخَارِهَا، فَقَدْ صَارَتْ لَذَّتُهُ فِي ذَلِكَ، وَفَنِيَ بِهَا عَمَّا سِوَاهَا، فَلَا يَرَى شَيْئًا أَطْيَبَ لَهُ مِمَّا هُوَ فِيهِ، فَأَيْنَ هَذَا وَدَرَجَةُ الْعِلْمِ؟!
Golongan ini menjadikan kenikmatan mengumpulkan uang sebagai puncak kebahagiaan mereka. Mereka tidak lagi memandang ada hal lain yang lebih nikmat daripada aktivitas menumpuk kekayaan. Fenomena ini menunjukkan betapa jauhnya derajat pengumpul harta jika dibandingkan dengan tingginya derajat ilmu.
Kaidah pertama menegaskan bahwa harta hanyalah alat untuk menjalani kehidupan fana. Setiap individu harus memeriksa apakah bertambahnya simpanan finansial juga berbanding lurus dengan bertambahnya bekal akhirat. Jangan sampai ambisi bisnis justru menggerus fokus utama manusia dalam mengumpulkan pahala.
Punya Harta atau Justru Dipunyai Harta?
Pada tahap awal, manusia memegang dan mengendalikan kekayaan yang mereka miliki. Namun, ketika hati mulai terikat kuat pada materi, keadaan bisa berbalik secara drastis. Manusia secara tidak sadar berubah menjadi hamba yang dikendalikan oleh harta benda mereka sendiri.
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahaya keterikatan hati terhadap materi ini:
أَنَّ الْمَالَ يَسْتَعْبِدُ مُحِبَّهُ وَصَاحِبَهُ، فَيَجْعَلُهُ عَبْدًا لَهُ، كَمَا قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ…» الْحَدِيثَ، وَالْعِلْمُ يَسْتَعْبِدُهُ لِرَبِّهِ وَخَالِقِهِ، فَهُوَ لَا يَدْعُوهُ إِلَّا إِلَى عُبُودِيَّةِ اللَّهِ وَحْدَهُ.
Pernyataan ini sejalan dengan peringatan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kehancuran para hamba dinar dan dirham. Berbeda dengan kekayaan materi, ilmu syar’i justru mengarahkan manusia untuk menjadi hamba Allah semata. Ilmu tidak pernah mengajak pemiliknya kecuali menuju ketaatan penuh kepada Sang Pencipta.
Setiap orang perlu bertanya kepada diri sendiri mengenai siapa tuan yang sebenarnya. Jika uang membuat seseorang berani meninggalkan kewajiban shalat atau merusak hubungan keluarga, maka harta telah menguasainya. Kondisi tersebut menandakan bahwa fungsi kekayaan telah terbalik dan membahayakan keselamatan jiwa.
Ketika Cinta Harta Menjadi Pintu Keburukan
Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan perbandingan tajam antara kecintaan pada ilmu dan kecintaan pada materi:
أَنَّ حُبَّ الْعِلْمِ وَطَلَبَهُ أَصْلُ كُلِّ طَاعَةٍ، وَحُبَّ الدُّنْيَا وَالْمَالِ وَطَلَبَهُ أَصْلُ كُلِّ سَيِّئَةٍ.
Pangkal dari segala ketaatan tercetus dari rasa cinta terhadap ilmu dan semangat menuntutnya. Sebaliknya, rasa cinta mendalam pada dunia serta ambisi mengejar kekayaan menjadi akar dari setiap keburukan. Agama tidak melarang seseorang memiliki kekayaan, tetapi melarang keras sifat ḥubbud-dunyā yang berlebihan.
Banyak orang saleh menguasai kekayaan melimpah dan menggunakannya sebagai sarana kebaikan. Namun, harta yang bertengger di dalam hati akan membuka pintu kejahatan. Perubahan standar keberhasilan hidup dari ukuran iman menjadi ukuran saldo rekening menandakan bahaya spiritual yang serius.
Harta Bisa Menjadi Kendaraan Maksiat
Penggunaan harta menentukan nilai akhir dari kekayaan itu sendiri di mata Allah. Ibnul Qayyim rahimahullah menegaskan perbedaan mendasar antara peran ilmu dan kekayaan:
أَنَّهُ مَا أَطَاعَ اللَّهَ أَحَدٌ قَطُّ إِلَّا بِالْعِلْمِ، وَعَامَّةُ مَنْ يَعْصِيهِ إِنَّمَا يَعْصِيهِ بِالْمَالِ.
Seseorang menaati Allah karena dorongan ilmu agama yang ia pelajari. Sementara itu, mayoritas pelaku kemaksiatan di muka bumi melakukan dosa dengan memanfaatkan fasilitas kekayaan mereka. Manusia membelanjakan uang untuk hal-hal yang melanggar syariat ketika iman mereka melemah.
Dengan uang, seseorang memang bisa bersedekah, menyantuni anak yatim, membiayai dakwah, dan menolong sesama. Namun, uang yang sama bisa membeli hal haram, membiayai perjudian, serta memfasilitasi transaksi riba. Pemilik hartalah yang menentukan apakah kekayaannya menjadi kendaraan menuju surga atau justru ke neraka.
Hartamu Diam-Diam Berdakwah
Gaya hidup dan cara seseorang membelanjakan kekayaan mengirimkan pesan tersirat kepada masyarakat sekitar. Ibnul Qayyim rahimahullah menguraikan dampak sosial dari perilaku pemilik harta:
أَنَّ الْعَالِمَ يَدْعُو النَّاسَ إِلَى اللَّهِ بِعِلْمِهِ وَحَالِهِ، وَجَامِعَ الْمَالِ يَدْعُوهُمْ إِلَى الدُّنْيَا بِحَالِهِ وَمَالِهِ.
Seorang alim mengajak masyarakat mendekat kepada Allah melalui ajaran ilmu dan keteladanan sikapnya. Sementara itu, pengumpul harta menyeret perhatian orang banyak menuju gemerlap dunia melalui gaya hidup mewah yang ia pertontonkan. Pesan ini menjadi sangat relevan pada era media sosial saat ini.
Pameran rumah mewah, kendaraan mahal, dan pakaian bermerek dapat mengikis orientasi akhirat masyarakat. Tanpa mengucap satu kata pun, pemandangan tersebut mengajak orang lain untuk semakin mengagumi keindahan dunia fana. Setiap muslim harus bijak dalam menampilkan apa yang mereka miliki agar tidak menjadi sumber fitnah.
Harta Menjadi Mulia Justru Ketika Dilepas
Nilai sejati dari sebuah kekayaan tidak terletak pada seberapa banyak angka yang tersimpan di dalam rekening bank. Ibnul Qayyim rahimahullah merumuskan kaidah indah mengenai kemuliaan harta:
أَنَّ الْمَالَ إِنَّمَا يُمْدَحُ صَاحِبُهُ بِتَخَلِّيهِ مِنْهُ وَإِخْرَاجِهِ، وَالْعِلْمُ إِنَّمَا يُمْدَحُ بِتَحَلِّيهِ بِهِ وَاتِّصَافِهِ بِهِ.
Masyarakat memuji pemilik harta justru ketika ia mampu melepaskan dan mendistribusikan kekayaannya untuk kebaikan. Sebaliknya, pemilik ilmu mendapat pujian ketika ia menghiasi dirinya dengan nilai-nilai ilmu tersebut. Ilmu menjadi mulia saat menyatu dalam diri, sedangkan harta menjadi mulia saat keluar dari diri.
Seseorang tidak mendapatkan pujian hakiki hanya karena menimbun uang dalam jumlah fantastis. Kehormatan timbul dari manfaat nyata yang keluar lewat sedekah, zakat, nafkah keluarga, dan bantuan sosial. Peningkatan jumlah aset finansial harus selalu diimbangi dengan perluasan kemanfaatan bagi sesama.
Semakin Banyak Harta, Jangan Sampai Semakin Banyak Ketakutan
Keterikatan hati pada materi sering kali merenggut ketenangan jiwa pemiliknya. Ibnul Qayyim rahimahullah membeberkan beban psikologis yang menimpa pencinta dunia:
أَنَّ غِنَى الْمَالِ مَقْرُونٌ بِالْخَوْفِ وَالْحُزْنِ، فَهُوَ حَزِينٌ قَبْلَ حُصُولِهِ، خَائِفٌ بَعْدَ حُصُولِهِ، وَكُلَّمَا كَانَ أَكْثَرَ كَانَ الْخَوْفُ أَقْوَى، وَغِنَى الْعِلْمِ مَقْرُونٌ بِالْأَمْنِ وَالْفَرَحِ وَالسُّرُورِ.
Kekayaan materi selalu membawa kesedihan sebelum berhasil diraih dan memicu rasa takut berlebih setelah didapatkan. Semakin menumpuk kekayaan seseorang, semakin kuat pula rasa cemas akan kehilangan yang menghantuinya. Kondisi ini bertolak belakang dengan kekayaan ilmu yang selalu memberikan rasa aman dan kebahagiaan sejati.
Harta yang berada sebatas di tangan dapat memberikan manfaat optimal untuk kehidupan sehari-hari. Namun, harta yang berhasil masuk dan menguasai hati akan menuntut pemiliknya menjadi penjaga yang selalu gelisah. Rasa takut kehilangan aset kerap membuat seseorang lupa menikmati rasa syukur atas nikmat Allah.
Harta Punya Tiga Ujian: Sebelum, Ketika, dan Setelah Dimiliki
Proses mengumpulkan kekayaan tidak pernah lepas dari bahaya dan ujian spiritual yang berat. Ibnul Qayyim rahimahullah membagi ujian harta ke dalam tiga fase perjalanan kehidupan:
أَنَّ جَمْعَ الْمَالِ مَقْرُونٌ بِثَلَاثَةِ أَنْوَاعٍ مِنَ الْآفَاتِ وَالْمِحَنِ: نَوْعٌ قَبْلَهُ، وَنَوْعٌ عِنْدَ حُصُولِهِ، وَنَوْعٌ بَعْدَ مُفَارَقَتِهِ.
فَأَمَّا النَّوْعُ الْأَوَّلُ: فَهُوَ الْمَشَاقُّ وَالْأَنْكَادُ وَالْآلَامُ الَّتِي لَا يَحْصُلُ إِلَّا بِهَا.
وَأَمَّا النَّوْعُ الثَّانِي: فَمَشَقَّةُ حِفْظِهِ وَحِرَاسَتِهِ وَتَعَلُّقِ الْقَلْبِ بِهِ، فَلَا يُصْبِحُ إِلَّا مَهْمُومًا، وَلَا يُمْسِي إِلَّا مَغْمُومًا.
Ujian fase pertama meliputi kepayahan, rasa sakit, dan perjuangan berat untuk memperoleh kekayaan tersebut. Fase kedua membawa kesulitan besar dalam menjaga keamanan aset serta beban pikiran yang terus menumpuk siang dan malam. Pemilik harta memasuki pagi dan sore hari dalam bayang-bayang kecemasan mengelola kekayaannya.
Ujian fase ketiga terjadi setelah manusia berpisah dari seluruh harta bendanya di alam kubur:
وَالنَّوْعُ الثَّالِثُ مِنْ آفَاتِ الْغِنَى: مَا يَحْصُلُ لِلْعَبْدِ بَعْدَ مُفَارَقَتِهِ، مِنْ تَعَلُّقِ قَلْبِهِ بِهِ، وَكَوْنِهِ قَدْ حِيلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ، وَالْمُطَالَبَةِ بِحُقُوقِهِ، وَالْمُحَاسَبَةِ عَلَى مَقْبُوضِهِ وَمَصْرُوفِهِ: مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِي مَاذَا أَنْفَقَهُ؟
Hati manusia masih sering terpaut pada kekayaan tersebut meski ajal telah memisahkan mereka. Selanjutnya, Allah akan menuntut penunaian hak-hak harta dan menghisab setiap rupiah yang masuk serta keluar. Dua pertanyaan mendasar di padang mahsyar kelak fokus pada jalur pemerolehan serta alokasi pembelanjaan harta.
Harta yang Hanya Ditumpuk Bisa Berubah Menjadi Beban
Anatomi hubungan antara ilmu, harta, dan kondisi hati manusia memiliki keterkaitan yang sangat erat. Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan perumpamaan menarik mengenai posisi hati sebagai raja:
أَنَّ الْقَلْبَ مَلِكُ الْبَدَنِ، وَالْعِلْمَ زِينَتُهُ وَعُدَّتُهُ وَمَالُهُ، وَبِهِ قِوَامُ مُلْكِهِ، وَالْمَلِكُ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ عَدَدٍ وَعُدَّةٍ وَمَالٍ وَزِينَةٍ؛ فَالْعِلْمُ هُوَ مَرْكَبُهُ وَعُدَّتُهُ وَجَمَالُهُ.
وَأَمَّا الْمَالُ، فَغَايَتُهُ أَنْ يَكُونَ زِينَةً وَجَمَالًا لِلْبَدَنِ إِذَا أَنْفَقَهُ فِي ذٰلِك، فَإِذَا خَزَنَهُ وَلَمْ يُنْفِقْهُ لَمْ يَكُنْ زِينَةً وَلَا جَمَالًا، بَلْ نَقْصًا وَوَبَالًا.
Hati berfungsi sebagai raja bagi seluruh anggota badan, sedangkan ilmu menjadi perhiasan dan perlengkapan utamanya. Harta fisik hanya berperan sebagai perhiasan luar bagi tubuh apabila pemiliknya membelanjakannya di jalan yang benar. Jika harta tersebut hanya ditimbun tanpa ditunaikan haknya, kekayaan itu berubah menjadi beban dan celaan.
Islam sama sekali tidak melarang umatnya memiliki tabungan, dana darurat, maupun investasi usaha. Poin kritik dalam ajaran ini tertuju pada penimbunan harta yang menghentikan fungsi kemanusiaan dan keagamaan. Harta yang tidak menjalankan fungsi kebaikannya pasti berubah menjadi beban berat di akhirat.
Harta Seharusnya Membantuan Kita Pulang
Puncak petunjuk Ibnul Qayyim rahimahullah menegaskan fungsi hakiki dari keberadaan harta di tangan seorang muslim:
أَنَّ الْقَدْرَ الْمَقْصُودَ مِنَ الْمَالِ هُوَ مَا يَكْفِي الْعَبْدَ وَيُقِيمُهُ وَيَدْفَعُ ضَرُورَتَهُ حَتَّى يَتَمَكَّنَ مِنْ قَضَاءِ جِهَازِهِ، وَمِنَ التَّزَوُّدِ لِسَفَرِهِ إِلَى رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِذَا زَادَ عَلَى ذٰلِكَ شَغَلَهُ وَقَطَعَهُ عَنِ السَّفَرِ إِلَى رَبِّهِ وَعَنْ قَضَاءِ جِهَازِهِ وَتَعْبِيَةِ زَادِهِ؛ فَكَانَ ضَرَرُهُ عَلَيْهِ أَكْثَرَ مِنْ مَصْلَحَتِهِ، وَكُلَّمَا ازْدَادَ غِنَاهُ بِهِ ازْدَادَ تَثَبُّطًا وَتَخَلُّفًا عَنِ التَّجَهُّزِ لِمَا أَمَامَهُ.
وَأَمَّا الْعِلْمُ النَّافِعُ، فَكُلَّمَا ازْدَادَ مِنْهُ ازْدَادَ فِي تَعْبِيَةِ الزَّادِ، وَقَضَاءِ الْجِهَازِ، وَإِعْدَادِ عُدَّةِ الْمَسِيرِ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ وَبِهِ الِاسْتِعَانَةُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِهِ.
فَعُدَّةُ هٰذَا السَّفَرِ هُوَ الْعِلْمُ وَالْعَمَلُ، وَعُدَّةُ الْإِقَامَةِ جَمْعُ الْأَمْوَالِ وَالِادِّخَارُ، وَمَنْ أَرَادَ شَيْئًا هَيَّأَ لَهُ عُدَّتَهُ.
Kadar harta yang ideal adalah jumlah yang cukup untuk menopang kebutuhan dasar dan memfasilitasi ibadah menuju Allah. Jika tambahan materi justru merintangi perjalanan spiritual, maka mudarat harta tersebut jauh lebih besar daripada manfaatnya. Ilmu bermanfaat justru terus memperkuat bekal dan kesiapan manusia menghadapi hari akhir.
Bekal untuk perjalanan pulang menuju Allah adalah ilmu syar’i dan amal saleh. Sebaliknya, menumpuk harta tanpa batas merupakan karakter orang yang ingin menetap selamanya di dunia. Setiap individu harus memilih bekal mana yang ingin ia persiapkan untuk kehidupan yang abadi.
Jadi, Hartamu Habis di Mana?
Pertanyaan mengenai alokasi harta merupakan salah satu pertanyaan paling krusial dalam kehidupan seorang muslim. Semua kekayaan materi yang berhasil dikumpulkan pada akhirnya pasti akan terpisah dari pemiliknya. Uang bisa habis untuk konsumsi harian, tempat tinggal, kendaraan, hiburan, atau menjelma menjadi amal sedekah.
Pengeluaran yang berubah menjadi wakaf, sedekah, dan nafkah halal tidak pernah benar-benar hilang dari genggaman. Uang tersebut pada hakikatnya sedang ditransfer menjadi simpanan abadi yang akan menyambut pemiliknya di akhirat. Sebaliknya, uang yang menumpuk tanpa kebaikan hanya menambah panjang durasi hisab di hadapan Allah.
Rangkuman Ten Sifat Utama Harta
Berdasarkan seluruh paparan ilmiah Ibnul Qayyim rahimahullah, terdapat sepuluh kaidah penting yang bisa menjadi pedoman hidup sehari-hari:
-
Harta berfungsi sebagai alat kehidupan, sehingga manusia melarang keras menjadikan pencarian materi sebagai tujuan akhir.
-
Manusia harus mengevaluasi apakah mereka memegang harta atau justru harta yang mengendalikan seluruh keputusan hidup mereka.
-
Ketersediaan harta di tangan bisa menjadi nikmat, tetapi materi yang menguasai hati pasti membuka pintu keburukan.
-
Setiap individu perlu mempertanyakan arah dan tujuan yang dituju oleh kekayaan yang mereka kelola saat ini.
-
Cara membelanjakan dan memamerkan aset finansial bisa berubah menjadi ajakan menuju akhirat atau ajakan menuju dunia.
-
Kemuliaan ilmu terpancar saat meresap ke dalam jiwa, sedangkan kemuliaan harta terpancar saat mengalir keluar untuk kebaikan.
-
Harta di tangan memberikan kemudahan pemanfaatan, tetapi harta di dalam hati menuntut penjagaan yang melelahkan fisik dan pikiran.
-
Pertanggungjawaban harta di hadapan Allah selalu berfokus pada dua hal utama: sumber pemerolehan dan alokasi pembelanjaan.
-
Kekayaan yang berhenti menjalankan fungsi sosial dan keagamaan akan berubah dari status nikmat menjadi beban berat.
-
Harta yang ideal adalah aset yang mempermudah perjalanan pulang menuju ridha Allah, bukan yang melalaikan manusia dari kematian.
Penutup dan Doa Rasulullah
Kemudahan memantau saldo dan aset digital melalui layar ponsel tidak boleh melengahkan manusia dari pemeriksaan kondisi hati. Umat Islam tidak boleh menunggu masa tua atau saat ajal mendekat untuk mempertanyakan kemana harta mereka mengalir. Harta terbaik adalah sebagian kekayaan yang telah dikirim terlebih dahulu sebagai investasi akhirat.
Manusia perlu memanfaatkan fasilitas dunia untuk memperlancar perjalanan pulang ke kampung halaman akhirat. Jangan sampai aktivitas mengumpulkan materi justru menghentikan langkah kaki menuju surga Allah. Umat Islam dianjurkan untuk terus memohon petunjuk dan sifat qana’ah dalam mengarungi kehidupan dunia.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan sebuah doa agar terhindar dari fitnah harta dan kecintaan dunia yang berlebihan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى، وَالتُّقَى، وَالْعَفَافَ، وَالْغِنَى.
Doa ini mengandung permohonan petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri dari perbuatan haram, serta kecukupan jiwa dan harta. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rezeki yang halal, berkah, dan bermanfaat untuk mendukung ketaatan kita kepada-Nya.(ust)










Komentar